
Di istana Carna...
Rafi sedang mengurus berkas terakhir.
"Haah!! Alhamdulillah! syukurlah sudah selesai semua!" kata Rafi.
"Yang Mulia, ini berkas selanjutnya, ada 16 berkas yang perlu anda periksa, masing-masing berkas ada 500 lembar" kata Adin sambil menaruhnya di meja kerja Rafi.
BUK! Tumpukan berkas itu benar-benar tebal.
"WHAT!!? Belakangan ini aku hanya tidur 3 jam sehari! dan... sekarang ada berkas tambahan lagi!? jangan bercanda!" kata Rafi.
"Tentu Yang Mulia, Ratu Aliana terus mengerjakan itu dan beliau pernah tidak tidur semalaman" kata Adin.
"Benarkah? apa yang kak Ana katakan?" tanya Rafi.
"Em... setiap ada berkas, beliau hanya mengatakan terimakasih saja dan lanjut mengerjakan, setelah tersisa 2 atau 4 berkas, beliau akan memasak untuk makan malam dan apabila tidak sempat maka pelayan yang akan mengambil alih memasak" Jelas Adin.
"Se... Serius!? Kak Ana bahkan sempat memasak!? manusia macam apa dia sampai-sampai bisa menyempatkan waktu memasak di jadwal super sibuk ini!?" tanya Rafi.
"Sa... Saya juga takjub saat melihat beliau bekerjaπ " kata Adin dengan berkeringat gugup.
"Huft, tetap saja... aku hanyalah kandidat penerus tahta, bukan pemegang asli, sekarang yang kita siarkan di internet adalah tentang kak Ana, kak Andra, dan Kak Erlan yang tengah pergi dinas dalam kurung waktu yang tidak dapat di tentukan, apa yang harus kita lakukan?" tanya Rafi.
"Soal apa, Yang Mulia?" tanya Adin.
"Saat kita akan mengatakan kepada massa kalau mereka sudah tiada, mereka pasti akan menganggap kita berbohong dan akan mencemari nama keluarga kerajaan" kata Rafi.
"Tapi, meski diduga nantinya akan ada penistaan tapi kita tak boleh mengambil kesimpulan seperti itu kan? karena penistaan terhadap bangsawan akan mendapatkan hukuman penggal" kata Adin.
"Tetap saja... aku bukanlah pemimpin kerajaan yang baik" kata Rafi.
"Sa... Saya tidak berpikir begitu!" kata Adin
"Aku tahu, karena kau juga dulunya adalah sekretaris kak Ana, kau juga adalah seniornya di kampus, sekarang aku mengerti... kenapa keluarga Ameera hampir dikeluarkan dari kumpulan keluarga-keluarga Bintang Emas" jelas Rafi.
"Eh? Bintang Emas? Em... Keluarga yang setiap Tanggal Emas akan diberikan keuntungan apabila Pandora berhasil disegel?" tanya Adin.
"Ya, aku juga tidak tahu alasan kenapa Paman Arif dulu membawa Kotak Pandora menjadi pegangan keluarga Ameera, dan akhirnya karena Fujiwara dulu belum bersatu... Ameera, Harrison, dan Kencana adalah keturunan dari 4 konstelasi dan akhirnya menyegel Pandora sebelum pada akhirnya Kak Ana, Kak Andra dan yang lainnya mengambil alih untuk menyegel Pandora" jelas Rafi.
"Lalu.. apa maksudnya dengan Keluarga Ameera yang hampir di keluarkan?" tanya Adin.
"Karena keluarga Ameera teruslah yang mendapatkan keuntungan, disebabkan karena Tante Afifah, mendiang Ibunya kak Ana adalah Fujiwara Mika, mendapatkan warisan hak yang sah untuk menjadi pemegang Pandora, Harrison dan Kencana menjadi tidak setuju karena jika Pandora jatuh kembali ke tangan Klan Fujiwara ( klan pemilik Pandora yang sah ) maka Harrison dan Kencana tak akan mendapatkan keuntungan lagi, dan Kencana berhasil mengambil mencuri Pandora dengan bantuan Harrison" Jelas Rafi.
"La.. Lalu, apakah Ameera juga tak setuju atas kembalinya Pandora ke Klan Fujiwara?" tanya Adin.
"Keluarga kami Ameera, sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu dikarenakan Ameera setiap Tanggal Emas juga kehilangan anggota keluarga karena menyegel Pandora, Adin! apakah kau tahu? tentang peristiwa penculikan Kak Andra dan Kak Ana saat 35 tahun yang lalu?" tanya Rafi.
"Ti... Tidak"
"Sebenarnya-... " belum selesai Rafi bicara.
"Ya.. Yang Mulia! maafkan saya, tapi saya rasa anda tak perlu memberitahu rahasia seperti itu pada saya!" kata Adin.
Rafi kaget.
"Benar juga, entah kenapa... mungkin karena kau sangat di percaya kak Ana aku jadi mempercayaimu juga" kata Rafi.
"Saya merasa terhormat" kata Adin.
"Baiklah... aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu" kata Rafi.
"Tentu"
Sementara itu di markas...
"Dimana Maniak Tak Sayang Nyawa?" tanya Meghan pada Ersya.
"Dia dikamarnya" kata Ersya.
"Jangan bilang dia masih mendengarkannya? padahal sudah 17 kali! hah! dasar anak manja" kata Meghan.
"Biar saja, Edward pasti merindukan malaikatnya" kata Ersya sambil tersenyum.
Di kamar Edward...
Edward sedang duduk dengan kepalanya yang bersandar di meja sambil mendengarkan rekaman.
π "Tapi... saat kamu masih kecil, Ibu sudah bisa memperkirakan kamu suka dengan perempuan yang ceria, bar-bar, pintar, penyayang, peduli dan sebagainya"
π "Kalau begitu Ibu setuju sekali! Ibu akan terus mendukungmu, semoga berhasil ya"
"Ibu... " batin Edward yang tengah tiduran di kasurnya sambil tersenyum dengan lengannya di letakkan di wajahnya dan kancing kerah bajunya dibuka.
π "Edward, apakah kamu tidak menyesal? apa yang kamu lakukan sekarang?"
π "Oh ya, Bye-bye sayang! sampai jumpa di usiamu yang ke 20!"
Edward akan menutup rekamannya.
π "Oh ya, dengan dirimu yang mendengarkan rekaman ini... itu artinya mungkin sudah waktunya kuceritakan padamu. Sebenarnya Ibu.... "
"Eh?" batin Edward.
Jam 23.55....
Andika sedang menjalani seleksi pemeriksaan dengan Edward.
"Kau mengatakan kalau setiap malam, punggung tanganmu yang terdapat kutukan Pandora selalu merasa nyeri pada malam hari?" tanya Edward.
"I.. Iya, tapi hanya malam-malam tertentu saja, kupikir karena terlalu lama memegang sesuatu dengan tangan kananku, tapi setiap aku bangun dari tidur, logo kutukan Pandora akan bercahaya merah menandakan kalau biasanya aku mengaktifkannya, dan aku selalu menangis" jelas Andika.
"Kau tidurlah, aku akan mengamati untuk melihat apa yang terjadi pada kutukan Pandora saat kau tidur" kata Edward.
"Aku menderita sebuah penyakit, jadi aku tak bisa tidur, sehari aku tidur 2-3 jam saja" kata Edward.
"Be.. Begitu, baiklah... saya akan tidur" kata Andika.
"Tidak banyak tidur tapi tak ada kantong mata sama sekali" batin Andika.
Andika akhirnya tertidur.
Edward mengingat apa yang dikatakan Meghan.
Flashback...
"Oi, si maniak tak sayang nyawa!" panggil Meghan.
"Ng? Kacamata menyebalkan? kenapa?" tanya Edward.
"Aku akhirnya tahu, kenapa kau dulunya bisa melihat pikirkan Yumna padahal dia Fujiwara" kata Meghan.
"Ng?" tanya Edward.
"Karena... kau berniat melihat pikiran Yumna, bukan karena ingin menghilangkan ingatannya atau melakukan hal buruk pada ingatannya, lagipula kau juga seorang Fujiwara" kata Meghan.
"Jadi? apakah aku juga bisa melihat ingatan Kenzo juga?" tanya Edward.
"Kalau itu mungkin bisa"
Flashback Off....
Edward meminum tehnya sambil membaca buku dan melirik Andika.
Andika yang tertidur mengerutkan keningnya dan bergerak ke kanan dan ke kiri dengan wajah gelisah.
Edward menaikkan alisnya dan mendekati Andika dengan berlutut sambil memperhatikan Andika yang terus gelisah.
Edward memegang kepala Andika dan kaget saat merasakan suhu Andika yang meninggi.
"Suhunya sekitar 39 derajat... kenapa bisa?" batin Edward yang melihat Andika gelisah.
Edward menggunakan tangannya dan melakukan segel tangan.
"Jurus elemen Taira, clairvoyant!" Edward langsung melihat pikiran Andika.
Di alam sadar Andika...
Edward hanya bisa melihat saat dia masuk ke mimpi Andika.
Andika sedang bersimpuh dengan menangis juga gelisah.
"Maafkan aku!! karena aku! Ayah, Ibu, dan Paman tiada! maafkan aku! maafkan aku Ayah!" kata Andika.
Rupanya, Andika tengah memimpikan bertemu dengan Ayahnya yang menatapnya dengan kecewa.
"Aku mohon! maafkan aku!" kata Andika.
Edward langsung menghampiri Andika.
"Ck! percuma saja... aku kesini dengan Astral Projection dan tak bisa menyentuhnya! aku hanya bisa mengamati mimpi ini terus!?" batin Edward dan melihat bayangan Erlan.
"Eh? bayangannya Mizuki... teknik bayangan Dirgapati!? Kenzo di santet!? Dirgapati itu!" Edward langsung geram dan terpaksa menyerang Andika yang ada di alam bawah sadar.
TAK!!!
Setelah itu...
Edward terbangun dan terduduk.
Andika langsung tersadar sambil menangis dan melihat Edward yang terduduk.
"Ck! Dirgapati itu benar-benar tak tahu tempat!" kata Edward dengan kesal.
"Kapten! kau kenapa?" tanya Andika.
"Kenzo, mulai nanti... kau harus tidur setelah mendapatkan keterangan dari Vanora" kata Edward.
"Ba.. Baik"
"Ya, aku akan menyampaikannya nanti pada Vanora, katakan padanya aku memintanya" kata Edward.
"Ba.. Baik, saya permisi" kata Andika sambil pamit dan pergi.
Edward membanting dirinya ke kasur.
"Kurasa... Dirgapati ini benar-benar perlu tahu, apa rasanya telah menyerang Pasukan pemberantasan" batin Edward sambil melihat seragamnya dengan logo pasukan pemberantasan.
"Bagaikan menginjak ekor Harimau, dan membangkitkan amarah sang naga"
Basa-basi dan Faktaπ
Edward mengidap penyakit Insomnia yang menyebabkan dia hanya bisa tidur 2-3 jam sehari.
Sebagai Fujiwara cabang, Edward juga adalah satu-satunya anggota Klan Taira yang tersisa dengan keahliannya dalam memanipulasi pikiran.
Edward juga selalu minum teh tawar apabila suasana hatinya sedang buruk dan minum dengan memegang mulut cangkir, karena saat dia dulu pernah membeli cangkir mahal dan memegang gagang cangkirnya...
Gagang cangkirnya malah putus dan membuat cangkir tersebut jatuh dan pecah.
Maka dari itu Edward sangat berhati-hati ketika memegang cangkir teh, dia tidak pernah lagi memegang gagang cangkirnya namun dia memegang mulut cangkirnya.
POV Edward saat cangkirnya pecah...
"Mahal tapi kualitas rendah, memang menyebalkan sekali pembuat cangkirnya, mana kagak ada garansinya pula"