Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Additional chapter : Missing you, i always beside you [FINAL CHAPTER!!]



Flashback Off...


Amanda tersenyum melihat kotak dari Cepheus yang terdapat kenangan lainnya.


"Padahal... aku berharap bisa sedikit menghabiskan waktu bersama Ibu dan Ayah saat itu" batin Amanda.


"Mungkin benar kata Kapten, aku harus menemukan kebahagiaanku. Mungkin saja Dimensi waktu itu membawaku untuk kembali mengingat kebahagiaanku" batin Amanda.


Tok! Tok! Tok!


"Eh? masuk" kata Amanda sambil menutup kotaknya.


Krieet! Ternyata Edward dan Toni.


"Kapten? oh, ada Kak Toni juga? tumben?" tanya Amanda.


"Aku membawa berkas penting, perlu kau baca sekarang juga" kata Edward.


"Aku hanya ingin mampir" kata Toni sambil duduk dan minum.


"Berkas apa yang begitu penting?" gumam Amanda dan mengambilnya dari Edward.


Amanda membacanya.


"Jadi begitu" kata Amanda sambil menutup berkasnya.


"Berkas itu ada 457 halaman, kau bisa secepat itu membacanya membuatku cukup terkesan" kata Edward.


"Aku lebih terkesan kak Laura bisa mengumpulkannya sampai 457 halaman" kata Amanda.


"Aku hanya membaca intinya saja, tapi yang gagasan pendukungnya bisa ku lihat menggunakan Silent, jadi ini adalah berkas laporan dari kak Laura? mantan anggota Organisasi Night Darkness yang dulu di pimpin Pascal?" tanya Amanda.


SEMBYUR!!! Toni langsung kaget.


"Ti-tidak perlu kaget seperti itu" kata Amanda dengan berkeringat heran.


"Kau norak" kata Edward.


"Apa kau bilang?!" tanya Toni.


"Ya, menurut laporan pendukungnya, dia hanya bekerja sekarang menjadi pembunuh bayaran profesional, tetap saja identitasnya dirahasiakan, karena dia adalah artis terkenal" kata Edward sambil memberikan laporan lain.


"Ada sekte yang dicurigai kak Laura? aku tak menyangka kalau dia juga menelusuri tentang hal semacam itu" kata Amanda.


"Sekte ini... mungkin adalah sekte yang memiliki kaitan dengan Organisasi Night Darkness, Sekte Hebitsukai, dan Sekte Dirgapati yang telah musnah" kata Edward.


"Aku mengambil kesimpulan akan adanya musuh baru setelah Bestari, Pascal, dan Chandra, meski Pandora sudah hancur di dalam Liontin-ku, kedamaian masih belum bisa kita genggam seutuhnya, masih setengahnya" jelas Amanda.


"Musuh? apakah itu berarti kalau Pasukan Pemberantasan masih memiliki ancaman?" tanya Edward.


"Hanya kesimpulan! jangan dianggap serius, bagaimanapun juga... jika dibiarkan maka akan berkembang dan berbahaya, seperti Dirgapati dan yang lainnya" kata Amanda.


"Jadi bagaimana pendapatmu?" tanya Edward.


"Aku juga ingin mencari para Pilar baru, kehilangan banyaknya Pilar Gerakan Pemberantasan akan membuat hal ini tidak stabil jika dibiarkan" jelas Amanda.


"Kenapa tidak Andika saja? angkatan 85? mereka lumayan untuk hal itu" kata Toni.


"Aku tidak ingin mereka mengemban hal semacam itu secepat itu" kata Amanda.


"Kau benar, bagaimana dengan hutang budi pada keluarga Clarke? kita belum ke Bilton sejak 2 pekan kedatangan Nyonya Sera kan?" tanya Edward.


"Ya, untuk hutang budi sudah kuserahkan 60% Mustika Delima Merah pada Clarke. Itu sudah melunasi sebagian hutang budi kita pada mereka namun... masalah tentang pengambilan warisan Fujiwara hanya perlu dengan keputusan" jelas Amanda.


"Yah, cukup merepotkan untuk menjadi Ketua Klan, apa sebaiknya relakan saja warisan Fujiwara ya? hahaha! Dasar... " kata Amanda.


"Jangan bercanda! hak Klan milik kita yang perlu di ambil, mungkin saja... itu sesuatu yang telah dijaga dan sangat penting. Bahkan berhasil membuatku penasaran" kata Edward.


"Kerja bagus Yang Mulia. Dengan begini, kita sudah tidak punya lagi hutang budi maupun materi" kata Toni sambil bersandar duduk santai di kursi.


"Terimakasih juga untuk kerja keras kalian selama ini, aku turut berterimakasih" kata Amanda.


"Oh iya, aku bawa Schotel, kau boleh ambil" kata Edward sambil memberikan tempat bekal.


"Itu buatan Ketua Nera" kata Toni.


"Oh, tentu, sampaikan salam dan terimakasihku pada Kak Nera, kalian juga terimaka-... eh?" tanya Amanda.


"Kenapa? tidak enak? kurang? atau kenapa?" tanya Edward.


"Bu... Bukan begitu, tempat bekal ini, punyamu?" tanya Amanda.


"Bukan, entah dulu aku seperti pernah bertemu dengan seseorang saat beberapa hari setelah aku menjadi Pilar pedang, lalu kalau tidak salah... aku ngobrol dengannya, terus entah bagaimana lagi, aku terbangun dan mendapati ada bekal dan Brownies" jelas Edward.


"Dan anehnya lagi, rasa Brownies-nya, sama seperti buatanmu" kata Edward.


"Lho? kau gak pernah cerita?" tanya Toni.


"Aku mana sudi" kata Edward.


"Lalu, untuk apa kau membawa tempat bekal itu?" tanya Amanda.


"Aku hanya menyimpannya, mungkin pemiliknya akan mengambilnya, saat dia datang aku akan berterimakasih" kata Edward.


Amanda terbelalak lalu tersenyum.


"Mungkin ada baiknya kau titipkan saja bekal itu padaku" kata Amanda.


"Kenapa?" tanya Edward.


"Karena akan lebih gampang menemukan pemiliknya jika kau titip bekal dan ucapan terimakasih itu padaku, kau tidak keberatan kan, Kapten?" tanya Amanda.


Edward menatap Amanda.


"Es batu!!!" seru Toni.


"Kau mengagetkanku!" kata Edward.


"Kapten? kenapa ngelamun?" tanya Amanda.


"Gak, entah kenapa aku seperti pernah bertemu denganmu sebelumnya" kata Edward.


"Tapi, aku tidak begitu ingat" kata Edward.


Amanda terbelalak kemudian tersenyum lalu memejamkan matanya.


"Benarnya atau tidak, hanya Allah yang tahu"


Di beranda kamar Erika...


Erika membuka matanya sambil menaruh bukunya, rupanya ia sedari tadi tertidur setelah membaca di gelapnya malam dengan cahaya bintang gemerlap dimalam hari, dan tersadar setelah Elang milik papanya bertengger di kursinya.


Mengingat tentang Zeydan mungkin kalian ingin bertanya, bagaimana keadaan Erika sekarang?


Maka Erika akan menjawab dia sedang suram dan galau, ia sangat merindukan sahabatnya.


Erika mengedarkan pandangan ke seluruh langit di atasnya, sembari itu tangannya membuka laci yang terdapat sebuah kain putih yang wangi dan bersih. Menandakan kalau Erika sangat rajin merawatnya.


Kepergian Zeydan tidak meninggalkan apapun kecuali kenangan, impian, dan kain putih tersebut padanya.


Lantas dia mengambil kain putih itu sambil mencoba mengikatnya kembali.


"Zayn... apakah tidak bisakah kau kembali mengikatkan kain ini padaku? dan kita berdua akan berlari seperti dulu lagi ke pohon tempat pertama kali kita bermain"


Tanpa Erika ketahui, seorang laki-laki tengah mengelus kain putih yang sebagian kainnya berada di genggaman Erika dan selebihnya terdampar di atas meja, menandakan kalau dia sangat ingin memegangnya kembali seperti dulu.


"Apa? kau yakin? pfft... Pasha akan ngambek jika kita tidak mengajaknya ke sana"


Zeydan mengerutkan keningnya sambil tersenyum dan membayangkan bagaimana Pasha ngambek, karena jika Pasha ngambek, mirip seorang cewek yang marahan sama pacarnya.


Erika berdiri dan membuka pintu beranda menuju kamarnya, nampak seorang pelayan membawakan selendang miliknya yang berwarna krem. Erika memakainya untuk mengunjungi sahabatnya.


Zeydan menatap dengan nanar punggung tegap Erika, teringat nostalgia saat Erika melawan makhluk astral dengan gagah berani selalu membuatnya terkesima dan takjub, hanya saja dia tak pernah memperlihatkannya, ia sangat ingin mengulang kenangan itu.


"Eri? kau mau kemana? hm, tidak terpikir untuk mencari cinta lain di hidupmu? ah tidak, Ilman akan menghantui siapapun yang berani mendekatimu, bahkan aku dan dia sering bertengkar. Kau tahu... dengan wajah yang menawan itu, prestasi, serta kedudukanmu itu, kau akan mudah membuat laki-laki jatuh hati"


"Ternyata ini yang sering dialami Ilman, apa namanya? oh ya, Jealous ya? aku akhirnya merasakannya, meski aku jealous? setidaknya aku tenang jika kau sudah menemukan kebahagiaan setelah perginya diriku" ucap Zeydan sambil mengikuti Erika yang berjalan menelusuri istana dengan wajah yang formal.


Jangankan menjawab, Erika pun tidak akan mungkin mendengar perkataannya tadi.


Siapapun yang mampu tolong katakan pada Erika bahwa Zeydan tidak pernah berada jauh darinya.


Langkah kakinya terhenti di sebuah pintu ruangan istana yang tak beratap, yang disitu terdapat semua tanaman hias, abiotik, dan bunga-bunga indah ditanam.


Nayanikanya Erika yang berwarna Aquamarine menuruni Ibunya itu menatap serius bunga-bunga yang ada.


"Ah, dia sudah menemukan seseorang yang dia suka ya?"


Zeydan berdiri disamping Erika, membisikkan dan membantu Erika memilih bunga yang bagus.


Tentu saja tidak dapat dipungkiri meski semasa hidup Zeydan terlihat tidak terlalu mempedulikan perempuan itu dan hanya fokus pada perkembangan dirinya sebagai pasukan.


Tapi sekarang....



Ia tiba-tiba menyadari bahwa hatinya sedikit tidak rela Erika bersanding dengan lelaki lain, namun... ia harus tahu diri kan? ia tak mungkin berada diposisi itu.


Penyesalan kerap terlintas dipikiran Zeydan, mengingat percakapannya dengan Pasha di Dimensi paralel.


*****


"Apa-apaan itu!? kau mengatakan kata 'tidak tahu' untuk hal yang telah kau lakukan!? aku tak ingat pernah memaafkanmu untuk perkataanmu itu! jangan beri aku omong kosong itu! apakah kau pikir bisa pergi begitu saja dengan mengatakan, 'lupakanlah aku'!!?" tanya Pasha.


"Aku sedikit memaklumi dan mengerti kalau kau mencoba menjauhkan Erika dari rencanamu! tapi kau telah menyia-nyiakannya! kau telah menyakiti perasaan Erika! kau telah menyakiti orang yang telah menganggapmu begitu berharga dan satu-satunya orang yang rela mengorbankan nyawanya untukmu!!" kata Pasha.


*****


Lamunan Zeydan terhenti saat dia menatap bunga Zinnia biru di depannya.


"Tante Amanda sangat suka bunga Zinnia biru, karena dia aku juga sangat menyukai bunga itu, bagaimana Eri? Kau mau pilih?" tanya Zeydan.


Seolah rungunya mendengar perkataan Zeydan, Erika mengambil bunga Zinnia biru itu.


Zeydan dibuat tersenyum karenanya.



Sekarang setidaknya dia bisa membantu Erika menata kembali hidupnya menuju hidup yang damai dan sebaik-baiknya, seperti yang diminta Zeydan.


Erika berjalan keluar Istana menuju taman istana paling belakang setelah Elang milik papanya yang selalu bertengger di teras kamarnya menjaga Erika, terjun ke bawah dan bertengger di bahunya Erika, cukup gelap jika saja tidak ada sebuah lentera disitu.


Zeydan mengerutkan keningnya, ah ternyata perempuan ini mengunjunginya lagi, karena Amanda sudah sering mengunjunginya juga, Zeydan kira... Erika akan mengunjungi seseorang untuk "ngedate" istilahnya.


Erika duduk sopan bersimpuh sambil bersandar di pohon tepatnya di sebelah sebuah batu nisan yang terukir...


...Beristirahatlah dengan tenang selamanya......


...Pahlawan kesayanganku, Zayn...


Erika tersenyum getir sambil menaruh bunga Zinnia biru itu.


"Zayn, aku kembali lagi... aku rasa kau mungkin kesepian, ada banyak yang ingin ku ceritakan. Kau bersedia mendengarnya? Dasar..." tanya Erika.


Zeydan duduk di sisi pohon lainnya sambil mengangguk.


"Ah, kau masih punya kebiasaan kata Dasar ya? tentu saja, ceritakan saja Eri, selama itu bisa membuatmu puas, aku akan selalu mendengarkannya"


"Aku akan masuk ke jenjang perkuliahan di Universitas Helvetia Internasional kurang lebih 5 hari lagi, sembari menunggu Dimensi astral dapat beroperasi kembali" kata Erika.


"Kau mungkin takkan senang mendengar ini Dasar... karena, banyak diantaranya prajurit yang memandang rendah dan dendam padamu karena yang telah kau perbuat pada kami. Mereka mungkin berpikir kau ingin mencapai keinginanmu untuk menjadi lebih kuat, tapi itu karena mereka tak melihat sisi sebenarmu" kata Erika.


"Sebenarnya hampir terbesit di pikiranku seperti itu, namun yang membuatku tetap berpegang teguh adalah... Zayn tetaplah Zayn, kekuatan tetaplah kekuatan, tidak ada yang dapat mengubahnya"


"Aku yakin sekali, jika mereka jadi aku... mereka akan mengatakan hal yang sama, tapi entah kenapa aku sepertinya lemah... tidak bisa mengetahui motifmu, atau bahkan jadi susah beradaptasi dengan yang lainnya, aku jadi merasa sendirian"


"Meski aku sudah melihat takdirku, aku masih saja menangisi kepergianmu Zayn, anggaplah aku ini lemah, dan memang itulah kenyataannya" kata Erika sambil membendung air matanya.


Zeydan kasihan, "Eri dengar, apapun karaktermu, kau tetap perempuan yang kusayangi, tidak pernah berubah"


"Zayn, kau rela melakukan hal ini... sungguh" kata Erika sambil memejamkan matanya dan bersandar, pinggiran matanya meneteskan air mata.


"Aku... minta maaf karena tidak jujur dengan perasaanku yang sebenarnya, jika saja aku jujur... kau mungkin tidak akan mati" lirih Erika.


Zeydan mengerutkan keningnya tanda iba pada perempuan teman masa kecilnya itu, berharap bisa menenangkannya seperti dulu sekali lagi, tapi itu sia-sia.


"Namun Zayn, aku tidak boleh seperti ini terus ya? aku yakin jika kau masih hidup, kau pasti akan menceramahiku jika aku seperti ini kan? maka dari itu, aku akan belajar untuk merelakan dan melepaskanmu. Mulai sekarang aku tidak akan ragu dan akan jujur. Berjanjilah kau akan terus mendukungku, dan berjanjilah kalau kau akan sesekali mendatangiku dalam mimpi, karena aku yakin... kau adalah orang yang membuatku termotivasi"


"Aku mencintaimu, Zeydan"


Zeydan sangat terbelalak dan kaget, lalu ia tersenyum dibuat bangga oleh perasaan jujur Erika, diiringi dengan garis merona di pinggiran pipinya menatap si perempuan.


"Aku juga... mencintaimu, aku akan selalu mendukungmu, percaya dirilah untuk membuat impianmu menjadi kenyataan, jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal, Erika"


Beriringan dengan itu, Zeydan benar-benar pergi, keberadaannya di sisi Erika hanya sampai pada saat perempuan itu rela melepaskannya.


Setelah beberapa saat, tangisan Erika lepas sejadi-jadinya setelah Zeydan pergi dengan arwahnya yang memudar bagaikan partikel cahaya.


Rupanya tanpa diketahui almarhum kekasih, Erika mengetahui Zeydan belum pergi sepenuhnya dari dunia ini.


Flashback...


Amanda berbicara dengan Erika di ruangan Andra, agar tidak ada yang dapat mengetahuinya termasuk Zeydan.


Erika terbelalak kaget sekali begitu mendengar perkataan mamanya soal Zeydan.


Amanda mengangguk, Erika lantas berdiri, "K-kalau begitu...! aku harus menemuinya! kalaupun tidak bisa melihatnya aku harus mengatakan sesuatu padanya!" setelah berucap begitu, Erika bergegas menuju pintu untuk keluar dan menemui Zeydan.


"Erika tunggu! jangan!" kata Amanda.


Erika membantah tanpa menoleh, "Aku gak mau Zayn kecewa! biarkan aku bertemu dengannya! meski dia membenciku aku tidak peduli! Zayn!"


Amanda menatap khawatir pada putrinya, dan kemudian bicara dengan nada tenang.


"Kalau begitu kau hanya akan memberi beban yang membuat Zayn-mu tidak akan bisa tenang bahkan untuk selamanya" ucapan Amanda membuat Erika terbelalak.


Erika lantas menoleh pada mamanya yang menatapnya dengan tatapan tenang.


"Zeydan bilang ke Mama, alasan terbesar kenapa ia tidak ikhlas untuk pergi, adalah karena merasa banyak sekali mengecewakan kamu" kata Amanda.


Erika terdiam membatu, Amanda meneruskan ucapannya, "Ia menyesal karena meninggalkan dirimu dan Pasha untuk berjuang sendirian. Ia merasa bersalah karena telah membiarkan kalian memerangi sahabat, keluarga, saudara kalian sendiri, karena kecerobohannya"


"Dan kamu pasti tahu apa yang melatarbelakangi semua faktor itu kan, Erika?" tanya Amanda.


"Cinta"


Erika benar-benar terbelalak, sejenak tubuhnya bagaikan raga tanpa jiwa mendengar satu kata sakral itu.


"Apa...? Mama... salah bicara ya?" tanya Erika dengan tubuh bergetar.


"Zayn membenciku, ma! dia sendiri yang bilang begitu! aku mendengarnya! melihatnya sendiri! kalau tidak percaya mama bisa tanya ke Pasha!" kata Erika.


Amanda menghela nafas, putrinya ini benar-benar copy-an dirinya persis, "Lalu untuk apa ia menyesal karena meninggalkanmu dan Pasha? dan kenapa ia mengatakan pada kalian bahwa untuk menghentikannya harus dengan membunuhnya?"


Erika terdiam, Amanda memandang putrinya, "Dengar Erika, kamu yang ingin menemui Zeydan juga karena kamu tidak percaya dengan kalimat kebencian yang dilontarkan Zeydan padamu"


"Zeydan mencintaimu, Pasha juga pasti tahu" kata Amanda.


Erika terbelalak, kebeningan berlangsung di ruangan itu.


"Haha..." Amanda menaikkan alisnya karena heran mendengar tawa putrinya.


"Haha! mama, kalau mau menghiburku jangan begitu" kata Erika dengan air matanya yang mulai mengalir.


Amanda menghela nafas berat, "Sepertinya kamu tidak terlalu mengenal mama, mama cukup kecewa"


Deg... Erika kaget.


"A-aku bukan...!!"


Amanda menuju pintu untuk keluar, "Mama tidak pernah berbohong di dua situasi Erika. Pertama tentang kebenaran, kedua tentang perasaan. Perasaan ini meliputi sedih, amarah, kasih sayang, dan sebagainya"


"Karena mama tahu, perasaan apalagi cinta..."


"Untuk mama sendiri yang sudah mengalami dan kehilangan, gak mungkin mama permainkan" kata Amanda sambil memandang putrinya.


"Jadi kalau kamu memang sayang sama Zeydan, kamu berikanlah ia ketenangan untuk beristirahat. Tapi jika memang ingin ia terus bersamamu, buatlah seperti itu tapi... apa kamu mau? Zeydan tidak akan pergi ke tempat dimana ia seharusnya? kamu sendiri pasti tahu, kalau Zeydan sejak dulu ingin kedamaian tanpa adanya orang-orang seperti Chandra Nagata"


"Dan sekarang tempat Zeydan ssharusnya berada dimana Papamu berada"


Amanda menunduk teringat mendiang suaminya, "Papamu mungkin akan menyarankanmu begini, kalau ingin menemui Zeydan, temuilah kalau mau. Soal untuk merelakannya Mama gak bermaksud untuk nyakitin perasaan kamu. Tapi ini juga untuk Zeydan, ia sudah banyak menderita. Ini bukan dunianya lagi, sekarang..."


Flashback Off....


"... semua bergantung atas keputusanmu"


Erika menangis dengan begitu deras, namun sakitnya sangat tergambarkan dengan ia tak mengeluarkan satu rintihan dari tangisannya.


"Mama... aku udah ngelakuin yang terbaik, kan? untuk Zayn... dan juga untukku" Erika begitu mati-matian menahan suara tangisannya.


Datanglah tangan yang merangkul dirinya, rupanya orang pertama yang menyayanginya.


"Kamu begitu kuat, kita doakan semoga Zeydan dan Papa tenang" kata Amanda.


Malam yang sunyi nan gelap, Erika sudah melepaskannya. Erika sudah menerima takdirnya dengan lapang dada.


Bersamaan dengan jatuhnya tetesan air mata, hanya si burung Elang yang mengamati perpisahan keduanya di gelapnya malam.


[POV Zeydan]


Ditempat dulu aku berjalan dengan orang yang kusuka


Dan peringatan yang kulihat di hari itu aku menyadari


Aku tak bisa kembali, jadi aku terus mengikuti takdir seiring berjalannya waktu


Dan aku hanya bisa terus mengikuti alur takdir dan terus bertanya, apakah yang akan kutemui di ujungnya


Aku muak, jadi sampai aku berhenti bertahan, sampai aku mengerti apa maksud peringatannya aku terus mengikuti kendali takdir, betapa naifnya aku saat itu dan menyadari bahwa aku rupanya belum dewasa


Yang kulihat sekarang, orang-orang yang kutemui


Didampingi semua itu, aku hanya bisa melihat ke depan


Untuk diriku di 10 tahun yang lalu


Apakah kau sedang bahagia sekarang?


Apakah di kebahagian itu kau sedang menangis?


Namun ketahuilah, didalam dirimu ada hal yang tidak akan berubah


Kau hanya tak menyadarinya, jadi dapatkan kau terus menjaganya?


Di hari-hari yang telah terlewati, aku pun mulai mengesampingkan dan meninggalkan perasaanku


Hanya waktu yang akan tetap mengikuti diriku


Di belakangku


Aku menjaga impian seseorang


Di hari saat aku melihat kebelakang, kapankah ia akan datang?


Untuk diriku di 10 tahun yang lalu


Siapakah yang kau cintai sekarang?


Atau masih tetap sama?


Kau masih mencintainya?


Tapi suatu saat sebelum kau sampai kau menyadari kau mencintai seseorang, perasaan cinta yang kau miliki


Apakah nantinya kau siap untuk menghancurkannya demi mengikuti terus takdirmu?


Untuk diriku di 10 tahun yang lalu, aku ingin mendengar jawabanmu


Orang-orang yang penting dan berharga bagiku, akankah mereka akan berubah karena takdir?


Ataukah kami akan terpisah jauh?


Ataukah kami akan menjalani jalan masing-masing?


Jika aku bertemu denganmu aku akan menjawabnya tidak tahu karena aku harus bertemu mereka dulu, bagaimana pendapatmu?


Apakah kau siap bertemu mereka?


Memangnya kenapa? kau sehebat itu karena bertemu dengan mereka, itu tidak seburuk yang ku ekspektasi kan


Tapi kau perlu tahu, pertemuan itu, memiliki perpisahan menyakitkan yang pasti akan terjadi


"Aku yang sekarang" pun, hanya bisa mengikuti takdir dengan membuat mereka membenciku


Walaupun ku lelah, walaupun ku hancur, ku tak peduli seberapa sakit pun


Suara peringatan yang menggema, menusuk kalbuku, meski perih menghadang...


Aku akan tetap selalu melindungimu....


Untuk diriku di 10 tahun yang lalu


Jika kau bahagia saat ini, jujur saja jika aku berada di hari kau hidup saat ini


Aku ingin sekali memilih jalan lain


Apakah kau masih mengingatnya? peringatan itu?


Peringatan itu menandakan di sana ada sesuatu yang menyakitkan nan menyedihkan


Ketahuilah aku disini sedang menangis


Namun jika kau melihat air mataku ini kumohon padamu, ubahlah air mata itu dengan lembut menjadi kenangan terindah bagiku saat di dunia


Amanda dan Andika yang membaca surat keinginan para pejuang pasukan pemberantasan tersentuh termasuk membaca surat milik Zeydan.


Surat impian adalah kumpulan surat yang ditulis setiap pasukan pemberantasan, yang biasanya di tulis dan di simpan di kotak impian sebelum mereka menjalankan misi.


Hal itu bertujuan agar jika saat misi tersebut mereka mati, impian mereka akan selalu bersinar.


Salah satunya adalah surat Zeydan yang Zeydan sendiri tulis sebelum ia pergi ke markas Chandra.


Aku berharap setelah pertikaian ini, semua orang bisa meraih kebahagiaan mereka masing-masing, semoga semuanya selalu bahagia. Meski nanti aku dan kak Andika mati karena kekuatan kutukan Pandora... kami akan terus meneguhkan hati dan semangat impian agar musuh musnah demi kebahagiaan semuanya


"Ibunda... aku... pamit ke kamar" kata Andika.


Di kamar Andika...


BLAM! Andika langsung masuk dan mengunci kamarnya, dan memandang fotonya bersama Erika dan Zeydan.


Andika membuka surat Zeydan yang Zeydan tujukan untuk Andika.


"Akan kujaga Eri, dan aku akan menjadi Ninja terhebat bersamanya dan Pasha! beritahu itu pada Kak Nisa bahwa aku berjanji padanya dan padamu, Kak Andika"


"Ukh!!" Andika meremuk surat tersebut dan mengambil bingkai foto itu dan akan membantingnya karena mengingat perkataan Zeydan namun niatannya terhenti.


TUK! Andika menaruh bingkai foto itu.


BRUK! Dan jatuh terpuruk.


"Ukh... hiks...!"


"Zeydan... " kata Andika dengan serak.


Di pantai Laut Utara Bilton....


Pantai Laut Utara di Bilton adalah pulau pantai terlarang karena pasang dan surutnya air tidak dapat diperkirakan.


Pulau itu terpisah dari Negeri Bilton, tapi termasuk teritori kekuasaan Bilton.


"Hmf... Chandra Nagata, sang induk ketiga telah dikalahkan?" tanya pria berjubah.


"Cukup buruk juga nasibnya" kata pria dibawah payung.


"Dinding terbesar yang menghalangi rencana kami adalah Fujiwara, maka dari itu aku ingin kau membantu kami" kata pria dibawah payung itu lagi.


"Aku punya rencana, aku sangat mengenal dua Fujiwara itu. Jadi, ada 2 syarat yang perlu dipenuhi" kata si pria berjubah.


"Apa... apa itu?! katakan padaku!" kata salah satu teman mereka.


"Syarat pertama, berhubungan dengan perempuan yang dikenal dengan Putri Silent sekaligus Fujiwara terkuat kedua" kata si pria berjubah.


"Syarat pertama, membuat Fujiwara Yumna sang Putri Silent tidak bisa bertarung. Syarat kedua membuat Fujiwara Edward mau bekerja sama dengan kalian" jelas si pria berjubah.


"Fujiwara Yumna... apakah kita bisa membunuhnya kalau bekerja sama?" tanya pria dibawah payung.


"Antara dia bisa kabur dengan mudah, atau kemungkinan besar dan terburuk kalian semua akan dihabisi" kata si pria berjubah.


"Kusarankan kau lebih baik fokus untuk menyegelnya daripada mengalahkannya" kata si pria berjubah lagi.


"Menyegelnya?! menyegel seorang Fujiwara?! kau sudah kehilangan akal?!" tanya salah satu teman mereka.


"Tidak, ada segel yang dibuat leluhur Klan Kitagawa sejak lama untuk mengalahkan Fujiwara. Segel yang dibuat untuk menyegel seseorang, sekalipun ia itu seorang Fujiwara" jelas si pria berjubah.


"Segel dari Klan Kitagawa? apa itu?" tanya pria yang berbaring dibawah payung.


"Kita gunakan pusaka penyegel tingkat tertinggi, Pandora penjara. Klan Kitagawa membuat Pandora penjara sebagai tiruan dari kotak Pandora milik Klan Fujiwara, kualitasnya memang tidak sekuat Kotak Pandora, namun Pandora penjara dapat menyegel Kara yang berasal dari Fujiwara. Cukup untuk menggambarkan seperti apa kuatnya segel Pandora penjara itu kan?" tanya Si pria berjubah.


"Ranah penjara?! yang seperti Pandora?! kau punya benda terkutuk itu?!" tanya salah satu teman mereka.


"Ya ampun Mike, jangan terlalu bersemangat" kata pria berjubah.


"Andra, kalau diukur dengan kekuatan Fujiwara Aika, aku seberapa kuat?" tanya Mike.


"Hmm... Kira-kira setara dengan 58% dari kekuatan Fujiwara Aika?" kata Andra.


"Itu sudah cukup! berikan Pandora penjara itu padaku, akan kujadikan koleksiku!" kata Mike.


"Sebagai bayarannya, aku akan membunuh Fujiwara Yumna" kata Mike dengan tersenyum licik.


-The End-


Pengumuman!!


"Assalamu'alaikum!! Episode ini menjadi episode terakhir untuk cerita Between Curse And Peace lho! jadi, untuk episode QnA yang akan update sekaligus menjadi Chapter terakhir di novel ini!"


"Btw, aku galau nulis Chapter ini sih hehe, tapi lumayanlah!"


"Ok! see you next chapter! sayonara bye!"