
"Karena itu jangan menghalangiku!!!" Seru Vincent sambil berlari mendekati Erika dan Edward.
CTRANG!! Pedang Erika sudah siap dan akan menebas Vincent.
"Berhenti!!!" Seru Edward yang ingin menghentikan tindakan Erika yang sudah di kendalikan amarah.
GREP!!!
"UKH!!!" Ada yang menahan Erika dari belakang dengan menyelipkan tangannya dari bawah dan melingkarkan tangannya di leher dan bahu Erika.
Erika kaget dan ternyata itu Meghan, dia dan Meghan saling bertatapan antara Silent Erika dan mata Meghan yang satunya terluka karena pertarungan.
"Meghan!?" tanya Edward yang kemudian kaget.
Erika berusaha melepaskan diri tapi Meghan menariknya hingga terduduk.
"He.. Hei? ini tidak mungkin kan?" tanya Ilman yang datang bersama Dirga yang menggendong Salsa yang terluka.
"Pasha... dan komandan?" tanya Dirga.
"Ternyata... ini yang terjadi" kata Meghan dan melihat yang terjadi.
Edward tentu saja tidak melewatkan kesempatan seperti itu, dia akhirnya bersiap menyuntikkan Morph-x pada Arsya.
"Ha? HHAAA!!!! HUAA!!!" Teriakan Erika begitu histeris melihat Edward.
"Yu... na!! hentikan dan kendalikan dirimu!" kata Meghan yang berusaha menahan Erika yang menangis histeris karena tenaganya terlalu kuat.
"Kita masih belum bisa kehilangan Arsya! hampir semua pasukan pemberantasan sudah gugur semua!! kalau tanpa kepemimpinan Arsya maka, kita akan lebih cepat sampai ke ambang kekalahan!!" Seru Meghan.
"Hal seperti itu... Pasha bahkan bisa melakukannya!! dan kenapa anda yang pilar Pengintai dan Medis tidak mengobati komandan saja!?" tanya Erika sambil menangis.
"Kau memang benar Pasha bisa melakukannya! tapi, disini pertarungan sudah berakhir dan kita kalah telak! aku juga tak membawa peralatan medis ku yang cocok untuk mengobati luka yang seperti Arsya!! lagipula, apakah kau mau kehilangan Pasukan pemberantasan-... ukh!!" Meghan langsung kesakitan dan menahan sakit karena Erika menggenggam pergelangan tangannya terlalu kuat.
"Kau... tahu, Yuna? semenjak aku masuk dan bergabung pada Gerakan Pemberantasan Sekte dan Organisasi Sesat? setiap hari hanyalah yang ada itu, pengorbanan... aku melihat mereka yang mati begitu saja, jujur melihat itu, banyak orang yang ingin ku obati dengan Morph-x, ratusan orang jumlahnya" kata Meghan.
Erika terbelalak.
Flashback...
Disaat Mansa melepaskan aura panasnya...
"Nona Meghan!!" kata Fauzi dan langsung mendorong Meghan yang membuat Meghan terjatuh dari jurang tapi selamat, Meghan hanya terakhir kali melihat wajah Fauzi yang reflek menyelamatkannya di sela-sela cahaya panas.
Flashback Off....
"Karena, antara hidup dan mati, kita takkan tahu? takdir apa... yang menghadapi kita kedepannya. Maaf jika aku lancang tapi, aku juga yakin... kau begitu kaget dan tertekan mendengar kematian Ayah, Ibumu, dan Pamanmu, bukan begitu? mereka juga adalah orang-orang yang termasuk ingin kutemui lagi! aku juga tertekan mendengar kematian mereka, dan hanya bisa diam di ruangan ku karena shock" Jelas Meghan.
"Aku kehilangan orang tuaku dan kakakku karena menjadi korban sekte, kematian mereka mengingatkanku pada keluargaku" kata Meghan.
"Aku sama sekali tak peduli dengan siapapun setelah berita kematian mereka, justru aku sangat marah pada semua orang yang berusaha membuatku membaik. Perasaan sakit di hati ini, siapa yang bisa menghadapinya dengan mudah?"
Semuanya terdiam dan hanya bisa mendengar penjelasan Meghan, Edward bahkan hanya terdiam.
"Tapi, kita hanya bisa terus maju dan membiarkan hal itu mengikuti kita, aku tahu yang kau rasakan sungguh, sakit... rasanya, sakit sekali. Aku benar-benar mengerti, walau begitu, kita harus tetap maju, dan membawa impian mereka di antara tujuan dan jalan kita" Kata Meghan sambil mengakhiri pembicaraannya dengan mengecilkan suaranya lalu memeluk Erika dari belakang.
Erika mengarahkan kepalanya ke atas sambil terputar memori dimana dia bersenang-senang bersama orang tuanya, juga dengan Zeydan dan Pasha.
Silent Erika akhirnya di nonaktifkan bersamaan dengan Erika yang tenang dan tabah, Erika melepaskan genggamannya dari Meghan dan hanya bisa pasrah.
Edward akhirnya membuka kotak suntikan dan mulai akan menyuntikkannya pada Arsya.
Zeydan berdiri.
"Kapten, apakah kau tahu? tentang janji kami bertiga yang akan melihat, Bulan, Bintang, dan Matahari?" tanya Zeydan.
Edward hanya terdiam dan mengingat sesuatu.
Flashback di taman Dimensi pada malam hari...
"Ya, tapi... jujur aku cemburu, meski aku pemegang kutukan Pandora, aku tidak bisa sekuat Erika dan Kapten Edward, tapi aku harus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi berguna meski tak sekuat kau dan Kapten" kata Zeydan dengan tersenyum menyamping sambil menatap Erika.
"Hari ini malam gelap ya?" tanya Zeydan.
"Ya, aku berharap akan bisa melihat Bulan, Bintang, dan Matahari nanti, Dasar... " kata Erika.
"Tapi kalian berdua tahu gak!? disaat luar biasanya, akan ada gerhana di ketiga benda langit tersebut! dan tahun ini akan ada yang seperti itu!" kata Pasha bersemangat.
"Benarkah?" tanya Zeydan yang duduk mendengarkan di sebelah Erika.
"Ya! dan itu sangat menakjubkan! seperti cincin! kita akan melihat nya kan? Zeydan? Erika?" tanya Pasha.
"Ya"
"Aku jadi berpikir... apa yang terjadi jika hanya ada satu bintang di alam semesta" kata Erika.
"Tentu saja tidak bisa... seperti kita, kita akan menjadi kuat selagi kita bersama" kata Zeydan.
Sedangkan Edward yang sedang ada di dahan pohon duduk mendengarkan sedari tadi.
Flashback Off...
Edward hanya menghembuskan nafasnya.
"Aku berharap itu terwujud, semuanya!! pergi dari sini, aku akan mengubah Arsya menjadi Subjek Pandora!" kata Edward.
"Ayo" Meghan hanya membantu Erika yang kesulitan berdiri karena shock.
"Pasha... selamat tinggal" kata Dirga yang menangis sambil menggendong Salsa dan pergi.
Zeydan langsung di bawa oleh Vincent, tinggallah Edward dan Arsya disitu.
Edward akan menyuntikkannya pada Arsya.
PLAK!! Tangan Arsya tiba-tiba reflek.
"A... yah, sepertinya, kau benar... kalau, menjadi pemimpin benar-benar... sulit" kata Arsya yang di sela-sela nafasnya.
"Tapi... aku, menjalani semuanya... dengan senang... tapi... entah kenapa, aku... lebih memilih, untuk berkumpul bersamamu dan... ibu, untuk istirahat dan tidur yang lama... setelah semuanya" kata Arsya.
Edward terbelalak.
"Ar... sya" gumam Edward.
Beberapa saat kemudian, Edward menyuntikkannya pada Pasha dan Pasha berhasil menjadi Subjek Pandora.
Zeydan, Erika, Ilman, dan Dirga langsung menghampiri Pasha dengan tangisan bahagia.
Sedangkan Edward dan Meghan hanya terdiam di samping Arsya.
"Kenapa? Tiba-tiba kau memilih Pasha? bukankah keputusanmu sudah bulat?" tanya Meghan.
"Arsya hanya ingin istirahat, ternyata dia itu capek tapi tak mengakuinya" kata Edward.
Meghan menghampiri Arsya dan membuka kelopak matanya.
"Dia... sudah tiada" kata Meghan.
Edward sedikit terbelalak.
"Begitu"
"Setelah mendengar penjelasanmu tadi, sepertinya memang benar kalau aku harus setiap saat bisa belajar untuk melepaskan sesuatu yang telah pergi" kata Edward.
"Haha! ngaconya sama kayak Arsya, kau saja belum bisa lepas dan gak terima Yumna sudah meninggal... bukan?" tanya Meghan di akhiri senyuman getir yang menyedihkan.