
"Ukh!" Erika hanya bisa menangis terduduk sambil memegang kepalanya.
Sruk! Erika mengusap wajahnya.
"Lalu... kenapa?" tanya Erika.
"Eh?" tanya Pasha yang kebingungan.
"Lalu kenapa... lalu kenapa aku masih disini? kenapa aku di tolong? aku gak berguna! aku tak bisa berbuat apapun!" kata Erika.
"Itu tidak benar Erika!" kata Pasha.
"Apa yang tidak benarnya!?" tanya Erika dengan mengaktifkan Silent-nya.
"Ukh!" tapi dia merasa kesakitan dan matanya memerah.
"Ini... pakai ini dulu, Kapten Edward memintaku untuk memberikannya padamu, dia tak sempat memberikannya karena sangat sibuk" kata Pasha memberikan obat mata.
"Bagaimana?" tanya Pasha setelah memberikannya pada Erika.
"Lebih baik.. " kata Erika.
"Kau sudah banyak berjuang tadi Erika, kau bahkan berhasil menebas Yusuf dan Mansa, meski dia pantang menyerah... kau harus tetap tahu batasanmu, kau itu manusia! kau punya batasan" kata Pasha.
"Kurasa, Tante Amanda akan menceramahimu jika mengetahui kau putus asa seperti ini" kata Pasha yang tersenyum sambil mengerutkan keningnya.
Erika terbelalak.
"Bangunlah, saat kita bertiga dulu... aku, Zeydan, dan kau kita duduk di bawah pohon di taman istana kan? kita berjanji ingin melihat bintang jatuh setiap tahun... apakah kau ingin membatalkan hal itu? untuk tahun ini, adalah yang seharusnya kita akan melihat bintang jatuh yang ke 9" kata Pasha sambil memandang langit.
"Ayo, kumpulkan tekadmu" kata Pasha.
Erika berdiri.
"Tapi Pasha, Mama pasti akan kecewa kan? aku seharusnya bisa menjaga kakak dan Zayn... " kata Erika lagi.
"Nona... Vanora?" tanya Erika.
"Ya Erika, ini... setelah menikah dan ada beberapa barang yang dititipkan padaku, dia bilang akan punya firasat buruk lalu mempersiapkan ini untuk keempat anaknya" Jelas Vanora.
"Eh!?" tanya Erika.
"Ini Pita untukmu, dia bilang kalau Erika akan cantik jika mengikatkan ini pada jilbabnya, tenang saja... aku sudah memberikan yang lainnya pada Amir dan Umar. Tinggal untuk Andika ku titipkan padamu, oh ya! ada surat darinya yang juga di simpan" kata Vanora memberikan milik Andika dan surat untuknya.
Erika membukanya.
-Bagaikan langit yang indah... seakan-akan menyambut kelahiran seseorang, Erika. Erika, sejak kecil dia suka sekali dengan Bintang dan bulan, tapi dia sangat menikmati hangatnya sinar matahari.
Aku berharap bisa menikmati sinar matahari, melihat bulan, dan juga bintang di sela-sela jadwal ku yang sibuk. Sebagai Ratu... aku tak boleh menyalahi waktuku dalam bekerja, tapi aku tak boleh menelantarkan anak-anakku meski ada pelayan. Aku ibu mereka.
Aku hanya bisa berharap di suatu saat nanti, anak-anakku bisa menikmati waktu senggang mereka dengan bersyukur bisa melihat bulan, bintang, dan menikmati hangatnya sinar matahari nanti
Apapun hasilnya dan apapun jalan hal baik yang di tempuh Putra Putriku aku akan selalu menyayangi mereka-
"Mama... " gumam Erika.
"Aku yakin Mamamu akan bangga dengan hasil yang kau peroleh sekarang" kata Vanora.
"Jujur saja, Mamamu banyak menanggung penderitaan sebelum mengambil kembali gelar bangsawan Ameera, dia memang perempuan yang kuat. Erika, bersyukurlah karena dia menjadi ibumu meski sebentar" kata Vanora sambil tersenyum dan mengelus kepala Erika.
Erika menatap Vanora.
"Hm! iya!" kata Erika, sekarang... tekadnya sudah kembali.
"Aku sudah memiliki tekad untuk menyelamatkan Zayn dan kak Andika!" kata Erika dengan bertekad.
Vanora melihat Erika dengan terkesima, "Vian, jika kau pernah bilang kalau seorang Ninja harus punya tekad, sepertinya Putrimu adalah seorang Kitagawa dengan tekad yang sangat hebat"