E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 66 - Manajemen



Sesampainya di penginapan, Leo segera menyampaikan hal baru ini kepada semua bawahannya. Termasuk sekitar 10 budak baru dimana 7 diantaranya adalah wanita dan 3 sisanya adalah Pria.


"Mereka adalah keluarga baru kita. Tolong ajari dasar-dasar kehidupan di sini dan bersikaplah baik kepada mereka." Ucap Leo di depan seluruh bawahannya.


"Siap, Tuan Leo." Jawab semuanya serempak.


Sedangkan 10 budak baru itu berdiri di belakangnya dan juga Selene. Mereka semua masih ragu mengenai nasib mereka kedepannya. Hal yang wajar karena budak jauh lebih sering menerima nasib yang buruk dibanding nasib yang baik.


Terlebih lagi ketika dibeli oleh orang-orang yang kaya. Dimana membuang mereka lalu membeli yang baru mungkin lebih murah daripada memberi mereka makanan yang layak.


Akan tetapi....


Leo membalikkan tubuhnya. Dan kini berbicara kepada 10 budak baru itu.


"Artra, kemarilah." Ucap Leo kepada salah satu dari 2 budak yang berpendidikan itu.


"Ya, Tuan Leo?" Tanya Pria itu kebingungan.


"Tugas baru untukmu. Kau akan memimpin mereka semua dalam mengelola kedai rumah makan yang baru saja ku beli. Mulai dari merenovasi hingga menjalankan bisnis kedai itu sendiri.


Sedangkan untuk keuntungannya, nantinya aku hanya akan meminta 30% saja. Sedangkan sisanya akan menjadi milikmu. Tentu saja, kau harus mengelola lingkungan kerja yang baik. Mengerti?" Tanya Leo kepada Pria bernama Artra itu.


Kedua matanya terlihat terbuka lebar seakan tak bisa percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Begitu pula dengan keringat dingin yang mulai mengucur di wajahnya.


"Tu-tunggu dulu, Tuan Leo?! Apakah ini tidak terlalu cepat?! Aku baru saja tiba di sini kemarin dan sekarang....."


Leo dengan cepat memotong perkataan Pria itu.


"Sebesar itulah rasa percayaku atas kemampuanmu. Mengenai apakah kau akan memenuhinya atau kabur seperti kawanmu, kau sendiri yang memilih."


Dengan perkataan itu, Artra teringat kembali mengenai sosok orang yang seharusnya datang kemari bersama mereka berdua.


Tapi karena Ia memutuskan untuk mencuri pedang milik Tuan Leo dan kabur, akhirnya Ia memperoleh nasib yang sangat buruk.


Setelah memikirkan hal itu sejenak, Artra pun memantapkan pikirannya.


"Tentu saja, aku takkan berlari seperti itu. Lagipula.... Bukankah aku sudah memperoleh terlalu banyak kebaikan sekarang? Aku bahkan bingung untuk membalasnya."


10 budak yang baru saja datang itu terlihat kebingungan dengan keadaan ini. Mereka terlihat tak bisa percaya atas apa yang terjadi.


Apakah memang benar Tuan baru mereka ini benar-benar orang yang baik? Apakah dia benar-benar tidak akan menyiksa?


"Cukup dengan tunjukkan hasil kerjamu. Maka aku takkan meminta lebih. Sedangkan untuk kalian...." Ucap Leo yang kini mengarahkan pandangannya kembali kepada 10 budak itu.


"Sejujurnya aku ingin meminta maaf karena ruangan di penginapan ini sudah hampir penuh. Jadi aku akan memberikan dua pilihan. Antara kalian tidur di lantai satu ini, tentu aku akan membelikan kasur untuk sementara waktu.


Atau kalian membersihkan lantai 2 kedai makan yang baru saja ku beli. Di sana seharusnya terdapat cukup ruang untuk tinggal antara laki-laki dan perempuan secara terpisah. Tentu, aku juga akan memenuhi semua keperluan kalian. Bagaimana?" Tanya Leo dengan cukup panjang lebar.


10 budak itu saling menatap satu sama lain. Kebingungan untuk memberikan jawaban seperti apa agar nyawa mereka tak terancam.


Tapi salah seorang dari mereka menjawabnya dengan cukup berani. Ia sangat yakin bahwa Pria yang ada di hadapannya ini, setidaknya bukanlah orang yang akan bersikap kejam selama mereka tak melakukan kesalahan.


Dengan mengangkat tangan kanannya, Pria itu meminta izin untuk menjawab. Yang dengan cepat Leo berikan dengan menganggukkan kepalanya.


"Tuan Leo.... Apakah kami benar-benar bisa tinggal di sana selama kami membersihkannya?" Tanya Pria itu.


"Tentu saja. Itu yang baru saja ku bilang."


"Lalu.... Mengenai pekerjaannya...."


"Untuk saat ini tak perlu dipikirkan. Karena bangunan tua itu masih perlu renovasi. Jadi selama renovasi berlangsung, kalian bebas melakukan apapun selama tidak kabur. Setelah itu, aku akan meminta kalian bekerja di kedai makan itu." Jawab Leo.


Ia masih tak mampu percaya atas hal yang baru saja didengarnya itu. Tapi bagaimanapun, ini adalah kesempatannya dan orang lain yang bersamanya untuk akhirnya hidup sebagai manusia yang bebas.


Meskipun bebasnya sedikit bersyarat, tapi jauh lebih baik daripada harus selalu disiksa di pasar budak jika tak laku.


Dan untuk saat ini, jawaban yang paling tepat adalah....


"Terimakasih banyak, Tuan Leo."


Dengan begitu lah, kepemimpinan dari kelompok pekerja di kedai makan itu akan diserahkan kepada Artra. Memberikannya peluang untuk mengeksplorasi kemampuannya sendiri dan hidup dengan lebih bebas.


Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan penginapan ini. Tapi sebelum itu....


Di saat Ia baru menoleh, sebuah kantung kulit yang sedikit berat itu terlempar ke arahnya. Kedua tangannya pun secara refleks menangkapnya tanpa berpikir panjang.


"Apa ini, Tuan?" Tanya Artra kebingungan.


"50 koin platinum. Lakukan yang kau perlukan untuk memperbaiki kedai itu dan mengurus mereka semua." Ucap Leo.


"Anda yakin? Mempercayakan hal besar ini kepadaku...."


"Tenang saja. Jika kau kabur atau meninggalkan tanggung jawabmu, aku akan menghajarmu." Balas Leo sambil memberikan senyuman tipis dengan kedua mata yang tertutup.


"Hahaha.... Tentu saja, aku takkan berani melakukannya, Tuan."


Setelah semuanya beres, Leo mengalihkan pandangannya kepada satu lagi Pria yang berpendidikan.


Ia memiliki penampilan yang sederhana. Dengan rambut hitam yang pendek, serta pakaian yang cukup rapi dengan warna hitam dan putih itu, Ia masih berdiri kebingungan di tengah ruangan ini.


Menunggu apakah akan ada tugas yang diberikan kepadanya.


"Ferry, Ikut lah denganku sebentar." Ucap Leo sambil merangkul pundak Pria itu.


"Baik, Tuan Leo." Balas Pria itu.


Keduanya pun berjalan ke arah ruang kerja Leo. Sedangkan Selene terlihat mengikuti mereka dari belakang.


Ketika berdiri tepat di depan pintu ruangan itu, Leo mengeluarkan kunci dari saku di balik pakaiannya. Bagaimanapun, semua yang ada di dalam ruangan ini adalah harta yang hanya bisa dipercayakan pada dirinya sendiri.


Yaitu sebuah harta pengetahuan.


'Cklek!'


Saat pintu itu terbuka, bahkan Ferry sekali pin terkejut melihat isi ruangan itu. Sebuah ruangan yang penuh dengan buku dan kertas serta berbagai alat tulis dan alat bantunya.


'Tuan Leo itu.... Ternyata orang yang sehebat ini?'


Sebelumnya Ferry selalu berpikir bahwa Leo hanyalah pedagang biasa yang kaya saja. Tapi Ia tak pernah menyangka bahwa Leo bahkan bisa saja melampaui akademisi terbaik di kota ini. Bahkan jauh melampaui dirinya yang telah menempuh pendidikan tinggi sebelumnya.


Dengan rasa yang penuh kagum itu, kesadarannya kembali ketika Leo memperlihatkan beberapa lembar kertas.


"Aku tak tahu apakah kau akan memahaminya, tapi aku ingin kau selalu mencatat harga tiap komoditas di pasar di berbagai distrik setiap harinya. Setiap kali kau menanyakan harga, berikan lah 1 koin perak kepada mereka.


Setidaknya dengan itu mereka akan mengatakan harga yang sebenarnya dan memberikan informasi tambahan yang berguna. Jika kau melakukannya dengan baik, kau mungkin akan selesai setelah siang hari." Jelas Leo cukup panjang.


Apa yang diperlihatkannya adalah tabel yang berisi daftar komoditas dan harga, serta sebuah kertas yang besar dan panjang dengan grafik yang didasarkan atas data tersebut.


Tak perlu waktu lama bagi Ferry untuk menyadarinya.


Setelah menyadari apa yang ingin dilakukan oleh Leo, kedua mata Ferry pun terbuka lebar dengan mulut yang menganga.


"Ja-jangan katakan padaku.... Dengan grafik ini.... Bukankah kita bisa memanipulasi pasar sesuai dengan waktunya?!" Tanya Ferry dengan terkejut.


Sebuah hal yang sederhana. Semua orang tahu bahwa pada musim dan bulan tertentu, harga suatu barang akan naik atau turun.


Tapi sayangnya, tak ada orang yang mengetahui pasti kapan dan apa penyebab perubahan harga itu. Jika ada orang yang bisa mengetahui sepenuhnya tentang hal itu....


Maka pasar akan seluruhnya tunduk padanya.


"Kau cukup cerdas juga. Jadi kau paham kan atas pekerjaan baru mu? Tenang saja, semua keperluan akan ku urus. Dan kau juga akan ku gaji dengan layak. Bagaimana?" Tanya Leo.


Pada saat itu lah, Ferry tahu. Bahwa Ia mungkin baru saja bertemu dengan salah seorang yang akan menjadi tokoh besar di masa depan.


Seseorang....


Yang mungkin akan menguasai dunia ini dengan kekuatan pengetahuan dan juga uang.


Karena itulah....


"Tak sehebat dirimu karena telah memikirkan hal ini, Tuan Leo. Tapi aku pasti akan selalu mengikuti langkahmu."


Dalam pikiran Ferry, Ia hanya bisa membayangkan dobrakan apalagi yang akan dibuat oleh Pria bernama Leo itu di masa depan. Hatinya hanya bisa berdegup kencang untuk mengetahui langkahnya yang berikutnya.