
Feris dan pasukannya yang tersisa segera berjalan kembali ke arah Eastfort.
Kobaran api yang menelan seluruh hutan itu dapat terlihat dengan jelas di bawah cahaya rembulan itu. Meskipun hari sudah malam, tapi pasukan yang dipimpin oleh Feris sama sekali tak beristirahat.
"Aku tak peduli seberapa lelah kalian, tapi jika kalian masih ingin hidup, teruslah bergerak." Teriak Feris dengan nada yang datar ke arah barisan pemanah itu.
Perkataan Feris bukanlah tanpa dasar.
Tapi karena sebagian pasukan berjalan kaki, pergerakan mereka jauh lebih lambat dibandingkan jika dengan menunggangi kuda.
Terlebih lagi, api di hutan itu takkan menahan pasukan iblis untuk selamanya. Dan jika melihat dari langit....
'Kenapa harus mendung saat ini? Nampaknya dunia ini memang tak begitu memihak umat manusia.' Pikir Feris dalam hatinya.
Jika api pada hutan itu padam, maka pasukan iblis sebesar itu dapat melaluinya dengan mudah. Dan peluang besarnya, mereka akan mengirim penunggang serigala yang lainnya untuk memburu Feris dan pasukannya.
"Hah.... Seberapa jauh lagi...."
"Aku sudah tak mampu berjalan...."
"Apakah benar-benar tak ada istirahat?"
Berbagai keluhan nampak terdengar di antara barisan para prajurit itu. Feris dan juga komandan pasukan itu mulai menyadarinya. Tapi mereka tak bisa melakukan banyak hal.
"Nona Feris, kurasa ini sudah cukup buruk untuk memaksa mereka." Bisik sang komandan.
"Aku tahu. Tapi bagaimana lagi? Lagipula, sebentar lagi kita akan sampai." Balas Feris.
"Sampai?"
Pertanyaan komandan itu sama sekali tak dijawab. Tapi setelah melanjutkan perjalanan, Ia akhirnya mengetahui jawabannya.
Di sebuah bukit, tepat di depan mereka, terlihat banyak cahaya yang berasal dari obor api serta ribuan tenda.
Semua itu adalah tenda pasukan yang menjadi penyergap kedua setelah Feris menyelesaikan rencananya.
"Nona Feris, ini kan...." Tanya sang komandan dengan mata yang terbuka lebar.
"Semuanya! Kita akan segera bergantian disana! Kuatkan kaki kalian! Ini adalah perjalanan terakhir untuk misi ini!" Teriak Feris dengan keras.
"Wuoooohh!"
"Akhirnya!"
"Kita bebas!"
Di sisi lain, Feris terlihat berjalan ke arah seorang pria berambut kemerahan dengan zirah berwarna merah tua. Ia tak lain adalah Alex, salah satu dari pahlawan.
"Tak biasanya kau berwajah suram seperti itu, Feris." Sapa Alex sambil membuat senyuman yang cukup lebar.
"Begitu kah? Yah, aku tak begitu peduli dengan wajahku. Daripada hal sepele itu, bagaimana dengan persiapanmu?" Tanya Feris kembali.
"Aku membawa 5.000 prajurit. Perangkap juga sudah dibuat, dan semuanya sudah siap. Kau dan pasukanmu bisa beristirahat malam ini dan kembali bersama kami besok atau lusa." Balas Alex yang kini memiliki wajah yang cukup serius.
"Terimakasih. Ku rasa aku akan sedikit mendinginkan kepalaku."
Dengan balasan itu, Feris segera pergi dan mengikuti salah seorang prajurit. Ia mengantarnya ke sebuah tenda yang memang dipersiapkan untuk Feris. Sedangkan prajurit lainnya segera berbaris dengan rapi dan mengikuti arahan komandan.
......***......
Beberapa jam berlalu.
Di saat Feris dan seluruh pasukannya sedang beristirahat, kini giliran Alex dan pasukannya yang bekerja.
Pada bagian tertinggi dari bukit itu, serta bagian terdepan dari benteng yang dibuat dari kayu itu, Alex terlihat sedang berdiri dengan tenang memperhatikan barisan para Iblis.
Obor yang mereka bawa untuk menerangi gelapnya malam ini terlihat begitu terang. Karena jumlahnya yang begitu banyak itu.
"Kau gugup?" Tanya Amelia.
"Tidak, hanya saja.... Bukankah mereka terlalu banyak?" Tanya Alex sambil menunjuk ke arah barisan iblis itu.
Sebelumnya, Ia memang telah mengumpulkan dan memperoleh informasi bahwa jumlahnya mungkin mencapai sekitar 80.000 lebih.
Tapi saat ini, bahkan setelah menerima serangan kejutan dari pasukan Feris, Alex melihat jumlah pasukan iblis itu masih terlalu banyak.
Menghitungnya secara manual memang tidak mungkin. Tapi jika memperkirakannya saja, Alex sangat yakin bahwa jumlah mereka lebih dari 80.000 saat ini.
Hal yang terburuk yang bisa terjadi saat ini adalah sikap pesimisme. Dan Amelia berusaha untuk mencegah hal itu terjadi.
"Mungkin kau benar." Balas Alex sambil memberikan senyuman yang tipis.
Setelah beberapa saat, Alex segera menarik nafasnya dalam-dalam sebelum berteriak dengan keras.
"Semuanya! Bersiap dalam posisi! Regu balista dan pelontar! Pancing mereka!"
Berbeda dengan pasukan yang dipimpin oleh Feris sebelumnya. Kali ini, sebagai bantuan, Feris membiarkan Alex memimpin pasukan didikan Feris sendiri di Eastfort.
Dan perbedaannya bagaikan langit dan bumi.
Tanpa ada keraguan. Tanpa ada kesalahan. Dan tanpa adanya banyak keributan.
Setelah mendengar teriakan dari Alex, beberapa orang yang berdiri di atas menara kayu itu mengibarkan bendera sesuai dengan kodenya. Dengan bekal 4 buah obor api yang cukup terang, mereka menjadi pusat perhatian dari seluruh pasukan yang ada.
Untuk situasi ini, mereka mengibarkan bendera berwarna merah dan bundaran hitam di tengahnya.
Dalam sekejap, semua pasukan yang ada di balik benteng kayu itu segera merespon sesuai dengan kode yang dilihatnya.
Ratusan orang nampak mulai memasukkan batuan besar ke atas pelontar. Dan beberapa lagi terlihat sedang menyiapkan balista.
Setelah semuanya siap, mereka tak segera menembak. Melainkan menunggu perintah berikutnya.
Sang pengibar bendera itu segera meletakkan benderanya yang sebelumnya. Menanti perkataan berikutnya dari Alex. Setelah beberapa saat....
'Sreettt!'
Alex mengayunkan lengannya dengan kuat.
"Tembak!"
Pada saat yang bersamaan, sang pengibar mulai mengangkat bendera sebelumnya setinggi mungkin. Pada saat itu juga, seluruh prajurit menembakkan senjata berat itu secara bersamaan.
'Swuuusshhh!!!'
Puluhan anak panah raksasa segera melesat di tengah malam ini. Menusuk tepat ke arah musuh terbesar dan terkuat, yaitu Troll.
Bahkan tanpa perintah sekalipun, mereka telah paham target mana yang harus diprioritaskan. Terlebih lagi, tembakannya benar-benar akurat.
'Jleeebbbb!!!'
Panah raksasa itu dengan cepat menembus dada dari Troll. Membunuhnya seketika dan membuat badannya yang setinggi lebih dari 5 meter itu terjatuh ke tanah. Menimpa semua iblis yang ada di bawahnya.
Tak berselang lama, batu besar yang dilemparkan bersamaan dengan Balista itu juga telah tiba.
Atau lebih tepatnya....
Ratusan batu yang sebesar kepala manusia. Dan semua itu menjadi hujan yang sangat mematikan bagi barisan pasukan manapun.
'Blaaarr! Blaaarr!! Blaarrrr!!!'
Ribuan iblis mati seketika hanya dalam satu gelombang serangan itu. Alex yang melihatnya hanya bisa menganga seakan tak percaya.
"Perintah selanjutnya, Tuan." Ucap seorang Ksatria yang berlutut di belakang Alex.
"Aah.... Ya. Tahan batu besar itu hingga iblis mulai mendaki bukit ini. Setelah itu, lepaskan semuanya dan biarkan batuan besar itu menggilas semuanya." Balas Alex sedikit gugup.
Bagaimanapun, Ia bukanlah sosok yang terbiasa memimpin pasukan besar. Melainkan seorang ksatria yang mengemban misi untuk menyelinap ke wilayah iblis.
Meski begitu, sosoknya yang merupakan salah satu dari 8 pahlawan tak bisa dipungkiri. Bahkan hanya dengan keberadaannya saja, serta keberadaan Amelia disini, sudah membuat moral dan semangat juang pasukan meningkat drastis.
Memahami kekurangan Alex dalam hal ini....
"Maafkan kelancangan saya, Tuan Alex. Tapi izinkan saya untuk mengambil alih dari sini." Balas Ksatria itu dengan tatapan yang tajam tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormatnya.
"Te-tentu saja! Silakan...." Balas Alex singkat.
Pada akhirnya, peperangan di bukit ini berlanjut dengan kemenangan mutlak umat manusia.
Mereka menghujani para iblis dengan panah dan batu serta api. Tak hanya itu, pasukan manusia juga menggelindingkan batu raksasa berapi dari atas bukit yang setidaknya menyapu banyak pasukan iblis.
Setelah memperoleh hasil yang memuaskan, pasukan dari Eastfort itu mundur pada dini hari. Mengambil langkah aman untuk tidak memperoleh satu pun korban jiwa.