
Berdasarkan informasi yang diperolehnya, Leo segera mengikuti rapat yang di adakan dalam ruangan ini bersama dengan para petinggi manusia yang lainnya.
Hasil dari rapat ini sangat rumit dan bisa dikatakan akan memberikan pengaruh yang luarbiasa besar pada kehidupan umat manusia kedepannya. Termasuk juga, akan mengorbankan banyak orang di dalamnya.
Secara ringkas, hasil rapat itu dapat dikelompokkan menjadi beberapa poin.
Leo bersama dengan pasukan di wilayah Rustfell akan menerima panggilan bantuan dari bangsa Elf di Crystalcourt. Melawan semua Iblis yang akan bergerak ke sana.
Jika tindakan Leo ini akan membunuh Feris bersama dengan kontrak itu, maka biarlah terjadi. Sebagai gantinya, Feris memerintahkan wilayah Eastfort untuk melakukan serangan skala penuh ke arah Utara. Mengambil alih kembali apa yang seharusnya menjadi milik umat manusia.
Wilayah Maelfall dan Mulderberg tidak akan ikut dalam perang. Sebagai gantinya, mereka harus menjaga garis depan yaitu Eastfort dengan setengah dari pasukan mereka.
Seseorang harus di utus untuk pergi ke wilayah Dwarf yaitu Pulau Astraknol untuk melakukan perundingan bersama.
Kini dengan peperangan yang mulai melebar, dan krisis dunia yang semakin besar, seharusnya seluruh ras dapat bersatu untuk keselamatan bersama.
Dan orang yang mengembang misi pada poin keempat itu, tak lain adalah 3 orang pahlawan yaitu Alex, Brian, dan juga Amelia. Bersama dengan mereka adalah setidaknya 10.000 prajurit untuk berjaga-jaga.
Meski pada awalnya keberatan, mereka akhirnya menyetujui rencana yang mungkin akan membunuh Feris itu secara langsung.
Tapi sebagai gantinya, umat manusia seharusnya memiliki peluang untuk memberikan luka dan kerusakan yang besar pada bangsa Iblis yang telah menguasai hampir separuh dari dunia ini.
Dimana sebagian besar pasukan mereka sedang terfokus untuk berperang melawan Elf.
Terlebih lagi, setidaknya sekitar 20.000 prajurit khusus yang menggunakan senjata sihir buatan Leo dan muridnya itu telah tersebar secara merata di seluruh divisi pasukan yang ada.
Walaupun hanya mencakup sekitar 5% dari seluruh pasukan termasuk Levies, mereka memiliki kekuatan yang setara, atau mungkin lebih kuat daripada 200.000 pasukan sekaligus. Membuat keberadaan mereka bisa merubah arah dari pertempuran yang ada.
Dan akhirnya, setelah rapat selesai, semua petinggi pun diminta untuk segera kembali bekerja.
Termasuk Leo yang kini harus segera menyiapkan armada pasukannya untuk menyeberangi lautan Yellow Depths.
Tapi sebelum itu....
"Leo, tunggu sebentar." Ucap Feris yang menghentikan langkah kaki Leo itu.
"Ada apa?" Tanya Leo singkat.
Feris nampak terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali berbicara.
"Bunuh aku sekarang. Aku setidaknya telah menyelesaikan tugasku." Ucap Feris.
Meski diminta beberapa kali, Leo tetap saja keberatan dengan permintaan egois dari Feris. Dasar pikirannya sederhana.
Dalam kontrak Iblis itu, Feris menyebutkan bahwa tak ada satu manusia yang akan melewati batas dari benteng Eastfort.
Apakah itu berarti manusia tak bisa pergi ke Utara? Atau hanya terbatas pada tanah yang terhubung dengan Eastfort saja? Dengan kata lain, Benua manusia?
Tidak. Hal itu sama sekali tidak dijelaskan.
Lagipula rencana utama dari semua ini adalah memperoleh kerjasama mutlak dengan Elf dan juga Dwarf sebelum bangsa Iblis bertindak lebih lanjut lagi.
Dan jika, dan hanya jika Feris benar-benar akan mati setelah manusia menginjakkan kaki mereka di tempat lain, maka biarlah itu terjadi dan segera menyerbu wilayah Utara Eastfort.
Jika tidak?
"Feris, manusia saat ini masih membutuhkan strategimu. Tolong jangan bertindak egois dan memintaku seperti itu sekali lagi.
Tapi jika kau masih ingin bekerja sedikit lebih banyak lagi, kau bisa bertahan hidup hingga perintahmu untuk melewati dinding ini keluar. Oleh karena itu...."
Leo kemudian menyerahkan sebuah senjata sihir cadangannya. Sebuah senjata sihir dengan bentuk pistol yang digunakannya di hari-hari pertama ketika Ia mulai mempelajari mengenai Rune itu sendiri.
"Ini adalah senjata pertamaku. Segera setelah kau memerintahkan manusia melewati dinding ini, tembakkan saja ke arah kepalamu. Kau akan mati seketika dengan senjata ini." Jelas Leo dengan tatapan yang tajam.
Feris nampak berpikir sejenak sebelum menerima pemberian Leo itu.
Meskipun telah memperoleh banyak senjata yang lebih baik daripada versi sebelumnya, Feris hanya membagikannya kepada seluruh pasukan, petinggi, termasuk pahlawan lainnya.
Tapi tidak dirinya sendiri. Ia tak berminat untuk memilikinya karena sama sekali tidak berencana untuk bertarung di garis depan. Dan orang lain pasti bisa memanfaatkan senjata itu dengan lebih baik.
Dan kali ini....
"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik."
"Kau juga. Jangan sampai mati."
......***......
...- Kota Venice -...
Berita yang menggemparkan itu seketika membuat seluruh penduduk kota menjadi panik. Banyak teori konspirasi yang bertebaran mengenai akhir dari dunia.
Sedangkan Artemis dan divisinya sangat sibuk untuk menanggulangi kerusuhan, kepanikan masal, dan juga banyaknya berita palsu itu.
Di sisi lain, Leo yang baru saja kembali dari Eastfort segera pulang ke rumahnya. Bukan untuk beristirahat, tapi melakukan apa yang mungkin akan menjadi tindakan terakhirnya.
"Ayah, kau pulang cepat. Kupikir akan butuh waktu lama untuk bekerja di Eastfort?" Tanya Stella dengan wajah yang keheranan. Ia nampak sedang membaca buku di ruang tengah dengan Roselia yang masih sibuk mengajarinya sesuatu.
"Ada urusan yang sangat mendadak." Balas Leo singkat sambil membelai rambut gadis itu secara perlahan.
"Iblis bukan? Ku dengar mereka berhasil menaklukkan setengah dari bangsa Elf. Apakah Ayah akan kesana?"
Leo seketika terdiam setelah mendengar ringannya ucapan dari Stella itu. Meskipun Ia cerdas dan bisa dibilang adalah seorang jenius, Stella tetap saja seorang anak kecil yang belum mengetahui berat dari perkataannya itu.
Ratusan ribu, atau mungkin jutaan jiwa telah melayang dalam peristiwa invasi bangsa Elf di Silverhide oleh para Iblis.
Sambil menatap wajah Stella, Leo pun membalas perkataan putrinya itu.
"Begitu lah. Sekarang kau kembali belajar, mengerti?" Ucap Leo sambil tersenyum.
"Tentu saja! Tidakkah Ayah lihat ini?! Aku sudah mencapai tingkat A tahun ini! Tak lama lagi aku akan segera melampaui kemampuan sihir Guru!" Teriak Stella dengan wajah yang penuh semangat.
'Itu benar. Leo. Jangan buat mereka khawatir.' Pikir Leo dalam hatinya sendiri sambil terus tersenyum.
Pada saat itu, secara tiba-tiba sebuah tebasan pisau mengarah kepada leher Leo. Dimana tebasan itu bisa dengan mudah ditahan oleh sihir angin yang selalu melindunginya dari sebagian besar serangan dadakan.
'Swuuusshhh!!!'
Juga dengan senyuman, Leo pun membalikkan badannya sambil berkata.
"Kemajuan yang baik, Marcus. Kali ini aku hampir tak bisa merasakan hawa keberadaanmu." Ucap Leo sambil membelai rambut perak milik Marcus itu.
"Seperti yang diharapkan dari Ayah. Tapi bukankah sihir itu terlalu curang? Bagaimana cara melewati sihir pertahanan angin milik Ayah?" Tanya Marcus dengan wajah yang kagum.
"Jika kau berpikir sihir itu curang, maka luangkan lah sedikit waktumu untuk mempelajari cara melakukan kecurangan itu." Balas Leo sambil tertawa ringan.
Setelah menyapa kedua anaknya, Leo segera berjalan ke arah dapur untuk menemui istrinya.
Tapi apa yang didapat olehnya hanyalah sebuah tatapan yang tajam dari Selene dan juga Reina.
"Aku tahu apa pikiran kalian. Tapi aku hanya bisa mengijinkan satu untuk ikut. Dan itu adalah kau, Selene. Sedangkan Reina, tolong jaga anak-anak dan...."
"Kenapa kau selalu seperti itu?" Tanya Reina dengan nada yang lirih tapi dengan tatapan yang tajam.
Leo sedikit terdiam menerima jawaban itu. Tapi Ia dengan segera memperoleh kembali ketenangannya sambil menjawab.
"Meskipun kutukan di tubuhmu telah menghilang, bahkan kau memperoleh berkah baru sebagai seorang Sword Saint dari Dewi Silvie, aku tetap tak bisa membiarkanmu ikut." Balas Leo dengan tegas.
"Apakah.... Aku terlalu lemah untuk ikut? Kau tahu sendiri kan jika aku bisa...."
"Kau salah sangka, Reina." Balas Leo memotong perkataan Reina itu.
Nampak kebingungan, Leo pun dengan segera mempertegas apa yang dimaksudkan olehnya.
"Karena kekuatanmu itu lah, aku tak bisa membiarkanmu ikut. Apa jadinya jika Kota Venice tak memiliki pelindung lain yang sekuat dirimu? Apa jadinya jika tiba-tiba Iblis muncul di tengah kota seperti dulu?
Kemungkinan di seluruh dunia ini, hanya kau yang bisa bertarung seimbang dengan Alicia. Sosok pahlawan yang dianggap paling kuat di wilayah manusia. Kehilangan kekuatan besar sepertimu di misi ini sangatlah fatal."
Meskipun Leo menjelaskannya dengan logis, dan memang itu adalah alasan besarnya, tapi tetap saja. Dalam hatinya, Leo hanya tak ingin melihat Reina terluka.
Dan untuk itu lah, Leo selalu meminta Reina untuk menjadi sosok pelindung di wilayah Rustfell ini pada khususnya, dan seluruh wilayah manusia pada umumnya.
"Reina, tenang saja. Aku akan melindungi Tuan Leo dengan sekuat tenaga." Ucap Selene sambil memegang pundak Reina. Berusaha untuk menenangkannya.
"Kau bersungguh-sungguh?"
"Tentu saja. Serahkan itu padaku." Balas Selene sambil tersenyum.
"Kalau begitu.... Berhati-hatilah. Aku juga tak ingin melihatmu terluka."
Setelah pamit kepada semua anggota keluarga terdekatnya, Leo segera mengemasi sebagian besar barangnya dan meminta Selene untuk ikut bersamanya.
Tujuan pertama mereka adalah untuk mengurus kebutuhan kapal di pelabuhan. Sebanyak mungkin kapal yang ada untuk mengangkut sebanyak mungkin pasukan.
Termasuk juga melakukan pembahasan mengenai kebutuhan suplai makanan, minuman dan keperluan lainnya selama misi ini.
Tujuan kedua mereka kemudian adalah ke barak pasukan, melakukan rapat dengan petinggi militer dan juga mengumpulkan pasukan terpilih untuk berangkat dalam misi yang bisa dibilang sangat berbahaya ini.
Leo tidak terlalu mematok kriteria yang tinggi dalam pembentukan pasukan ini. Syaratnya hanya satu. Yaitu takkan pernah takut atas kematian.
Dan dengan beresnya semua keperluan itu, Leo segera berangkat ke benua Elf, Crystalcourt 3 hari berikutnya.