E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 52 - Kegiatan



Setelah beberapa hari pengiklanan itu, kios kecil milik Leo berhasil membuat keuntungan yang cukup. Setidaknya untuk membayar biaya kios itu dan juga membiayai makanan bagi seluruh bawahan Leo.


'Tap! Tap! Tap!'


Suara langkah kaki terdengar di jalanan yang telah sepi ini. Tak banyak orang yang masih berkeliaran di luar rumah setelah matahari terbenam.


Dan di situlah, Leo berjalan seorang diri sambil terus membolak-balikkan beberapa lembar kertas yang ada di tangannya.


Di belakangnya, terlihat sosok Selene yang berjalan mengikuti Leo sambil terus menjaga kewaspadaannya. Ia memperhatikan lingkungan sekitar dengan baik, berusaha untuk tak melewatkan sedikit pun pergerakan yang terjadi.


"Selene, apakah kau sudah lelah? Kau bisa santai saja dalam mengawalku. Aku tak selemah itu untuk mati dalam satu serangan, kau tahu?" Ucap Leo yang sambil terus memperhatikan kertas di tangannya.


Kertas itu penuh dengan tulisan yang dipisahkan pada beberapa tabel. Pada tabel bagian atas terdapat nama distrik kota ini. Sedangkan pada tabel di bagian samping kiri merupakan nama komoditas atau barang.


Sisa tabel yang ada hanya berisi angka dalam jumlah yang begitu banyak. Tulisannya sangatlah rapi dan kecil, sehingga menghemat penggunaan kertas yang mahal itu.


'Harga gandum di distrik ini terlalu murah. Apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan perbedaannya dengan distrik....'


Di saat Leo masih berpikir, tiba-tiba 5 orang Pria menghadangi jalannya. Mereka muncul dari gang di samping jalanan itu. Tentu saja....


"Hohoho.... Apa ini? Sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan di malam hari?"


"Itu tidak baik kalian tahu? Bagaimana jika.... Kalian bertemu dengan bandit?"


"Buahahaha!"


Mereka berlima tertawa kepada Leo dan juga Selene. Akan tetapi, Leo sama sekali tak menggubrisnya. Ia bahkan masih sibuk memperhatikan data yang diperolehnya.


Sedangkan Selene sendiri, Ia telah siap untuk menarik pedang pendek yang ada di pinggangnya.


"Ooh! Tunggu dulu, Nona Kecil. Kau tak bisa melakukan itu."


"Itu benar. Jika kau mencabut pedangmu, aku akan membunuh kekasihmu!"


"Sekarang, kalian berdua terlihat kaya. Bagaimana jika membagi sedikit kekayaan kalian kepada kami yang miskin ini?" Tanya salah seorang bandit itu.


Setelah mendengar kalimat terakhir itu, Leo akhirnya mengangkat wajahnya dan mulai melihat ke arah para bandit itu lalu mengutarakan satu kata.


"Selene." Ucap Leo sambil dengan cepat melompat ke arah belakang beberapa kali. Dengan itu, Ia berhasil membuat jarak sejauh 4 meter lebih.


Sedangkan Selene sendiri, Ia dengan cepat menarik pedang pendeknya dan melesat ke arah 5 bandit itu.


"Siap, Tuanku." Balas Selene singkat.


Gerakannya begitu anggun dan juga mematikan di saat yang bersamaan. Hanya butuh 3 detik baginya untuk melewati barisan bandit itu.


Setelah melewati mereka, Selene segera menghentikan langkah kakinya dan memutar tubuhnya dengan cepat. Bersamaan dengan itu, Ia mengayunkan pedangnya tepat ke arah leher salah seorang bandit itu.


'Zraaasshh! Zraaasssh!! Zraaasshh!!!'


Hanya dalam sekejap, Selene berhasil melayangkan tiga buah tebasan yang dua diantaranya berhasil memotong kepala bandit itu. Sedangkan satunya lagi, hanya sedikit menggores karena langkahnya kurang cepat.


Rambut putihnya itu seakan menari-nari bersama dengan pedang yang dipegang tangan kanan Selene.


Bahkan, langkah kakinya seakan bukanlah sebuah gerakan untuk bertarung. Tapi lebih mirip seperti gerakan tarian.


Di tengah 3 orang bandit yang masih selamat itu....


"Sialan! Gadis sialan!"


Dua dari mereka mulai menyerang Selene. Tapi kini, mereka telah siap dengannya sehingga Selene tak lagi bisa memberikan serangan kejutan.


Sedangkan yang satu lagi....


"Aku akan mengurusi mu. Melihat dari reaksi mu sebelumnya, kau itu lemah bukan? Hah! Bersembunyi di bwwwaagghhh!!!"


Tanpa memberi kesempatan bandit itu untuk menyelesaikan pidato kemenangannya, Leo telah memukul wajah pria itu dengan tangan kirinya.


Atau lebih tepatnya, memukul mulutnya yang terbuka lebar sambil memasukkan sesuatu.


Setelah itu, Leo melempar kertas yang ada di tangan kanannya dan memukul kepala bandit itu dari dua sisi. Tangan kirinya memukul bagian dagu, sedangkan tangan kanannya memukul bagian atas kepalanya.


"Gwaarggghh!!!"


Bandit itu terlihat seakan ingin berteriak tapi tak bisa. Pukulan itu pastinya sangat menyakitkan. Tapi ada sesuatu yang lebih buruk dari itu.


'Braaakkk!'


Bukan sebuah tendangan yang cukup hebat untuk diberi pujian. Tapi tendangan itu sudah cukup untuk melemparkan tubuhnya cukup jauh dari Leo dan juga Selene di samping.


Tak berselang lama dari itu....


'Blaaarr!!'


Sebuah ledakan kecil terjadi tepat di bagian tenggorokan bandit itu. Penyebabnya tak lain adalah batu Mana yang dimasukkan oleh Leo pada mulut Pria itu saat serangan pertama.


Setelah beberapa saat batu itu dalam kondisi kelebihan Mana, maka ledakan akan terjadi sesuai dengan berapa banyak Mana yang berlebih itu. Dan kali ini, Leo memang mengaturnya untuk tidak terlalu besar.


Hasilnya adalah sebuah kepala yang hancur dan daging serta organ yang berserakan di jalanan ini.


Menghiasi jalan dengan warna merah yang indah dan juga asupan nutrisi yang kaya untuk beberapa anjing liar.


Setelah memastikan bandit itu mati, Leo segera membalikkan badannya untuk mengambil kembali kertasnya yang barusan dilempar tadi.


Sementara itu....


"Tuan, kau tidak apa-apa?" Tanya seorang gadis dengan rambut putih itu. Tangan kirinya sedikit menyeret sosok bandit yang telah terkapar itu. Sedangkan di tangan kanannya terdapat pedang pendek yang berlumuran dengan darah.


"Ya, aku tak masalah. Bagaimana denganmu?" Tanya Leo sambil segera berjalan ke arah Selene.


"Aku baik-baik saja. Tapi aku sedikit bingung, kenapa mereka bisa sepercaya diri itu dengan kemampuan yang selemah itu?" Balas Selene sambil sedikit cemberut.


Telinga runcingnya yang tak terlalu panjang itu sedikit bergerak saat Ia mengatakannya.


"Entahlah. Mungkin mereka tak menyadari betapa luasnya dunia ini." Balas Leo.


Mereka berdua pun meninggalkan kelima jasad bandit yang telah tak bernyawa itu di jalanan. Seakan memang itu adalah hal yang biasa.


Dengan langkah kaki yang santai, mereka berdua melanjutkan kembali perjalanannya ke penginapan.


......***......


...- Penginapan -...


'Cklek!'


"Kami kembali." Ucap Leo sambil membuka pintu itu.


Di baliknya adalah sosok para bawahannya yang sedang sibuk makan siang. Dimana 2 orang wanita terlihat membawakan masakan mereka ke atas meja.


"Ah! Tuan Leo! Selamat datang kembali! Kami memasak ayam panggang untuk merayakan hasil penjualan hari ini!" Ucap salah seorang wanita itu.


"Begitu kah? Apakah hari ini untung besar?" Balas Leo sambil meletakkan barang-barangnya.


"Itu benar, Tuan! Kami untung 87 koin perak hari ini! Entah kenapa, hari ini benar-benar ramai sekali! Bahkan beberapa prajurit datang untuk membeli banyak ramuannya!"


"Kami bahkan sempat ketakutan jika akan kehabisan ramuan itu...."


Mendengar hal itu, Leo hanya tersenyum tipis sambil memberikan apresiasi singkat.


Sementara itu, Selene segera masuk dan duduk di meja makan. Menunggu untuk makanannya disajikan.


"Leo! Bayaran dari Eastfort telah tiba! Mereka kali ini memberikan 487 koin platinum sebagai bayarannya. Tapi...." Ucap Artemis yang berlari menuruni tangga lantai 2 itu.


Mendengar kata 'tapi' membuat wajah Leo sedikit mengerut. Ia selalu punya firasat yang buruk terhadap Feris dan Eastfort.


"Itu bagus, lebih banyak daripada yang kemarin. Tapi apa?" Tanya Leo singkat sambil berjalan ke arah Artemis.


"Feris.... Membawakan surat dengan segel kerajaan untukmu." Ucap Artemis sambil memberikan surat dalam amplop berwarna putih yang indah itu.


Pada bagian tengah amplop itu, terdapat sebuah segel lilin berwarna biru dengan cap lambang kerajaan.


Selama segel itu belum terbuka, maka artinya surat itu belum pernah dibaca oleh orang lain. Tentu saja membuka surat orang lain itu tidaklah baik. Terlebih lagi surat dengan segel kerajaan, tergantung dari kasusnya mereka bisa saja dihukum mati hanya dengan membukanya.


Melihat hal itu....


'Feris.... Apalagi sekarang?' Keluh Leo dalam hatinya sambil membuat wajah yang sedikit kesal.