
...- Kota Venice -...
Sekitar 1 Minggu telah berlalu semenjak Leo kembali ke Kota Venice dengan pengetahuan dan pencerahan dari Igor. Saat ini, Ia bekerja sesuai dengan sarannya. Termasuk mengenai manajemen pasukan dan juga suplai para prajurit.
Mengingat bahwa saat ini satu-satunya sumber pangan hanyalah dari laut, maka Leo mengerahkan sebagian besar tenaga kerja di sana. Menciptakan lapangan kerja yang besar untuk menangkap banyak ikan dan juga memburu paus.
Hasil dari buruan itu kemudian secara rapi dibagikan oleh para pedagang yang secara rinci dipilih oleh Leo sendiri.
Para pedagang tersebut kemudian akan membagikannya secara gratis. Itu benar. Saat ini Leo mensubsidi semua kebutuhan di Kota Venice dengan harta pribadinya serta harta yang tertimbun di dalam balai kota itu.
Pembagiannya tak hanya berhenti di Kota Venice. Tapi juga terus berlanjut hingga seluruh wilayah Barat dari Rustfell ini. Bahkan hingga mencapai desa terpencil sekalipun.
Sebagai gantinya, Leo memberikan sebuah pidato yang cukup sederhana.
"Jika kalian bisa hidup dan makan di musim dingin yang kejam ini karena diriku, maka bersyukurlah. Itu karena aku takkan meminta bayaran satu peser pun dari kalian. Aku akan menjanjikan hal itu, selama aku masih hidup dan bisa bekerja.
Tapi jika kalian merasa ingin membantu keluarga, teman, kekasih, apapun itu. Jika kalian ingin melakukannya, dan ingin bekerja bersama denganku dalam menyelamatkan diri kita semua bersama-sama, maka mendaftar lah.
Semuanya tanpa terkecuali akan ku terima sebagai prajurit untuk membantuku membagikan makanan, minuman, dan juga berbagai kebutuhan lainnya di wilayah ini, termasuk menjaga kedamaian wilayah ini. Tentunya, dengan bayaran yang cukup layak."
Hanya dengan pidato yang singkat itu, Leo berhasil menarik hati banyak sekali penduduk yang tersisa di wilayah Barat Rustfell ini. Bahkan hingga anak kecil sekalipun berusaha mendaftar dalam militer untuk membantu.
Ketika ditanya alasannya oleh petugas yang mengurusi perekrutan prajurit itu....
"Tuan Leo itu luarbiasa! Aku akan mendaftar sebagai prajurit hanya untuk memenuhi keinginannya!"
"Aku takkan membiarkan Tuan Leo bekerja keras sendirian. Meskipun tak mampu melakukan banyak hal, aku akan tetap berjuang sekuat tenaga."
Sungguh situasi yang benar-benar luarbiasa.
Dapat dibilang, pemerintahan yang dibangun oleh Leo sangat lah efisien dan juga efektif. Mengatasi berbagai masalah yang ditinggalkan oleh keputusan gila Duke Achibald sebelumnya.
Tapi tentu saja, tak ada yang sempurna.
Satu-satunya kelemahan dalam sistem pemerintahan yang dibangun oleh Leo adalah kebocoran ekonomi. Semua itu terbentuk karena Leo terlalu banyak membantu para penduduk tanpa sedikit pun meminta keuntungan.
Wajar saja, tak ada manusia yang masih memiliki hati untuk merampas mereka yang telah dirampok oleh penguasa sebelumnya.
Meski begitu....
"Tuan Leo, laporan administrasi Minggu ini." Ucap Selene yang memberikan satu tumpuk kertas di atas meja itu.
Leo dengan cepat segera membaca semua laporan tersebut. Walaupun saat ini Ia sudah mulai merasa repot dan risih karena hanya memiliki satu mata saja untuk bekerja.
'Apakah ada sihir atau semacamnya untuk menumbuhkan organ yang sudah hilang? Atau mata mekanik?! Tidak.... Itu tak mungkin ada kan?' Pikir Leo sambil terus membaca laporan itu.
Pada setiap lembar kertasnya, semua diakhiri dengan tanda negatif di bagian paling bawah. Menunjukkan bahwa dari semua sektor dan juga usaha berakhir mengalami kerugian.
Bahkan jumlahnya tak lagi tanggung-tanggung.
"Jika terus seperti ini, nampaknya Kota Venice akan bangkrut 4 bulan lagi." Ucap Leo sambil tertawa ringan.
"Tuan! Jangan menertawakan hal itu! Bukankah ini sudah sangat berbahaya? Jika Kota sampai bangkrut, bukankah semua yang kita bangun saat ini akan runtuh?" Tanya Selene dengan wajah yang khawatir.
"Tenang saja, 4 bulan lagi bukan? Pikirkan nanti saja. Pada saat itu tiba, kita tak lagi berada di musim dingin sialan itu. Dengan kata lain, bisnis akan kembali terbuka." Balas Leo sambil merebahkan badannya di kursi kayu itu.
Mata kanannya nampak melirik ke arah Selene dengan sikap yang begitu santai. Begitu pula senyuman tipis yang seakan meremehkan itu.
Dengan wajah yang menjadi masam, Selene pun segera kembali duduk di kursinya sendiri lalu segera bekerja.
Beberapa saat berlalu dengan keduanya yang sibuk bekerja, hingga akhirnya seseorang datang membuka pintu ruangan itu.
'Cklekk!'
Tapi sosok yang ada di hadapannya cukup mengejutkan. Ia tak lain adalah petinggi bagian hubungan masyarakat. Tugas utamanya tak lain adalah untuk menjaga suasana wilayah ini tetap dalam kondisi yang positif.
Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Artemis.
"Yo, Leo. Sudah lama tak berjumpa denganmu." Ucap Artemis dengan senyuman yang manis. Kini, rambutnya yang diikat dengan gaya twintail nampak begitu imut. Terlebih lagi dengan warna hitam kebiruan yang indah serta panjang yang mencapai bagian pinggangnya itu.
Hanya saja....
"Oi, kau tak kedinginan dengan pakaian minim seperti itu?" Tanya Lep mengomentari pakaian yang dikenakan oleh Artemis.
Apa yang dikenakannya hanyalah baju tanpa lengan pendek, yang memiliki kancing atas terbuka berwarna hitam polos. Di atasnya adalah sebuah jaket yang juga tanpa lengan dengan warna biru tua yang indah.
Jaket tersebut memiliki tudung di bagian belakangnya serta sebuah lambang yang menunjukkan bahwa Ia adalah seorang petinggi.
Sedangkan untuk bagian bawahnya, Artemis hanya mengenakan celana pendek berwarna biru tua yang hanya sepanjang di atas lututnya. Sepatu kulit berwarna hitam itu nampak menutupi kakinya hingga sedikit di atas mata kakinya.
"Aku yang heran dengan kalian. Apakah tak panas dengan pakaian tebal seperti itu?" Tanya Artemis yang segera menutup pintu itu sebelum berjalan mendekati Leo.
Ia menarik sebuah kursi kayu ke hadapan meja Leo dan duduk dengan bagian belakang kursi di depannya. Menggunakannya sebagai tumpuan untuk kedua lengannya.
"Jadi, kenapa kau kemari?" Tanya Leo singkat.
"Seperti biasa langsung ke intinya ya? Baiklah...." Ucap Artemis sambil melemparkan sebuah kertas.
Leo yang kebingungan dengan sikap Artemis pun bertanya.
"Apa ini?" Tanya Leo.
"Baca saja. Itu adalah hasil rangkuman ku terhadap seluruh situasi di kerajaan manusia. Ah! Tapi jangan marah jika tulisanku jelek!" Ucap Artemis dengan penuh semangat.
Selene yang juga merasa penasaran dengan isi dari rangkuman Artemis itu pun segera berdiri dari kursinya. Berjalan perlahan ke arah Leo untuk melihatnya bersama.
Setelah membacanya beberapa saat, ekspresi tenang di wajah Leo dengan segera berubah drastis. Ia terlihat begitu tegang, tidak, mungkin terlihat cukup ketakutan dengan apa yang baru saja dibacanya.
"Artemis?! Kau serius dengan semua ini?!" Teriak Leo dengan keras.
"Untuk apa aku berbohong? Lagipula, itu adalah laporan dari para pengelana dan juga pedagang yang diriku atau bawahannya temui. Jadi kita masih belum tahu keasliannya. Hanya saja, aku yakin mereka takkan berbohong terlalu jauh." Balas Artemis.
Kini, apa yang ada di hadapan Leo bukanlah sebuah kertas dengan tulisan yang cukup buruk saja.
Melainkan sebuah kumpulan informasi yang paling tidak masuk akal yang pernah dilihatnya.
Perang antara Mulderberg dengan Maelfall dan juga Rustfell sedang terjadi menurut beberapa pedagang dari wilayah Mulderberg. Kemudian kanibalisme di wilayah Lake Town menurut penduduk setempat.
Tak hanya itu, berdasarkan informasi dari penduduk di Kota Daeta, mereka mendengar bahwa Eastfort telah jatuh di tangan iblis. Bersamaan dengan wilayah Maelfall.
Tapi menurut pernyataan dari pedagang yang berasal dari Maelfall, Wilayah Maelfall sedang berperang dengan pasukan manusia di Eastfort. Dan sebuah pernyataan bahwa Eastfort masih utuh, hanya saja kini dalam pimpinan tiran terbesar yaitu Feris.
Termasuk juga pernyataan bahwa Duke Theodore di wilayah Eastfort yang melakukan pemberontakan kepada Feris.
Semua informasi ini sama sekali tak masuk akal. Karena mereka semua seakan saling tumpang tindih satu dengan lainnya.
Dan dengan itu, Leo menyadarinya.
Bahwa sesuatu, seseorang, atau lebih buruk lagi, Iblis telah melakukan penyusupan ke dalam kerajaan manusia.
Tapi....
"Sejak kapan?!"