
“Tuan Leo.... Benda itu....” Tanya Selene sambil menunjuk ke arah batang besi yang sedang dibawa oleh Leo itu.
“Aah, ini? Senjata buatanku dengan bantuan Rune milik Roselia. Meskipun, aku butuh melakukan Enchanting pada benda ini agar bisa bekerja dengan baik dan memiliki kekuatan yang cukup. Tapi nampaknya masih kurang.” Balas Leo sambil kembali duduk dan merenungkan hasil percobaannya kali ini.
Selene sendiri masih memperhatikan batangan besi itu, mengingat bagaimana sebelumnya tembakan api melesat dengan cepat dan menghasilkan ledakan kecil di targetnya.
“Tuan akan menjadikan ini sebagai topik penelitian di akademi?” Tanya Selene sekali lagi.
“Hahaha, jelas saja tidak. Senjata ini jika sudah disempurnakan akan terlalu kuat. Aku ingin menguasainya sendiri untuk saat ini.”
Apa yang dimaksud oleh Leo adalah kenyataan bahwa ini merupakan sebuah konsep senjata sihir. Dimana semua orang, bahkan anak kecil sekalipun bisa menggunakannya.
Jika senjata seperti ini jatuh di tangan lawannya, terutama orang yang menurut Leo paling berbahaya yaitu Feris, Ia tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Dan menurutnya, ini belum lah saatnya untuk mempublikasikan mengenai senjata ini.
Meskipun membutuhkan bantuan Enchanting dari Leo, tapi seseorang di luar sana pasti akan menemukan cara lain untuk membuat senjata ini bekerja. Meskipun memiliki kekuatan yang cukup di bawah buatan Leo sendiri.
Memikirkan berbagai hal itu saja sudah cukup untuk membuat Leo merasa merinding.
Tapi di sisi lain....
Jika Ia bisa menyempurnakan senjata ini dan memproduksinya untuk orang-orang terdekatnya....
‘Kurasa sebentar lagi sudah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada pedang dan panah.’ Pikir Leo dalam hatinya sambil tersenyum.
Setelah itu, Leo kembali fokus dalam pelajarannya di akademi ini. Bagaimanapun, Ia masih perlu lulus dari sana dengan baik. Dan juga, ilmu yang diperolehnya sangat membantu dalam menyempurnakan senjata sihir buatannya.
......***......
...- Eastfort -...
“Nona Feris, tim ekspedisi telah kembali.” Ucap salah seorang Ksatria.
“Terimakasih. Lanjutkan pekerjaanmu.”
Ksatria itu kemudian memberikan hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan ini. Menyisakan Feris sendirian di dalamnya.
Setelah beberapa saat, 3 orang memasuki ruangan ini dengan sikap yang santai.
“Sudah ku bilang, raksasa itu lambat. Jadi kau hanya perlu fokus pada pergerakannya saja.” Ucap seorang Pria dengan rambut kemerahan. Tubuhnya terlihat cukup tinggi dan terlatih. Ia adalah salah satu dari pahlawan, Alex.
“Meski kau bilang seperti itu, pukulannya sangatlah kuat. Aku bahkan hampir kesulitan menahannya.” Balas Pria yang satunya dengan rambut pirang dan badan yang sedikit lebih besar daripada Alex. Ia juga merupakan salah satu pahlawan, Brian.
“Aku tak peduli pemikiran kalian, tapi bisakah kalian mencoba untuk tak banyak terluka? Aku sering kehabisan Mana karena aksi nekat kalian.” Balas seorang gadis dengan rambut hitam yang panjang. Ia mengenakan jubah seperti seorang penyihir dengan warna hitam dan corak biru.
Gadis itu juga merupakan seorang pahlawan yang termasuk dalam regu ekspedisi. Namanya adalah Amelia.
Melihat ketiga orang itu selamat, Feris merasa sangat senang. Meskipun, tak terlihat banyak ekspresi di wajahnya selain senyuman yang tipis.
“Selamat datang kembali. Syukurlah kalian bertiga selamat.” Ucap Feris sambil segera berdiri dari kursinya.
Ia kemudian mempersilakan mereka bertiga untuk duduk dan menyiapkan 4 buah cangkir serta sebuah teko yang berisi teh hangat.
“Yoo, Feris. Masih bermain kekuasaan seperti biasanya?” Tanya Alex sambil memukul ringan punggung wanita itu.
‘Braak!’
“Ugh, kau tahu itu sakit kan?” Balas Feris.
“Heal....” Ucap Amelia sambil mengarahkan tangannya ke tubuh Feris.
“Jangan buang-buang Mana milikmu. Ini tak seberapa.” Balas Feris.
“Buahahaha! Segar sekali meneguk anggur setelah perjalanan mematikan itu!”
“Darimana kau dapat anggur itu? Dan juga kenapa kau malah mabuk?” Tanya Feris ke arah Brian.
Mereka berempat nampak seperti kelompok yang telah sangat akrab. Saling mengenal satu sama lain tanpa adanya batasan atau rasa canggung.
Feris yang melihat hal ini membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan untuk sementara waktu.
Lagipula, mereka bertiga adalah satu-satunya kelompok yang cukup gila, cukup berani, dan cukup kuat untuk melangkahkan kaki di luar batas Eastfort.
Sebagai seorang pahlawan, kemungkinan mereka adalah yang paling berani. Dibandingkan dengan 3 pahlawan lain yang bersembunyi di balik dinding Eastfort yaitu Feris, Alicia dan juga Ellia.
“Ngomong-ngomong, apa yang kalian lihat di sana selama ini?” Tanya Feris sambil duduk di atas meja kerjanya. Ia melihat ke arah wajah ketiga orang itu dengan tatapan yang datar seperti biasanya.
“Hah.... Setidaknya biarkan kami beristirahat satu malam dulu.” Balas Brian.
“Bagaimana lagi? Feris memang selalu seperti ini bukan? Dengar ya, jika kau selalu bersikap dingin seperti itu, mungkin kau takkan mendapat suami kau tahu?” Balas Alex.
Tapi jawaban dari Feris masih datar dan dingin seperti biasanya.
“Tak masalah. Tujuanku kemari bukan untuk mencari suami.”
“Baiklah.... Aku yang akan menjelaskannya.” Ucap Amelia yang berusaha menengahi pertikaian ringan mereka.
Amelia pun secara singkat menjelaskan apa yang mereka bertiga lihat selama melakukan ekspedisi di wilayah Iblis. Tujuannya adalah agar Feris memperoleh gambaran kasarnya terlebih dahulu sebelum memperinci bagian yang di butuhkan.
Setelah beberapa saat mendengarkan penjelasan dari Amelia, kedua mata Feris nampak melebar. Penuh dengan perasaan terkejut. Tubuhnya terlihat mulai gemetar.
Dan satu-satunya kalimat yang keluar dari balik bibirnya itu....
“Kau serius dengan itu?”
Balasan Amelia hanyalah sebuah anggukan kepala yang ringan.
......***......
...- Akademi Sihir Aselica -...
Sekitar 1 Minggu telah berlalu semenjak percobaan pertama Leo dengan senjata sihirnya.
Kali ini, Ia membuat penyempurnaan baru terhadap senjata itu. Yang pertama, Ia menambahkan lapisan kayu di bagian pegangan untuk mempermudah penggunaan senjata itu.
Tak hanya itu, panas yang dialirkan dari sihir yang keluar dari senjata ini cukup untuk sedikit membakar kulit penggunanya. Jadi pegangan kayu itu berguna untuk menjaga pengguna dari panas.
Setelah itu, Leo juga meningkatkan kapasitas penggunakan Mana senjata itu dengan menambahkan Rune baru di dalamnya.
Dan saat ini....
“Selene, perhatikan baik-baik.” Ucap Leo yang telah mengarahkan senjatanya ke sebuah boneka kayu yang memiliki zirah itu.
Tapi kali ini, mereka tak melakukannya di dalam ruang kerja Roselia. Melainkan di sebuah tanah lapang di wilayah Akademi ini.
“Baik, Tuanku.” Balas Selene singkat.
Setelah memastikan arah tembakannya sudah tepat, Leo meletakkan ibu jarinya secara perlahan di pusat Rune itu.
Hanya dalam kedipan mata.
‘Blaaarr!!’
Tangan kanan Leo yang memegang senjata itu terlihat sedikit terdorong ke belakang.
Sebuah ledakan terjadi. Api yang cukup besar melesat dengan cepat ke arah boneka kayu itu. Hantamannya bahkan cukup kuat untuk menjatuhkannya ke tanah.
Terlebih lagi....
Zirah yang terkena sihir api itu nampak sedikit meleleh.
Hanya saja....
“Bagaimana menurutmu?” Tanya Leo.
“Kekuatannya sudah meningkat. Tapi api itu terlalu lebar, sehingga tak memiliki daya tembus yang cukup untuk menembus zirah itu.” Balas Selene.
“Begitu ya? Ku rasa aku harus memperbaiki susunan Rune nya untuk memfokuskan sihir api ke titik sekecil mungkin.”
Dengan itulah, percobaan Leo untuk terus menyempurnakan senjata sihirnya memperoleh sedikit kemajuan.
Apa yang diperlukannya saat ini hanyalah waktu dan juga banyak percobaan.