E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 92 - Senjata Sihir



Beberapa bulan telah berlalu semenjak pertukaran antara Leo dan juga Roselia.


Dan kini, mikroskop buatannya telah memperoleh banyak penyempurnaan sedikit demi sedikit. Membuatnya menghasilkan bayangan yang lebih bagus dan mudah dilihat, serta pengaturan fokus dan juga ketinggian lensa.


Di sisi lain, Leo masih sibuk mempelajari kamus Runic buatan Roselia itu sendiri. Sebuah buku dengan judul "Rune and its Application towards General Use" memiliki ketebalan sekitar 478 halaman.


Dimana 73 halaman pertama menjelaskan mengenai cara penulisan, cara pembacaan, aturan mengenai bahasa dan tata susunannya, serta arti dari setiap huruf dan kata yang terbentuk olehnya.


Dengan total 32 huruf Runic, susunan bahasa yang kompleks dapat terbentuk dari semua huruf itu.


Bahkan menghafalkan semuanya saja membutuhkan banyak sekali waktu. Belum lagi 405 halaman berikutnya yang menjelaskan mengenai aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana penyusunannya.


Tapi Leo sama sekali tak masalah dengan hal ini. Itu karena buku ini benar-benar menjelaskan dengan detail mengenai apa itu Rune dan bagaimana cara memanfaatkannya.


Bahkan, Roselia membuat dan menuliskan semua ini sendiri. Sebuah Rune ciptaannya sendiri dengan tata bahasa dan aturan sendiri. Yang lebih mengerikan lagi, setelah diterapkan, Rune itu dapat berfungsi sesuai dengan apa yang dituliskan.


Hal itu sudah cukup untuk membuat Leo sangat mengagumi kejeniusan yang dimiliki oleh Roselia. Hanya saja....


'Kejeniusan seperti itu bahkan tidak termasuk dalam skill ya? Yah, tentu saja jika ada aku sudah pasti mengambilnya sejak dulu.' Pikir Leo dalam hatinya sambil memandangi sosok Roselia.


"Leo, apakah kau ada kesulitan dalam memahami rumus ini?" Tanya Roselia sambil menunjuk ke arah tulisan di papan tulisnya.


"Tidak ada. Lanjutkan saja." Balas Leo singkat.


"Bagaimana denganmu, Selene?" Tanya Roselia sekali lagi.


"Uuh.... Mungkin aku ingin memastikan kembali. Ketika kau menyebutkan mengenai perubahan Mana dengan pentagram lebih buruk daripada heksagram. Apakah pola ini berlaku untuk jumlah segi yang lain?"


Roselia terlihat tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia pun dengan segera menjawabnya.


"Aku senang kau menyadarinya. Seperti yang kau lihat, pada pola segi lima ini...."


Pelajaran mereka pun terus berlanjut. Dengan Leo yang saat ini mempelajari dua hal sekaligus. Yaitu buku Rune milik Roselia dan juga pelajaran dari Roselia itu sendiri.


Tentu saja, Selene membantu Leo dengan mencatatkan semua detail yang mungkin saja akan dilewatkannya.


......***...


...


...- Ruang Kerja Roselia -


...


Beberapa bulan kembali berlalu. Leo dan juga Selene mulai memahami esensi dari sihir itu sendiri, dan sedikit demi sedikit mampu menjawab misteri yang ada di kepala mereka.


Tak hanya itu, Roselia juga mengajari Leo dan Selene untuk memaksimalkan kapasitas sihir mereka. Membuat status Magic dan Mana mereka berdua meningkat setidaknya 2 kali lipat bagi Leo dan sekitar 40% bagi Selene.


Dan pelajaran kali ini....


"Kalian mengerti? Pada intinya, sihir adalah imajinasi kalian sendiri. Tapi hal itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Sebagai contoh, coba bayangkan bentuk dari es.


Apakah kalian mengetahui bagaimana strukturnya bisa terbentuk? Lagipula, kenapa es bisa menjadi es? Berapa suhunya? Kekerasannya? Warnanya? Sifat lainnya? Dalam membuat sihir original yang kuat, kalian perlu memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai hal itu." Jelas Roselia dengan panjang lebar.


Ia terlihat menuliskan di papan tulis mengenai berbagai sifat fisik dan kimiawi dari berbagai elemen, serta apa yang membuat mereka menjadi ada dan nyata.


Di satu sisi, Leo masih mendengarkannya dengan seksama. Tapi di hadapannya masih terdapat buku tebal mengenai Rune yang bahkan belum mampu diselesaikannya karena kompleksitas dari isi buku itu sendiri.


Sedangkan Selene terlihat memperhatikan dengan seksama serta mencatat semua informasi yang dibutuhkan dengan rapi.


Sesekali, terlihat sosok Selene yang mengangkat tangannya untuk memastikan atau menanyakan suatu hal yang masih belum dimengerti nya.


Atau ketika Leo mendorong kakinya secara ringan ke arah kaki Selene, menandakan bahwa Leo tak mengerti mengenai hal itu.


Dan ketika matahari telah mencapai titik tertingginya, Roselia akan menghentikan pelajaran dan memberikan tugas praktik kepada mereka berdua.


Sebagian besar hanyalah untuk mencoba memahami Rune kuno yang tak dapat diketahui jumlah dan arti pasti dari setiap hurufnya, berbeda dengan Rune buatan Roselia sendiri.


Pada saat itu, Roselia akan melanjutkan pekerjaannya sendiri. Dimana kali ini Ia mulai mengamati berbagai hal dengan mikroskopnya dan mencatat semua hasilnya dengan rapi dalam sebuah kertas.


Meskipun, semua hasil kerjanya masih disimpan untuk dirinya sendiri dan sama sekali belum diunggah. Roselia hanya ingin mengetahui. Itu saja.


Kadang kala....


"Leo, bisa kemari sebentar?" Tanya Roselia yang masih menghadapi mikroskopnya.


"Ada apa?" Tanya Leo yang segera mundur dari pekerjaannya saat ini untuk berjalan ke arah Roselia.


Setelah beberapa saat, Roselia menunjuk ke arah lensa dari mikroskop itu sambil menanyakan sesuatu kepada Leo.


"Aku sedikit memodifikasi lensanya agar bisa melihat dalam ukuran yang lebih kecil. Kemudian aku melihat benda ini dalam inti sel. Apa itu menurutmu?" Tanya Roselia.


Leo pun dengan segera mendekatkan wajahnya ke arah lensa untuk melihat apa yang ada dalam kaca preparat itu.


Dan apa yang dilihatnya....


Hanyalah warna putih dengan sedikit semburat kehitaman di sekeliling dan bercak-bercak hitam yang buram.


Leo dengan segera memahami bahwa apa yang dilihatnya adalah kromosom, atau untaian DNA itu sendiri. Sama seperti yang pernah dilihatnya dulu ketika di sekolah. Hanya saja, kali gambarnya terlalu buram dan bening. Bahkan hampir tak terlihat.


"Hmm.... Ku rasa ini adalah bagian terkecil dalam makhluk hidup. Hanya saja, terlalu buram dan bening untuk dilihat. Aku menyarankanmu untuk mewarnainya terlebih dahulu sebelum melihatnya." Jelas Leo.


"Mewarnainya? Dengan apa?" Tanya Roselia.


Pada saat itu lah, Leo tersadar. Ia tak tahu warna apa yang seharusnya digunakan untuk mewarnai hingga ke dalam sel.


Apa yang dilakukannya dulu hanya mencelupkan potongan sel ke dalam sebuah cairan berwarna merah sebelum melihatnya dalam mikroskop.


Sedangkan untuk warnanya itu sendiri....


"Entahlah.... Aku kurang tahu, mungkin kau bisa mencobanya. Tapi sepengetahuanku, aku sangat yakin bahwa itu adalah bagian terkecil, bisa dibilang penyusun dari makhluk hidup itu sendiri.


Jika kau bisa mengungkap rahasia dibaliknya.... Entahlah. Ku rasa peluangnya sangat luas." Balas Leo.


Kedua mata Roselia nampak berbinar dengan senyuman yang sangat lebar di wajahnya.


"Begitu kah?! Terimakasih Leo! Aku akan segera melakukannya!" Balas Roselia sambil segera berlari ke arah gudang.


Selama lebih dari 5 bulan belajar di bawah Roselia, Leo tahu bahwa gadis itu adalah tipe orang yang suka memecahkan masalah dengan usahanya. Selama ada petunjuknya, itu sudah cukup baginya.


Begitu pula saat ini.


'Baguslah, tapi sayangnya aku tak mengetahui lebih lanjut dari ini. Aku cukup menyayangkan diriku yang dulu bahkan tak mampu berkuliah....' Pikir Leo dalam hatinya.


Pada saat ini, Leo hanya menganggap bahwa mikroskop dan hobi baru Roselia hanyalah sebuah pertukaran yang adil baginya untuk memperoleh pengetahuan Rune.


Ia belum menyadarinya, bahwa tindakannya kali ini yang dianggapnya sebagai hal yang sepele itu, dapat merubah arah masa depan dunia ini.


Setelah beberapa saat....


Leo kembali berjalan ke arah tempat kerjanya untuk mengambil sebuah batang besi dengan banyak tulisan Rune berwarna biru yang indah.


Bisa dibilang sebagai karya pertama Leo setelah selama ini mempelajari mengenai Rune buatan Roselia.


Leo terlihat berjalan ke arah tempat dengan lantai batu serta boneka kayu dengan zirah besi di ujungnya. Secara perlahan, Leo mengarahkan batang besi itu ke arah boneka kayu.


Setelah memastikan arah targetnya, Leo kemudian meletakkan ibu jarinya tepat di tengah bagian Rune yang sedikit kosong itu. Dan dengan cepat segera menariknya kembali.


Dalam sekejap....


'Blaarr!'


Sebuah sihir api segera melesat ke arah boneka kayu itu. Memberikan ledakan kecil yang cukup untuk menggores baju besinya.


Akan tetapi....


'Masih kurang. Hanya dengan ini saja, aku takkan bisa mengalahkan musuh-musuhku kedepannya.' Pikir Leo sambil menatap tajam ke arah batang besi itu.


Mungkin senjata itu, adalah senjata sihir yang menyerupai senjata api pertama di dunia ini. Sebuah karya original milik Leo itu sendiri.


Tapi Leo sama sekali tak kesal. Karena Ia tahu, bahwa dirinya telah berjalan di arah yang tepat.