
Erika, Zeydan, dan Pasha sedang melihat sekeliling dinding.
"Jadi... kita akan memusnahkan portalnya dengan jurus pemusnahan Pandora milik Zayn?" tanya Erika.
"Ya, kita tidak akan berhadapan dengan musuh, jika ada... segeralah kalian pergi ke tempat Zeydan! karena disitu, Zeydan bisa melindungi kalian jika aku tak di tempat" kata Rahmat.
"Dimengerti!"
Zeydan, Erika, dan Pasha mencari portal yang dimaksud.
"Sebentar!" Erika langsung fokus dan mengumpulkan energinya.
"Silent!!" Radiasi pemindai Silent menyebar ke seluruh dinding selatan, untuk menemukan portal.
Erika menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Apa yang kau temukan?" tanya Pasha.
"Ada... portalnya sekitar 500 meter dari sini!" kata Erika.
"Kita ke sana sekarang!" kata Zeydan.
"Zayn! tunggu!" kata Erika.
"Erika! Zeydan!" Pasha menyusul mereka.
Di markas...
Adelia sedang memperhatikan bekas goresan luka bakar di lehernya yang menandakan kalau dia termasuk titisan Shadow Of Lord.
"Aku... mengemban beban ini, aku bahkan lebih memilih seperti Erika, meski kedudukannya lebih tinggi, dia masih bisa melakukan misi bersama teman-teman, aku iri padanya, tapi sekaligus kasihan karena kehilangan kedua orang tuanya" batin Adelia.
"Iren... kenapa kau berkhianat?" tanya Adelia.
Di markas Chandra...
Yusuf dan Karin bertemu.
"Apa sebenarnya maksudmu, tiba-tiba muncul disaat-saat berakhirnya pertarungan di dinding selatan?" tanya Yusuf.
"Aku hanya masih agak berat hati dan tak siap untuk membunuh teman-teman kita, mereka mengingatkanku saat kita sekolah dulu, bersama Adelia" kata Karin.
"Lupakanlah itu, kita telah bergabung ke sekte Dirgapati pada saat kita berumur 8 tahun! kita sekolah hanya untuk memata-matai saja, jangan lupakan hal itu" kata Yusuf.
"Oh ya? bukankah kau sendiri yang bahkan cukup bersenang-senang di sana? jujur saja... itu adalah pengalaman yang tak dapat dilupakan, aku akan berusaha untuk menghancurkan rasa kemanusiaan ku agar bisa berani menghabisi teman-teman kita di pasukan pemberantasan kecuali seseorang" kata Karin.
"Siapa?" tanya Yusuf.
"Adelia"
Yusuf hanya terdiam.
"Kenapa? apakah ada yang membuatmu gundah?" tanya Karin.
"Entah"
"Jangan bohong, aku merasakan ketakutan didalam dirimu, kau seperti trauma... apakah, ada seseorang yang kau hindari di pasukan pemberantasan?" tanya Karin.
Yusuf mengingat kembali, dimana saat penyerangan di dinding selatan, dia berhadapan dengan Erika yang menatapnya dengan tatapan membunuh sambil akan menebas pedangnya, disitu dia mulai sangat menghindari Erika.
Yusuf memejamkan matanya.
"Tidak ada" kata Yusuf.
"Kau... punya nama asli kan? 'Yusuf Zubair' bukanlah nama aslimu aku tahu hal itu, tapi tenanglah... 'Irene Karina' tetaplah nama asliku" kata Karin.
"Kau cukup pintar sebagai salah satu Subjek Pandora, ya... namaku adalah Gibran... jika kau tidak suka dengan nama itu panggil saja aku Yusuf" kata Gibran, Eh... Yusuf.
"Begitu? Hmf... aku lebih suka dengan nama Gibran" kata Karin.
"Tergantung padamu, Karin" kata Yusuf.
"Setelah Mansa tewas dalam bentuk Subjek Pandora-nya, itu membuat kekuatan makhluk astral menjadi tidak stabil dan akan membuat Dimensi menjadi tidak beraturan, tapi... Pasha telah diubah menjadi Subjek Pandora dan telah memurnikan serta menyeimbangkan kembali kekuatan makhluk astral" jelas Karin.
"Kau melihat kejadian itu!?" tanya Yusuf.
"Kau tidak tahu ya? heh, meski kau itu Subjek Pandora dengan bertubuh sekeras baju zirah, kau itu lemah dan hancur saat pertarungan? jadi jangan sia-siakan aku yang berubah di akhir pertarungan" kata Karin.
"Tuan Chandra tahu akan hal itu, hanya mungkin kau tidak tahu, dan sekarang Pasha menjadi Subjek Pandora yang 40% hampir menyamai dirimu" kata Karin.
"Berhati-hatilah... Gibran" kata Karin.
Sementara itu Chandra...
Chandra tengah bersantai, dia juga merencanakan untuk melakukan pembalasan kepada Edward.
"Dia akan susah didekati dan bisa membunuh pasukan makhluk astral dengan cepat... aku tak menyangka, dengan aku yang membunuh sepupunya, aku bagaikan membangunkan seekor Singa yang tertidur panjang" batin Chandra.
"Kupikir... mungkin dia baby face dikarenakan keturunan Fujiwara memiliki wajah yang tetap muda meski berumur ratusan tahun sesuai kapan seorang Fujiwara akan kehilangan nyawanya"
"Aku akan mengambil cara ini untuk menghancurkan pasukan pemberantasan bagaimana pun juga caranya dan merebut kotak Pandora" batin Chandra.
"Tapi yang anehnya... apabila si Putri Silent telah tiada, seharusnya Ryu yang bersemayam didalam tubuhnya juga mati, dengan begitu keseimbangan Kara akan tidak stabil... tapi semuanya baik-baik saja, ada yang janggal disini"
"Setelah aku mendapatkan Yuna, aku akan bisa menaklukan matahari"
Sementara itu di Dinding selatan...
Zeydan melakukan jurus.
"Jurus teknik Pandora! Pemusnahan!"
PSSH!!! Portal di dinding selatan hampir terbakar habis bagaikan kain yang terkena cairan asam sulfat pekat.
"Hebat"
Erika menatap Zeydan dan berusaha mengingat pertama kali dia dan Zeydan bertemu sambil memegang kain putih yang pernah di berikan Zeydan padanya.
"Ukh!" Tiba-tiba kepala Erika menjadi pusing.
"Aku... sudah bisa menaklukkan matahari, kenapa masih pusing ya? apakah karena Aquamarine Silent? Silent tahap kedua itu juga bisa membuat kepala nyeri karena energi yang biasa" batin Erika.
Erika! Erika!
"Erika!!!" Seru Pasha yang langsung menyadarkan Erika.
"Tolong! Zeydan terlalu menyatu dengan kekuatan Kutukan Pandora! kita harus menariknya dari serat-serat urat itu!" kata Pasha.
Pasha langsung berusaha menarik Zeydan.
"Hentikan Pasha! Zayn berdarah!" kata Erika sambil perlahan menebas serat-serat urat yang ada.
"Urat-urat dan serat macam apa ini?" tanya Pasha.
"Tapi... Zayn sudah berhasil, ayo! kita pergi ke Pilar Karya!" kata Erika.
Sesampainya di tempat Rahmat...
"Kerja bagus, aku juga sudah memastikan tidak ada musuh yang menyerang, dengan begini Dinding selatan sudah dikategorikan aman, terimakasih atas kerja keras kalian" kata Rahmat.
"Mantan Pilar medis sedang dalam perjalanan ke markas... untuk membuat rencana mengalahkan Chandra Nagata katanya memerlukan waktu 1 tahun atau lebih, apakah kami bisa membuat rencana? sedangkan kami para Pilar tidak tahu kapan Chandra Nagata akan menyerang" batin Rahmat.
Rahmat menulis surat dan mengikat surat itu di kaki gagak dan mengirim gagak itu untuk mengirimnya ke markas.
"Jika sudah selesai, ayo kita kembali ke markas" kata Rahmat.
"Di mengerti"
Di markas...
Di ruangan Ersya...
"Kenapa memanggilku?" tanya Edward.
"Jangan sewot begitu, ada yang ingin ku katakan.... Soal Fujiwara dan peninggalan Ibumu" kata Ersya.
"Bagaimana kau bisa-.... " Edward yang kaget belum selesai bicara.
"Jangan terkejut dengan kemampuanku, aku menemukan beberapa data yang kau suruh cek waktu dulu saat menemukannya pada tas milik Ray" kata Ersya yang sedang memakai headset.
"Jadi? berupa apa itu?" tanya Edward.
"Berupa DVD rekaman suara" kata Ersya.
"Apa!? tunggu! jangan bilang kau sekarang...!?" tanya Edward.
"Ya, aku sekarang tengah mendengarkannya" kata Ersya.
"Tunggu! hentikan! kau tidak boleh tahu tentang Fujiwara lebih dalam lagi! cukup! kalau kau terlalu ikut campur lagi maka-..." belum selesai Edward bicara.
KLIK! Ersya menekan tombol pause.
"Eh?" tanya Edward.
"Maaf Ward, aku memang tidak boleh mendengarkan ini... ini hanya suaramu" kata Ersya.
"Coba dengarkan" kata Ersya.
🔊"Untuk Edward yang berumur 11 tahun, apa kabarmu?"
"Ibu!?" batin Edward yang kaget.
🔊"Sudah punya orang yang kau suka gak? dulu... cinta pertama ibu adalah.... "
Edward syok termenung, sudah 30 tahun lebih yang lalu dia tidak mendengar suara ibunya.
"Mungkin, rekaman itu dibuat saat menjelang kematiannya dan berniat ingin diberikan pada Ray, tapi mungkin... Ray tidak akan pernah sempat memberikannya pada Edward" batin Ersya.
"Tapi dia ingat kalau kakak tirinya dekat dengan Ray, sehingga diam-diam memberikannya pada kakak tirinya lewat kiriman demi menghindar dari pembantaian Kitagawa, Ray yang menerimanya pasti tidak bisa memberikannya pada Edward karena pembantaian yang merajalela" batin Ersya yang menoleh dengan tersenyum pada Edward yang sedang duduk memejamkan matanya sambil mendengarkan.
"Direkam di dalam kaset ini... pesan untuk Putranya agar menjadi dewasa. Syukurlah Edward, Ibumu adalah malaikat sungguhan" batin Ersya sambil tersenyum menoleh pada Edward.
"Ibu... " batin Edward sambil tersenyum terharu.