
Leo memulai perjalanan itu di sore hari. Meskipun terkesan dipaksakan, tapi Ia ingin segera bertemu dengan sosok bernama Igor Sikorsky ini. Beberapa pertanyaan masih mengganjal dalam kepalanya.
Apakah Dewi Cyrese akan menghubunginya lagi? Memangnya, kenapa kali ini Dewi Cyrese terlihat begitu terburu-buru?
Dengan berbagai pemikiran itulah, Leo yang menunggangi kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda itu segera melewati gerbang kota di sisi Timur. Menuju tepat ke arah Desa Rarth.
Meski begitu, Leo menjalankan kereta kudanya cukup lambat agar bisa diikuti oleh keenam orang yang menjaganya.
Lagipula, selama ini Ia cukup beruntung karena tak pernah di serang ketika sedang berkemah. Dan mengandalkan nasib pada keberuntungan itu sendiri tak jauh dari sebuah perjudian. Itulah mengapa Leo sama sekali tak masalah untuk sedikit memperlambat perjalanannya.
Sambil menikmati pemandangan langit jingga di jalan tanah yang kecil ini, Reina menyandarkan kepalanya di bahu Leo.
"Kau sudah lelah?" Tanya Leo yang masih memegang tali kendali dua ekor kuda itu.
"Yah.... Begitulah." Balas Reina dengan senyuman.
Melihat wajah Reina yang begitu manis membuat Leo tak sanggup untuk memalingkan pandangannya.
"Maaf, karena kereta ini penuh. Mungkin aku akan membeli yang baru setelah kembali ke kota Venice." Balas Leo dengan suara yang lembut.
Tapi Reina hanya menggelengkan kepalanya dengan ringan.
"Tidak.... Aku sama sekali tak menyalahkanmu. Lagipula, aku sudah nyaman seperti ini. Jadi.... Izinkan aku untuk tidur sebentar...." Ucap Reina dengan suara yang semakin lirih dan kesadaran tubuh yang semakin memudar.
Setelah beberapa saat berlalu, Reina akhirnya telah tidur sepenuhnya dengan bahu Leo sebagai sandaran. Leo kemudian melirik ke arah Artemis dimana Ia langsung memahaminya.
Artemis segera menarik tubuh Reina dengan bantuan Selene secara perlahan. Membiarkannya tertidur di kursinya. Sedangkan Artemis sendiri kini pindah di kursi depan bersama dengan Leo.
"Sudah lama kita tidak berpetualang seperti ini ya? Jadi, ceritakan siapa kenalan mu itu. Apakah dia punya banyak uang?" Tanya Artemis dengan tatapan yang penuh dengan harapan itu.
"Kau.... Apakah kau pernah memikirkan hal lain selain uang?" Tanya kembali Leo dengan senyuman yang sedikit masam.
"Tentu aku pernah memikirkan hal lain. Selama perjalanan kita seperti ini, aku selalu berharap untuk menembakkan panahku ke arah bandit." Balas Artemis sambil memamerkan Crossbow yang kini ada di pangkuannya.
Crossbow itu belum terisi oleh anak panah. Dan untuk mengisinya sendiri membutuhkan waktu.
Secara keseluruhan, itu bukanlah senjata yang hebat jika dibandingkan dengan busur panah biasa. Tapi kelebihan dari Crossbow adalah kemampuan untuk menembus zirah nya yang lebih kuat, serta kemudahan dalam membidik. Terlebih lagi, siapapun bisa menggunakannya.
Sambil terus mengobrol secara perlahan, mereka semua pun terus berjalan ke arah Desa Rarth. Melewati hutan yang cukup lebat dan tebal.
Pada saat Leo memperhatikan para prajurit bawahannya, Ia hanya bisa tersenyum tipis setelah mengetahui bahwa mereka masih tetap siaga dan memperhatikan sekeliling dengan baik.
......***...
...
Setelah matahari sepenuhnya tenggelam, serta bulan yang telah mulai menyinari gelapnya malam ini, Leo memutuskan untuk beristirahat di dalam hutan.
Saat ini, Ia tak membawa tenda dan hanya beberapa lembar kain serta selimut.
Menu makan malam pun cukup sederhana. Dimana beberapa orang mengumpulkan ranting di sekitar pepohonan yang besar itu lalu mulai membakarnya. Membuat sebuah api unggun untuk memasak daging asap dan roti kering itu.
Meskipun tak seenak pesta kemarin malam, tapi makanan itu sudah cukup untuk mengisi ulang kembali tenaga yang telah hilang. Terutama keenam prajurit yang sedari sore tadi terus berjalan kaki dalam jarak yang jauh.
Di hadapan api unggun itu, semuanya mulai berbagi cerita tanpa mengenal rasa takut ataupun ragu untuk berbicara. Seakan batasan dari Tuan dan Bawahan itu telah lama menghilang.
Artemis menceritakan mengenai petualangannya yang mendebarkan dengan menyembuhkan banyak petualang.
Menanggapi hal itu, Selene juga menceritakan sebagian dari masa lalunya. Sebuah kenyataan bahwa dirinya juga seorang mantan petualang tingkat B.
"Tapi suatu hari.... Anggota kelompokku sendiri menjebak dan menjualku untuk 20 keping emas. Hahaha.... Jika diingat kembali aku sangat ingin membalas mereka." Jelas Selene sambil memasang raut wajah yang sedikit marah, bukan sedih.
Dengan paras yang seindah itu, menyiksanya hanya akan menurunkan nilai barang itu sendiri.
"Maaf.... Aku tak mengetahui mengenai hal itu, Selene." Balas Leo sambil memasang wajah yang sedikit muram.
"Ti-tidak! Jangan meminta maaf kepadaku! Itu hanya kesalahanku sendiri, Tuan Leo."
Selain mereka berdua, para prajurit pun mulai menceritakan sebagian dari masa lalu mereka.
Beberapa diantara mereka menjadi budak dikarenakan tak mampu untuk membayar hutang. Sedangkan beberapa lagi dijual oleh keluarganya sejak kecil karena membutuhkan uang.
Dan satu diantaranya....
"Aku menjual diriku sendiri untuk membayar hutang istriku dan memenuhi kebutuhan putriku. Sampai sekarang aku masih menyesali pilihan itu. Tapi itu semua sudah terjadi 2 tahun yang lalu, tapi sekarang.... Aku tak tahu bagaimana ka...."
Leo segera menyela perkataan Pria itu sebelum sempat menyelesaikannya.
"Dimana mereka? Aku bisa mengirim dirimu kesana setiap beberapa bulan sekali jika memungkinkan. Dan tentu saja, aku akan membantu keadaanmu."
"Tu-Tuan?! Kau bersungguh-sungguh?" Tanya Pria itu dengan mata yang berbinar. Seakan tak lagi mampu untuk membendung air matanya.
Balasan dari Leo cukup singkat. Yaitu hanya dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Terimakasih.... Tuan Leo.... Terimakasih...."
Kini setelah sebagian besar menceritakan secuil kisah masa lalu mereka, semua mata mulai tertuju ke arah Leo dan juga Reina.
Semuanya juga mulai penasaran mengenai masa lalunya. Termasuk Artemis dan juga Reina yang kini terlihat dipenuhi oleh rasa penasaran itu.
"Hah.... Giliranku?" Tanya Leo singkat.
Semuanya pun menganggukkan kepala mereka dengan antusias seakan mengiyakan pertanyaan Leo itu. Dan akhirnya....
"Yah, baiklah jika kalian memang ingin mendengarnya. Tapi tolong. Jangan katakan kepada orang lain." Ucap Leo sambil membuka kancing di pakaiannya.
Para prajurit pun nampak kebingungan. Sedangkan Artemis dan Selene terlihat menutupi sebagian dari wajah mereka.
"Tu-Tuan Le...."
Sebelum mereka sempat menyelesaikan perkataannya, mata semua orang tertuju pada bahu kanan Leo.
Sebuah lambang 4 buah rantai yang saling mengait membentuk belah ketupat. Serta sebuah bentuk kristal kecil di bagian tengahnya.
Semua orang tahu apa arti dari lambang itu. Itulah mengapa semua kecuali Reina terlihat begitu terkejut. Membelalakkan mata mereka selebar mungkin untuk memastikan bahwa mata mereka tak salah dalam melihatnya.
"Le-Leo.... Kau.... Seorang budak?" Tanya Artemis dengan wajah yang begitu terkejut.
Sebuah pengetahuan umum dimana jika bertemu dengan seseorang dengan tanda budak tanpa Tuan, maka adalah keputusan bijak untuk menyerahkan mereka kembali kepada Tuannya.
Jika memang tidak diketahui siapa Tuannya, maka mereka, warga kehormatan atau orang-orang bebas yang biasa disebut sebagai Freeman, memiliki hak untuk memperbudak mereka. Atau menjual mereka kembali di pasar.
Itulah mengapa tanda budak selalu disembunyikan. Agar hak dari Freeman itu tak bisa digunakan seenaknya.
Tapi mengetahui bahwa Tuan dari para budak itu sendiri adalah budak....
"Ceritanya akan panjang. Kalian ingin mendengarnya?"
Leo dan juga Reina pun menjadi penutup cerita di api unggun itu. Menyadarkan semua orang atas kebenaran yang selama ini dirahasiakan oleh Tuan mereka.
Hampir semuanya. Kecuali kenyataan bahwa keduanya merupakan pahlawan.