E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 144 - Pengorbanan



"Apakah maksudmu.... Valkazar juga mungkin adalah jiwa yang dikirim dari dunia lain sepertiku?" Tanya Leo dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu ketakutan.


Selama ini, Ia tahu dan percaya bahwa Valkazar adalah Iblis yang terlahir di dunia ini secara alami.


Bahkan Dewi Cyrese pernah mengatakan bahwa status dunia ini berubah secara drastis dari tingkat C ke tingkat SS secara tiba-tiba. Semua itu terjadi sesaat setelah kemunculan misterius Valkazar.


Atau setidaknya....


Itu adalah apa yang disampaikan oleh Dewi Cyrese melalui Igor selama beberapa waktu ini. Dan mengetahui bahwa mungkin saja dia adalah seorang manusia?


Tidak....


Mungkin adalah seseorang dari dunia lain sama seperti dirinya? Kenyataan itu tentunya cukup berat untuk bisa diterima oleh Leo sekaligus.


Sedangkan Narla yang berada di samping mereka berdua hanya bisa diam. Mendengarkan apapun yang sedang dibicarakan di hadapannya.


Ia tak perduli banyak. Selama dirinya bisa membalaskan dendamnya kepada Iblis, Ia takkan memiliki masalah sedikit pun.


Kini, tetap dengan wajah seriusnya, Egalathia pun membalas.


"Kemungkinan besar, dia sama seperti kalian. Tapi aku tak tahu apakah kalian berasal dari dunia yang sama."


Setelah secara terpaksa menerima kenyataan itu, kini Leo kembali bertanya.


"Kenapa memilihku?"


Dengan senyuman yang kembali di wajahnya, Egalathia pun membalas pertanyaan Leo.


"Dunia ini akan berakhir cepat atau lambat. Dengan kehadiranku maupun tanpa diriku. Jika ada sedikit saja peluang untuk menunda akhir dari dunia ini, yaitu dengan membunuh Valkazar, aku akan dengan senang hati memberikan nyawaku.


Dan kau, Leo.... Kau adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Dengan kemampuan sihir unik milikmu, dan seluruh pengetahuan yang kau miliki, setidaknya kau memiliki kelayakan untuk mencobanya." Jelas Egalathia dengan suara yang begitu lembut.


Leo, yang selama ini hidup dalam bayang-bayang peringkat E miliknya, yang bahkan ditegaskan oleh para Dewi yang ada....


Tak pernah berpikir akan memikul tanggung jawab sebesar ini.


Apa yang diinginkannya hanyalah sebuah dunia yang damai. Sebuah dunia yang bahagia untuk dirinya hidup dan menikmati sisa umurnya.


Ia sama sekali tak pernah mengeluh atas kelemahannya. Dan juga tak pernah menuntut untuk memiliki lebih dari apa yang telah diberikan oleh langit kepadanya.


Meski begitu, Ia tak pernah berhenti untuk berjuang. Dan kali ini....


Ketika dirinya diberikan kesempatan untuk memperoleh kekuatan yang sangat besar untuk memenuhi semua impiannya....


Leo justru terdiam.


Ia justru diam dalam kebingungan. Tak tahu bagaimana harus merespon.


"Apakah aku.... Benar-benar layak untuk menerimanya?" Tanya Leo sekali lagi.


"Persoalan layak atau tidak, aku lah yang memutuskan. Sedangkan persoalan mengenai bisa atau tidaknya kau memanfaatkan kekuatanku, kau sendiri yang akan menentukan."


Pada akhirnya, Leo meminta penjelasan lebih lanjut mengenai kekuatan ini. Dimana Egalathia dengan senang hati menerimanya.


Sebagai permulaan, Egalathia adalah bentuk paling murni dari Mana yang memiliki densitas yang sangat tinggi. Sangat tinggi dan sangat murni hingga membuatnya terlahir sebagai kesadaran yang baru.


Tapi hal itu tak membuatnya lupa atas awal permulaannya. Yaitu Mana itu sendiri.


Dengan kata lain, memberikan seluruh Mana miliknya kepada Leo, akan membuat seluruh kesadarannya menghilang saat itu juga.


Sedangkan tubuh Leo sendiri, sekalipun telah memperoleh banyak modifikasi dari Enchantment miliknya, hanya akan bertahan selama 5 menit saja dalam menggunakan kapasitas Mana yang sebesar itu.


Egalathia menjelaskan, takkan ada satu makhluk hidup pun di dunia ini yang bisa menahan Mana sebesar ini selama lebih dari 30 menit. Kecuali Valkazar.


Dimana Egalathia pernah berpikir untuk menghancurkannya dengan membuat ledakan Mana di tubuh Valkazar. Tapi segera mengurungkan niatnya dimana Ia melihat Valkazar mampu mengendalikan seluruh Mana di Danau Suci hanya dengan jarinya.


Tapi Egalathia takkan memberikannya pada saat ini juga. Melainkan dirinya akan tertidur dalam inti Mana Leo yang telah kosong itu.


Menunggu perintah Leo di saat yang tepat untuk melepaskan seluruh energi yang dimilikinya.


Sebagai bantuan lainnya, Egalathia juga memberikan seper seribu kekuatannya kepada Narla.


"Sebuah kehormatan besar untuk menerima kekuatan ini dari Dewiku." Balas Narla yang kini di sekujur tubuhnya mulai bercahaya.


Kutukannya sebagai Dark Elf memang tak bisa di angkat. Tapi sebagai gantinya, Narla kini memiliki jumlah Mana yang setara dengan 10 kapasitas Mana yang dimiliki oleh Roselia sekaligus.


Tentu saja, semua itu akan segera menguap dan menghilang dalam waktu 1 Minggu.


"Aku menunggu keputusanmu, wahai Manusia dari Dunia Lain. Apakah kau akan menerima tanggung jawab ini?" Tanya Egalathia.


Leo masih terus berpikir.


Jika seperti ini keadaannya, Ia masih memiliki kesempatan untuk kembali ke kota Venice dan mengulang semuanya dari awal.


Atau setidaknya....


Melihat Reina dan kedua anaknya sekali lagi.


Tapi kesempatan emas ini takkan datang kembali. Di satu sisi, sebagian besar pasukan Iblis sedang keluar dari wilayah Silverhide. Di sisi lain, mereka tahu bahwa Valkazar masih berada di sana.


Jika berbicara mengenai kesempatan untuk melawan Valkazar satu lawan satu, kemungkinan ini adalah kesempatan terbaik.


Tapi Egalathia kembali mengingatkannya.


"Aku takkan memaksa. Jika memang ragu, aku akan mencari kandidat lain yang memungkinkan. Lagipula, kematianku sudah dipastikan jika kau menerima kekuatanku.


Sedangkan kematianmu? Kau sendiri yang akan menentukannya, Manusia. Jika kau berpikir dunia ini jauh lebih berharga daripada semua yang kau miliki di dunia ini.... Aku akan dengan senang hati membantumu."


Pada akhirnya, Leo telah memutuskannya.


Reina? Stella? Marcus? Roselia? Artemis? Igor? Feris? Alicia? Dan semua kenalannya di dunia ini?


Mereka semua akan mati jika Leo tak bertindak saat ini. Mengambil kesempatan emas ini.


Dan parahnya lagi....


Mungkin dunia akan tunduk kepada Valkazar seutuhnya.


Tapi jika saja....


Jika saja dirinya rela untuk meninggalkan semua itu, dan mempertaruhkan segalanya pada satu kesempatan ini....


Mungkin saja Ia bisa menyelamatkan semuanya.


"Berapa peluang kemenangan kita?" Tanya Leo yang segera bangkit dari duduknya. Tetap dengan pandangan yang terus menatap tanah.


"Mungkin hanya satu banding limapuluh, melihat situasi yang ada saat ini." Balas Egalathia dengan cepat.


Senyuman mulai terlukis di wajah Leo. Ia seakan telah memikirkan sesuatu untuk menghadapi situasi ini. Puluhan langkah ke depannya.


"Satu banding limapuluh kau bilang? Hahaha!" Balas Leo sambil tertawa.


Setelah beberapa saat tertawa, Leo kembali pada dirinya sendiri. Dengan tatapan mata yang penuh percaya diri, Ia melihat ke arah Narla sambil bertanya.


"Satu banding limapuluh katanya. Kau mau mempertaruhkan nyawamu dalam hal gila ini? Yang mungkin takkan pernah berhasil?" Tanya Leo.


Mendengar pertanyaan itu, Narla juga segera bangkit dari duduknya dan membalasnya dengan senyuman.


"Angka yang indah untuk bertaruh. Setidaknya kita tahu bahwa kita memiliki kesempatan untuk menang. Tidak seperti sebelumnya."


"Kau benar, Narla. Kau sangat benar.... Jadi begitu lah, Egalathia. Maafkan aku, tapi aku akan memanfaatkan nyawamu dengan baik. Percayakan saja padaku."


Dengan senyuman yang sangat lebar, Egalathia segera membalas perkataan Leo sambil melayang tepat ke tubuhnya.


"Terimakasih, Manusia. Tidak.... Leo. Aku akan mempercayakan nyawaku padamu. Teriakkan saja namaku ketika kau sudah siap untuk menggunakannya. Ingat, hanya satu kesempatan karena aku akan segera mati."


Setelah itu, Egalathia sepenuhnya masuk ke dalam tubuh Leo. Menyatu dengan jiwanya dan juga inti Mana miliknya yang telah rusak itu.


Menanti saat yang tepat untuk dipanggil oleh Leo.


Dan kali ini, dengan kekuatan yang memadai, serta waktu yang tak cukup banyak, Leo pun mempercepat rencana dan perjalanannya.


"Narla, bantu aku. Kita akan membuat sihir ruang ini dalam versi yang jauh lebih besar." Ucap Leo yang segera keluar dari goa itu.


"Versi yang lebih besar? Maksudnya?" Tanya Narla yang masih menyesuaikan tubuhnya dengan kekuatan barunya itu.


"Maksudku adalah, kita bukannya menyimpan barang di dalamnya. Tapi memasukkan raja Iblis itu sendiri ke dalam sihir ruang. Aku akan memikirkan desain formasi sihirnya sepanjang perjalanan. Cepat, kita tak punya banyak waktu."


"Baiklah, aku mempercayakan semuanya padamu." Balas Narla yang juga turut berlari di belakang Leo.


Meninggalkan barisan pasukan iblis itu dari sisi tebing. Menuju tepat ke istana Iblis di tanah Elf ini.