E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 146 - Panggung untuk sebuah Akhir



Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, Leo dan Narla akhirnya tiba.


Dengan cahaya bulan purnama yang indah di malam hari ini, keduanya mengukuhkan kembali hari mereka. Mempersiapkan diri untuk mempertaruhkan nyawa mereka demi dunia ini.


Di sebuah tempat yang diyakininya menjadi sebuah kastil Raja Iblis Valkazar saat ini di tanah Elf.


Termasuk juga, sebuah pemandangan mengerikan dimana Danau Suci telah mengering, dan pohon Mana telah layu sepenuhnya.


"Penjagaannya sangat minim. Kita bisa melakukannya." Ucap Leo sambil menyerahkan sebuah kertas dengan gambar denah kastil iblis ini secara sederhana.


Narla menerimanya sambil menganggukkan kepalanya seakan paham atas apa yang perlu di lakukannya.


"Leo, kapan aku menggunakan sihir distorsi cahaya ini?" Tanya Narla sambil menunjuk ke sebuah lembaran kertas.


"Kau bisa menggunakannya sekarang pada dirimu dan diriku. Dengan sihir itu, meskipun tak sempurna, cahaya akan sedikit terdistorsi di sekitar tubuh kita selama 10 menit. Membuat kita sulit untuk dilihat."


Narla mengangguk dan segera menggunakan sihir itu kepada dirinya sendiri dan kepada Leo. Sesuai dengan panduan yang telah dituliskan olehnya.


Melihat efek dari sihir itu, Narla sedikit terkejut atas hasilnya. Di hadapannya, sosok Leo terlihat seperti ratusan kaca yang memantulkan apa yang ada di sekitarnya. Yaitu bebatuan dan kayu yang telah kering itu.


Membuat sosok Leo yang sebenarnya sangat sulit untuk ditemukan kecuali jika melihatnya dengan sangat teliti. Terlebih lagi di malam hari seperti ini, menemukannya hampir mustahil.


"Aku kagum Hyume bisa membuat sihir seperti ini. Benar-benar pemikiran yang luarbiasa." Ucap Narla memuji sihir Leo ini.


"Tak seperti kalian, kami para manusia dilahirkan dalam keadaan lemah. Jadi harus memutar kepala untuk bertahan hidup."


Setelah beberapa saat mengatur nafasnya kembali, Leo pun bertanya.


"Kau sudah siap?"


"Kapan saja kau mau." Balas Narla singkat dengan penampilannya yang terdistorsi dengan lingkungan sekitar itu.


"Kalau begitu, ayo kita mulai."


Keduanya segera berlari secara perlahan. Bersembunyi diantara pepohonan yang telah hangus itu serta bebatuan yang ada di sekitar mereka.


Tujuan mereka hanya satu. Yaitu untuk menciptakan sebuah lingkaran sihir raksasa. Sebuah sihir ruang versi kedua yang dibuat dan dirancang oleh Leo selama perjalanannya kemari.


Rencananya cukup sederhana. Yaitu untuk memisahkan kastil itu dengan dunia ini. Memindahkannya ke dalam sebuah dunia sementara lainnya dimana Leo bisa mengamuk sepuasnya tanpa bala bantuan musuh.


Cara untuk melakukannya? Meskipun sangat kasar, keduanya meletakkan katalis yang berupa kristal Mana yang telah diisi oleh sebagian dari kekuatan Narla yang diperolehnya.


Dengan jumlah total 18 kristal Mana, masing-masing dari mereka mengelilingi kastil iblis ini untuk meletakkan 9 kristal dengan bentuk yang se simetris mungkin.


'Tap!'


Setelah mencapai lokasi yang sesuai di denah itu, Narla segera meletakkan kristal sihirnya di tanah dan kembali berlari. Berusaha untuk sangat berhati-hati agar tak ada satu Iblis pun yang menyadari keberadaan mereka.


Jauh di luar perkiraan Leo, misi ini ternyata lebih mudah dari apa yang sebelumnya dipikirkannya. Membuatnya merasa sedikit merinding karena terlalu lancar.


Akhirnya, setelah keduanya memutari kastil iblis itu sejauh setengah lingkaran, keduanya bertemu di sisi Utara. Dan dengan segera, melanjutkan aksi mereka yang berikutnya.


Sebelum itu, Narla memberikan sebuah batu Mana yang terisi penuh. Dapat meledak kapan saja jika mengalami kerusakan atau kebocoran pada fisiknya. Batu itu akan digunakan oleh Leo sebagai sinyal kepada Narla.


Pada satu sisi, Leo terlihat berlari dengan cepat ke arah kastil Raja iblis itu. Memasukinya dengan melewati banyak iblis penjaga di sekitarnya.


Tak ada satu pun yang menyadarinya karena saat ini, Leo dan juga Narla bisa dikatakan hampir tak terlihat. Atau hampir tembus pandang seutuhnya.


Sementara itu di sisi lain, Narla terlihat bergerak ke atas salah satu pohon tertinggi di tempat ini. Berdiri di atasnya sambil menanti aba-aba dari Leo.


Aba-aba apa yang dinanti? Tentu saja, sebuah fakta bahwa Raja Iblis Valkazar berada di dalam kastil ini.


Dan hal itu, hanya bisa dipastikan oleh Leo karena Ia adalah satu-satunya orang dari kelompok 2 orang ini yang pernah melihat wujud Valkazar yang sebenarnya.


'Sialan.... Hanya dua menit tersisa.' Pikir Leo dalam hatinya sambil terus berlari mengelilingi kastil ini.


Setelah satu menit lagi berlalu....


Leo akhirnya melihat sosok Valkazar. Ia terlihat sedang berjalan di sebuah koridor menuju ke aula utama kastil ini.


Penampilannya sama persis seperti yang dulu pernah di lihatnya di Eastfort. Dimana saat ini, Valkazar nampak sedang membaca suatu surat di tangan kanannya dengan sangat serius.


Melihat hal itu, Leo tak lagi menunggu lebih lama.


Ia segera meraih batu Mana yang diberikan oleh Narla, meremuknya dengan tangan kanannya, lalu dengan cepat melemparnya ke udara setinggi mungkin.


Dan pada saat itulah....


'Duaaarrr!'


Sebuah ledakan kecil dari batu Mana itu terlihat menerangi langit malam ini sesaat.


Valkazar yang mendengar suara ledakannya segera menengok ke atas sesaat dalam rasa curiga. Sebelum akhirnya, kembali membaca surat itu dan memasuki ruang tahta.


Setibanya di depan pintu ruang besar itu, Valkazar nampak berbicara kepada beberapa Iblis yang ada di dekatnya untuk memeriksa ledakan yang barusan terjadi. Dimana 4 Iblis segera berlari ke arah yang berbeda untuk melihat kondisi di sekitar.


Narla yang melihat sinyal aba-aba itu segera paham atas apa yang sebaiknya dilakukannya.


Dan itu adalah....


'Sreettt!'


Narla melompat ke bawah dan meletakkan kedua tangannya di tanah. Mengalirkan cukup banyak Mana untuk mengaktifkan 18 kristal sihir yang sebelumnya masih dalam kondisi tertidur itu.


Beberapa detik setelah itu, Narla segera menggunakan semua energi di 18 kristal sihir itu untuk membentuk sebuah lingkaran sihir raksasa yang mencakup area di seluruh kastil Iblis itu.


Dengan cahaya kemerahan yang indah, lingkaran sihir itu segera bergerak dari tanah ke udara. Secara perlahan menelan apapun yang ada di dalamnya. Dan tepat setelah menelan seluruh kastil itu ke dalam ruang dimensi yang berbeda....


'Bruukk!'


Narla terjatuh ke tanah dengan hidung dan mulut yang terus mengeluarkan darah karena terlalu banyak menggunakan Mana di saat yang sangat singkat.


"Aku menyerahkan sisanya padamu, Leo...." Ucap Narla yang segera berusaha untuk bangkit. Karena saat ini, setelah sihir distorsi cahayanya yang menghilang....


Ratusan Iblis telah menyadari keberadaannya dan berlari tepat ke arahnya.


......***......


...- Dimensi Ruang -...


"Hmm? Apa yang terjadi?" Tanya Valkazar pada dirinya sendiri. Ia hanya melirik ke berbagai sudut dari tahtanya itu. Dimana tangan kanannya masih membawa surat dengan kertas yang berwarna kecoklatan ini.


Tak ada banyak yang berubah dari kastil ini. Tak ada kecuali sebuah kenyataan, bahwa saat ini kastil itu, termasuk semua isinya berada di sebuah dimensi yang lain.


Dan hal itu segera disadari oleh Valkazar setelah melihat keluar jendela dari tahtanya. Dimana apa yang ada di luar kastil ini, hanyalah sebuah cahaya merah tua dengan ribuan huruf Runic yang sangat rumit.


"Rune? Tidak.... Huruf apa ini? Aku tak pernah melihatnya." Ucap Valkazar yang saat ini mulai merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya.


Ia belum pernah merasakan takut seumur hidupnya. Dan baru kali ini, Ia dihadapkan atas sesuatu yang sama sekali tak bisa dipahami olehnya.


Tentu saja Valkazar tak bisa membacanya.


Karena Rune yang saat ini menyegel dimensi ruang ini, adalah Rune buatan Roselia itu sendiri yang sama sekali tak pernah dipublikasikan. Dan hanya diketahui oleh segelintir orang. Dimana hanya ada 2 orang di dunia ini yang benar-benar bisa membaca dan mengartikan seluruh hurufnya.


Yaitu Leo dan Roselia itu sendiri.


...'Klaaaanggg!!!'...


Suara rantai yang sangat keras mulai terdengar di seluruh ruang tahta ini saat Valkazar mencoba untuk menghancurkan segel sihir dimensi ruang ini secara paksa.


Atau dengan kalimat yang lebih sederhana....


Sihirnya ditolak oleh seluruh segel Runic yang ada di dimensi ini.


"Ini tak mungkin.... Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Valkazar dengan mata yang mulai gemetar.


"Tidak.... Aku masih bisa mempelajarinya. Bahkan tanpa makanan dan minuman sekalipun. Tubuh ini bisa bertahan ratusan tahun. Dan sebelum tubuh ini mati, aku masih bisa mempelajari huruf ini untuk keluar dan...."


'Kreeeekk!!!'


Sesuatu nampak membuka pintu besar di ruang tahta ini. Sosoknya memiliki wujud yang sangat aneh. Dimana matanya terlihat berada di bagian kaki, dengan tangan yang ada di bagian kepalanya serta kaki yang seakan tak ada di sana. Digantikan oleh wujud lantai dari ruangan ini.


Ia tak lain adalah Leo. Dimana sihir distorsi cahayanya masih aktif. Dan beberapa saat kemudian, sihir itu terlepas dan menunjukkan wujud aslinya.


"Yoo, Valkazar. Suka dengan penjara ini? Maaf saja. Tapi aku tak ada niat untuk membiarkanmu kabur dari sini." Ucap Leo dengan wajah yang penuh percaya diri.


Itu karena Leo sudah tahu setelah sedikit menguping perkataan Valkazar sebelumnya.


Bahwa sekalipun Leo mati dan gagal untuk menghentikan Valkazar di sini....


Valkazar masih dimungkinkan untuk terkurung di dimensi ruang ini selama 100 tahun atau lebih. Sebuah sihir dimensi ruang satu-satunya yang pernah diciptakan di dunia ini.


Melihat sosok Leo di kejauhan, Valkazar hanya berjalan kembali ke arah singgasananya sambil bertanya.


"Manusia selemah dirimu, berpikir telah menghentikan ku? Jangan bercanda."


Apa yang ada di hadapan Valkazar hanyalah seorang Pria biasa. Dengan mata kiri dan tangan kiri yang telah tiada. Tak hanya itu, Valkazar bahkan sama sekali tak bisa merasakan keberadaan Mana di dalam tubuh manusia itu.


Tapi karena itulah, Valkazar sama sekali tak bisa menyadari keberadaan Leo. Karena dengan kemampuan Magic Sense miliknya, Valkazar seharusnya bisa menyadari jika ada sesuatu yang menyelinap di sekitarnya.


Mungkin saja....


Hilangnya inti Mana Leo adalah sebuah berkah yang membuat rencana nekatnya ini menjadi jauh lebih lancar.


Dengan senyuman yang lebar, dan wajah yang penuh dengan rasa percaya diri, Leo pun membalas pertanyaan Valkazar.


"Ya, aku adalah manusia terlemah di dunia ini. Dan aku sendiri yang akan mengakhiri nyawamu."