
"Uuggh!!!" Teriak Selene ketika salah seorang pegawai di pasar budak ini menempelkan besi panas di bahu kirinya. Memberikan sebuah lambang budak untuknya.
Meskipun legal, tapi setiap budak harus diberi tanda di tubuhnya agar semua orang tahu status mereka ketika ditemukan di suatu tempat.
Lambang itu sendiri memiliki bentuk yang cukup sederhana. Yaitu 4 buah rantai yang membentuk belah ketupat, yang saling mengunci satu sama lain. Dengan bagian tengah dari keempat rantai itu memiliki bentuk belah ketupat kecil.
Berdasarkan dari perkataan salah seorang pedagang yang ditanyai oleh Leo, lambang itu berarti sebuah jiwa yang terkekang oleh rantai.
"Sudah selesai. Kau bisa membawanya." Ucap Pria bertubuh besar itu.
"Terimakasih." Balas Leo singkat sambil segera berdiri dari duduknya.
Selene yang masih dengan pakaiannya yang compang-camping itu terlihat memegangi bahu kirinya. Rasa sakit ketika terkena besi panas untuk membentuk lambang itu di tubuhnya akan membekas cukup lama.
Leo tahu karena Ia sendiri pernah mengalaminya. Oleh karena itu....
"Ikut denganku." Ucap Leo kepada Selene.
Tanpa menjawab, Selene hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki Leo.
Ia memperhatikan sosok Pria berambut kecoklatan itu dengan baik. Pakaiannya yang terlihat cukup bagus membuatnya berpikir bahwa bisa jadi Pria yang ada di hadapannya adalah seorang bangsawan.
Ketika Selene masih memikirkan nasib kedepannya....
"Jadi, siapa namamu?" Tanya Leo. Tentu saja Ia telah mengetahui namanya berkat skill Clairvoyance miliknya. Tapi mengetahui nama seseorang bahkan tanpa menanyakannya, terlebih lagi kepada orang asing, itu akan membuatnya menjadi sosok yang terlalu mencurigakan.
Dengan suara yang lirih, Selene pun menjawab.
"Selene Vai'le Caste"
Jawaban itu tentu membuat Leo merasa terkejut. Bagaimana tidak, ada nama lain di belakangnya yang tak ditunjukkan oleh Clairvoyance. Untuk mengetahui kebenarannya, Leo pun segera menanyakannya.
"Vai'le Caste? Apa itu? Semacam marga?" Tanya Leo.
Selene pun menganggukkan kepalanya secara perlahan sebelum menjawab.
"Itu adalah nama marga dari ibuku."
Leo tak menyangka bahwa percakapan ringannya ini mengungkap kebenaran baru mengenai skillnya. Lagipula, bagaimana skill itu bisa mengetahui nama seseorang?
Terlebih lagi, apa itu nama? Apakah sesuatu yang diberikan sejak lahir? Atau sesuatu yang lebih dari itu?
Tanpa Leo sadari, mereka berdua telah keluar dari pasar budak. Tepat di samping pintu masuk dari pasar itu, sosok Artemis yang sedang memakan sosis daging panggang itu dapat terlihat.
"Yo, Artemis. Bisakah aku meminta sedikit bantuanmu?" Tanya Leo singkat.
"Hmm? Tentu saja. Dan.... Siapa itu?" Tanya Artemis sambil melihat wanita berambut putih dalam pakaian yang compang-camping itu.
"Selene Vai'le Caste. Budak yang baru saja ku beli. Tolong rawat dia, beri dia makanan dan belikan dia sesuatu untuk dikenakan. Aku akan kembali ke dalam untuk mencari budak yang lain." Jelas Leo sambil segera berbalik badan menghadap ke Selene.
"Selene, dia adalah Artemis. Rekan perjalananku. Bersikaplah baik padanya." Ucap Leo sambil menepuk pundak Selene.
Sementara itu, Selene merasa sedikit lega karena Ia akan bertemu dengan wanita lain yang terlihat cukup baik. Meskipun, Selene sendiri masih merasa kurang percaya. Bagaimanapun....
"Ini, cobalah! Sangat enak, kau tahu?!" Ucap Artemis sambil memberikan salah satu sosis tusuknya kepada Selene.
"A-apakah kau bersungguh-sungguh?" Tanya Selene dengan wajah yang terlihat ragu.
Air liur mulai mengalir di bibir pucat Selene setelah Ia melihat dan mencium bau dari sosis daging itu. Sebuah makanan yang telah sangat lama tak lagi Ia rasakan semenjak terkurung di sana.
"Tentu saja! Sekarang, mari kita mencarikanmu sesuatu untuk dikenakan!"
......***......
Beberapa saat telah berlalu. Artemis dengan cepat membawa Selene ke dalam sebuah toko pakaian di dekat pasar itu.
Meski begitu, kedua tangannya terus bergerak untuk memilihkan pakaian yang cocok untuknya.
"Ini! Coba yang ini! Aku yakin kau pasti akan terlihat sangat cantik!" Ucap Artemis sambil memberikan setumpuk pakaian dan mendorong Selene menuju ruang ganti.
Artemis ikut masuk ke dalam untuk membantu Selene mengenakannya. Tapi jauh berbeda dari apa yang ada di bayangannya, Selene terlihat mampu mengenakannya dengan mudah.
Sebuah gaun berwarna merah yang indah dengan corak dan pola emas yang begitu elegan. Setelah semuanya selesai, Artemis hanya bisa terpana atas kecantikan Selene.
"Huwaaaa!!! Kau tahu?! Kau terlihat sangat cantik! Sialan! Jika saja milikku sebesar itu!" Teriak Artemis sambil memandangi sosok Selene dari berbagai sisi.
"Benarkah begitu? Terimakasih...." Balas Selene dengan senyuman.
Sebuah senyuman yang pada saat itu juga segera mematahkan keraguan yang dirasakannya kepada gadis bernama Artemis itu.
Tak mungkin bahwa gadis seceria ini adalah orang yang jahat. Setidaknya, itulah yang ada di dalam pikirannya. Tapi untuk memastikannya, Selene pun menanyakannya secara langsung.
"A-Artemis.... Bisakah aku bertanya tentang sesuatu?"
"Tentu saja! Mulai dari sekarang kita adalah sahabat!" Balas Artemis yang sama sekali tak ada hubungannya dengan perkataan Selene itu. Bahkan Ia segera melompat dan memeluk sosok Half Elf itu.
"Kenapa kalian membeli budak?"
Pertanyaan itu terus mengganjal di hatinya selama ini. Jika Artemis adalah gadis yang baik-baik, Ia seharusnya tak membutuhkan budak dan cukup memperkerjakan orang dari Guild. Lantas kenapa?
Tapi jawaban yang diperolehnya....
"Leo ingin mengembangkan usaha dagangnya. Dan untuk itu, Ia membutuhkan tenaga tambahan untuk berbagai hal. Sedangkan menurutnya, termasuk diriku, membeli budak adalah hal termurah untuk mencapai hal itu.
Seperti yang kau lihat, kami ini pedagang. Tapi bukan berarti kami memiliki uang yang tak terbatas. Ah, tapi tenang saja. Leo bilang Ia akan tetap menganggap kalian semua seperti pegawai yang akan dibayar mingguan." Jelas Artemis tetap dengan senyumannya.
Mendengar hal itu, Selene pun merasa sangat lega dan tenang. Ia merasa bahwa semua perkataan gadis yang ada di hadapannya benar-benar bisa dipercaya. Tak ada kebohongan di baliknya.
"Jadi begitu...."
"Baiklah, kurasa sudah saatnya kembali. Leo mungkin sudah menunggu. Bibi! Berapa harganya untuk pakaian ini?!"
......***......
Artemis dan Selene akhirnya kembali ke pintu masuk pasar. Menemui Leo yang telah menanti di sana.
Di samping Leo terlihat sosok 10 orang yang tak lain adalah budak. Mereka nampak sedang memakan roti dengan lahap.
8 diantaranya adalah pria yang terlihat berada di sekitar umur 20 - 30 tahun. Sedangkan 2 lagi merupakan wanita yang berada pada awal umur 20 tahunan.
Semuanya terlihat sudah beres dan tak ada masalah. Akan tetapi....
"Artemis. Bisa kutanyakan satu hal?" Tanya Leo yang kini menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya. Tatapannya bahkan terlihat cukup mengintimidasi. Dimana Artemis saat ini telah terkena efek dari tatapan Leo.
"A-apakah ada yang salah?" Tanya Artemis dengan keringat yang mulai mengalir di wajahnya.
"Apa yang kau berikan padanya? Kau tahu aku butuh dia untuk menjadi salah seorang penjaga bukan? Kenapa kau malah mendandaninya seperti seorang putri? Bagaimana caranya untuk bertarung nanti?!"
Dan dengan begitulah....
Artemis memperoleh teguran ringan dari Leo. Menjadikan hiburan tersendiri bagi Selene dan juga budak yang lainnya sebelum mereka semua makan siang bersama di sebuah restoran terdekat.
Secara perlahan....
Kepercayaan para budak itu, termasuk Selene kepada Leo mulai meningkat.