E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 33 - Akhir dari Musim Dingin



Hari ini, sesuatu yang berbeda terjadi.


Tak seperti hari-hari sebelumnya dimana badai terus menghantam berbagai wilayah dengan suhu dinginnya. Kali ini, badai telah sepenuhnya berhenti. Bahkan salju pun tak lagi turun.


Mentari yang biasanya tak pernah nampak, atau hanya mengintip selama beberapa saat saja, kali ini bersinar dengan cukup cerah.


Salju mulai meleleh.


Hawa dingin mulai pergi.


Dan akhirnya....


Musim semi pun tiba. Membawa kembali kehidupan di dunia ini.


"Whoah, aku sudah lupa bagaimana rasanya berjalan keluar tanpa mengenakan pakaian tebal." Ucap Leo yang keluar dari penginapan yang telah ditinggalinya lebih dari 3 bulan itu.


Saat ini, persiapannya telah matang. Ia mengenakan pakaian ala bangsawan dengan warna ungu dan coklat, sepatu kulit yang cukup tebal berwarna coklat serta sarung tangan kulit dengan warna yang sama.


Pada pinggang kanannya, terdapat sebuah tas selempang yang terbuat dari kulit hewan dan memiliki warna coklat gelap. Sebagian besar barang dan uangnya disimpan dalam tas itu.


Kemudian di pinggang kirinya, sebuah pedang yang terbuat dari baja tempa menggantung dengan rapi.


Untuk menutupi kekurangannya dalam sihir, Leo menyimpan beberapa batu Mana di sebuah tas kecil yang terikat di paha kanannya.


Batu Mana merupakan salah satu sumber energi sihir yang paling terjangkau. Semua itu karena jumlah energinya dapat dibilang cukup kasar dan sedikit. Tapi bagi seorang petualang, energinya sudah cukup untuk membalikkan situasi darurat yang dialaminya.


Penggunaannya pun cukup fleksibel. Leo dapat menarik energi Mana yang tersimpan di dalam batu itu untuk memperoleh Mana 'darurat' yang segera mengisi kembali energi sihir di tubuhnya.


Atau, Leo bisa juga mengalirkan Mana tambahan dan membuatnya menjadi tak stabil dengan mantra tertentu. Hasilnya adalah sebuah granat di dunia fantasi.


Tak hanya itu, seluruh pakaian dan senjatanya kini telah memperoleh masing-masing sebuah Enchantment tingkat C dan 2 buah Enchantment tingkat D.


Leo sebenarnya ingin memasukkan Enchantment ke 4, tapi pada saat melakukannya, pedang baja tempa yang sebelumnya segera patah dan hancur.


Kejadian itu membuat Leo paham bahwa suatu benda tak bisa memperoleh jumlah Enchantment melebihi kemampuannya.


Di saat Ia memperhatikan dirinya sekali lagi setelah mengurung diri selama 3 bulan di penginapan itu....


...[Objek : Manusia]...


...[Nama : Dimas]...


...[Rating : E]...


...Kesehatan : 2.931 / 2.970...


...Mana : 858 / 864...


...- Atribut -...


...Strength : 31 (+ 20)...


...Agility : 34 (+ 15)...


...Vitality : 26 (+ 34)...


...Magic : 14 (+ 12)...


...Dexterity : 15 (+ 5)...


...- Skill -...


...Enchanter - S Rank...


...Clairvoyance - A Rank...


...Mana Affinity - B Rank...


...Keen Eyes - C Rank...


Di saat Leo tersenyum sendiri pada saat memperhatikan telapak tangannya....


"Yo, Leo. Kau sudah siap?" Tanya seorang gadis berambut hitam panjang. Ia tak lain adalah Artemis. Setelah kehidupan bersama mereka selama 3 bulan ini, Artemis yang sebelumnya hanya tergila-gila pada uang mulai berubah.


Kini Ia jauh lebih tertarik terhadap cara yang akan dilakukan oleh Leo untuk menghasilkan lebih banyak uang.


Terlebih lagi, Artemis menghormati Leo seperti saudaranya sendiri. Ia tak ingin terpisah terlalu jauh dengannya dan selalu mengikutinya.


Dengan bantuan dari Leo, Artemis kini memiliki perubahan dalam perlengkapannya.


Pakaiannya yang sebelumnya memang telah termasuk sebagai perlengkapan tingkat tinggi.


Oleh karena itu Leo hanya menambahkan Enchantment yang fokus menaikkan ketahanan dan perlindungan sama seperti yang dilakukan pada pakaiannya sendiri.


Termasuk sebuah efek [Temperature Adjustment] yang tak hanya fokus untuk membuat pakaian menjadi hangat saja seperti sebelumnya, tapi membuat pakaian itu bisa menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya.


Jika lingkungannya panas, maka pakaian itu akan menjadi lebih sejuk. Dan begitu juga sebaliknya.


Jadi Ia melindungi dirinya sendiri dengan sebuah pisau dan busur pendek yang kini telah diganti menjadi Crossbow.


Keduanya juga telah ditingkatkan oleh Leo dengan Enchantment. Hanya saja....


'Clairvoyance.' Ucap Leo sambil memperhatikan sosok Artemis itu tanpa membalas perkataannya sebelumnya.


...[Objek : Manusia]...


...[Nama : Artemis]...


...[Rating : D-]...


...Kesehatan : 2.087 / 2.142...


...Mana : 1.557 / 1.582...


...- Atribut -...


...Strength : 17 (+ 10)...


...Agility : 42 (+ 22)...


...Vitality : 19 (+ 30)...


...Magic : 30 (+ 18)...


...Dexterity : 31 (+ 5)...


...- Skill -...


...Improved Healing - C Rank...


...Sebuah skill yang memungkinkan pemiliknya menggunakan sihir penyembuhan tingkat lanjut yang seharusnya sangat sulit dipelajari oleh orang biasa. ...


...Flexibility - C Rank...


...Sebuah skill yang membuat pemiliknya memiliki tubuh dan sendi yang cukup lentur. Memungkinkan pergerakan yang seharusnya sulit dilakukan orang biasa....


...Friendly - D Rank...


...Sebuah skill yang membuat pemiliknya mudah akrab dengan orang lain melalui percakapan. Begitu juga sebaliknya. Membuat pemilik Skill juga mudah untuk dibodohi. ...


Melihat informasi itu....


'Yang benar saja, bahkan Rating ku lebih rendah darinya?' Pikir Leo dalam hatinya sambil sedikit menyipitkan matanya.


"Leo? Kau baik-baik saja?" Tanya Artemis yang mendekatkan wajahnya untuk memeriksa Leo.


"Aah, maaf. Sampai mana tadi?"


"Kubilang, apakah ku sudah siap? Bukankah ini adalah rencana besar kita?" Tanya Artemis sekali lagi.


Rencana yang dimaksud adalah untuk membeli sebuah kereta kuda dan memulai perjalanan mereka. Sebuah perjalanan untuk menghasilkan lebih banyak uang.


Tentu saja bagian menghasilkan banyak uang adalah ide dari Artemis. Sedangkan harapan dari Leo sendiri hanya satu. Yaitu kembali ke Desa Canary dan menemui Reina. Termasuk memenuhi perkataannya untuk membantu Desa terpencil itu.


'Aku sudah membuatnya menunggu di sana terlalu lama ya? Tunggu sebentar lagi, aku akan segera menemuimu, Reina.' Pikir Leo dalam hatinya.


Leo pun mulai melangkahkan kakinya yang segera diikuti oleh Artemis.


"Ah, soal itu. Tentu saja. Ayo, kita cari kereta kuda terlebih dahulu. Kau sudah membawa uangnya kan?"


"Tentu saja!" Balas Artemis sambil membuka tas kulit berwarna hitamnya lalu memperlihatkan 5 koin Platinum di dalamnya serta puluhan koin emas.


"Wuaaaa! Aku tak sabar untuk melihat betapa luasnya dunia ini! Kau tahu! Sejak kecil aku selalu bermimpi untuk berpetualang! Itulah kenapa aku menjadi petualang! Lalu kau tahu? Ternyata menjadi dewasa itu menyebalkan!


Kita harus menghasilkan uang untuk membeli makan! Memenuhi kebutuhan! Dan memikirkan semuanya sendiri! Pada akhirnya, aku tak pernah berpetualang dan hanya menjadi penyembuh keliling! Lalu kau tahu?! Pada saat aku berumur...."


Pada saat ini, Leo telah terbiasa dengan sikap Artemis yang cukup cerewet itu. Ia tak perlu melakukan hal buruk seperti memarahinya atau sebagainya.


Itu karena sebagian besar dari ceritanya cukup menghibur untuk membuat senyuman di wajahnya.


"Begitu kah? Jadi kau ingin menjelajahi dunia ya? Lalu bagaimana dengan uangnya?" Tanya Leo sambil menggoda gadis itu.


"Tentu saja! Menjelajahi dunia adalah urusan nomor dua! Jika aku bisa menghasilkan banyak uang aku akan melakukan apapun! Itu karena aku butuh banyak uang untuk membeli...."


Artemis dengan cepat membalas dan mulai menyebutkan 100 barang yang ingin dibelinya.


"Bagaimana kau membawa barang sebanyak itu jika berpetualang? Kereta kuda tak sebesar itu kau tahu?" Balas Leo singkat sambil menahan tawanya.


"Ah, benar juga.... Berarti berpetualang adalah nomor 3! Yang terpenting adalah...."


Percakapan ringan mereka berdua mengiringi datangnya musim semi ini.


Dan langkah mereka berdua, akan mengawali lahirnya sebuah penguasa perdagangan terbesar yang akan pernah dilihat di dunia ini.