E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 119 - Saran



"Tidak ada yang menang dalam peperangan. Yang ada hanyalah penderitaan di kedua belah pihak." Balas Igor sambil memandang ke arah bara api yang menghangatkan tubuh mereka itu.


Perkataan Igor memang benar. Bahwa peperangan hanya akan membawa penderitaan.


Tapi bukan berarti peperangan dapat dihindari sepenuhnya. Sebagai contoh adalah perang yang berlangsung sejak jaman kuno antara manusia dengan iblis.


Takkan ada yang bisa menyelesaikan peperangan itu secara damai. Bahkan manusia tak tahu bagaimana cara berbicara dan berdiskusi dengan mereka.


Akan tetapi....


Jika dimungkinkan untuk mencegah peperangan itu terjadi....


Igor pun memberikan sebagian besar pengetahuannya selama hidup sebagai prajurit di bumi. Membagikannya kepada Leo dengan sikap yang santai.


Di hadapannya, Leo nampak memperhatikan dengan seksama sambil membuat catatan di buku kecilnya.


Beberapa jam telah berlalu dengan keduanya yang terus berdiskusi tentang masalah ini. Hingga akhirnya, tepat setelah tengah malam lewat, Igor pun beranjak dari duduknya.


"Beristirahat lah dulu. Kita akan melanjutkannya besok pagi. Aku kasihan kepada mereka berdua jika pembicaraan kita terus berlanjut." Ucap Igor sambil melihat ke arah wanita yang kini tengah tidur bersama dengan putrinya di salah satu kamar itu.


"Istrimu?" Tanya Leo penasaran.


"Begitu lah. Aku tak pernah merasakan kedamaian seperti ini di bumi, apalagi merasakan bagaimana memiliki rumah dan sosok yang menanti ku di sana. Kurasa aku harus berterimakasih kepada Dewi Feres itu." Balas Igor dengan tersenyum.


Leo dan juga Reina pun juga beranjak dari duduknya dan bermaksud untuk keluar dari rumah ini sebelum Igor mencegahnya.


"Tak besar, tapi cukup untuk kalian berdua tidur di sana." Ucap Igor sambil menunjuk ke salah satu kamar yang kosong itu.


"Terimakasih."


Dengan itu lah, keduanya beristirahat di kamar itu. Sedangkan Igor terlihat masuk duduk sambil memandangi perapian di hadapannya.


......***......


Diskusi antara Leo dan juga Igor berlanjut hingga sehari berikutnya. Dimana pada hari ketiga, Leo dan juga Reina pun memutuskan untuk kembali ke Kota Venice.


Tepat setelah Leo merasa bahwa dirinya telah cukup memahami semua saran yang diberikan oleh Igor.


Salah satunya, dan yang terpenting, adalah untuk menghindari peperangan antar manusia itu sendiri. Dan satu-satunya cara untuk melakukan hal itu adalah dengan menunjukkan kekuatan absolut yang tak bisa dibantah.


Sama seperti ketika negara besar menjajah negara kecil yang tertinggal secara teknologi militer.


Maka negara kecil tersebut tak lagi memiliki pilihan lain selain tunduk kepada semua tuntutan sang penjajah.


Di sini, Leo dengan kemajuan teknologi militernya yang jauh melampaui semua pasukan di wilayah kerajaan manusia ini, diharapkan dapat membuat hasil yang sama.


Membuat tuntutan perdamaian, atau pembantaian masal jika memang diharuskan.


"Kalau begitu, sampai berjumpa lagi Igor." Ucap Leo yang segera menaiki kereta kudanya itu bersama dengan Reina yang duduk di sebelahnya.


"Serahkan saja padaku pertahanan di desa ini." Balas Igor singkat.


Sebelum benar-benar pergi, Leo menanyakannya sekali lagi.


"Jadi memang tak ada pesan khusus dari Dewi Cyrese bukan?" Tanya Leo.


"Hanya salam agar kalian berdua tetap bersemangat. Dan juga, Reina. Nampaknya Dewimu akan segera sembuh sebentar lagi. Semua itu berkat kerja kerasmu." Ucap Igor.


"Terimakasih, Tuan Igor. Aku turut bahagia mendengarnya." Balas Reina dengan senyuman yang indah.


Keduanya pun akhirnya berangkat. Kembali ke Kota Venice yang telah mereka tinggalkan.


Jika pesan yang diberikan oleh Sheila itu benar adanya, maka Leo tak lagi memiliki banyak waktu. Ia harus segera bergerak untuk menyiapkan pasukannya.


Tapi dimana? Darimana mereka akan menyerang? Melewati Kota Daeta di Utara? Atau melewati wilayah Selatan?


Berdasarkan perkataan dari Igor, yang mengikuti asumsi yang diberikan oleh Leo mengenai Eastfort, peluang besarnya mereka akan menyerang dari Utara. Atau lebih tepatnya Kota Daeta.


Bagaimanapun, Kota Daeta adalah sebuah kota industri yang cukup penting. Termasuk dalam industri senjata dan zirah. Jika kota itu tak segera kembali ke tangan mereka, maka situasi Eastfort akan cukup buruk.


'Brukk!'


Reina nampak segera terjatuh ke bahu kiri Leo. Wajahnya terlihat cukup mengantuk dan kelelahan.


"Reina? Kau baik-baik saja?" Tanya Leo.


"Maaf, tapi aku sedikit kedinginan." Balas Reina sambil memeluk lengan kiri Leo.


"Maaf memaksamu untuk ikut denganku...."


"Tidak, aku memang ingin ikut. Kau tahu, kita sudah jarang menghabiskan waktu bersama bukan? Aku hanya ingin.... Sekali-sekali kita hanya berdua...." Balas Reina dengan senyuman yang begitu manis itu.


Meskipun, kedua matanya nampak terpejam dengan terus memeluk erat lengan kiri Leo.


"Tu-tunggu, Reina? Jangan pegang lenganku sekuat itu! Aku tak bisaa mengemudikan kudanya!"


Tapi Reina hanya terus tersenyum sambil membiarkan perkataan Leo.


Perjalanan keduanya pun berlangsung dengan suasana yang cukup hangat. Sekalipun berada di tengah tanah putih salju ini.


......***......


...- Eastfort -...


Di dalam ruang rapat ini, Feris bersama dengan lima pahlawan lainnya, termasuk juga Duke Theodore, Duke Achibald dan juga para petinggi lainnya sedang membahas masalah yang sangat penting.


Masalah itu tak lain dan tak bukan adalah sebuah serangan dadakan yang dilancarkan di salah satu desa di Wilayah Eastfort.


"Sheila mengatakan bahwa dirinya menemukan ini di lokasi penyerangan." Ucap Feris sambil menunjukkan sebuah kain dengan lambang wilayah Rustfel yang robek itu.


Kali ini, Duke Achibald hanya diam. Itu karena penyerang di desa paling luar ini disebabkan oleh wilayahnya sendiri.


Sedangkan Duke Theodore nampak memberikan pendapatnya.


"Tuan Achibald. Bukankah Anda sudah mengambil sebagian besar tenaga di sana? Maksudku, bukankah wilayah Rustfell saat ini seharusnya sedang dalam kondisi kritis karena tak memiliki satu pun prajurit? Bagaimana ini bisa terjadi?"


Maksud dari Theodore adalah sebuah kenyataan dimana wilayah Rustfell bahkan bisa membantai sebuah desa dengan populasi mencapai 5.000 penduduk.


Dimana seharusnya, wilayah Rustfell itu sendiri kekurangan tenaga kerja. Apalagi pasukan.


"Kau bertanya padaku? Seluruh perhatianku saat ini sedang berada di wilayah Mulderberg dan juga Maelfall. Kau tahu itu kan?" Balas Achibald dengan tatapan yang tajam.


Feris yang sudah muak dengan perang di dua sisi ini pun akhirnya memutuskan.


"Alex, Amelia, Brian, kalian bertiga bantu lah peperangan di wilayah Timur dan juga Selatan. Elias akan tetap di kota ini untuk berjaga-jaga dari serangan Iblis. Sedangkan kau.... Alicia, bisakah aku mempercayakan misi ini padamu?" Tanya Feris dengan tatapan yang terlihat begitu kelelahan.


"Menangkap pengkhianat bernama Leo itu kan? Cukup disayangkan karena senjata buatannya itu bagus, tapi bagaimana lagi. Aku akan melakukannya." Balas Alicia.


"Tidak. Jika sudah terpaksa, bunuh dia." Ujar Feris dengan tatapan yang tajam.


Alicia yang mendengar hal itu pun cukup terkejut. Ia tak menyangka Feris akan memberikan perintah seperti itu.


"Tunggu dulu, Feris! Pria itu memiliki kemampuan unik yang...."


"Kita akan cari cara lain untuk memperkuat diri. Jika kondisinya memaksa, bunuh saja dia dengan seluruh kekuatanmu." Balas Feris memotong pendapat dari Alicia.


Satu-satunya kalimat yang bisa keluar dari mulut Alicia saat itu hanya satu.


"Baiklah jika itu maumu."


Dengan kalimat itu, Alicia segera berdiri dari kursinya. Meninggalkan ruang rapat ini dengan wajah yang kesal.


"Bawa beberapa ribu pasukan bersamamu!" Teriak Feris kepada Alicia yang telah memegang gagang pintu itu.


"Ya."