Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 4 Episode 23 : Successor



Andika hampir terjatuh dan Edward menangkapnya.


"Jangan lengah!! kita akan lemah jika terpisah!" kata Edward.


"Baik!" kata Andika.


"Kurasa... bangunan ini sengaja memisahkan kami! aku tak tahu sampai kapan Nyonya Bella bisa bertahan!" batin Andika.


Ada burung gagak yang terbang.


"KAAK!! MATI! MEGHAN SPARKLE, PILAR SEKALIGUS KOMANDAN PASUKAN PEMBERANTASAN MATI! DIA BERTARUNG DENGAN PASUKAN DIRGAPATI ATAS DAN MATI!!" Seru Gagak yang menyebarkan informasi


Edward dan Andika terbelalak.


"Selamat tinggal... Meghan" kata Edward.


Andika langsung teringat akan Meghan dan menangis.


"Gagaknya memakai lensa kontak astral? dia menjadi penglihatan seseorang? aku yakin itu pasti dari Adelia" batin Edward.


Sementara itu di Istana Carna di Dunia nyata...


Adelia di bantu Amir dan Umar sedang mengarahkan pasukan dari jarak jauh.


Adelia, Amir, dan Umar memakai lensa kontak untuk melihat kondisi di Dimensi astral dari jauh karena mereka tidak bisa berada di Dimensi.


"Jadi Komandan Meghan sudah gugur, apakah Meghan satu-satunya yang menghadapi Pasukan Dirgapati atas?" tanya Adelia.


"Tidak" kata Umar.


"Apakah gagak-gagak yang sudah meminjam lensa kontak astral milik Ersya sudah bertemu separuh dari Pilar yang ada?" tanya Adelia.


"Belum" kata Amir yang terus menganalisis pergerakan para pasukan melalui peta dan lensa kontak.


"Baik" kata Adelia.


Adelia Putri, 19 tahun... menjadi pemimpin pasukan pemberantasan karena dia adalah Shadow Of Lord setelah Ratri, Amir dan Umar membantunya.


Untuk kematian Lord Fifth dan Ratri yang sudah ia anggap Kakek dan kakaknya sendiri harus di kesampingkan dulu, karena untuk perang seperti ini... tidak ada waktu untuk meneteskan air mata.


Lord Fifth, memiliki banyak murid, bahkan Lord Sixth dan Fujiwara Mika saja adalah muridnya, dia selalu mengajarkan murid-muridnya dengan disiplin yang besar, karena sudah tua, dia tidak tahu kapan akan tiada.


Adelia hanya mempelajari teknik memimpin gerakan pemberantasan sebagai pemimpin bayangan atau wakil para Lord/Lady.


Sembari sedang mengawasi Gerakan pasukan lewat peta astral yang dilihat melalui lensa kontak dari Ersya, Adelia teringat percakapannya berdua dengan Zeydan.


Flashback 1 tahun yang lalu...


"Rencana ditetapkan namun belum sah, untuk menyeimbangkan dan mengejar ketertinggalan Dimensi, melakukan penitisan baru, kau akan mewarisi kutukan Pandora milik kak Andika" jelas Zeydan sambil bersandar di beranda atap markas.


"Tapi tak ada kemungkinan kau dan kak Andika akan selamat setelah melakukan perjanjian Pandora untuk mengambil kutukan Pandora milik kak Andika maupun penitisan. Yang berarti, kau dan kak Andika adalah yang paling dirugikan dalam rencana ini" kata Zeydan lagi.


"Aku tahu hal itu, karena cara ketiga itu yang paling efektif, tapi juga paling beresiko. Untuk yang pertama adalah mengambil kekuatan makhluk astral tapi beresiko karena makhluk astral jarang lagi terlihat atau karena mungkin Dirgapati berhenti menyerang pasukan pemberantasan melalui perantara tumbal manusia yang diubah menjadi makhluk astral" jelas Adelia.


"Tapi cara kedua adalah mediasi Clarke, cara ini sangatlah efektif akan tetapi itu mempengaruhi hutang budi pada Keluarga Clarke" kata Adelia.


"Jadi cara ketiga yaitu dengan menggabungkan kekuatan kutukan kematian Shadow Lord dan kutukan Pandora berdarah biasa adalah satu-satunya cara, jika itu beresiko lebih efektif dari cara yang lainnya aku akan mengikutimu" kata Adelia dengan menunduk.


"Walau kau dan kak Andika setuju dengan cara ketiga ini, aku tetap tidak akan melakukannya" kata Zeydan.


"Apa?" tanya Adelia.


Zeydan menjelaskan pertemuannya dengan Chandra sebelumnya.


****


"Aku akan bekerja sama denganmu, menghasilkan perang kehancuran dan membunuh semuanya termasuk para pasukan pemberantasan"


****


"A... Apa!? apa sebenarnya maksudmu!? menemui Chandra Nagata!? kenapa kau ingin membunuh semuanya!?" tanya Adelia.


"Karena, mau bagaimanapun Chandra Nagata akan mencari cara untuk menaklukkan matahari dan Eri adalah mangsa alias kunci satu-satunya yang dia temukan hanya perlu waktu yang tepat" jelas Zeydan.


"Lagipula... banyak sekali keuntungan yang didapatkan jika memulai perang, bahkan penitisan baru yang ditanggungjawabkan padamu tidak perlu terjadi" kata Zeydan.


"Lalu apa hubungannya dengan membunuh pasukan pemberantasan juga!?" tanya Adelia.


"Chandra Nagata akan melakukan apapun untuk mencapai keabadiannya, mulutnya bagaikan ular berbisa, pasukan pemberantasan akan dapat terpengaruh olehnya" kata Zeydan.


"Tapi itu tidak mungkin, Zey! mereka tidak terbukti bersalah! mungkin dugaanmu akan menyimpang, kau bukanlah orang yang bisa melihat masa depan kan?" tanya Adelia.


"Aku tahu itu, satu-satunya cara untuk menghapus semua kebencian dan dendam yang dibuat Chandra pada kita semua, adalah dengan membuat semua kebencian berada padaku atau lebih tepatnya aku akan melakukan hal yang membuatku sama dibencinya dengan Chandra Nagata" kata Zeydan.


"Lalu setelah semuanya membenciku dan mereka tak terfokus pada Chandra, aku sendiri yang akan membunuh Chandra Nagata. Chandra akan kupenggal lehernya dan membuatnya merasakan sakit yang sama" kata Zeydan lagi.


"Adelia, bagimu untuk melakukan penitisan sedangkan kau bukanlah Fujiwara dan menjadi korban dalam rencana ketiga yang dimaksud, penitisan itu tidak akan berguna karena kutukan kematian yang dibuat Shadow Lord sebelumnya tidak akan pernah berhenti sebelum sekte dan organisasi sesat berhenti berkembang"


"Begitu pula dengan sekte dan organisasi sesat yang ada, mereka tidak akan berhenti sebelum mereka meraih keinginan mereka yaitu, menjadi berkuasa! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan penitisan itu walau demi apapun!" jelas Zeydan.


"Kalau kau tidak menghentikan rencanamu dan tetap mencegahku untuk melakukan penitisan, aku ingin punya anak denganmu! mau bagaimanapun juga aku adalah Shadow Lord! bayangan para pemimpin Gerakan pemberantasan! setidaknya aku ingin punya keturunan yang bisa mewarisi tugasku nantinya!" kata Adelia.


"Itu tidak akan ada gunanya, Adelia! karena jabatan Shadow Lord dibuat berdasarkan kesepakatan yaitu dengan titisan, bukan secara keturunan. Meski kau punya anak nantinya tidak peduli siapapun ayahnya, jika anakmu tidak punya kutukan kematian yang biasanya didapatkan titisan Shadow Lord maka... percuma saja, dia tidak bisa mewarisi tugasmu atau bahkan jabatanmu" jelas Zeydan.


"Dan jika kau tetap bersikeras ingin melakukan penitisan, aku akan membuatmu melupakannya dengan memanipulasi ingatanmu dengan menggunakan kekuatan Inti Pandora. Kekuatan itulah yang digunakan Kitagawa Pascal untuk menghapus ingatan orang-orang untuk menyembunyikan fakta tentang Perang Kehancuran Dunia Astral pertama, dan agar Klannya membantai Fujiwara dan Hasegawa" jelas Zeydan.


"Tapi penitisan itu-... " belum selesai Adelia.


"Biarlah kutukan kematian yang diwarisi Calon Shadow of Lord menitis sendiri, kau tidak perlu melakukan penitisan baru. Kau telah menyelamatkanku, aku diselamatkan oleh gadis terburuk diseluruh Dunia. Sedangkan dulu, aku terus dilindungi oleh seorang gadis terbaik di seluruh Dunia" kata Zeydan.


Adelia terdiam.


Zeydan teringat saat dia berbincang dengan Vincent dan Chandra.


Flashback..


"Pusing khusus?" tanya Zeydan.


"Itu efek samping khusus yang dimiliki para Fujiwara setelah mempunyai Silent atau membangkitkan Awakend power, tapi pusing khusus kebanyakan terjadi para Fujiwara cabang yang memiliki masa lalu kelam akibat kerja paksa yang mereka alami demi bertahan hidup, sedangkan Fujiwara utama tidak ada hubungannya" jelas Chandra.


"Jadi teruntuk Fujiwara utama itu seperti hanya 'peringatan' jika Silent mereka akan kekurangan energi?" tanya Zeydan.


"Kau pintar juga, itu benar. Catatan yang ditinggalkan Tuan Pascal dan Kanjeng Nyai Bestari mengatakan, saat Silent mereka kekurangan energi maka akan merasakan pusing yang teramat sangat kuat. Tapi Silent juga bisa terkuras energinya karena melindungi majikan berharga" kata Chandra Nagata.


"Majikan berharga? apa maksudnya?" tanya Zeydan dengan menunduk.


Chandra menatap Zeydan yang menunduk.


"Itu hanya dialami Fujiwara cabang" kata Chandra.


"Yuna, Gadis Kitagawa yang memiliki garis keturunan Fujiwara Utama itu... kau ingin tahu kenyataan sebenar dari pertanyaanmu padanya kan?" tanya Chandra.


"Kurasa perasaan Yuna padamu tak punya alasan lain yang tak bisa dihindari, perasaannya sangat jelas hingga dimana dia akan mendapatkan rasa benci pada Klan Kitagawa setelah dia mengetahui semua perihal tentang pembantaian yang dilakukan Klannya. Dia sungguh mencintaimu" jelas Chandra.


"Jadi apa yang kau katakan padanya perihal pertanyaanmu itu?" tanya Chandra.


"Kau ini bicara apa? setidaknya saat ini aku hanya bisa hidup 8 tahun lagi" kata Zeydan.


Saat bicara dengan Vincent...


"Vincent dengar, apakah kau mau bekerja sama denganku untuk membuat teman-teman kita tidak terkorbankan?" tanya Zeydan.


"Maksudmu apa?" tanya Vincent.


"Kau... mencintai Eri... kan?" tanya Zeydan dengan suram.


"I... itu.. " Vincent agak menunduk dan pipinya agak merona.


"Kalau begitu, kau harus membantuku. Aku sudah mengajukan kerja sama dengan Chandra Nagata" kata Zeydan.


Vincent terkejut.


"Berhenti terkejut seperti itu, tentu saja aku punya akal sehat, aku punya rencana lain tentang kerja samaku dengan Chandra Nagata... aku ingin kau mengurus Pasukan Rebellion. Akan datang sebuah masa dimana Chandra Nagata akan membuat perang besar" jelas Zeydan.


"I... itu berbahaya! beritahu ini kepada Lord Fifth!" kata Vincent.


"Hentikan itu, jangan gegabah. Karena Lord Fifth akan mengetahuinya sendiri nanti. Aku mendapatkan sebuah peringatan asing di kepalaku kalau... antara Eri dan Pasha. Diantara mereka mungkin nanti akan ada yang mati akibat perang atau hal lain atau bisa saja bukan mereka berdua yang msti" kata Zeydan.


Vincent terdiam.


"Aku tidak tahu siapa, namun... setidaknya aku bisa membuat mereka tidak terkena awalan perang dengan membuat mereka seperti tidak berada di lokasi" kata Zeydan.


"Kalau kau mencintai Eri, apakah... kau bisa? mengambil alih hal ini? buat Eri dan yang lainnya jangan terkena awalan perang bagaimanapun caranya, agar mereka bisa menghentikan perang nanti"


"Baiklah, akan kulakukan" kata Vincent.


"Terimakasih, semoga saja diantara mereka tidak ada yang mati" kata Zeydan.


Semua Flashback Off...


Adelia memejamkan matanya dengan penuh rasa penyesalan, andai saja ia langsung memberitahu semua percakapannya dan rencana Zeydan pada Lord Fifth maka perang tak akan terjadi.


"Kita hanya punya sedikit informasi, perintahkan kepada para gagak untuk menyebarkan lensa kontak sebanyak mungkin" kata Adelia.


"Tentu" kata Amir.


"Lokasi Chandra Nagata belum berubah, saat ini... semuanya berada jauh darinya, tuntun mereka menuju utara" kata Adelia lagi.


"Yang sedang menghadapi pasukan Dirgapati atas... Nisa dan... " Adelia memberhentikan kata-katanya.


"Triyanto, dia bertemu dengan pasukan Dirgapati atas nomor 9" kata Umar.


Sementara itu Ilman...


"Wah, kau bisa seperti ini ya?" tanya SM.


Ilman terdiam.


"Padahal, kau dulunya hanyalah culun yang selalu mengikutiku untuk menjadi pasukan pemberantasan, tapi? nyatanya menggunakan pedang saja kau masih lembek, aku akui kau hebat bahkan bisa menemukanku" kata SM.


"Kau juga sama saja, Iyan... kau menjadi pasukan Dirgapati atas nomor 9, kan? 6,7, dan 8 sudah tewas karena Pilar Teknologi dan Pilar Aura membunuh mereka" kata Ilman dengan ekspresi membunuh.


SM terbelalak.


"Kenapa... orang sepertimu menjadi dan bergabung pada sekte yang telah menghilangkan banyak nyawa orang?" tanya Ilman.


"Haha... kau" kata SM.


"Karena kau... karena kau! Ayah bunuh diri!! Karena kau mengkhianati pasukan pemberantasan yang menjadi impian Ayah! tapi kau malah berkhianat, kakak!!" Seru Ilman dengan marah.


Flashback Episode 14...


Ilman diberikan surat dari Raka dan membacanya, ternyata itu adalah surat dari pelayan di rumahnya yang mengabarkan ayahnya bunuh diri karena mengetahui Iyan bergabung pada pihak musuh.


Flashback Off...


"Yah, semenjak Ibu meninggal... aku tak peduli lagi dengan laki-laki tua itu" kata SM.


"Jangan sebut Ayah dengan julukan seperti itu!" kata Ilman.


"Memangnya apa? masalah buatmu? dia selalu peduli denganmu, tapi kau hanya bisa menggunakan jurus pertama sedangkan yang lainnya tidak!" kata SM.


"Tapi... dia mengajarkanmu juga!! kurang apa lagi kasih sayangnya!? dia bahkan bunuh diri karena dirimu!" kata Ilman sambil menangis marah.


"Aku tak peduli! nyatanya dia hanya bisa mengajarimu tapi dia malah lupa mengajariku! dia memang pikun!" kata SM.


"Ayah bukanlah orang pikun... jika aku culun maka kau adalah pembelot, aku hanya bisa menggunakan satu jurus pedang, sedangkan kau bisa menggunakan semua jurus kecuali jurus pertama, kau tak ada bedanya denganku! aku benar-benar kasihan pada Ayah dan Ibu karena harus memiliki anak durhaka seperti dirimu" kata Ilman yang menahan emosinya sampai-sampai urat di wajahnya kelihatan.


"Jangan samakan aku dengan dirimu!!" Seru SM sambil akan mengayunkan pedangnya.


Ilman langsung menghindar karena pedang itu dialiri dengan sengatan listrik.


Ilman langsung berada di belakang SM dan menaruh pedangnya di saku pedangnya.


"Kau terlalu lambat, pembelot" kata Ilman.


CRAK!!! Leher SM langsung tertebas.


"Dia menebasku! cepat sekali..." batin SM.


"Aku menjadi pasukan Dirgapati atas hanya ingin menjadi kuat! tapi... dibandingkan tekadku, si anak ini tidak ada apa-apa nya. Ilman Triyanto hanyalah seorang culun! yang hanya bisa merengek saja, dan Pak tua itu... dia menyuruhku menjadi ahli samurai bersama si culun ini!?" batin SM.


"Jangan bercanda!! kau dan Pak tua itu memang tak pantas hidup!!" seru SM.


"Bukan kau yang memutuskan apakah aku dan Ayah pantas hidup di dunia ini atau tidak" kata Ilman.


SM langsung meregenerasi-kan kepalanya ke lehernya dan melontarkan jurus petir bertegangan tinggi ke arah Ilman, Ilman langsung terjatuh ke sebuah lobang yang dalam.


"Sejak dulu... aku selalu mengagumi kak Iyan, dia hebat... bahkan Ayah juga mengakuinya, bagiku dan Ayah, kau adalah orang yang spesial" batin Ilman yang terdiam dan wajahnya retak karena serangan bertegangan tinggi dari SM. .


Jangan merengek, Ilman! berlatihlah seperti Putra sulungku!


Ilman mengingat perkataan Ayahnya saat dia merengek tak mau berlatih.


"Maafkan aku Ayah... Maafkan aku Ibu... maafkan aku... kakak!!" batin Ilman dan langsung bergerak sangat cepat dan menebas leher SM.


"Serangan macam apa itu!? aku tak bisa melihat gerakannya!" batin SM.


"Sudah kuduga si Pak tua itu pilih kasih! mana mungkin kau bisa melakukan jurus lain padahal kau hanya menguasai satu jurus!" kata SM yang perlahan menjadi abu.


"Ini... bukanlah ajaran Ayah, ini jurus yang kuciptakan sendiri, agar suatu saat bisa ku gunakan untuk menjadi samurai seperti dirimu" kata Ilman yang perlahan terjatuh dan wajah dan tubuhnya semakin retak dan parah.


Vandro datang dan menatap SM.


"Seseorang yang tak bisa memahami perasaannya manusia tidak akan bisa berubah, mati sendirian memang menyedihkan" kata Vandro sambil membopong Ilman untuk mengobatinya.


SM akhirnya mati dan berubah menjadi abu yang menghilang.


Ilman bertemu Ayahnya di alam bawah sadar.


"Ayah, sepertinya... aku akan menyusulmu" kata Ilman sambil tersenyum.


"Maaf karena aku tidak bisa berbaikan dengan kak Iyan, dan pada akhirnya aku tak bisa membantu Erika di saat-saat perang seperti ini" kata Ilman sambil tersenyum.


Saat Ilman ingin berjalan, dia tak bisa mendekati Ayahnya.


"Apa-apaan ini!?" tanya Ilman.


"Kau belum boleh menyusulku, pergilah bersama teman-temanmu Ilman, meski Iyan menjadi pasukan Dirgapati atas, kau dan Iyan tetaplah anak kesayanganku" kata Ayahnya Ilman sambil tersenyum.


Mata Ilman hanya terus terbuka dan menangis tanda dia sedang sekarat.


"Ayo! kita harus menyelamatkan Ilman!" kata Dirga.


"Aku tahu" kata Vandro.


Vandro diminta Bella untuk menjadi bala bantuan pasukan yang terluka, meski Vandro berat hari... dia tak ingin membantah ibunya.


"Sepertinya... tingkat keselamatannya menurun, aku harus menghentikan retakan wajahnya atau tidak, maka bola matanya akan hancur" kata Vandro.


"He!? sedari tadi anda terus mengatakan hal yang menyebalkan!! berhentilah berkata seperti itu!!" Teriak Dirga.


"Baguslah, dan sekarang... karena teriakanmu para makhluk astral abnormal datang" kata Vandro.


"U.. uwaa!!!"


Akhirnya Dirga dan beberapanya menghentikan semua makhluk astral itu.


Vandro memfokuskan matanya ke lensa kontak yang dia pakai dari Ersya, dia juga mempunyai akses untuk melihat keadaan pasukan aliansi.


"Gawat! mereka akan bertemu!" batin Vandro.


Sementara itu Andika dan Edward...


KRRK!! Tiba-tiba ada retakan.


GRAK!! Atap Benteng langsung hancur dan muncullah seseorang.


"Lama tak berjumpa, aku terkejut kau masih hidup, Andika Ameera!!" Seru L, anggota Dirgapati atas nomor 5.


"L!!!" Seru Andika saat melihat si anggota Dirgapati yang membunuh dua Pamannya saat penyegelan Pandora.


Di tempat Bella...


Chandra menjadi kepompong daging untuk memulihkan diri.


"Ha.. Ha... Ha... " Bella kesulitan bernapas dan matanya masih ditusuk Chandra.


"Di dalam kepompong daging ini... kemungkinan dia mencoba menghilangkan efek obat yang akan mengubah makhluk astral seperti manusia biasa! kalau begini terus, aku juga bisa ikut terhisap!! tolonglah seseorang datang kemari, Kumohon!!!" batin Bella.