
Beberapa Minggu telah berlalu semenjak peperangan besar yang terjadi di Crystalcourt. Dan kini, armada kapal perang yang dipimpin oleh Leo telah kembali.
Dari kejauhan, bendera Kota Venice dan juga bendera wilayah Rustfell nampak berkibar dengan indah.
Seluruh penduduk menyambut kedatangan kapal perang ini dengan begitu gembira.
"Semuanya! Tuan Leo telah kembali!" Teriak salah seorang pedagang.
"Sudah kembali?! Bukankah ini terlalu cepat?" Balas seorang Pria yang nampak seperti seorang prajurit itu.
"Hah? Apa yang kau katakan?!"
"Bagi Tuan Leo, masalah seperti ini hanyalah perkara kecil! Tentu saja Ia bisa menyelesaikannya dengan cepat!"
"Siapapun! Tolong segera kabari Keluarga Tuan Leo!"
Kehebohan mulai terjadi di pelabuhan ini. Semua orang nampak begitu gembira. Beberapa orang bahkan terlihat sedang menyiapkan sebuah jamuan untuk menyambut kembalinya para prajurit dan juga Tuan mereka.
"Apakah makanannya cukup?"
"Tak ada kata cukup! Pesan di distrik Utara atau Selatan! Kita harus merayakan kemenangan Tuan Leo dengan meriah!"
"Kau benar, dengan senjata hebat buatan Tuan Leo, mereka pasti menang dengan mudah di sana!"
Beberapa saat berlalu....
Kini, pelabuhan yang sebelumnya sibuk dengan banyaknya aktivitas perdagangan, segera berubah menjadi sesuatu yang menyerupai sebuah alun-alun kota.
Banyak sekali kios kecil yang buka dengan banyak makanan dan minuman di dalamnya. Termasuk juga penghibur jalanan yang menampilkan berbagai trik dan kemampuannya dalam sihir atraksi.
Pemandangan yang ada di pelabuhan ini nampak begitu meriah. Sedangkan kapal perang yang dipimpin oleh Leo itu semakin mendekat setiap saat.
Beberapa pelaut yang ada di sekitar dermaga nampak mulai mengarahkan kapal perang itu agar bisa berlabuh dengan mudah dan nyaman.
Sementara itu, keluarga Leo telah hadir. Bersama dengan mereka juga beberapa tokoh penting di wilayah ini.
"Ibu, Apakah Ayah sudah kembali? Bukankah terlalu cepat?" Tanya Marcus yang nampak menggandeng tangan kiri Reina itu.
"Tentu saja cepat! Kau pikir orang seperti apa Ayah itu?!" Balas Stella dengan kedua lengan yang disilangkan di depan dadanya.
Sedangkan Reina justru merasa khawatir dengan semua ini. Ia juga sependapat dengan perkataan Marcus.
'Marcus benar.... Kepulangan Dimas terlalu cepat. Jika memperhitungkan waktu perjalanan menuju ke Crystalcourt, mereka seakan hanya berada di sana selama beberapa hari saja.' Pikir Reina dalam hatinya.
Ia tak bisa menghentikan banyak pikiran negatif yang mengalir di dalam kepalanya. Dengan tatapan mata yang penuh rasa takut, Reina terus memperhatikan kapal terbesar yang seharusnya dinaiki oleh Leo itu.
'Tapp!'
Dari belakang, seseorang nampak menepuk pundak Reina dengan ringan.
"Tenang saja. Aku tahu Leo itu seperti apa! Bahkan jika dia terluka, aku bisa menyembuhkannya dengan cepat!" Teriak Artemis yang berusaha untuk menghibur Reina itu.
"Terimakasih, Artemis."
Dari sampingnya, Roselia yang sebelumnya masih memberikan pelajaran khusus kepada Stella juga nampak berkomentar.
"Aku adalah orang yang realistis. Dan ku rasa menunggu mereka turun sebelum menyimpulkan adalah hal yang terbaik. Hanya saja...." Ucap Roselia yang berhenti di tengah-tengah.
"Hanya saja.... Apa?" Tanya Reina penasaran.
'Apakah hanya imajinasi ku? Atau aku sama sekali tak bisa merasakan Mana milik Leo dan juga Selene? Terlebih lagi.... Jumlah Mana yang besar di seluruh kapal ini....' Pikir Roselia dalam hatinya.
Dan akhirnya....
Jawaban yang dinantikan pun tiba.
Bukan manusia. Melainkan ras dengan warna rambut yang didominasi oleh warna pirang, kuning dan perak. Dengan ciri utama berupa telinga runcing mereka yang cukup panjang.
Pakaian utama mereka nampak seperti sebuah jubah yang begitu indah. Tak banyak zirah kelas berat yang terlihat dalam tubuh mereka. Hanya zirah ringan yang tipis dengan ukiran yang begitu indah.
"Elf?" Tanya Reina kebingungan.
"Hah? Kenapa mereka ada di sini?" Ujar Artemis yang juga bingung.
Adalah dengan bersujud kepada seluruh kerumunan manusia yang ada di hadapan mereka.
Semuanya tanpa terkecuali.
Bahkan mereka yang baru saja turun dari kapal segera mempercepat langkah kaki mereka untuk ikut bersujud bersama dengan para petinggi Elf yang lainnya.
Dalam situasi yang penuh kebingungan itu, ada satu hal yang sangat aneh saat ini.
Yaitu tak ada satu pun manusia yang terlihat keluar dari kapal itu.
Di tengah keheningan yang disebabkan oleh kebingungan itu, salah seorang Elf segera berbicara untuk memecahkan suasana ini.
"Maafkan kami." Ucap Elf itu dengan suara yang lembut tapi juga cukup keras.
Tak ada satu orang pun yang paham dengan kalimat permintaan maaf itu. Tapi bukan berarti tak ada yang bisa menebak arah dari pembicaraan itu.
"Oi.... Apa maksudmu dengan itu?!" Teriak salah seorang nelayan yang sedang berdiri sambil membawa sebuah piring besi besar dengan satu ekor ayam bakar yang masih hangat.
Tak ada jawaban dari Elf yang barusan berbicara itu.
Kini, beberapa orang lain yang berada dalam pelabuhan itu mulai melontarkan pertanyaan mereka.
"Benar! Dimana Tuan Leo berada?!"
"Apa yang kau lakukan pada mereka?!"
"Dimana pasukan Tuan Leo berada?!"
"Anakku! Dimana anakku! Dia ikut berperang sebelumnya! Katakan dimana anakku?!" Teriak wanita tua itu sambil menangis dan terus menggoncang kan tubuh salah seorang Elf yang ada di dekatnya.
Tapi masih belum juga ada jawaban dari mereka. Mereka hanya terus bersujud, dan menanti permintaan maaf mereka untuk diterima.
Para Elf itu sadar dengan sangat baik, bahwa tindakan yang mereka lakukan sebelumnya, adalah sebuah tindakan paling pengecut yang bisa dilakukan seseorang, atau sekelompok orang dalam sebuah peperangan.
Yaitu meninggalkan bala bantuan setelah mereka susah payah datang untuk membantu mereka. Tanpa sedikit pun usaha untuk menyelamatkan mereka kembali.
Atau setidaknya....
Untuk mati bersama mereka.
Bagi ras dengan harga diri yang setinggi ras Elf, tindakan mereka ini adalah hal yang sangat rendah dan sangat hina.
Tapi mereka terpaksa melakukannya.
Silverhide telah runtuh dan jatuh di tangan Iblis. Tak ada satu orang pun yang tahu apa yang terjadi di sana. Dan apakah ada yang masih selamat.
Di sisi lain, Crystalcourt telah berada tepat di hadapan kehancuran. Dan mereka adalah satu-satunya yang masih bertahan hidup.
Demi menjaga keberadaan ras mereka....
Tidak.
Mungkin itu adalah alasan pengecut yang terus mereka tegaskan dalam hati mereka.
Apa yang sebenarnya terjadi, adalah mereka takut untuk mati.
'Tapp!'
Salah seorang wanita dengan rambut hitam yang diikat ekor kuda nampak berdiri tepat di hadapan Elf yang sebelumnya berbicara itu.
Ia tak lain adalah Roselia.
Dan tanpa satu pun pertanyaan....
'Braakkk!!!'
Roselia menendang tepat di wajah Elf itu. Yang tak lain adalah sosok dengan kedudukan tertinggi di Cyrstalcourt, yaitu Sventia.
"Dengan ini aku memaafkanmu. Sekarang katakan. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Roselia dengan tatapan yang sangat tajam.