
Dalam sebuah aula yang begitu besar dan megah, terlihat ratusan orang berbaris dengan rapi. Meskipun, pakaian mereka semua terlihat sangat berbeda.
Leo masih mengenakan pakaian biasanya karena telah dipenuhi dengan banyak Enchantment yang berguna. Yaitu baju panjang dengan warna hitam dan corak ungu serta celana kain yang panjang dengan sepatu kulit berwarna coklat.
Begitu juga dengan Selene yang masih mengenakan setelan pakaian kain hitamnya di atas zirah tipis di baliknya. Dengan pengecualian yaitu celan panjang hitamnya yang menggunakan bahan lentur untuk memudahkannya bergerak.
Setelah ikut berbaris, keduanya menunggu apa yang akan dikatakan oleh 5 orang yang berdiri di atas panggung itu.
Jika diperhatikan, kelima orang itu mungkin merupakan pengajar atau semacamnya karena penampilan mereka yang terlihat cukup tua.
Setelah beberapa saat menunggu....
“Selamat datang di Akademi Sihir Aselica. Aku adalah satu dari 5 profesor utama di akademi ini, Rohald.” Ucap seorang pria tua dengan jenggot yang panjang itu.
Leo yang melihat status dari pria tua itu hanya bisa tersenyum lebar. Tak hanya memiliki banyak skill tingkat C dan juga D, tapi dia juga memiliki satu skill tingkat A. Dan lebih dari itu....
‘Status Magic miliknya.... 50 kali lebih tinggi dariku ya? Yah, wajar saja untuk seseorang yang mengabdikan dirinya pada sihir.’ Pikir Leo dalam hatinya.
Setelah beberapa saat membiarkan para calon pendaftar memberikan sedikit penghormatan, profesor itu pun kembali berbicara.
“Langsung saja. Jurusan Sihir Pendukung, masuk ke ruang di sebelah kiri dan ikuti arahan dari pengajar. Kemudian untuk jurusan Teori Sihir, masuk ke ruang di sebelah kanan. Lalu berikutnya....”
Arahan untuk setiap jurusan segera disebutkan. Dan akhirnya, Leo dan juga Selene pun berjalan mengikuti arahan dari pengajar yang ditempatkan untuk mereka.
Setelah perjalanan yang sekitar 10 menit, rombongan untuk jurusan Sihir Aplikatif pun sampai di sebuah ruang kelas yang cukup besar dengan total sekitar 100 kursi dan meja yang disusun pada lantai yang semakin tinggi untuk setiap barisnya.
Selene dan Leo pun duduk di sekitar pertengahan. Sedangkan sekitar 40 orang lainnya yang memiliki banyak perbedaan penampilan dan juga latar belakang duduk secara acak.
Beberapa terlihat bergerombol. Sedangkan beberapa yang lainnya terlihat menyendiri.
Setelah semuanya duduk, sang pengajar pun segera membagikan beberapa lembar kertas pada setiap calon pendaftar.
“Ujian tulis?” Tanya Leo pada Selene yang duduk di sebelahnya.
“Nampaknya seperti itu.”
Beruntung lah bagi mereka berdua karena termasuk orang yang memiliki cukup pendidikan untuk melakukan baca dan tulis. Bahkan Leo juga sudah membeli banyak buku mengenai sihir dan belajar bersama Selene selama 2 bulan ini.
Tapi bagi beberapa calon pendaftar yang lain....
“Sialan. Tes tertulis ya?”
“Aku tak memiliki cukup uang untuk membeli buku pelajaran mengenai sihir.”
“Dewa, tolong lancarkan baca dan tulis ku kali ini.”
‘Traakk!!!’
Di saat semua orang sedang sibuk berbicara pada diri mereka masing-masing, sang pengajar terlihat memukulkan tongkat kayu ke tanah dengan cukup keras.
“Harap tenang! Kalian sudah dapat memulai ujian tulisnya. Batas waktu adalah 60 menit. Dilarang berbuat curang atau berbicara dengan pendaftar yang lain. Bagi yang ketahuan akan segera digagalkan dalam ujian ini!” Jelas pengajar itu sambil berdiri di tengah kelas.
Ia terus berdiri di hadapan papan tulis yang besar itu sambil bertumpu pada tongkat kayunya. Kedua matanya terlihat terus menerus bergerak kesana kemari memperhatikan tingkah semua pendaftar.
Hanya dalam waktu beberapa menit saja....
‘Syyutt! Cplaaakk!!’
Pengajar itu menembakkan suatu sihir air dengan warna merah ke arah salah seorang pendaftar yang duduk di belakang.
“Memalukan sekali. Bahkan belum beberapa menit sudah melakukan kecurangan? Jangan pikir aku tak bisa melihatnya. Kau keluar sekarang juga!” Ucap pengajar itu dengan tegas.
Murid yang terkena tembakan sihir air itu terlihat berjalan menuruni tempat itu dengan wajah yang terlihat kesal.
Pakaiannya yang rapi kini dipenuhi dengan cairan merah. Membuatnya menjadi tatapan banyak orang.
Sedangkan Leo dan juga Selene sendiri hanya fokus untuk mengerjakan soal mereka.
Dalam pikirannya....
‘Kupikir apa, bukankah ini cukup mudah? Hanya konsep dasar mengenai sihir itu sendiri.’
Fase pertama pendaftaran pun selesai. Menyisakan hanya 34 orang di kelas Leo.
......***......
“Aku tak peduli cara kalian, tapi hancurkan lah boneka kayu itu tanpa melewati batas ini.” Ucap sang pengajar sambil menunjukkan pembatas di tanah yang berupa garis putih.
Dalam ruangan tersebut, banyak sekali benda-benda yang dapat dimanfaatkan untuk membantu peserta menghancurkan boneka kayu itu.
Sedangkan sang pengajar hanya berdiri di samping. Memanggil setiap nama peserta untuk maju satu persatu.
“Firia.” Ucap sang pengajar.
Kali ini, seorang gadis dengan rambut kemerahan yang panjang segera maju. Ia nampak membawa sebuah bola besi yang diambilnya dari salah satu kotak di ruangan ini.
Meski begitu, melempar bola besi sejauh 25 meter secara akurat, apalagi memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan boneka kayu itu sendiri cukup sulit.
Dan karena itulah....
“Hyaaa!” Teriak gadis itu sambil melempar seperti biasa. Tapi sesaat setelah bola besi itu terlepas dari tangannya, sebuah ledakan atau dorongan dari sihir api dapat terlihat.
‘Blaaarrr!’
Ledakan yang hanya sebesar setengah lengannya itu pun mendorong bola besi itu cukup kuat hingga membuatnya melesat tepat ke arah boneka kayu itu. Dan tentu saja, dengan mudah menghancurkannya.
“Kerja bagus. Kau lulus ujian praktik. Silakan tunggu di samping. Berikutnya!” Ucap sang pengajar itu.
Meski terlihat mudah, Leo yang memanfaatkan kemampuan penglihatannya tahu. Bahwa boneka kayu itu tidak terbuat dari kayu biasa.
‘Jadi begitu.... Dengan kata lain, kali ini menguji kreativitas dan pengetahuan kemampuan diri sendiri ya?’ Pikir Leo dalam hatinya.
Beberapa peserta lain telah maju. Dan hanya sekitar 6 dari 10 orang yang berhasil menghancurkan boneka kayu itu dengan baik sehingga lulus dalam ujian kali ini.
Mereka mencoba menggunakan berbagai benda lain seperti rantai, tongkat kayu, dan bahkan ada yang mencoba untuk menyerang langsung boneka kayu itu.
Setelah beberapa saat, giliran Selene pun tiba.
Ia mengambil bola besi sama seperti Firia. Tapi bukan dengan sihir api, Selene mempercepatnya dengan menggunakan sihir angin. Membuat bola besi itu melesat dengan sangat cepat dan menghancurkan boneka kayu itu dengan mudah.
“Fuuuh....”
“Kerja bagus, Selene.” Bisik Leo ringan.
“Berikutnya! Leo!”
Akhirnya, giliran Leo pun tiba.
Leo mempersiapkan dirinya tepat menghadap ke arah boneka kayu itu. Jaraknya juga sama seperti peserta lain, yaitu 25 meter.
Hanya saja....
Ia mulai mengarahkan tangan kanannya ke depan, sedangkan tangan kirinya nampak memegangi tangan kanannya.
Sebuah lingkaran sihir berwarna kemerahan pun muncul.
Tapi Leo tak tahu, apakah ujian berikutnya masih membutuhkan Mana atau tidak. Oleh karena itu....
“Flemia.” Ucap Leo singkat.
Tepat di depan lingkaran sihir itu, khususnya bagian segitiga kecil di tengahnya, muncul sebuah cahaya merah yang cukup menyilaukan.
Dan bersamaan dengan itulah, sebuah tembakan api yang terkonsentrasi muncul. Sedikit mendorong tangan kanan Leo ke belakang. Itulah mengapa Ia menahannya.
‘Blaaarr!!’
Tembakan api itu dengan mudah menghancurkan boneka kayu yang menjadi targetnya. Hanya saja....
‘Sialan. Bahkan dengan 20% Mana milikku hanya sebesar itu? Apa yang sebenarnya terjadi saat melawan Igor pada waktu itu? Aku bahkan bisa membuat sihir yang 100x lebih kuat dari ini.’ Keluh Leo dalam hatinya.
Pengajar yang melihat hal itu terlihat sedikit terkejut. Dan tak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
“Flemia.... Sihir buatanmu sendiri?” Tanya Pengajar itu.
“Begitu lah.” Balas Leo singkat sambil menurunkan lengannya.
Sang Pengajar nampak menuliskan sesuatu di kertas yang sedari tadi selalu diperhatikan olehnya.
“Kerja bagus. Meskipun kau mungkin lebih cocok di Akademi Sihir Enfartice daripada di Aselica.” Balas Pengajar itu sambil segera memanggil peserta lainnya.