E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 59 - Benang Takdir



Reaksi yang Leo berikan cukup cepat terhadap pencurian itu. Ia segera menarik lengan kiri budak itu dan membantingnya ke tanah.


'Braakkkk!!'


"Bocah sialan. Kau sadar apa yang baru saja kau lakukan?!" Ucap Leo sambil memberikan tatapan yang dingin. Sebuah tatapan yang selalu Ia berikan ketika emosi kebenciannya memuncak.


Sementara itu, dua budak yang lainnya hanya bisa melangkah mundur. Tapi tak ada yang berani untuk kabur. Lagipula, kenapa kabur? Mereka baru saja ditawari pekerjaan yang nyaman dan gaji yang tinggi. Hanya saja....


"Bangsawan sialan seperti kalian hanya mengatakan kebohongan! Kalian sama sekali ti...."


Sebelum budak yang mencuri pedang suci itu menyelesaikan kalimatnya, Leo dengan cepat dan tanpa ragu menendang kepalanya hingga ke tanah.


'Bruuukk! Braakkk! Braakkk!'


Tak hanya satu kali, tapi lebih dari lima kali Leo menginjak kepala budak itu tanpa ampunan. Dengan segera kejadian itu pun cukup menyita perhatian banyak orang.


Tapi Leo sama sekali tak memperdulikan hal itu. Apa yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah, seorang budak yang baru saja diberi tawaran untuk hidup lebih baik dan lebih mudah, justru membangkang dan mencuri barangnya.


Terlebih lagi, barang yang dicuri bukanlah barang biasa. Jika Leo sampai kehilangan pedang suci itu, bukan hanya dirinya yang akan berada dalam masalah dengan Feris.


Tapi seluruh dunia akan berada dalam masalah karena salah seorang pahlawan tak lagi mampu bertarung dengan maksimal setelah kehilangan senjatanya.


Setelah menendang kepala budak itu lima kali, Leo akhirnya berhenti dan membiarkan budak itu memahami situasi ini.


"Dengar, aku sama sekali tak berbohong tentang pekerjaan yang ku tawarkan dari kalian. Meskipun aku bisa saja bohong, bukankah kalian bisa memberiku kesempatan dengan melihatnya secara langsung?


Meskipun kalian sama sekali tidak percaya, bukankah kalian bisa kabur secara langsung? Kenapa kau malah mengincar pedangku? Hah?! Katakan!" Tanya Leo sambil mengambil pedang itu dari tangan kanannya dan kembali menginjak tubuhnya.


Tapi kali ini Leo menginjak di bagian perut. Membuat budak yang bahkan belum makan selama 2 hari itu memuntahkan apapun yang tersisa di perutnya. Begitu juga dengan darah yang kini melumuri wajahnya.


"A.... Aku.... Ma... af...." Ucap budak itu dengan tubuh yang kini menjadi lemas.


Tak berhenti di situ, Leo segera menyeret budak itu setelah mengamankan kembali pedang suci itu kini di pinggang kanannya.


"Pelajaran untuk kalian berdua. Aku akan merawat kalian seperti seorang manusia yang bebas. Sebaliknya, kalian akan membantu pekerjaanku. Jika kalian tidak melakukannya, atau bahkan sepertinya, aku takkan segan-segan untuk membunuh kalian di tempat." Ucap Leo kepada dua budak yang kini terlihat begitu ketakutan itu.


Tapi dengan kejadian ini mereka sadar. Bahwa pedagang yang terlihat lesu dan lemah itu dapat menghabisi mereka dengan mudah dan cepat.


"Ba-baik, Tuan...." Balas mereka berdua bersamaan.


Bahkan, Selene yang saat ini berada di kejauhan pun mulai merasa ngeri. Tapi Ia tak merasa buruk pada budak itu. Itu karena Selene tahu mengenai seberapa penting pedang itu bukan bagi Leo, tapi bagi umat manusia itu sendiri.


Saat ini, Leo berencana untuk menyeret kembali budak itu dan mengembalikannya ke dalam pasar budak.


Dengan tangan kiri yang menarik salah satu kaki budak itu, Leo terus berjalan tanpa memikirkan nasibnya.


Pada saat itu lah....


'Bruuukk!!!'


Sebuah pukulan yang kuat mengarah tepat ke arah perut Leo. Melemparkannya sejauh beberapa meter. Tubuhnya terguling-guling di tanah. Mengotori pakaiannya yang rapi itu.


"Kuughh! Sialan! Apa maumu?!" Teriak Leo dengan tatapan mata yang kini penuh dengan kebencian. Entah kenapa, hari ini Ia memperoleh nasib yang cukup buruk.


Melihat Tuannya terlempar seperti itu, Selene pun segera berlari ke arah Leo. Membantunya untuk bangun dari tanah.


"Tuan.... Maafkan aku karena hanya terdiam sejak tadi...."


Tapi Leo tak membalasnya. Ia hanya mengelap darah yang sedikit keluar dari mulutnya setelah menerima pukulan kuat itu.


'Yang benar saja.... Aku sudah meningkatkan pakaianku untuk menahan serangan fisik. Tapi aku masih menerima luka seperti ini?' Pikir Leo dalam hatinya sambil memandangi sosok pengganggu itu.


Wanita itu memiliki rambut berwarna pirang yang di kepang. Saat ini, Ia terlihat membantu budak yang baru saja dihajar oleh Leo untuk bangun. Tak hanya itu, Ia meminumkan suatu cairan berwarna merah padanya. Membuat luka-lukanya sedikit membaik.


"Tak apa. Aku akan melindungimu. Sekarang pergilah sebelum Ia kembali mengejarmu." Ucap wanita itu.


Jubah putihnya terlihat begitu indah dalam keadaan ini. Seakan-akan Ia memanglah seseorang pahlawan. Dengan lambang bintang empat sudut dan beberapa bintang kecil lainnya di punggungnya, semua orang tahu bahwa Ia adalah Prajurit Gereja. Atau setidaknya, adalah seorang Pendeta.


"Aku tak tahu apa masalahmu tapi menghajar orang malang seperti itu secara sepihak bukanlah hal yang baik." Ucap wanita itu dengan tatapan yang tajam.


Tangan kanannya bahkan telah menggenggam pedang yang ada di pinggang kirinya. Bersiap untuk menghadapi Leo sepenuhnya.


Sementara itu, Leo masih sibuk membersihkan debu di pakaiannya.


"Selene. Berhati-hatilah, dia kuat." Ucap Leo.


Mendengar hal itu, Selene segera menarik sebuah pedang pendek di pinggangnya dan berada dalam posisi siap untuk bertarung.


"Baik, Tuanku." Balas Selene singkat.


Banyak penduduk yang sebelumnya ada di sekitar tempat ini terlihat telah pergi. Meninggalkan tempat yang mungkin saja akan menjadi ladang pembantaian itu.


Mereka sama sekali tak mengenal Leo dan wanita itu. Dan karena itulah, mereka sama sekali tak ingin terlibat dalam masalah apapun yang mereka miliki.


"Aku tak tahu apa masalahmu untuk ikut campur, tapi aku akan membalas pukulan tadi." Balas Leo sambil segera melangkah mendekati arah wanita itu.


Wanita itu pun membalas dengan menarik pedangnya. Ia memasang kuda-kuda untuk membalas serangan apapun yang akan diarahkan kepadanya.


'Pria itu terlihat lemah, tapi bisa menahan pukulanku? Lalu wanita itu.... Dia berpengalaman.' Pikir wanita itu dalam hatinya.


Setiap langkah yang Leo buat memperpendek jarak antara mereka berdua. Hanya saja, ada suatu hal yang membuat Leo merasa sedikit nostalgia.


'Perasaan apa ini? Kenapa aku seperti....'


Di saat Leo sudah cukup dekat untuk melihat informasinya dengan Clairvoyance miliknya....


'Tap!'


"Re.... Reina?" Tanya Leo dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ia merasa malu pada dirinya sendiri karena tak menyadari kekuatan dan penampilannya. Seharusnya, Ia langsung menyadarinya sejak awal. Tapi karena Leo masih dibutakan dengan kemarahannya, Ia tak begitu memikirkan kemiripannya.


Dan kini, setelah Leo melihatnya secara langsung dengan kemampuannya, tak ada lagi keraguan di dalamnya.


Wanita yang berdiri di hadapannya saat ini, tak lain adalah Reina. Seketika, Leo segera memperhatikan kondisi tubuhnya yang seakan lebih kurus itu.


Dari balik jubah putihnya yang indah, serta zirah tipis yang elegan, terlihat balutan perban secara samar-samar di bagian leher dan juga tangan kirinya.


"Reina.... Apa yang terjadi padamu?" Tanya Leo dengan suara yang gemetar. Tangan kanannya seakan ingin meraih tubuh wanita itu. Sedangkan wajahnya terlihat memasang ekspresi yang rumit. Seperti campuran atas rasa takut, rasa bersalah, dan rasa sedih.


Dengan wajah yang terlihat ketakutan dan kebingungan, wanita yang telah dipastikan adalah Reina itu hanya berjalan mundur. Menjauhi sosok pria itu.


"Kenapa kau tahu namaku?" Tanya Reina sambil memasang wajah yang terlihat ketakutan.


Di kejauhan, terlihat seorang Pria berambut perak yang berlari ke arah mereka berdua.


"Reina! Apa yang terjadi?" Tanya Pria yang tak lain adalah Lucas itu sendiri. Setelah melihat sosok Leo, Lucas pun dengan cepat menyadarinya.


"Aah? Jadi kau bertemu dengan Tuan Leo? Ingat kan? Dia adalah pedagang yang membantu kita memasang Quest di benua Elf itu. Mungkin beberapa Minggu lagi para petualang itu akan kembali." Ucap Lucas sambil tersenyum ke arah Reina.


'Begitu ya.... Saat ini, apakah aku memang semengerikan itu sampai membuatnya takut?' Tanya Leo dalam hatinya.


Pikirannya campur aduk.


Ia selalu berpikir bahwa Reina berada di desa Canary selama ini. Hidup dengan tenang dan nyaman di wilayah yang paling jauh dari invasi iblis.


Tapi pada kenyataannya, Gadis yang selalu ingin Ia lindungi telah memiliki banyak luka di tubuhnya. Semua itu ditunjukkan dari perbannya.


Leo sama sekali tak rela untuk melepaskan kesempatan pertemuannya kembali dengan Reina saat ini. Ia sangat ingin berteriak bahwa dirinya adalah Dimas, rekannya ketika pertama kali tiba di dunia ini.


Tapi Lucas telah datang dan menegaskan bahwa namanya adalah Leo. Terlebih lagi....


'Aku tak ingin merusak pandangannya terhadap Dimas dengan diriku yang saat ini.'


Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, Leo telah memilih keputusan yang cukup berat dalam hatinya. Ia tahu bahwa Lucas hanyalah seorang Pria lugu yang baik. Yang kemungkinan besar akan menjaganya dengan baik.


Terlebih lagi, Reina telah tergabung dalam Gereja. Pasti ada banyak orang yang melindunginya di sana. Oleh karena itu, tak ada lagi alasan bagi dirinya untuk ikut campur tangan lebih lanjut.


Leo pun menghela nafasnya sebelum akhirnya membalikkan badannya.


"Lucas, lain kali ajari muridmu sopan santun kepada orang yang telah membantunya. Dan juga, ajari dia agar tak mencampuri urusan orang lain. Lalu.... Kau adalah peramu obat bukan? Setidaknya rawat lah luka-luka di tubuhnya." Ucap Leo yang segera pergi.


Ia sama sekali tak membalikkan badan ataupun pandangannya. Itu karena Leo telah memutuskan untuk memilih jalan ini.


Selene yang mendengar seluruh pembicaraan mereka hanya bisa terdiam karena kebingungan. Terlebih lagi, Ia mendengar kata Reina yang pernah diucapkan oleh Leo dalam tidurnya.


"Tuan?" Tanya Selene kebingungan.


"Kita akan kembali. Ajak mereka berdua dan jelaskan mengenai aturan lain bekerja di bawahku."


Ekspresi Leo kini telah kembali datar sama seperti sebelumnya.


"Apakah Anda yakin akan pergi?" Tanya Selene sekali lagi.


"Hmm? Memangnya ada apa? Aku tak lagi memiliki urusan dengan mereka." Balas Leo dengan suara yang datar.


Ia telah menelan jauh-jauh rasa sedihnya. Menganggap bahwa Reina kini telah hidup bahagia dengan orang yang lain.


Segera setelah melihat ekspresi Reina itu, Leo tahu.... Bahwa Ia takkan lagi bisa menjadi orang yang sama seperti 'Dimas' yang dulu lagi setelah semua ini.


Menjadi sosok yang bahkan ditakuti olehnya.


Sementara itu....


"Reina, apa yang terjadi?" Tanya Lucas kebingungan.


Sebelum menjawab, Reina menyarungkan pedangnya kembali dan sedikit menghela nafasnya.


"Maaf, aku tak tahu itu adalah pedagang yang pernah membantu kita. Tapi aku melihatnya menghajar seorang budak tanpa ampun. Mengingat bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi pada Dimas.... Tubuhku bergerak sendiri untuk menyelamatkannya." Jelas Reina sambil memasang wajah yang sedih.


Lucas hanya diam selama beberapa saat. Memberikan ruang dan waktu bagi Reina untuk menenangkan dirinya.


Tujuan mereka kemari kali ini hanyalah untuk mencari beberapa bahan dan juga untuk mencari sosok yang selalu dicari oleh Reina.


Mungkin saja mereka melewatkannya di Kota ini, atau kota yang lain. Bahkan bisa saja Ia berada di desa terpencil.


"Reina.... Ayo, kita akan cari ke dalam pasar budak. Siapa tahu ada seseorang yang mengenalnya." Ucap Lucas.


Reina hanya mengangguk ringan sambil mengusap matanya. Tapi ada satu hal yang membuatnya bingung.


"Lucas, apakah kau pernah mengenalkan diriku pada pedagang itu?"


Lucas terlihat berpikir sejenak sambil memandang langit.


"Jika diingat-ingat kembali, benar juga. Aku mengenalkan dirimu pada Leo di Kota ini sekitar satu bulan yang lalu." Balas Lucas.


"Begitu ya...."


Akhirnya, kesunyian kembali menyelimuti mereka berdua sebelum melanjutkan pencarian di dalam pasar budak itu.


Tanpa Ia tahu, orang yang selalu dicarinya selama ini adalah orang yang baru saja dipukulnya sekuat tenaga.