
Andika dan Zeydan di putuskan akan tinggal di Rosement sementara waktu.
"Zayn tidak kehilangan ingatannya, tapi kak Andika?" batin Erika.
"Apakah karena Andika memiliki darah Kitagawa? tapi Andika adalah anggota resmi dari dua klan berbeda, meski menyandang Kitagawa, dia juga dianggap resmi oleh Fujiwara sebagai satu-satunya anggota yang tidak memiliki Silent" kata Rafi.
"Itu mungkin saja, tapi itu seharusnya berpengaruh juga pada Zayn, kenapa gak ya? tapi bahkan kak Andika jarang memanggilku Yun-chan lagi?" tanya Erika.
"Tapi yang tak diingat Andika hanyalah kak Ana, Kak Erlan, dan Kak Andra?" tanya Rafi.
"Nah itu permasalahannya, Paman. Apakah tidak boleh jika kita memberitahu saja? tentang siapa Mama dan Papa?" tanya Erika.
"Tidak boleh, sebelum kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat penyegelan Pandora, kau tidak boleh bicara apa-apa tentang itu" kata Rafi.
"Baiklah"
Di Kamar Andika...
Pak Andi masuk ke kamar Andika.
"Pak,... Andi" gumam Andika.
"Ini Habbatussauda, konsumsi secara hemat" kata Pak Andi dan akan pergi.
"Begini" gumam Andika yang menghentikan langkah Pak Andi.
"Aku sudah membaca buku dari Yun-chan, tentang Ryu yang di segel di tubuh Fujiwara seperti Ibuku yang ku dengar-dengar, penyegelan Pandora yang juga di lakukan oleh Ayahku. Tapi bukan itu! aku ingin tanya! siapa Ibu dan Ayahku!? seperti apa mereka!?" tanya Andika.
"Itu... "
Kita akan menghabisi mereka bersama.
"Sudahlah! mengatakannya pun, itu tak akan membuat orang tuamu hidup kembali" kata Pak Andi.
Andika termenung, apakah ini gara-gara dia? tapi dia tak tahu apa yang terjadi.
"Mereka bertanya padaku dimana orang tuaku? itu mengisyaratkan kalau ada suatu kejadian besar yang membuatku bisa bersama orang tuaku dan melihat mereka tiada, tapi aku sama sekali gak ingat, Pandora, segel, tanda naga, Fujiwara, Kitagawa" batin Andika.
"Kita hanya terpaksa sekolah online dulu sampai membaik ya?" tanya Zeydan.
"Benar, dan yang membina adalah Pak Ali! galak pula" kata Andika.
Ceklek!
"Erika?" tanya Zeydan.
"Yun.... Yun-chan? kan?" tanya Andika.
"Kakak sudah bisa manggil Yun-chan!? hebat!" kata Erika.
"Apakah itu adalah serpihan memori kak Andika? dia benar-benar tidak ingat? kalau dia ikut menyelinap saat Mama dan Papa akan pergi menyegel Pandora? disitulah Mama dan Papa meninggal dan kak Andika juga Zeydan yang di tempat kejadian tak mengingat kenapa mereka mendapat tanda kutukan!?" batin Erika.
"Zeydan!" seru Nisa.
"Ka.. kak Nisa!?" tanya Zeydan.
"Darimana saja kau hah!? pergi-pergi gak izin secara langsung! kau memang bocah yang selalu mendapatkan banyak masalah!" kata Nisa.
"Kak.. Nisa" kata Erika.
"Eh!? E.. Ehem, maafkan atas ketidaknyamanannya, Yang mulia" kata Nisa.
"Ti... tidak kok, em kak? apakah kita bisa bicara sebentar?" tanya Erika.
"Baiklah, awas kau" kata Nisa sambil menatap Zeydan dan mengarahkan tangannya dari kiri ke kanan di bawah lehernya.
"*Glek*"
Di ruang privat...
"Begitu? mereka berdua tidak ingat bagaimana mendapat kutukan Pandora ya?" tanya Nisa.
"Apakah itu berarti mereka memiliki kekuatan besar?" tanya Erika.
"Eh? kekuatan besar dari sebuah kutukan? bagaimana itu?" tanya Nisa.
"Pada halaman buku 95, terdapat kalau yang terkena kutukan dan berhasil hidup itu berarti mereka mempunyai kekuatan seperti Kara, dan resiko mendapatkan hal itu adalah mereka bisa saja mempunyai ambisi akan kekuatan itu dikarenakan karena kekuatan Pandora tercampur dengan ambisi Ryu yang tersegel di dalam Mamaku, Aika mempunyai ambisi untuk mengalahkan siapa saja agar kekuatan yang ada di dalam dirinya tetap terjaga" Jelas Erika.
"Teori yang sangat hebat Erika, itu mungkin benar... artinya, kita tidak boleh membiarkan mereka mempunyai ambisi dalam diri mereka" kata Nisa.
"Begitu... aku jadi cemas" kata Erika.
"Kita akan berusaha sampai kita menemukan jawabannya" kata Nisa.
"Terimakasih, tapi... kenapa kau mau membantuku sampai seperti ini?" tanya Erika.
"Itu karena em... Andika telah banyak membantuku jadi... " Nisa salting dengan pipi merona.
"Hihi, begitu? aku ngerti" kata Erika.
"E... Erika!? apa maksudmu!?" tanya Nisa.
"Bercanda kok" kata Erika.
"Tapi... karena tante Amanda juga sangat baik padaku" kata Nisa.
"Terimakasih banyak kak"