
Dengan kebijakan darurat yang ditetapkan oleh Leo, Kota Venice berhasil selamat dari ambang kehancuran.
Bahkan, hampir seluruh warga yang tersisa di Kota ini mulai memuja Leo sebagai sosok Tuan tanah yang sangat berbaik hati kepada rakyatnya.
Tak seperti Penguasa Kota sebelumnya yang hanya menghamburkan kekayaan Kota demi kesenangan pribadinya.
Melihat semua telah mulai stabil pada Minggu ke tiga, Leo pun mengadakan rapat kembali untuk memikirkan langkah berikutnya.
Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya....
"Apa yang akan kita lakukan terhadap wilayah Rustfell berikutnya?" Tanya Leo.
Pertanyaan itu sendiri memiliki makna yang cukup dalam.
Apakah Leo akan mengambil alih wilayah lain? Seperti kota Daeta di Timur dan berbagai desa hingga di wilayah Molinord. Atau lebih jauh lagi? Lalu, apakah Ia akan kembali menyelamatkannya?
Berbagai pertanyaan yang muncul itu pun segera diutarakan oleh salah seorang petinggi di Kota ini.
"Maaf, Tuan Leo. Tapi saat ini, kelompok bandit Red Skull juga belum menyerang. Jika kita bergerak dari Kota ini dan memindahkan fokus ke tempat lain...." Ucap Luna dengan sikap khawatir.
Tapi jawaban dari Leo sangat lah sederhana.
"Jika kau memang memikirkan bandit itu sedalam itu, maka daripada menunggu mereka menyerang, sebaiknya kau sendiri yang menyerang markas mereka."
"Eh?"
Kata yang sama juga terlintas di dalam pikiran semua orang.
Itu benar.
Dengan kondisi saat ini yang cukup kritis, pikiran mereka terlalu terpaku untuk bertahan dari serangan luar. Mereka tak memikirkan ada opsi lain yang lebih sederhana.
Yaitu dengan menghancurkan mereka secara langsung di wilayah mereka.
"Selene, apakah kau sudah menemukan markas mereka?" Tanya Leo singkat.
"Aku sudah memastikannya. Lokasinya tepat di sini." Ucap Selene sambil menunjuk di sebuah peta wilayah Barat Rustfell dengan jari telunjuknya.
"Kau dengar itu, Luna? Jika kau sudah paham, maka persiapkan pasukanmu untuk menyerang. Kita akan berangkat besok pagi." Ujar Leo dengan tegas.
Luna pun terkejut dengan keputusan mendadak dari Leo. Mengatakan bahwa mereka akan menyerang markas dari salah satu kelompok bandit terbesar itu dengan 200 prajurit saja.
"Tuan! Dengan segala hormat, tapi pasukan kita...."
"Jauh lebih cukup untuk membinasakan mereka bahkan tanpa korban jiwa di pihak kita." Balas Leo memotong perkataan Luna.
"Eh?!" Tanya Luna kebingungan.
"Hah?" Balas Leo yang sedikit kebingungan.
Leo kemudian meminta Selene untuk menjelaskan mengenai detail dari markas kelompok bandit itu. Setelah rapat singkat ini beres, semuanya pun bubar untuk kegiatan besar esok hari.
Yaitu penyerangan langsung ke markas bandit yang dikatakan meresahkan itu.
......***......
"Hmm.... Cukup bagus." Ucap Leo sambil memperhatikan barisan prajurit wanita itu.
Semuanya berbaris dengan rapi. Barisan yang terdiri dari 5 banjar itu berjalan secara perlahan mengikuti langkah kaki Leo, Selene, Reina dan juga Luna di depan.
Penampilan mereka nampak seperti prajurit Musketeer pada tahun 1600an. Dengan senjata laras panjang yang disandarkan pada bahu kanannya, serta tas ransel yang berisi bahan makanan dan juga kebutuhan lainnya.
Peluru, atau batu Mana yang mereka butuhkan disimpan di kantung samping kanan celana mereka. Sehingga memudahkan mereka untuk melakukan isi ulang jika diperlukan.
Tapi tak semua orang fokus untuk bertarung. Satu dari 5 orang nampak membawa tas yang lebih besar dimana dalam tas itu berisi tenda lapangan yang mudah untuk dipasang dan dibongkar.
Meski begitu, jarak perjalanan mereka diprediksi hanya sejauh 2 hari dan satu malam saja.
"Tuan Leo, nampaknya mereka semua cukup bersemangat." Ucap Selene sambil melirik ke arah barisan prajurit itu.
"Kau benar. Kupikir mereka akan takut karena ini adalah misi pertama mereka. Tapi nampaknya kekhawatiranku tak begitu berguna." Balas Leo.
Di sisi lain, Reina nampak mulai merangkul lengan kiri Leo sambil membisikkan sesuatu.
"Dim.... Apakah kita benar-benar akan baik-baik saja?" Tanya Reina dengan tatapan yang sedikit khawatir.
Leo pun memikirkan sejenak perkataan Reina.
Meskipun pasukannya memiliki persenjataan yang jauh lebih kuat dari pasukan manapun di dunia ini, tapi tetap saja ini adalah misi penyerangan pertama bagi Leo.
Sepintar apapun dirinya, Ia takkan pernah luput dari kesalahan. Oleh karena itulah Ia mendengarkan dan mempertimbangkan perkataan Reina baik-baik.
"Seharusnya dari segi kekuatan tak ada masalah. Tapi jujur saja sekarang aku mulai resah. Selene, perintah baru untukmu." Ucap Leo sambil segera menoleh ke arah Half-Elf berambut perak itu.
"Perintah baru?" Tanya Selene sambil sedikit memiringkan kepalanya.
"Setelah memasuki hutan, bawa 5 orang terbaik menurutmu. Lalu lakukan mata-mata di depan kami. Jika ada suatu masalah, tembakkanlah sihir api ke arah udara, kami akan segera menyusul.
Tapi jika tidak, lanjutkan secara perlahan dan kabari kami mengenai informasi di depan. Bisakah aku mempercayakannya padamu?" Tanya Leo.
"Tentu saja, Tuan. Akan ku pastikan semua berjalan sesuai dengan rencana."
Dengan itulah, pasukan yang dipimpin oleh Leo terus berjalan di bawah hujan salju yang tak kunjung selesai itu.
Pakaian utama mereka yang memiliki warna putih dan abu membuat mereka sedikit tersamarkan diantara banyaknya salju yang ada.
Meski begitu....
Kekhawatiran Leo berbuah nyata.
Tanpa satu orang pun yang menyadarinya, terlihat setidaknya 3 orang yang bersembunyi di balik tumpukan salju yang tebal itu.
Dengan senyuman yang lebar, mereka seakan begitu senang menyambut mangsa mereka datang sendiri ke dalam perangkap.
"Katakan pada bos, bahwa malam ini kita akan berpesta." Ucap salah seorang Pria dengan rambut yang dikepang serta banyak tato berwarna biru di wajahnya itu.
"Okee.... Tapi bagaimana menurutmu?" Tanya Pria yang lain dengan tubuh yang sedikit kurus itu. Pakaian mereka merupakan mantel bulu serigala salju. Membuat penampilan mereka sama sekali tak mencolok di situasi ini.
"Setidaknya 200 gadis cantik akan menyerahkan diri mereka malam ini. Bosnya.... Mungkin Pria itu. Bisakah kau membunuhnya dengan panahmu?" Tanya Pria dengan tato biru di wajahnya itu ke arah Pria yang satunya lagi.
"Mudah saja. Panahku tak pernah meleset ketika memburu kepala kapten pasukan." Balas Pria dengan wajah yang terkesan sedikit mengantuk itu.
"Kalau begitu sudah dipastikan, kita akan berpesta malam ini."
Di bawah salju yang terus menebal itu, dua kubu saling mengadu strategi dan perangkap mereka masing-masing.
Kini, apa yang menanti Leo....
Bukanlah sosok kelompok bandit biasa yang sering ditemuinya di jalanan.
Melainkan sebuah kelompok yang sangat terlatih dan terorganisir menyerupai sebuah kesatuan pasukan.
Sebuah kelompok yang sejak dulu selalu menebar teror di wilayah ini.
Dan ciri khas mereka, adalah memajang tengkorak lawannya yang telah direndam dalam darah mereka sendiri di dinding kayu mereka.
Itulah mengapa mereka dikenal sebagai kelompok Red Skull.