Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 4 Episode 4 : ( Flashback ) He has changed



Sebelum perang di mulai...


Yusuf berada di sebuah rumah kosong karena dia mendapatkan surat kalau ada yang ingin menemuinya.


Yusuf membuka pintu rumah tua itu.


"Lama tak jumpa ya, Yusuf?" tanya Zeydan yang duduk di kursi usang.


Yusuf terbelalak tak percaya.


"Ini... mustahil, Zeydan!?" tanya Yusuf.


"Tak usah menatapku seperti itu, kita sama-sama berada di posisi yang tidak menguntungkan, duduklah" kata Zeydan.


Yusuf gugup, dia tahu kalau Zeydan mempunyai Inti Pandora dan ia bisa saja dikendalikan.


Yusuf akhirnya duduk.


"Sejak... 4 tahun yang lalu ya?" tanya Zeydan.


"Iya, begitulah" kata Yusuf yang terus menunduk.


"Aku ingin banyak bertanya denganmu, tak sulit untuk bisa masuk ke kawasan yang dikuasai Dirgapati, karena aku dan Chandra sudah menjalin kerjasama untuk melanjutkan ambisi Chandra" kata Zeydan.


"Kenapa? kenapa kau bersekutu dengan Chandra!?" tanya Yusuf kaget.


"Chandra melihat sesuatu yang tidak ku lihat, jadi... aku memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan gerakan pemberantasan dan memilih terus maju bersama Chandra" kata Zeydan.


"Namun, beberapa Pilar Dirgapati sepertinya belum diberitahu oleh Chandra kalau aku bersekutu dengannya" kata Zeydan.


"Sebenarnya... apa tujuanmu masuk ke Dirgapati sebenarnya, Yusuf?" tanya Zeydan.


Yusuf terdiam.


"Tak apa, aku takkan memberitahunya pada Chandra, kau bisa memegang janjiku" kata Zeydan.


"Untuk menghabisi Chandra Nagata" kata Yusuf.


Zeydan menaikkan satu alisnya.


"Maaf, kau bilang apa?" tanya Zeydan.


"Untuk membunuh, menghabisi, dan melenyapkan Chandra Nagata dari dunia ini untuk selamanya" kata Yusuf.


"Kenapa?" tanya Zeydan.


"Karena Chandra... dia telah membunuh seluruh keluargaku sejak usiaku yang ke delapan tahun! jadi aku, Aram, dan Mansa telah membuat rencana untuk mengikuti Chandra secara tipu-tipu saja!! untuk membalaskan dendam keluarga kami yang dibunuhnya!" kata Yusuf.


"Apakah kau tidak berpikir? kalau itu cara yang aneh? dan apakah kau pikir, bahwa hanya kau saja yang kehilangan?" tanya Zeydan.


"Memangnya siapa lagi yang merasa kehilangan!?" tanya Yusuf.


"Eri... dia kehilangan orang tuanya dan pamannya yang sudah ku anggap orang tuaku sendiri, kau pikir... apa yang diperbuat Erika saat mengetahui kalau orang tua dan pamannya tiada?" tanya Zeydan.


Yusuf terbelalak.


"Aku tahu... alasan kenapa Chandra bisa tahu lokasi penyegelan Pandora dan informasi Tanggal Emas karena dirimu" kata Zeydan.


"Tapi, apakah kau tahu apa yang dirasakan Eri saat itu? dia hanya mengambil hak perintah sementara dan mengesampingkan perasaan sedihnya, padahal perempuan itu paling lemah mentalnya" kata Zeydan.


"Dan karena kau bekerja sama dengan Chandra Nagata, pasukan pemberantasan banyak yang gugur"


"Jadi... apakah kau pikir, hanya kau saja yang menderita daripada itu?" tanya Zeydan dengan tatapan mencekam.


"Maafkan aku, maafkan aku Zeydan! ini semua gara-gara aku! aku yang memberitahu informasi pada Chandra kalau Pandora akan di segel pada saat Tanggal Emas, aku memberitahu informasinya! karena aku, keluarga Erika mati!" kata Yusuf histeris sambil menangis dan bersimpuh lutut.


"Gara-gara aku juga... Mansa tiada, Aram terjebak dalam kristal pengeras yang dibuat Chandra agar Subjek Pandora wanita seperti dirinya tidak jatuh ke tangan pasukan pemberantasan" kata Yusuf.


"Berdirilah" kata Zeydan sambil mengulurkan tangannya.


"Eh?" tanya Yusuf.


"Kurasa kita punya kesamaan, sebagai untuk menghilangkan bekas pertemanan kita, aku akan merahasiakan tujuanmu dari Chandra" kata Zeydan.


Yusuf menyambut uluran tangan Zeydan.


"Tapi... segeralah tinggalkan tujuanmu yang ingin menghabisi Chandra, demi kebaikanmu sendiri" kata Zeydan sambil melakukan segel tangan dan berubah menjadi kekuatan kutukan Pandora.


Perang akhirnya tak terhindarkan karena pasukan pemberantasan yang datang, Zeydan sudah bilang pada Chandra kalau dia pasti akan di tahan oleh pasukan pemberantasan karena ulahnya dan pasukan Dirgapati akan menyerangnya, jadi dia ingin membuat pertempuran agar pasukan pemberantasan tidak curiga oleh kerja sama mereka, dan juga agar Chandra bisa menahan diri untuk tidak ikut campur di pertarungan ini sampai pada saatnya di kemudian waktu dia siap.


Zeydan yang terduduk di dataran tinggi sudah terpojok oleh musuh Dirgapati dan tak punya tenaga untuk berubah menjadi kutukan Pandora lagi.


Zeydan memejamkan matanya.


"Sekarang... Eri" gumam Zeydan.


Erika langsung datang dan membuat terkejut prajurit Dirgapati lalu menebas dan memusnahkan sebagian besar.


"HAA!!" Erika melancarkan serangan tombak ke para musuh dan memperhatikan kehancuran mereka dengan gaya terbalik.


Pasukan pemberantasan langsung datang dan menyerbu.


Pasukan pemberantasan memberantas pasukan Dirgapati.


Erika menghampiri Zeydan.


"Zayn!!" seru Erika.


"Terimakasih sudah datang, jadi kalian berhasil kesini, huh?" kata Zeydan.


"Kenapa kau malah masuk ke kawasan Dirgapati!? kau ingin mengalahkan Chandra!? jangan bercanda! kau ingin bekerja sama dengan Chandra? kenapa?" tanya Erika.


Zeydan tak menjawab.


"Kumohon Zayn... kembalilah, kembalilah menjadi Zayn-ku yang dulu, ayo kita pulang" kata Erika dengan membendung air matanya dan menatap Zeydan.


"Ini belum selesai... karena pertikaian..." Zeydan menghentikan kata-katanya.


Makhluk astral yang diberantas Erika meregenerasi kembali.


"...Akan terus tumbuh kembali" kata Zeydan.


"Mu... Mustahil! padahal, aku sudah menyerang tepat pada mereka!" kata Erika.


"Aku juga begitu, ada yang tidak beres disini. Eri, coba kau alihkan perhatian mereka sembari menganalisis mereka dengan Silent, jika temukan ada yang janggal berikan isyarat padaku dan aku sendiri yang akan menguaknya" kata Zeydan.


Erika langsung maju dan memperhatikan mereka dengan Silent.


"Merah-merah di dalam diri mereka itu... Mustika Delima Merah!?" batin Erika.


Erika memberikan isyarat pada Zeydan. Zeydan langsung melompat dan berubah ke mode kutukan Pandora lalu menghabisi semua makhluk astral dan menyerap batu Mustika Delima Merah.


Tiba-tiba ada yang mengincar Zeydan dari belakang.


"Ng?" Zeydan merasa ada yang tidak beres.


Pasukan Dirgapati atas nomor 5 berkode nama L tiba-tiba menindih Zeydan karena Zeydan tidak waspada.


"Waktu yang kutunggu telah tiba!!!"


"Aku akan merebut kekuatan Pandora dan Inti Pandora!!" Seru L yang mulai melakukan perjanjian Pandora.


"Ah!!!" Dirga, Salsa, dan Ilman sebagai regu penembak kaget melihat Zeydan tiba-tiba terpojok.


"ZAYN!!!" Seru Erika yang panik.


GREP!!! Ada yang tiba-tiba mengikatkan tali teleportasi pada L dan L langsung berpindah tempat lalu L tertebas.


"Apa!?" tanya L.


Orang itu langsung menebas L bertubi-tubi.


"Ukh!!!" L memasang pelindung.


"Apa?! apa itu tadi?! ada yang menyerangku dengan sangat cepat seperti putaran tornado!" batin L.


Ternyata Edward lah yang menyerangnya dengan pedang, Edward langsung akan mengarah ke L.


"Dia!! kecepatan dan aura membunuhnya?! matanya itu, Silent?! jangan bilang... Fujiwara?!" batin L.


Edward berhasil mengalihkan perhatian L dan L akhirnya melepaskan Zeydan dan melarikan diri.


Edward bersama pasukan lainnya kembali ke kapal secepat mungkin karena mereka sudah mendapatkan Zeydan kembali.


"Kita tidak punya banyak waktu, para prajurit pemberantasan mulai tumbang, jangan sia-siakan kesempatan ini, Dasar..." kata Erika.


Zeydan akhirnya menurut dan berbalik sebelum pergi.


"Sampai juga lagi, Gibran" kata Zeydan.


Peperangan menimbulkan banyak korban dari Dirgapati dan Gerakan pemberantasan, Pasha bahkan harus menggunakan kekuatan Subjek Pandora-nya untuk mengakhiri pertarungan.


JDUAR!!! Perubahan Pasha ke Subjek Pandora membuat ledakan besar, karena Subjek Pandora seperti Pasha sangat sulit dikendalikan.


Pasha mengamati markas Dirgapati yang hancur lebur.


"Mansa, jadi... kau menjadi pasukan di sekte ini ya? Chandra Nagata, dia pasti sedang menahan diri. Jika tidak pasti kami yang menyerang kawasan markas sementara ini akan mati di tangannya" kata Pasha.


Akhirnya semua selesai, Zeydan dan Erika masuk ke kapal bagian bagasi untuk berbenah.


Pasha yang berada di atas bagasi bertatapan dengan Zeydan yang akan naik ke kabin dengan tatapan biasa.


Zeydan menatap Pasha dengan agak tertegun.


Pasha mengulurkan tangannya untuk membantu Zeydan masuk langsung ke kabin kapal, sedangkan Erika di belakang Zeydan dengan raut wajah khawatir dan segan.


Edward bertatapan dengan Zeydan yang baru masuk.


"Zeydan... " kata Edward.


"Kapten" kata Zeydan.


DUAK!!! Edward langsung menghantam sisi kanan kepala Zeydan dengan lututnya, hingga Zeydan terpental dan terduduk ke sisi dinding kapal.


"!!?" Erika kaget melihat itu dan ingin menghentikan Edward tapi dicegah dengan Pasha.


Pasha menatap prihatin pada Erika dan memberikan isyarat agar Erika mengerti, karena ini juga kesalahan Zeydan.


Erika langsung menundukkan pandangannya.


2 pasukan menodongkan pistol kepada Zeydan sedangkan Edward mendekat.


"Lama tak bertemu, Zeydan" kata Edward yang mendekat dan berjarak 1 meter dari Zeydan.


"Kau mudah dihajar seperti biasa, kami akan menahanmu lebih dulu lalu kita bicara" kata Edward.


"Aku tak keberatan, tapi semuanya sesuai dengan surat yang kukirimkan padamu" kata Zeydan dengan menunduk.


"Kau seharusnya setuju sekarang" kata Zeydan dengan menatap remeh pada Edward sedangkan mata emerald Edward menatap Zeydan dengan tajam.


"Ck... wajahmu, itu wajah menyebalkan yang sering ku lihat pada para musuh" kata Edward sambil berdecih.


"Aku tak menduga kau akan seperti ini" kata Edward lagi.


"Kau juga.... kau senang, kan? semua berjalan sesuai yang kau inginkan" kata Edward.


"Lalu kau mau apa sekarang? meminta kami agar membawamu ke markas Chandra setelah ini? akan kupastikan Chandra lenyap dan kau tidak akan menganggap kami lemah" kata Edward sambil menahan amarah.


Di ruang kumpul pasukan...


"Ilman, Salsa" kata Dirga.


"Dirga" kata Salsa yang memegang senapan.


"Kupikir kalian tidak selamat" kata Dirga.


"Aku tidak selemah itu!" kata Ilman.


Dirga menatap dari jendela kapal di kawasan Dirgapati yang mereka tinggalkan.


"Aku merasa kasihan pada rekan kita yang gugur, tapi... " Dirga merangkul Salsa dan Ilman.


"Kalian istimewa bagiku, itu yang kurasakan" kata Dirga.


Ilman dan Salsa terdiam.


Salsa tersenyum.


"Ck! sesak tahu!" kata Ilman.


"Baiklah, aku akan memeriksa pasukan" kata Dirga.


"Dari tadi kek" kata Ilman.


"Kenapa di kapal seperti ada yang aneh-..." belum selesai Salsa berbatin.


DOR!!! Ada seorang pasukan Dirgapati yang menembak dengan senapan.


"Ukh!!" dan mengenai tepat di dada Salsa.


BRUK!! Salsa terjatuh karena tembakan.


"Salsa!!" Seru Ilman dan langsung menembak si prajurit Dirgapati dari kapal.


"Ilman! kita harus membawa Salsa ke bagian dalam kapal! yang lainnya bantu!" kata Dirga pada pasukan pemberantasan yang ada.


Mereka mulai mengikat luka tembakan yang ada pada Salsa.


"Salsa! kumohon bertahanlah sampai kita sampai ke pelabuhan markas!" kata Ilman.


"Salsa! dengarkan aku! Salsa!!" seru Dirga yang panik.


"Ka... lian... be... risik... se... kali" kata Salsa yang terbata-bata.


"A... pakah... kita... belum... sam... pai? aku... ingin... makan... bersama... kalian" Salsa terus terbata-bata.


"Sahabat... ku"


Darah Salsa terus membanjiri punggungnya.


Siska salah satu junior pasukan mengikat luka Salsa.


Di ruangan lain di kapal...


Disitu ada Edward, Meghan, Erika, Pasha, dan Zeydan.


"Tampaknya ada keributan" kata Meghan.


Ada satu pasukan pemberantasan yang menghampiri mereka.


"Hormat Komandan Meghan, sang Pilar Pengintai dan Medis dan Kapten Edward, sang Pilar pedang!" kata pasukan itu.


"Ada apa?" tanya Edward.


"Salah satu prajurit unit penembak dari pasukan pemberantasan wanita bernama Puspita Salsa telah tertembak oleh musuh yang menyusup!" kata si pasukan.


Erika dan Pasha bagaikan tersengat listrik, mereka benar-benar kaget sekali, sedangkan Edward dan Meghan terbelalak.


BRAK!! Erika langsung menghantam si pasukan itu ke dinding kapal dan menahannya dengan lengannya.


"Dimana!? dimana mereka!?" tanya Erika.


"E.. Erika! sabarlah, kau membuatnya takut!" kata Pasha.


"Me... mereka sedang mengobati Nona Salsa di ruangan medis!" kata si pasukan.


Erika langsung berlari di susul oleh Pasha, sedangkan Zeydan, Edward, dan Meghan tetap di ruangan.


Erika akan membuka pintu ruangan medis kapal.


DDRT!! Tapi Dirga dari dalam sudah membukanya duluan dengan wajah yang meneteskan air mata dan syok.


"Salsa... sudah meninggal" kata Dirga sambil meneteskan air matanya.


Erika dan Pasha langsung mengguncangkan tubuh Salsa yang diam dingin kaku sambil menangis histeris seakan-akan tak percaya kalau mereka harus mendapatkan korban dari teman dekat mereka.


Dan berita itu sampai di ruangan Meghan setelah Dirga datang menyampaikannya.


Ilman ternganga kaget, Edward hanya sedikit menunduk dengan wajah dinginnya dan Meghan mengerutkan keningnya.


Zeydan menunduk.


"Dirga... apa ucapan terakhir yang di katakan Salsa?" tanya Zeydan.


"Dia bilang... Sahabatku" kata Dirga.


Zeydan terbelalak.


"Heh... sahabat... ya?" tanya Zeydan sambil tersenyum menyungging.


"Haha... pfft... haha... haha!" Zeydan tertawa kecil.


Meghan terkejut melihat reaksi Zeydan dan Edward terbelalak melihat reaksi Zeydan.


"Zeydan... Salsa tewas karena kau melibatkan pasukan pemberantasan" kata Ilman.


Zeydan berekspresi kesal.


Zayn... mungkin dia telah berubah.


Flashback Off


Basa-basi dan Fakta 😋


Ilman, Dirga, dan Salsa adalah 3 orang sahabat yang paling dekat dengan Zeydan, Erika, dan Pasha.