
Mereka memutuskan untuk mencari Zeydan dengan berpencar.
Erika mencari sampai ke sebuah lapangan luas, dia melihat Zeydan yang sedang bersimpuh lutut dan memegang bahu si bocah yang mencopet uang saku mereka.
Erika melihat Zeydan yang menangis dan menghampirinya.
"Zayn! kau darimana saja!? jangan pergi sembarangan! kau itu dalam pengincaran, kau ingat?, Dasar..." tanya Erika.
"Ah! kak! lihat! pacar kakak yang cantik itu ada disitu!" kata si bocah.
Erika terdiam dengan wajah tersipu memerah.
"Pa.. Pacar?" batin Erika.
"Aku tidak apa-apa... maaf ya" kata Zeydan sambil membiarkan si bocah pergi.
"Zayn, kau baik-baik saja kan? kau seperti ada masalah? seperti di kapal kau mencegahku pergi, dan sekarang kau menangis? ada apa?" tanya Erika sambil duduk di sebuah kursi taman.
Zeydan duduk di sebelah Erika.
"Tidak kok. Eri, sebagai sesama manusia, kita pasti punya sesuatu untuk dikorbankan, jika tidak berani mengorbankan sesuatu yang kita sayangi, maka kita takkan pernah bisa berubah" kata Zeydan.
"Aku... punya Mama dan Papa, tapi sudah tiada seperti yang kau tahu. Aku mencoba mengikhlaskan kepergian mereka, padahal aku berharap mereka bisa dengan bangga melihatku yang seperti ini" kata Erika sambil menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat langit.
"Hmf... ternyata sesuatu yang kita inginkan tak selalunya sesuai dengan ekspektasi" kata Erika.
Zeydan melihat Erika.
"Hei Eri, kenapa... dari dulu kau begitu memperhatikanku?" tanya Zeydan.
"Eh? a.. apa?" tanya Erika.
"Apakah karena aku dan kau menjadi teman dan sahabat saat kita berkenalan di usia 5 tahun tepatnya di taman istana?" tanya Zeydan.
"Ataukah karena aku memperbolehkan mu memanggilku dengan nama 'Zayn' dan kau mengizinkanku memanggilmu dengan nama 'Eri'?" tanya Zeydan yang semakin mendekat.
"Apakah... karena aku adalah orang pertama yang bisa mengetahui makna kata 'dasar' yang sering kau ucapkan?" tanya Zeydan yang makin mendekat.
"Apa aku bagimu?" tanya Zeydan dengan tatapan penuh harap.
Erika gugup dengan wajah yang memerah melihat Zeydan yang menatapnya dengan tatapan dalam penuh harapan, tapi itu tak membuat Erika berpikir, rasa ingin tahunya dikalahkan oleh rasa gugupnya.
"Ka.. Kau... " Erika memberhentikan kata-katanya.
Zeydan menantikan jawaban Erika.
"Kau... "
"Kau... keluargaku-... " belum selesai Erika bicara sepenuhnya.
"Excuse me Sir, Miss"
( Permisi Tuan, Nona )
kata seorang lelaki.
"Y-yes?" tanya Zeydan.
"I see you two are not from Magnaga City huh? do you mind if i serve you a drink?"
( Aku melihat kalian berdua bukan berasal dari kota Magnaga ya? apakah kalian berdua tidak keberatan jika saya menyajikan minuman untuk kalian? )
tanya lelaki tua itu.
"Apa yang dia katakan?" Zeydan bisa bahasa Inggris, tapi jika berbicara dengan orang yang menggunakan bahasa Inggris dia akan kesusahan karena berasa ngomong sama native speaker.
"Katanya, dia bertanya apakah kita ini adalah pelancong? dan dia ingin bertanya apakah kita keberatan untuk disajikan minuman olehnya?" kata Erika dengan wajahnya yang masih memerah.
"Thank you, i'm honored for you kidness, i don't mind"
( Terimakasih, saya merasa terhormat untuk kebaikan anda, saya tidak keberatan )
kata Zeydan.
"How about you Miss? i saw that Miss's face was still red, is she sick?"
( Bagaimana dengan mu Nona? saya lihat wajah Nona dari tadi merah, apakah Nona sakit?)
tanya lelaki tua itu.
"Kau sakit, Eri?" tanya Zeydan.
"No, i don't mind, but are the drinks halal?"
( Tidak, saya tidak keberatan, tapi apakah minumannya halal? )
tanya Erika.
"Of Course it's halal, Miss. Please Sir and Miss follow me"
( Tentu saja halal, Nona. Silahkan Tuan dan Nona ikuti saya )
kata lelaki tua itu.
Akhirnya Erika dan Zeydan di sajikan minuman berupa sirup yang bisa membuat mual jika mengkonsumsinya terlalu berlebihan karena sirup itu sangat manis.
Tak lama kemudian Ilman, Pasha, Dirga, dan Salsa datang dan ikut minum juga.
Zeydan benar-benar tidak mual meski sudah minum sebotol penuh.
Erika dan Salsa langsung merasa mual, sedangkan Ilman dan Dirga masih meminta 2 botol sirup lagi, dan Pasha sudah mual, kalau Zeydan hanya baik-baik saja tapi mengantuk.
20 menit kemudian...
Salsa muntah karena mual, Dirga dan Ilman tidur dengan duduk bersandar satu sama lain, sedangkan Zeydan tidur dengan Pasha dan Erika di kanan kirinya.
Meghan dan Edward mendatangi dan melihat mereka.
"Ck! inilah kenapa kalau remaja tak boleh salah pergaulan!" kata Edward.
"Jangan suudzon, Ward! mereka hanya disajikan sirup! kurasa mereka merasa mual" kata Meghan.
"Ck! membawa mereka bolak-balik ke Mansion itu kejauhan dan merepotkan!" kata Edward.
"Pakai jurus teleportasi saja, maniak tak sayang nyawa!" kata Meghan.
Akhirnya Meghan dan Edward sedikit berdebat dan membawa mereka semua ke Mansion.
Keesokannya di pertemuan...
"Kami tidak akan berubah pikiran! pilihan hanya ada satu! yaitu menggabungkan kekuatan kutukan Pandoran dan Bayangan pemimpin untuk menghasilkan penitisan baru, menjaga keseimbangan Dimensi yang dulunya menggunakan Pandora, dan mempunyai energi besar!" kata pihak yang di ajak bernegosiasi.
Pasha kaget mendengar kalau Negosiasi mereka untuk menggunakan Rencana Penitisan baru, gagal total.
Erika melihat dengan prihatin Zeydan yang keluar melalui pintu secara diam-diam.
"Sejak saat pertemuan itu, Zayn terus saja menghilang dari tempatnya, kupikir Zayn ingin menyendiri karena masih marah karena rencana ketiga yang mengorbankan kak Andika dan Adelia itu didukung keras persetujuannya, dan pihak yang berbeda termasuk keluarga Clarke yang hanya memikirkan keuntungan dari Dimensi Astral masih memikirkan soal ketertinggalan zaman? sampai-sampai membuat nyawa Adelia dan kak Andika dalam taruhan" batin Erika
"Bahkan solusi Zayn dengan rencana penitisan baru juga ditolak oleh para Pilar karena tidak bisa memperoleh yang dikatakan oleh Nyonya Sera. Tapi... mungkin Zayn punya maksud lain, kuharap saja tidak parah"
Dan benar saja, bahkan hal ini lebih buruk dari kenyataan. Sepekan setelah pertemuan, Zeydan mengirimkan pesan kepada Edward, Erika, Pasha, dan yang lainnya kalau dia akan bekerja sama dengan Chandra Nagata, lokasinya sekarang berada di sebuah kawasan yang di kuasai Dirgapati tapi bukanlah markas Dirgapati sebenarnya.
Tentu saja kami tidak mengerti, apalagi Zayn adalah salah satu aset terpenting setelah kak Andika karena dia memegang kutukan Pandora.
Zayn berkata di suratnya... kalau kami tak melihat apa yang Chandra Nagata lihat, dia berkata kalau ada hal yang harus dia urus dan akan menjelaskannya pada kami jika sudah selesai.
"Ck... apa sebenarnya yang ada di otak bocah itu!?" tanya Edward dengan berdecih kesal sambil meremuk kertas di tangannya dengan sekali kepalan.
"Zayn... "
Aku merasa.. Zayn sudah berniat lama soal itu, bahkan sebelum dia bertanya seperti apa aku menganggapnya. Aku yakin disitu dia ingin melihat inti sebenar pilihannya, dan aku yang membuatnya seperti itu.... karena andai saja aku mengatakan pilihan lain selain menganggapnya sebagai 'keluarga', pasti Zayn tidak akan bekerja sama dengan Chandra, karena Zayn lebih dari sekedar keluarga bagiku.
Dan beberapa hari kemudian... Perang antara pasukan pemberantasan vs Dirgapati terjadi.
Bonus Behind The Scene...
"Seperti apa aku bagimu?"
"Seperti apa aku bagimu?" tanya Zeydan dengan penuh harap.
"Y... Yah, aku merasa ada rasa aneh yang membuatku gugup jika berada di dekatmu" kata Erika dengan malu.
"Apakah itu CINTA?" tanya Zeydan dengan pipi merona dan mata berbinar penuh harap, entah kenapa ia menjadi lega.
"Tidak? i... iya!" kata Erika yang kebingungan.
"Mungkin?" tanya Erika dengan wajah amat merah.
DONG!!! Zeydan dengan wajah suram seperti... ini? -_- dan langsung terdiam dengan kecewa sedangkan Erika hanya seperti merasa ada yang salah mungkin?.
Akhirnya naskah pun diganti 😂😂.