
Secara perlahan, mata Dimas mulai terbuka. Membawa kesadarannya kembali kepada tubuhnya.
Apa yang Ia lihat adalah pemandangan yang sama seperti biasanya. Sebuah tambang yang gelap, dengan beberapa orang yang terlihat telah tergeletak tak berdaya.
"Apakah prajurit sudah datang?" Tanya Dimas kepada salah seorang yang sedang berbaring dengan tubuh yang menggigil itu.
"Ah, nomor 30.... Prajurit mungkin datang sebentar lagi. Terimakasih sudah mengingatkan." Ucap Pria itu sambil berusaha untuk bangun.
"Begitu kah? Terimakasih." Balas Dimas singkat.
Apa yang ada di dalam pikiran Dimas saat ini ada beberapa hal.
Kenapa dirinya pingsan.
Apa yang harus dilakukannya ketika Prajurit datang.
Haruskah Ia peduli dengan orang lain?
Pertanyaan pertamanya dengan segera terjawab setelah Dimas melihat kedua tangannya sendiri.
Sesaat setelah fokus selama beberapa saat, skill tingkat A [Clairvoyance] miliknya segera aktif dengan sendirinya. Dimas merasa energi Mana miliknya sedikit terserap karena aktivasi skill penglihatan itu.
Tapi apa yang dilihatnya jauh lebih luarbiasa daripada ekspektasinya.
...[Objek : Manusia]...
...[Nama : Dimas]...
...[Rating : E]...
...Kesehatan : 118 / 895...
...Mana : 272 / 311...
...- Atribut -...
...Strength : 20...
...Agility : 24...
...Vitality : 17...
...Magic : 8...
...Dexterity : 12...
...- Skill -...
...Enchanter - S Rank...
...Clairvoyance - A Rank...
...Mana Affinity - B Rank...
...Keen Eyes - C Rank...
Seluruh informasi tersebut muncul di hadapannya seperti sebuah jendela tembus pandang dengan tulisan di dalamnya.
'Luarbiasa sekali! Aku bisa melihat semua informasi sedetail ini?! Hanya dengan kekuatan tingkat A itu?! Pilihanku benar-benar tepat! Dengan ini....'
Jika memperhatikan reaksi dari orang-orang yang ada di sekitarnya, nampaknya tak ada yang bisa menyadari jendela informasi tersebut. Hanya dirinya sendiri yang bisa melihatnya.
Dimas segera mengalihkan pandangannya kepada pakaiannya sendiri. Berusaha untuk melihat apa yang telah berubah.
...[Objek : Pakaian]...
...[Pakaian Kain tingkat Rendah]...
...[Rating : F]...
...Durabilitas : 9 / 20...
...- Atribut -...
...Defense : 1...
...- Efek Khusus -...
...Kehangatan : + 50...
...- Enchantment -...
...Peningkatan Kehangatan - C Rank...
'Luarbiasa sekali! Jadi seperti ini rasanya ketika bisa melihat informasi apapun yang ada di depanku?! Menarik! Tapi.... Kenapa peningkatan Kehangatan ini hanya tingkat C? Apakah ada suatu masalah?'
Setelah memikirkannya sejenak sambil mengingat kembali informasi yang baru saja dilihatnya, Dimas akhirnya tiba pada satu kesimpulan.
Yaitu bahwa dirinya baru saja kehabisan Mana. Hal itu dijelaskan kenapa tingkat Enchantment yang diperolehnya hanya berada di tingkat C. Tidak lebih tinggi, atau tidak lebih rendah.
Efek karena Ia sangat ingin memperoleh pakaian yang hangat membuatnya mengalirkan Mana miliknya sampai habis. Dan hal itu terhenti di tingkat C peningkatan Kehangatan pada pakaiannya.
'Hmm.... Dengan kata lain aku masih sangat kurang dalam memanfaatkan skill ini. Tapi sebaliknya, aku memiliki potensi yang masih jauh lebih besar di masa depan.'
Sambil memikirkan hal itu, Dimas akhirnya memecahkan masalah pertamanya kenapa Ia tiba-tiba pingsan.
Pemecahan masalah itu secara tidak langsung membantunya menjawab permasalahan ketiga. Yaitu haruskah Ia membantu orang lain atau tidak.
Jawabannya sangat sederhana.
Bukannya tak mau membantu, tapi Ia tak bisa melakukannya saat ini. Dan jujur saja, Dimas sendiri tak peduli terhadap nasib mereka kedepannya karena Ia sendiri telah melihat banyak orang yang mengalami nasib yang lebih buruk.
Atau dengan kalimat lain...
Sebuah pengorbanan yang diperlukan demi keselamatan orang lain.
Sekarang untuk masalah kedua....
Dimas memperhatikan rantai besi yang mengikat kakinya. Rantai tersebut terhubung pada sebuah bola besi yang tak terlalu besar, tapi cukup berat untuk menghambat pergerakan.
'Benda sialan ini.... Aku takkan selamat ketika melawan prajurit dengan benda ini. Bagaimana aku menyingkirkannya?'
Setelah memikirkan sejenak, Dimas berpikir untuk memperkuat sebuah batu hingga cukup tajam untuk memotong besi itu.
Tapi pemikiran itu segera dihentikan olehnya karena Ia tak ingin melakukan hal bodoh yang peluang besarnya akan gagal.
Memotong besi dengan batu?
Seberapa baik pun batu itu ditingkatkan, kemungkinan batu itu akan gagal memotongnya atau hancur terlebih dahulu.
Dengan begitu, Dimas kembali merenung dan terdiam.
Memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Pada saat Ia sedang sibuk tenggelam dalam pikirannya sendiri....
"Hei, nomor 30. Kau sudah menyiapkan sesuatu untuk kau berikan pada prajurit nanti?" Tanya seorang Pria yang berjalan mendekati Dimas itu.
"Ah, ya. Aku masih memiliki sisa butiran emas dan perak dari hasil tambang kemarin. Bagaimana denganmu, 52?" Tanya Dimas kembali.
"Aaah.... Beruntungnya dirimu. Kau bisa mendapatkan jatah lebih banyak makanan hari ini jika begitu. Aku sendiri hanya memiliki batuan tak berguna. Kurasa prajurit akan mengurangi jatah makananku lagi kali ini."
Pikiran Dimas segera terhenti sesaat setelah mendengar perkataan nomor 52.
Apa yang membuatnya terhenti adalah satu kata.
Yaitu pengurangan.
'Tunggu dulu.... Bagaimana jika bukannya menambahkan kekuatan pada suatu benda, tapi menguranginya.... Apakah itu akan berhasil?'
Dimas segera meletakkan tangan kanannya pada rantai besi itu tanpa membalas perkataan nomor 52.
Setelah berhasil melakukannya sekali, Dimas telah sedikit paham mengenai cara kerja penggunaan kekuatan ini.
Ia memfokuskan pikirannya lalu mengalirkan Mana secukupnya. Kali ini, Dimas hanya mengalirkan setengah dari Mana miliknya.
Sedangkan apa yang diinginkannya....
'Buatlah besi ini menjadi rapuh.'
Apa yang terjadi berikutnya sesuai dengan harapannya. Sebuah lingkaran sihir merah dengan sedikit cahaya kemerahan mulai muncul di telapak tangan Dimas.
"Tu-tunggu dulu! Apa yang baru saja kau lakukan, 30?!" Teriak nomor 52 kebingungan ketika melihat cahaya itu.
Tapi Dimas hanya diam, tak menjawabnya sepatah kata pun.
Setelah tepat sekitar 5 detik cahaya dan lingkaran sihir merah itu muncul, semua cahaya yang ada seakan terserap ke dalam rantai besi itu.
Dan apa yang terjadi....
'Kreettaakk!'
Rantai itu segera retak hanya dengan cukup tekanan dari tangan kanan Dimas.
'Berhasil!'
Kali ini, senyuman yang dibuat oleh Dimas jauh lebih lebar daripada ketika Ia mampu memberikan efek positif pada pakaiannya.
Dengan kemampuan untuk memberikan efek negatif, kini potensi yang dimilikinya bahkan jauh melampaui apa yang Dimas sendiri bayangkan.
'Kekuatan ini.... Jika aku telah menguasainya....'
Beragam kemungkinan, potensi, rencana dan berbagai tindakan yang harus dilakukannya segera terlintas pada kepalanya.
Sama seperti ketika Ia memperoleh pendidikan keras dari orangtuanya dulu.
'Setiap informasi adalah senjata. Dan senjata terkuat bukanlah pedang atau sihir, melainkan sebuah kecerdasan yang terasah dengan kemampuan yang tepat.'
Dimas teringat kembali salah satu kalimat andalan Ayahnya ketika masih mendidiknya dulu. Dan kini sedikit mengubahnya untuk menyesuaikannya pada situasinya saat ini.
'Klaaangg!'
Dengan tekanan yang kuat, Dimas berhasil menghancurkan rantai itu berkeping-keping. Melepaskan dirinya sendiri dari pengekang terbesarnya.
Nomor 52 yang melihat hal itu hanya bisa menganga selebar mungkin. Tak percaya atas apa yang baru saja dilihatnya.
Secara tiba-tiba....
'Kliingg!'
Dimas melemparkan sebongkah kecil perak yang ditemukannya kepada nomor 52, termasuk dengan 3 butir emas yang dimilikinya.
"52, bantulah aku dan kau bisa memiliki bongkahan perak itu untukmu."
'Glek!!'
Nomor 52, Pria dengan rambut hitam itu pun menelan ludahnya sendiri. Mempersiapkan dirinya terhadap apa yang akan terjadi.
Segera setelah itu, Dimas pun memberikan rencananya dengan rinci.
Sebuah rencana....
Untuk kabur dari penindasan Baron Gilbert yang tak manusiawi ini.