E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 50 - Misi Peramu



Setelah Quest itu dipasang, tepat 8 orang petualang sepakat untuk mengambil misi itu. Bersiap untuk pergi ke Benua lain yang hanya dihuni oleh Elf itu.


Sebuah misi yang sangat panjang dan berbahaya itu tentu saja tidak bisa dibayar dengan murah. Itulah mengapa Guild menyarankan untuk setidaknya membayar 40 koin Platinum.


Dengan segera, Lucas mengadakan rapat di dalam Guild Hall ini untuk membahas mengenai tugas dan rencana mereka. Sedangkan Leo hanya duduk di samping dan mendengarkan semuanya.


"Pertama, namaku adalah Lucas. Aku tahu tugas kalian ini akan sangat panjang, tapi aku menjamin bahwa kalian tak akan menghadapi banyak bahaya selama bergerak dalam diam.


Kemudian untuk tugasnya sendiri, aku ingin kalian mengambil beberapa botol besar air kehidupan dari danau tempat pohon suci berada. Tepatnya sekitar 12 botol dua kali ukuran gelas minuman Pria itu.


Jika memungkinkan, aku harap kalian juga bisa mengambil beberapa tanaman seperti berikut ini." Ucap Lucas sambil menunjukkan sebuah lembaran kertas.


Pada lembaran kertas itu, terlihat penjelasan nama tanaman, gambar sederhana, serta ciri utamanya.


"Aku memang berharap kalian bisa mengambilkan beberapa bahan itu. Tapi jika memang tak memungkinkan, tidak diambil pun tak akan menjadi masalah." Lanjut Lucas.


Delapan orang petualang tingkat B di dalam Guild itu memperhatikan semua penjelasan Lucas dengan seksama. Setelah semuanya selesai....


"Baiklah. Kami sudah mengerti. Untuk batas waktunya adalah 2 bulan kan?" Tanya salah seorang petualang dengan kepala botak itu.


"Itu benar. Aku akan mengambil barang itu kembali disini setelah 2 bulan." Balas Lucas.


'Srrruugg!'


Setelah mendengar jawaban itu, delapan orang petualang itu segera berdiri dari kursi dan bersiap untuk pergi. Menjalankan misi panjang itu.


Akan tetapi....


"Tunggu." Ucap Leo yang dengan segera menghentikan langkah kaki mereka.


Di saat petualang dengan kepala botak itu menolehkan pandangannya....


'Bruk!'


Satu kantung kecil dilempar oleh Leo ke arahnya.


"8 Koin platinum. Anggap saja sebagai bonus uang muka." Ucap Leo dengan wajah datarnya.


Senyuman pun segera menghiasi wajah petualang botak itu dan juga tujuh petualang yang lainnya.


"Hahaha! Dengan ini kami akan jauh lebih bersemangat untuk bekerja! Terimakasih!" Ucap Petualang itu sambil segera membalikkan badannya dan melanjutkan langkah kakinya.


Tangan kanannya terlihat melambai. Meski begitu, matanya sama sekali tak menatap ke arah Leo dan Lucas.


Dan kini, setelah mereka pergi....


"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Lucas.


Apa yang dimaksud bukan hanya mengenai 40 koin platinum yang sebelumnya diberikan oleh Leo. Tapi juga 8 koin platinum tambahan.


"Hanya agar mereka segera bekerja." Balas Leo singkat sambil meneguk susu sapi dingin di gelas kayunya itu.


"Tapi...."


"Sekarang urusanmu telah selesai. Dan kini giliranku. Kau bilang kau adalah peramu obat? Selain permintaanku sebelumnya, bisakah kau mengajari beberapa bawahanku untuk meramu obat?" Tanya Leo.


Ia bahkan tidak menanyakan untuk apa barang yang diinginkan oleh Lucas dalam misi tersebut.


Itu karena Ia saat ini jauh lebih tertarik dengan potensi yang ada di depannya. Mengingat harga ramuan sangat tinggi, jika Leo bisa memperoleh pengetahuan itu....


Tapi jauh dari perkiraannya, wajah Lucas justru terlihat tersenyum tipis.


"Tentu saja." Balas Lucas sambil tersenyum.


'Apa maksudnya ini? Dia tidak ragu untuk memberikan informasi berharga seperti itu?' Pikir Leo dalam hatinya.


"Tapi sayangnya, aku mungkin akan segera pergi dari Kota ini. Masih banyak hal yang perlu ku persiapkan. Jadi aku akan meminjamkan ini." Ucap Lucas sambil mengambil sesuatu di balik tas pinggangnya.


Apa yang diambil adalah sebuah buku yang cukup tebal dengan sampul kulit berwarna coklat.


Melihat buku itu, Leo tersadar bahwa ini jauh lebih berharga daripada yang diharapkannya. Mengingat betapa besar keberuntungannya hari ini, Leo sendiri menjadi sedikit takut.


Mungkin kah kesialan besar akan menantinya esok hari?


"Kau yakin?" Tanya Leo sambil menyentuh buku itu.


"Tentu saja. Tapi aku hanya meminjamkannya padamu. Bagaimanapun, isinya adalah seluruh pengetahuanku. Aku akan kembali setelah dua bulan. Selama itu, kau bisa menggunakannya. Jadi jaga lah dengan baik." Ucap Lucas sambil mendorong buku itu ke arah Leo.


Setelah memperoleh sebagian dari kekuatan pengetahuan itu, Leo kemudian melanjutkan untuk menuntut permintaan lainnya.


Sambil memesan minuman, Lucas pun menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam kepala Leo.


Tanpa Leo sangka, peramu itu memiliki pengetahuan yang sangat luas. Bahkan jauh melampaui ekspektasinya.


Pertama adalah hutan suci Elf.


Sebuah tempat yang bisa dikatakan menjadi jantung dari ras Elf itu sendiri. Di dalamnya terdapat sebuah hutan yang lebat dan danau besar di pusatnya. Tepat di tengah danau itu, terdapat sebuah pohon suci.


Ukurannya sendiri tak besar menurut legenda, hanya setinggi 12 meter saja. Tapi yang luarbiasa dari pohon itu adalah sebuah kenyataan bahwa pohon itu memancarkan energi Mana yang murni. Bahkan jauh lebih murni daripada Mana Crystal yang bisa dikatakan sebagai salah satu bahan paling langka di dunia ini.


Kemurnian dan kelimpahan energi Mana itu seakan tidak mengenal batasan. Bahkan dikisahkan pohon itu telah ada sejak kelahiran Elf yang pertama di dunia ini.


Kekuatan yang terbesar dari semuanya adalah keabadian. Segera setelah Elf dewasa, atau tepatnya setelah berumur 150 tahun, mereka akan menjalani ritual kepada pohon suci itu. Menghentikan penuaan mereka seutuhnya.


Dan secara langsung, membuat mereka menjadi abadi dalam artian takkan mati karena usia.


Apa yang Lucas cari adalah air danau itu. Karena telah terpengaruh oleh begitu banyak energi Mana yang sangat murni, bahkan meneguk air danau itu saja dikisahkan dapat segera menyembuhkan luka dan banyak penyakit.


Berbeda dengan pohon suci, danau yang sebesar itu tidak terlalu dijaga oleh para Elf. Membuat pengambilan air danau suci itu mungkin untuk dilakukan.


Tapi yang diinginkan Lucas lebih dari itu.


Baru-baru ini, bersama dengan muridnya, Ia mempelajari bahwa pembuatan ramuan legendaris yang hanya ada di dongeng itu mungkin saja dilakukan. Selama bahan yang digunakan merupakan bahan-bahan tingkat tinggi.


"Elixir?" Tanya Leo sambil menyipitkan matanya. Ia merasa baru saja mendengar sesuatu yang sangat besar tepat di hadapan matanya.


"Itu benar. Elixir adalah sebuah ramuan yang hanya ada di dalam legenda dan dongeng. Dikisahkan kemampuannya bahkan bisa membuat orang yang baru saja mati selama beberapa menit kembali hidup." Jelas Lucas.


'Sebuah ramuan yang bisa menghidupkan kembali? Apa-apaan itu?!'


Raut wajah Leo dipenuhi dengan rasa terkejut. Segudang pertanyaan kini muncul di dalam kepalanya. Akan tetapi....


"Lucas! Aku sudah selesai berbelanja! Apakah kau bisa memasangnya disini?" Tanya seorang gadis yang berdiri di samping pintu Guild Hall itu.


Jaraknya cukup jauh dengan Lucas. Itulah kenapa Ia perlu untuk sedikit berteriak.


Ia memiliki paras yang begitu menawan dengan rambut berwarna pirang yang dikepang. Sedangkan pakaiannya sendiri adalah jubah berwarna putih dengan lambang bintang dengan 4 sudut serta beberapa bintang kecil lain di sekitarnya.


"Aah! Tunggu sebentar! Aku akan segera selesai!" Balas Lucas.


"Baiklah! Aku akan menunggu di luar!" Balas Gadis itu.


Melihat sosok gadis itu....


"Pendeta gereja?" Tanya Leo kepada Lucas dengan pandangan yang memperhatikan sosok gadis itu yang pergi meninggalkan Guild Hall.


"Yah, begitulah. Ingat perkataan ku barusan? Dia adalah muridku. Kami bersama-sama berusaha untuk mewujudkan ramuan ini. Jika berhasil, aku yakin pahlawan dan prajurit di Eastfort bisa bertarung dengan lebih leluasa." Jelas Lucas sambil segera berdiri.


Ia seakan ingin mengatakan sesuatu tapi terlihat kesulitan untuk menyampaikannya.


Menyadari hal itu, Leo hanya tersenyum tipis sambil berbicara.


"Kau boleh menyusulnya. Lagipula, aku sudah memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada 1.000 koin platinum sekaligus." Ucap Leo sambil meletakkan tangan kanannya di atas buku tebal itu.


"Kau serius?" Tanya Lucas seakan tak percaya bahwa apa yang harus dibalas kepada penolongnya ini hanyalah obrolan singkat selama setengah jam dan meminjamkan sebuah buku.


Tanpa menjawab, Leo hanya menganggukkan kepalanya yang sedari tadi bersandar di kepalan tangan kirinya.


"Terimakasih banyak, Leo! Aku akan mengingat jasa mu ini dan membalasnya di kemudian hari!"


Segera setelah mengatakan hal itu, Lucas segera pergi meninggalkan Guild Hall ini.


'Tap! Tap! Tap!'


Dari kejauhan, Artemis dan juga Selene mendekati Leo.


"Tuanku...."


"Leo? Apa yang baru saja terjadi?"


Dengan senyuman yang lebar, Leo segera membalasnya.


"Singkatnya, aku menemukan rumus untuk menggandakan uang dengan mudah."


"Begitu kah? Selamat, Tuanku. Aku yakin semua kerja kerasmu pasti terbayarkan." Balas Selene sambil sedikit menundukkan kepalanya.


Sedangkan Artemis?


"Menggandakan uang?! Bagaimana caranya?! Cepat ajari aku!" Teriaknya sambil menggoyang-goyangkan badan Leo.


......***......


...- Di luar Guild Hall -...


"Maaf membuatmu menunggu." Ucap Lucas ke arah gadis dengan seragam seorang pendeta itu.


"Tak masalah bagi ku. Tapi bagaimana? Apakah kau memperoleh seseorang yang mau ke Benua Elf?" Tanya gadis itu sambil mulai berjalan di sampingnya.


Senyuman yang cukup lebar terlihat di wajah Lucas ketika mendengar pertanyaan itu.


"Kau takkan percaya dengan hal ini. Tapi seorang pedagang bernama Leo memberikan 48 koin platinum agar ada orang yang mengambil misi itu. Bukankah itu gila?" Ucap Lucas sambil tertawa ringan.


"A-apa?! Kau serius?! Woaaah, nampaknya kita beruntung kali ini. Sudah berkali-kali kita mencoba memasang Quest itu di berbagai kota bukan?"


"Serius, aku sendiri tak mampu mempercayainya. Sebagai gantinya, Ia menanyakan beberapa hal mengenai misi ku. Dan juga aku meminjamkan buku panduan untuk membuat ramuan itu." Jawab Lucas.


"Heh? Lalu bagaimana aku akan belajar nantinya?"


"Tenang saja. Semua pengetahuan itu sudah ada di dalam kepala ini. Jadi itu takkan mengganggu latihanmu, Reina." Ucap Lucas sambil menepuk ringan kepalanya.