
'Srruugg!'
Leo mengenakan pakaiannya dengan rapi lalu membawa tas di pinggangnya. Pedang satu tangan yang cukup jarang Ia gunakan itu digantungkan pada pinggang kirinya. Sedangkan kumpulan batu Mana yang selalu Ia gunakan terdapat di kantung kecil paha kirinya.
Setelah semuanya siap, Leo meninggalkan kamarnya sambil membawa sebuah pedang dua tangan yang cukup besar. Pedang itu adalah barang yang baru saja memperoleh Enchantment tingkat C dan tingkat D darinya.
'Sekarang.... Berapa banyak benda ini akan terjual?' Tanya Leo pada dirinya sendiri. Ia berharap bahwa pedang itu dapat terjual seharga 200 koin emas atau lebih.
Pada saat Leo hendak keluar dari penginapan....
"Tuan.... Anda mau pergi?"
Suara yang begitu lembut terdengar dari belakang tubuhnya. Sebuah suara yang bisa membuatnya jatuh hati kapan saja, jika saja Ia memang menginginkannya. Tapi untuk saat ini, Leo hanya butuh bekerja keras.
"Ada apa, Selene?" Tanya Leo singkat tanpa menolehkan pandangannya.
"Aku akan menemanimu, Tuan." Ucap wanita berambut seputih salju itu.
"Baiklah, cepat kemari."
Langkah kecil dari Selene itu terlihat begitu anggun, wajar saja karena saat ini Ia masih mengenakan gaun merah yang sebelumnya dibelikan oleh Artemis.
Selene sendiri berjalan di belakang Leo, tepatnya di sebelah kirinya. Sesekali, Selene menatap sosok Pria yang ada di hadapannya. Pertanyaan demi pertanyaan terus menerus muncul di dalam kepalanya.
Apakah Ia memang Pria yang bisa dipercaya?
Apakah Ia memang Pria yang takkan melukainya, sama seperti perkataannya?
Lalu apakah Ia akan menyerahkannya pada kenalannya yang kejam itu jika dirinya membuat kesalahan?
Tapi semua kekhawatirannya segera menghilang hanya dengan beberapa kalimat sederhana.
"Kau sudah sarapan? Bagaimana keadaanmu? Kuharap kau sudah sedikit melupakan kehidupanmu di balik kurungan itu." Ucap Leo bahkan tanpa sedikit pun menoleh ke arah Selene.
Kedua matanya hanya memperhatikan kondisi sekitar, melihat bagaimana kehidupan orang-orang di Kota ini.
Selene hanya mampu menatap tanah setelah mendengar perkataan Leo. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Leo akan menaruh perhatian sebesar itu padanya.
"Su-sudah, barusan bersama dengan orang-orang yang lain. Keadaanku sendiri.... Cukup baik. Sedangkan untuk kehidupan di sana...." Ucap Selene dengan suara yang cukup lirih.
Leo menyadari bahwa Selene masih terlihat menjaga jarak dengannya. Bukan masalah besar karena Selene cukup akrab dengan Artemis. Tapi setidaknya, Ia ingin memperoleh bawahan yang sepenuhnya percaya padanya.
'Ini kah efek samping dari kebohonganku? Yah, tentu saja. Aku sendiri juga akan takut jika mendengar hal seperti itu.' Pikir Leo sambil melirik sosok Selene.
"Lupakan saja soal kehidupan lama mu. Aku akan memastikan kau tak mengalami hal buruk seperti itu lagi." Balas Leo berusaha untuk menenangkan Selene.
Tanpa menjawab, Selene hanya menganggukkan kepalanya dan terus mengikuti langkah kaki Leo.
Beberapa menit berlalu dengan keheningan diantara mereka berdua. Hingga akhirnya, Selene berusaha untuk memecahkan suasana kaku ini.
"Tuan, jika aku boleh tahu... kita akan kemana?" Tanya Selene.
Leo menepuk pedang dua tangan yang ada di punggungnya sambil menjawab.
"Menjual benda ini, dan mencari cara menghasilkan uang yang lain. Aku tak bisa terus menghidupi kalian semua tanpa bekerja."
Mendengar hal itu, Selene akhirnya tersadar.
Daging panggang yang semalam Ia makan bersama dengan 10 budak Leo yang lainnya di penginapan, begitu juga dengan tempat tinggal yang nyaman dimana setiap orang memperoleh satu kamar, semuanya tentu tidak lah murah.
Ia paham dengan maksud Leo sebelumnya, dimana mereka bukanlah budak melainkan pegawai. Dengan kata lain, mereka perlu membuktikan diri mereka sendiri nantinya dalam pekerjaannya.
Sedangkan Selene sendiri....
"Tuan, sebelumnya Anda bilang untuk menjadikanku sebagai pengawal. Kenapa seperti itu?" Tanya Selene, kali ini berusaha untuk menatap wajah Leo. Meskipun, apa yang bisa dilihatnya hanyalah bagian belakang kepalanya.
"Kau kuat bukan? Kau takkan mampu menatapku seperti itu jika kau orang yang lemah, setidaknya secara mental."
Apa yang dimaksud Leo adalah tatapan tajam yang diberikan oleh Selene ketika berada di pasar budak.
Tentu saja, penyebab sebenarnya adalah karena Leo mampu melihat secara langsung kemampuan Selene dengan Clairvoyance miliknya. Tapi Ia tak bisa mengatakan hal itu, setidaknya Ia perlu menyimpannya sebagai kartu rahasia.
"Aaah! Maafkan aku menatap Anda seperti itu pada waktu itu...." Ucap Selene yang mulai merasa panik.
"Jadi, apakah kau mau melakukannya? Menjadi pengawal ku?" Tanya Leo sekali lagi.
Selene merasa bahwa Ia setidaknya bisa mempercayai Leo untuk saat ini. Ia juga takkan menerima hal buruk jika bekerja dengan baik untuknya. Dan sebagai gantinya....
"Jika itu memang tugas yang pantas untuk diriku, aku akan dengan senang hati untuk menerimanya. Hanya saja...."
Selene kemudian memperhatikan tubuhnya sendiri yang saat ini terlihat begitu menawan seperti seorang putri.
"Benar, kau takkan bisa bertarung dengan itu. Setelah menjual benda ini, aku akan membelikanmu sesuatu. Jadi katakan saja apa yang kau butuhkan."
"Kau serius?! Aah.... Maksudku, Tuan serius?"
Melihat reaksi itu sudah cukup untuk membuat Leo tersenyum. Setidaknya, Ksatria terbaik yang pernah ditemuinya, akan dengan senang hati untuk memihaknya.
......***......
...- Toko Pandai Besi -...
"Hmm.... Ada banyak pertanyaan tapi, bagaimana kau menemukan ini?" Tanya Pandai Besi itu kepada Leo setelah mengidentifikasi pedang dua tangan yang dibawanya.
Pandai besi itu masih terus membenahi kacamata identifikasinya, dan mencoba melihat ke benda yang lain untuk memastikan bahwa kacamata itu memang tidak rusak.
"Aku menemukannya di Daeta. Entah siapa yang membuatnya, tapi aku beruntung untuk memperoleh harga murah." Jawab Leo.
"Hmm.... Memang benar bahwa 220 koin emas adalah harga murah untuk pedang sehebat ini. Terlebih lagi, bagaimana pedang ini bisa begitu tajam dan kuat di saat yang bersamaan?" Tanya Pandai Besi itu.
"Jangan tanyakan hal itu padaku. Aku hanyalah pedagang yang membawa pedang ini kepada calon pembeli terbaik." Balas Leo sambil tersenyum dan duduk di salah satu kursi kayu itu.
Sementara itu, Selene sedang melihat-lihat berbagai barang yang ada di toko itu. Leo telah mengizinkannya untuk memilih apapun yang Ia suka.
Toko ini sendiri cukup lengkap. Karena tidak hanya menjual beragam perlengkapan, senjata dan zirah, tapi juga terhubung dengan sebuah toko pakaian yang ada di sebelahnya. Membuat pelanggan yang masuk bisa memiliki pilihan yang luas.
"Hmm.... Begitu ya? Sayang sekali karena aku sangat ingin mencoba membuatnya. Baiklah. Bagaimana dengan 300?" Tanya Pandai Besi itu.
Sedangkan jawaban dari Leo sendiri cukup singkat.
"Empat ratus."
Pandai besi itu terlihat berpikir sejenak sebelum memutuskan.
Leo sendiri tahu, bahwa jika Ia cukup sabar maka pedangnya dapat laku seharga 500 koin emas atau lebih. Tapi saat ini Ia tak memiliki kesabaran untuk menunggu dan memilih untuk menjual cepat.
Setelah beberapa saat....
"330, aku tak bisa menawar lebih tinggi dari itu."
Mendengar jawaban itu, Leo segera berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pandai besi itu. Ia mengulurkan tangan kanannya sambil berkata.
"Setuju."
Dengan itulah, Leo memperoleh 330 koin emas pada pagi hari ini.
Sementara itu....
"Tuan! Kali ini aku bisa bertarung dengan baik! Aku akan menjamin keselamatan Anda." Ucap Selene sambil memamerkan pakaian dan juga senjata yang baru saja dibelinya itu.
Penampilannya kini justru jauh lebih menawan daripada yang sebelumnya. Selain menawan, Selene sendiri terlihat begitu kuat dan bisa diandalkan.
Dengan baju yang tebal berwarna hitam dan putih itu, serta celana dengan bahan yang cukup lentur dan juga berwarna hitam itu, Selene mengangkat sebuah busur baja dengan tangan kanannya.
Sebagai perlindungan tambahan, Selene mengenakan beberapa keping zirah tipis di balik pakaiannya dan sepasang pelindung pergelangan tangan yang terbuat dari baja hitam itu.
Tanpa sadar, kali ini Leo benar-benar telah jatuh hati dengan penampilannya yang terlihat begitu bisa diandalkan. Tak hanya kecantikannya, Selene sendiri juga memiliki kemampuan yang jauh melampaui harapannya.
Tapi Leo dengan segera menekan perasaan itu hingga sebatas perasaan kagum saja.
Ia merasa ini belum waktunya untuk terlena dengan hal sepele seperti itu. Jika Leo telah berhasil membuat perdagangan yang besar di dunia ini, terlebih lagi memiliki segudang kekayaan, maka Ia bisa sedikit bersantai dengan hal-hal seperti itu.
Sedangkan untuk kali ini....
"Selene. Kau jauh lebih menawan dengan pakaian itu." Ucap Leo sambil memberikan senyuman pada Selene.
"Aku juga berpikir seperti itu, Tuan! Terimakasih banyak telah membantuku kembali seperti dulu!" Balas Selene yang dengan tiba-tiba segera memeluk Leo.
'Sialan! Apa yang dia lakukan?! Jika seperti ini, aku yakin....' Pikir Leo dalam hatinya.
Tak berselang lama....
"Aaah, Tuan Braun. Gadis itu mengambil sepasang pelindung lengan dan juga sekitar 12 keping plat pelindung tipis berwarna hitam. Kemudian panah logam itu dan sekitar 100 anak panah." Ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul. Ia adalah pemilik dari toko pakaian yang menyatu dengan toko besi ini.
"Begitu kah? Baiklah, untuk semua itu, aku akan memberikan harga diskon sebesar 360 koin emas. Bagaimanapun, Gadis itu mengambil baja hitam yang cukup langka kau tahu?" Ucap Pandai Besi itu.
"Sedangkan untuk pakaiannya, Ia mengambil bahan dengan kualitas tertinggi yang kami miliki. Tapi kau bisa memilikinya cukup dengan 190 koin emas saja."
Ekspresi Leo yang saat ini masih dipeluk dengan erat oleh Selene itu, hanya menggambarkan sebuah wajah yang seakan tahu bahwa hal ini akan terjadi.
'Aaah.... Tentu saja kejadian seperti akan terjadi. Entah kenapa aku selalu sial setiap kali dekat dengan wanita.'