
...- Alun-alun Kota Venice -...
Reina dan juga Lucas terlihat mengelilingi tempat ini. Alun-alun ini tak begitu besar. Sehingga tak terlalu menyulitkan mereka berdua dalam mencari.
"Ramuan! Ramuan penyembuh dan pemulih tenaga! Murah saja!" Teriak salah seorang di depan kios yang berukuran sedang itu.
Dalam kios itu, terlihat tumpukan botol kaca kecil yang sebagian berisi cairan berwarna merah dan kuning sedangkan sisanya lagi terlihat kosong.
Reina dengan cepat berlari ke arah kios itu dan langsung bertanya.
"Katakan, apakah kau mengenal Leo?" Tanya Reina kepada seorang Pria yang sedang berteriak mempromosikan dagangannya itu.
"Tuan Leo? Tentu saja, dia adalah Tuan kami. Apakah ada sesuatu?" Tanya Pria itu dengan sopan.
"Bisakah aku bertemu dengannya? Ada sesuatu yang perlu ku pastikan." Tanya Reina.
"Hmm.... Tuan Leo melarang kami membawa orang asing ke dalam rumah, karena pernah terjadi suatu insiden sebelumnya. Jadi maaf, aku tak bisa...."
Pada saat pembicaraan itu seakan menuju kebuntuan, Lucas segera maju dan berbicara.
"Aku adalah orang yang meminjamkan Leo buku pembuatan ramuan itu."
Perkataan itu tentu saja membuat semua bawahan Leo sadar. Mereka tahu bahwa Leo mengatakan buku itu hanyalah pinjaman, jadi Ia yang akan menjaganya.
Dan selain mereka, tak ada satu orang pun yang tahu mengenai buku pembuatan ramuan itu. Oleh karena itu....
"Hmm.... Baiklah. Mungkin kami bisa menanyakannya." Balas Pria itu sambil menoleh ke arah pekerja yang lainnya.
Mereka semua paham apa yang dimaksudnya dan segera mengangguk.
"Ikut denganku. Tapi perlu kalian ketahui, Tuan kami itu kuat. Terlebih lagi Nona Selene. Jika kalian macam-macam, mungkin kepala kalian akan terpenggal." Ucap bawahan itu kepada Reina dan juga Lucas.
Mereka berdua pun menelan ludahnya sendiri. Reina sendiri tahu bahwa Leo bukanlah orang biasa karena bisa menahan pukulannya tanpa luka yang berarti.
Sedangkan Selene sendiri, Ia sangat yakin bahwa wanita berambut putih itu adalah seseorang yang berpengalaman dalam pertempuran.
Sekalipun dirinya adalah seorang pahlawan yang memperoleh berkah dari Dewi, Ia merasa ada sesuatu yang masih disembunyikan oleh Half Elf itu. Dan bertarung dengannya dalam kondisi tubuh yang masih sedikit melemah itu bukanlah pilihan yang baik.
Lucas dan Reina pun mengikuti langkah kaki bawahan Leo itu. Menuju ke suatu arah penginapan yang seluruh bangunannya telah disewa oleh Leo.
Segera setelah sampai....
"Tunggu sebentar di depan." Ucap bawahan Leo itu sambil segera masuk.
Reina mulai berpikir kekejaman seperti apa yang ada di dalam sana. Mengingat bahwa Leo memperlakukan salah seorang budak seperti barusan di pasar.
Terlebih lagi, para bawahannya mengatakan bahwa Leo juga bukanlah orang yang lemah. Jika Ia melakukan sedikit saja kesalahan mungkin....
Setelah beberapa menit tenggelam dalam pikirannya sendiri, bawahan Leo itu pun kembali keluar dan berbicara.
"Tuan kami cukup berbaik hati untuk menerima kalian sebagai tamu. Silakan masuk." Ucap Pria itu sambil membukakan pintu penginapan.
Lucas dan Reina pun masuk. Bersiap atas kengerian yang ada di dalamnya.
Akan tetapi, jauh dari pikiran mereka....
"Leo telah memberikan 2 koin platinum untuk kita berpesta hari ini! Semuanya! Jangan bermalas-malasan dan segeralah bersiap untuk membuat pesta yang meriah!" Teriak seorang gadis bertubuh cukup kecil itu.
Ia memiliki rambut hitam kebiruan dengan pakaian yang terlihat cukup minim.
"Siap, Nona Artemis!"
"Apakah kita akan membeli ayam atau daging?" Tanya seorang wanita yang merupakan bawahan Leo itu.
"Bodoh! Mana mungkin aku mau makan ayam dengan uang sebesar itu! Tentu saja daging! Yang banyak!"
"Siap laksanakan!"
Suasana yang begitu meriah terlihat di dalam bangunan ini, meskipun beberapa saat sebelumnya terlihat begitu suram.
Lucas dan Reina pun terlihat begitu terkejut dengan suasana ini.
"A-apa yang terjadi?" Tanya Reina.
Salah seorang bawahan Leo pun menjawab pertanyaan itu.
"Tuan Leo menetapkan bahwa mulai hari ini, tanggal 10 akan menjadi tanggal pesta besar tiap bulannya. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi tentu saja kami sangat senang!"
"Apakah Leo memang selalu sebaik itu?" Tanya Lucas penasaran.
"Hah? Apa yang kau katakan? Tuan Leo bahkan jauh lebih baik dari semua tuan tanah yang pernah ku dengar. Ia bahkan menyewakan seluruh bangunan ini agar kami bisa hidup nyaman. Bahkan membiayai seluruh makanan kami setiap harinya."
Di sudut ruangan yang meriah itu, terlihat sosok Leo yang sedang berdiri dengan dinding sebagai sandarannya. Sedangkan di sebelahnya adalah seorang wanita yang mengenakan pakaian hitam dengan corak merah, yaitu Selene.
"Kemari lah." Ucap Leo sambil mengajak kedua tamunya masuk ke dalam ruang kerjanya.
Dalam ruang kerja yang cukup kecil itu, Leo menata sebuah meja dan 4 buah kursi agar mereka bisa berbicara dengan nyaman.
Bahkan salah seorang bawahan Leo membawakan jus buah segar yang dingin untuk mereka nikmati sebagai suguhan dasar.
Tanpa menunggu lama, Leo langsung bertanya.
"Apa yang kalian inginkan dariku? Bukankah buku itu masih punya waktu 3 Minggu lagi?" Tanya Leo
"Ti-tidak! Kami tidak kemari untuk buku itu." Balas Lucas dengan wajah yang terkejut.
Berdasarkan pengakuan Reina, Lucas memikirkan bahwa Leo mungkin adalah orang yang bengis dan kejam. Tapi kenyataannya justru sebaliknya.
"Lalu kenapa perlu repot-repot menemuiku?" Tanya Leo kembali.
Kali ini, Lucas hanya melirik ke arah Reina. Membiarkannya menjelaskan segalanya.
"Leo.... Mengenai sebelumnya.... Kenapa kau melukai orang itu jika kau memang sebaik ini?" Tanya Reina.
Lucas pun terkejut karena itu bukanlah pertanyaan yang diharapkannya.
"Masih soal itu? Hah.... Selene. Ambilkan benda itu." Ucap Leo kepada Half Elf itu.
"Baik, Tuanku."
Selene pun berjalan ke arah salah satu meja dan membuka sebuah kotak yang berisi pedang satu tangan itu.
Ia kemudian berdiri di samping Tuannya sambil memperlihatkan pedang itu kepada Lucas dan Reina.
"Ini adalah pedang suci milik Pahlawan bernama Alicia. Mereka memintaku untuk memperkuatnya. Untuk menjaganya, tentu saja aku selalu membawa benda itu di dekatku.
Tapi budak tadi, meskipun aku telah menawarkan kehidupan yang baik seperti ini, dia mencurinya. Tidak untuk kabur secara langsung, tapi memilih mencuri pedang suci ini. Menurutmu, apa yang akan terjadi dengan dinding pertahanan Eastfort jika pedang ini hilang selamanya?" Tanya Leo setelah memberikan penjelasan yang panjang.
Reina sendiri belum terlalu memahami geopolitik di dunia ini. Tapi Ia tahu tentang keberadaan pahlawan yang lain.
Sedangkan Lucas itu sendiri....
"A-apa?! Bukankah itu terlalu buruk?!"
"Kau paham kan? Tentu saja aku menghukumnya. Tapi muridmu itu tanpa memahami situasinya memutuskan untuk menyerangku." Balas Leo.
Dari mulut Reina, hanya bisa keluar satu kata.
"Maaf...."
Leo pun hanya membiarkan perkataan Reina itu. Sebelum merubah topik kembali.
"Jadi, apa yang kalian cari disini? Kalian tidak hanya ingin menanyakan hal bodoh itu bukan?" Tanya Leo kembali.
Wajah murung Reina pun seketika berubah. Dan dengan cepat, Ia bertanya.
"Dimas.... Itu benar! Apakah kau memiliki budak atau semacamnya yang memiliki nama seperti itu? Kudengar kau...."
Sesaat sebelum menyelesaikan perkataannya, wajah Leo yang terlihat selalu datar itu seketika berubah.
Kedua matanya terbuka lebar, begitu juga dengan mulutnya. Ekspresinya sendiri campur aduk antara terkejut dan kebingungan. Tubuhnya pun mulai gemetar setelah mendengar nama itu.
Setelah memberanikan dirinya sesaat....
"Ke-kenapa kau mencari orang itu?"
Reina dan Lucas yang melihat ekspresi mencurigakan dari Leo setelah mendengar nama itu pun sadar, bahwa Ia pasti memiliki hubungan tertentu dengannya. Atau setidaknya, mengenali nama itu.
"Maafkan aku, Leo. Tapi dari reaksi mu.... Kau tahu sesuatu kan?" Balas Lucas yang kini mulai menatap tajam ke arah Leo.
Ia tak bisa membiarkan kesempatan emas ini untuk pergi. Setidaknya.... Untuk memenuhi janjinya kepada Reina dalam membantunya mencari Pria bernama Dimas itu.