
'Zraaasshh!!!'
Feris nampak menebas ke arah Filya dengan cepat. Memotong tangan kanannya tanpa sedikitpun kesulitan.
"Guaahhhhhh!!!"
Filya yang merasakan rasa sakit luarbiasa mengalir di sekujur tubuhnya, hanya bisa terus berteriak. Sedangkan Feris hanya melanjutkan pembantaian sepihak ini.
Kini, tebasan pedangnya mengarah ke kaki kiri Filya, yang mana juga dengan mudah tertebas. Bersamaan dengan tebasan itu, Filya pun terjatuh ke tanah dengan mata yang terus menerus meneteskan air mata.
Dalam pikirannya, hanya ada satu.
'Tuan Valkazar.... Maafkan aku....' Pikir Filya dalam hatinya sambil memejamkan kedua matanya. Menanti nyawanya sendiri terambil di tangan manusia itu.
Pada saat itu juga, sebuah lingkaran sihir yang sangat besar telah terbentuk. Dengan warna merah darah, lingkaran sihir dengan pola yang sangat rumit itu pun menutupi langit di benteng Eastfort ini.
Sebuah sihir kuno skala besar yang telah dipelajari oleh Leo selama berada di bawah bimbingan Roselia.
Dispel.
Sihir ini mampu menghapuskan efek sihir apapun yang berada di sekitarnya. Bahkan dalam artian yang lebih luas, mengeringkan seluruh Mana yang ada di wilayah tersebut. Membuat seluruh sihir yang ada tak lagi mampu di aktifkan.
Dan dalam hal ini, adalah benteng dari Eastfort itu sendiri.
Bersamaan dengan aktifnya lingkaran sihir merah itu, seluruh prajurit yang sebelumnya berada di bawah kendali Filya segera terjatuh ke tanah.
Mereka mulai memperoleh kesadaran mereka kembali secara perlahan.
Tapi karena Mana di tempat ini mulai dikuras, tubuh mereka pun mulai lemas. Termasuk juga Leo yang berada di atas dinding benteng ini.
'Sialan.... Semoga ini sudah cukup.' Pikir Leo dengan tangan kanan yang terus mengarah ke langit itu. Sementara tangan kirinya nampak menahan tangan kanannya.
Setelah beberapa saat, Leo akhirnya melepaskan sihir Dispel itu.
Sihir yang hanya berlangsung selama kurang lebih 5 detik itu, telah berhasil membebaskan seluruh sandera yang ada di benteng ini.
Dan pada akhirnya, membuat Filya tak lagi memiliki kesempatan apapun untuk kabur maupun bernegosiasi.
'Bruukk!'
Sesaat setelah melepaskan sihir itu, Leo mulai terjatuh ke tanah. Hampir kehilangan seluruh kesadaran dirinya.
Begitu juga Selene yang berada di atas menara itu. Semua itu berkat penggunaan Mana yang luarbiasa besar, serta efek dari sihir Dispel itu sendiri.
Tapi itu sudah cukup. Leo sudah menyelesaikan perannya. Dan apa yang menanti setelah itu, hanyalah kegelapan yang mulai menutupi pandangannya.
'Tidak.... Tidak boleh. Aku tidak boleh pingsan disini.' Teriak Leo dalam hatinya.
Ia dengan segera menggigit lidahnya sendiri untuk mengembalikan kesadarannya melalui rasa sakit. Dengan tubuh yang sempoyongan, Ia berusaha berdiri untuk melihat hasil akhir dari pertarungan ini.
Pemandangan yang ada di hadapannya cukup baik. Dimana Feris terlihat masih berdiri tegap sementara Filya yang telah kehilangan satu tangan dan kakinya tak lagi mampu untuk kabur.
"Syukurlah...." Ucap Leo singkat. Kini, Ia pun duduk di atas dinding itu sambil memandang langit.
Perasaan tenang dan damai mulai menyelimuti dirinya yang telah membereskan salah satu dari banyak masalah besar di wilayah manusia ini.
Akan tetapi....
'Swuuushhh!'
Sesuatu nampak terbang tepat di atas pandangan Leo. Sesuatu dengan bentuk seperti manusia dengan sayap berwarna hitam.
Ia dengan segera berdiri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi itu semua sudah terlambat.
Sosok manusia yang memiliki sayap hitam di punggungnya itu, kini telah berdiri tepat di hadapan Feris. Menahan pedangnya hanya dengan tangan kanannya.
Penampilannya cukup luarbiasa dengan pakaian seperti seorang bangsawan. Hanya saja....
"Bisakah kita hentikan ini?" Ucap Pria itu kepada Feris.
Sekuat apapun Ia mencoba untuk mengayunkan pedangnya, Feris sama sekali tak mampu untuk membuat pedang itu bergerak.
Sedangkan Pria yang berdiri tepat di hadapannya itu hanya memberikan tatapan yang seakan penuh dengan rasa iba.
"Tuan Valkazar!" Teriak Filya yang dengan segera bersujud di samping Pria itu.
Mendengar nama itu, Feris tentu saja segera terkejut. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Raja Iblis yang selama ini dicarinya, akan muncul sendirian tepat di hadapannya.
"Kau.... Kau Raja Iblis itu?" Tanya Feris dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
"Begitu lah orang-orang memanggilku." Balas Valkazar dengan tenang.
Setelah beberapa saat berada dalam diam, hingga kelima pahlawan lainnya tiba di sekitar tempat Feris berada, Valkazar kembali berbicara sekali lagi.
"Maafkan bawahanku yang lepas kendali. Sebagai ganti jika kau mau memaafkannya dan membiarkan diriku sendiri yang menghukumnya, aku akan membiarkanmu meminta sesuatu atas nama manusia. Katakan saja." Ucap Valkazar tetap tanpa ada sedikit pun ekspresi di wajahnya.
Leo yang melihat dari kejauhan tak begitu mendengar percakapan mereka. Tapi ada satu hal yang pasti.
Bahwa skill tingkat A Clairvoyance miliknya sama sekali tak bisa digunakan untuk melihat bahkan sedikitpun dari sosok Iblis yang tiba-tiba muncul itu.
"Meminta sesuatu atas nama manusia?" Tanya Feris untuk memastikan sesuatu.
"Selama aku bisa memenuhinya, aku akan melakukannya."
Dengan balasan itu, Feris pun segera bertanya.
"Bagaimana jika kalian meninggalkan umat manusia, dan membiarkan kami memperoleh kedamaian? Atau lebih baik lagi, kau bunuh dirimu sendiri?!" Teriak Feris dengan tatapan yang tajam.
Tetap tanpa adanya sedikit pun perubahan ekspresi, Valkazar nampak mengangkat Filya dengan tangan kirinya.
"Aku tak bisa membunuh diriku sendiri. Tapi aku bisa memberikan manusia kedamaian."
Sontak, balasan itu membuat Feris sangat kebingungan. Ia sama sekali tak menyangka bahwa permintaan mustahil itu benar-benar akan dipertimbangkan oleh sosok sekuat dirinya.
Ia masih ragu, apakah Iblis dengan wujud yang seperti manusia itu benar-benar merupakan Valkazar. Tapi melihat bagaimana sikap dari Filya yang segera bersujud padanya, mungkin Ia memang Valkazar yang sebenarnya.
Dengan pertimbangan itu, Feris kembali bertanya.
"Apakah kau benar-benar akan memberikan manusia kedamaian? Kau akan melakukannya?"
Tentu saja Ia tak bisa mempercayai hal itu. Iblis yang selama puluhan tahun ini selalu menyerang umat manusia, tapi secara tiba-tiba setuju untuk berdamai?
Itu tak mungkin terjadi. Bahkan pada imajinasi yang paling liar sekalipun.
Akan tetapi, inilah kenyataannya.
Sebuah rantai dengan api yang seakan berkobar mulai muncul dari dadanya.
"Sihir kuno, Oath of Life. Jika salah satu pihak menyimpang dari sumpah mereka, maka sihir ini akan segera membakar jantung dan jiwa mereka saat itu juga." Jelas Valkazar.
Sihir kuno Oath of Life, adalah salah satu sihir kontrak paling kuat yang ada di dunia ini. Mengikat jantung dan jiwa mereka dalam sebuah sumpah yang sama sekali tak bisa dilanggar.
Tapi jika dilanggar, maka kontrak itu akan terbakar dan membunuh sang pelanggar. Dengan kata lain, pihak yang lain akan terlepas dari kontrak itu.
Setidaknya, itu adalah harga yang impas untuk orang yang melanggar kontrak. Dimana lawannya kini juga bisa melanggarnya dengan bebas setelah Ia tiada.
Bahkan dikisahkan dalam sejarah, salah seorang penyihir agung sekalipun tak bisa selamat dari kematian setelah melanggar sumpah ini.
Dimana jantungnya mulai terbakar dengan hebat, sekaligus jiwanya itu sendiri dalam sebuah api yang tak bisa dipadamkan sebelum jiwanya benar-benar habis terbakar.
Mengetahui hal itu, Feris justru semakin kebingungan dengan sikap Valkazar.
"Kau yakin dengan itu?" Tanya Feris.
Tapi Valkazar hanya diam. Ia tak membalas dan menunggu jawaban dari Feris dengan tenang.
Akhirnya setelah beberapa saat, Feris pun setuju untuk menerima kontrak ini.
Valkazar nampak mengulurkan lengannya dan menarik sebuah rantai api yang sama dari dada Feris. Kedua rantai itu pun terikat dalam 6 buah lingkaran sihir yang sebelumnya terbentuk.
Keenam lingkaran sihir itu saat ini masih terlihat polos tanpa adanya tulisan apapun. Tapi setelah Valkazar bersumpah di atasnya, tulisan dalam bentuk bara api pun tercipta secara perlahan.
"Aku, Valkazar, atas nama Ayah dan Ibuku yang telah tiada, bersumpah agar tak ada satu pun Iblis yang menginjakkan kaki mereka di tanah manusia, mulai dari tempat ini hingga ke Selatan sampai ujung benua ini untuk selamanya." Ucap Valkazar dengan tegas.
Dari keenam buah lingkaran sihir itu, 3 buah nampak menuliskan tulisan yang sama persis. Dimana satu segera bergerak ke dalam tubuh Valkazar, satu lagi ke dalam tubuh Feris, dan satu lagi tetap berada di tempatnya.
Feris di sisi lain juga bersiap untuk berbicara. Tapi Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya.
Pada saat itu, Valkazar nampak menarik lengan kanannya sambil berbicara.
"Ingat, aku hanya bersumpah untuk tak pernah menginjakkan kaki melebihi benteng ini. Jika kalian memutuskan untuk melewati batas ini, kami akan membunuh semuanya tanpa ragu."
Perkataan Valkazar itu mempertegas apa yang harus dikatakan oleh Feris. Dan untuk itu....
"Kalau begitu, Aku, Feris atas nama seluruh umat manusia, takkan membiarkan satu manusia pun untuk melewati benteng Eastfort ini. Kau puas?" Tanya Feris.
Setelah tulisan itu terukir dalam lingkaran sihir itu, Valkazar hanya menatap ke arah Feris dalam tatapan yang bingung.
"Aku tak memintamu untuk bersumpah, tapi baiklah. Aku akan menerimanya selama kau membiarkan Filya pergi."
Pada saat itu, Feris merasa salah sangka. Apa yang diinginkan Valkazar selama ini, hanyalah untuk membawa bawahannya pergi dari Benteng ini.
Bukan untuk meminta manusia agar tidak melewati batas Benteng Eastfort itu.
Tapi Feris sudah kelelahan secara mental. Menghadapi sosok Iblis yang sekuat Valkazar di hadapannya saja sudah membuat mentalnya terkuras habis.
Memikirkan untuk membunuhnya? Saat ini ketika ada pahlawan lainnya di Eastfort?
Seakan bisa membaca pikirannya, Valkazar segera menyelesaikan kontrak itu sambil berbicara.
"Kalian tak bersumpah untuk tidak melukaiku kan? Kalian bisa mencobanya jika mau." Ucap Valkazar dengan tenang.
Bersamaan dengan itu, dua rantai api itu kini kembali dalam diri masing-masing. Dan kontrak antara keduanya pun telah aktif.
Semua pahlawan yang ada di sekitar Feris pun segera menyarangkan kembali senjata mereka.
Semua itu karena perintah Feris untuk menahan diri mereka dalam menyerang Valkazar.
"Pilihan yang baik. Sekarang, sebelum aku sendiri mati, aku akan segera pergi dari sini." Ucap Valkazar sambil menggendong sosok Filya, bersama dengan dua anggota badannya yang terpotong itu.
Bersamaan dengan itu, Valkazar segera memerintahkan seluruh Iblis yang sedang menyusup di wilayah manusia untuk pergi melalui kemampuan perintah mutlaknya.
Karena ada satu alasan, kenapa Valkazar memilih sihir Oath of Life di atas sihir kontrak lainnya.
Yaitu sebuah kenyataan, bahwa sihir ini memiliki masa tunggu selama 3 hari sebelum benar-benar aktif sepenuhnya. Memberikan Valkazar sedikit waktu untuk menarik seluruh bawahannya.
Sesaat sebelum Ia terbang dan pergi, Ia menoleh ke arah Feris sambil berkata.
"Aku sarankan untuk tak terlalu menggunakan pedang itu. Atau pikiran dan jiwamu akan rusak, lagipula, itu adalah alasanku membuang pedang peninggalan Ayahku itu. Tapi tak ku sangka manusia akan menggunakannya."
Dengan kalimat itu, akhirnya Valkazar pun terbang dan pergi. Meninggalkan Kota Eastfort ini, mungkin untuk selamanya.
"Aku tahu itu...." Balas Feris dengan lirih.
Di sisi lain, Leo nampak bernafas lega karena Iblis tingkat tinggi itu akhirnya telah pergi. Dan akhirnya bisa dengan tenang beristirahat di sana.
......***......
"Tuan Valkazar, maafkan diriku. Karena kesalahan ku ini...." Ucap Filya dengan tatapan yang terlihat begitu sedih itu.
"Tak masalah. Lagipula aku telah mendapatkan apa yang kuinginkan secara cuma-cuma." Balas Valkazar kini sambil tersenyum tipis.
Apa yang diinginkan Valkazar adalah masa damai untuk membangun ulang pasukannya.
Ia masih butuh lebih banyak kekuatan untuk menaklukkan bangsa Dwarf yang memiliki pertahanan tak terkalahkan itu, serta bangsa Elf yang memiliki kekuatan seperempat dewa.
Dan semua itu, berhasil di perolehnya dengan poin sederhana seperti Filya. Bahkan Ia mendapat tambahan berupa kesalahan Feris yang bersumpah takkan melewati batas Eastfort.
"Tapi karena itu, bukankah kita takkan bisa menaklukkan wilayah manusia?" Tanya Filya.
Balasan dari Valkazar sangat sederhana.
"Aku bersumpah bahwa Iblis takkan menginjakkan kaki mereka di wilayah manusia. Iblis. Bukan bangsa lainnya."
Dengan kata lain, jika Valkazar berhasil menaklukkan Dwarf atau Elf, Ia masih tetap bisa menyerang umat manusia. Itu adalah salah satu poin terpenting dalam hal ini.
Ditambah lagi....
"Lagipula, kontrak ini akan lepas jika salah satu pihak telah mati. Aku masih bisa hidup 500 tahun lagi tanpa masalah sedikitpun. Tapi manusia? 60 tahun lagi mungkin Ia sudah mati. Terlebih lagi, kau sudah bekerja sangat baik kali ini." Ucap Valkazar sambil membelai rambut Filya dengan lembut.
"Benarkah, Tuan?! Aku sudah bekerja dengan baik?!" Tanya Filya dengan penuh semangat.
"Tentu saja. Kau berhasil membunuh penyembuh itu bukan? Itu adalah pencapaian terbesarmu selama ini. Katakan, apa yang kau inginkan sebagai hadiah?"
Tanpa satu manusia pun ketahui....
Elias, salah seorang pahlawan yang paling penting dalam menyembuhkan pahlawan lainnya dan mendukung dari garis belakang, telah terbunuh di tangan para prajurit manusia itu sendiri ketika dalam pengaruh Filya.
Semua itu terjadi sesaat sebelum Leo mengaktifkan sihir Dispel miliknya.