
Andika, Wira, dan David naik ke kereta.
"Kau yakin? ini keretanya?" tanya Wira.
"Aku yakin, aura Pilar Fauna juga auranya bisa ku rasakan!" kata Andika.
Ya, mereka mendapatkan misi untuk mendampingi Farel, Pilar Fauna untuk mengintai para makhluk astral.
"Di gerbong ketiga! ayo!" kata Andika.
"Ya"
Di Dalam kereta...
"Eh! itu dia! kan apa ku bilang" kata Andika.
"Benar juga" kata Wira.
"Em, permisi" kata Andika.
"Ya?" tanya Farel.
"Begini, kami-... " belum selesai Andika menjelaskan.
"Kalian dari Pasukan Pemberantasan kan?" tanya Farel.
"Hebat, dia langsung tahu" kata David.
"Tentu saja, dari seragam dan logo bros Pasukan Pemberantasan itu" kata Farel.
"Begitu ya"
"Senang bertemu denganmu Kenzo, namaku Farel, Pilar Fauna" kata Farel.
"Ya, terimakasih kak" kata Andika.
"Duduklah disini, kalian juga" kata Farel pada mereka bertiga.
Andika duduk di sebelah Farel, lalu David dan Wira duduk di depan mereka.
Andika membaca surat dari Bella.
-Assalamu'alaikum Andika... Ini Paman, maaf jika Paman mengabari ini secara tiba-tiba.
Kami memutuskan untuk memberitahu pada massa kalau Paman akan menggantikan kedudukan kak Ana sampai adanya jasad mereka di temukan.
Tapi jangan khawatir, karena Paman tidak memberitahu tentang kematian kak Ana dan yang lainnya, baiklah... itu saja, tolong jaga kesehatan dan jaga Erika juga ok?-
From : Rafizi Zevan Ameera
For : Andika Ameera
"Jadi.... kepemimpinan di ambil alih Paman?" batin Andika.
"Dimana lokasi tempat yang akan kita datangi?" tanya Andika.
"Di kaki gunung berapi area timur Dimensi, perjalanan ke sana 7 jam" kata Farel.
"Apa!? 7 jam!?" tanya David.
"Pantas aku merasa mual disini" kata Wira.
"Tapi kalian tetap bisa beraksi disini, karena Makhluk astral nya biasa beraksi dan membuat masalah di kereta ini" kata Farel.
"D... Di!? Di... kereta ini!?" tanya Wira.
"Berisik Wira! lalu, apakah yang dimaksud di kereta ini? kenapa kita perlu ke kaki gunung berapi?" tanya Andika.
"Karena, disitulah banyaknya energi yang menjadi bahan pembuatan Batu Mustika Delima Merah, untuk itu... aku ingin mengecek dan memberikan sampel-nya pada Meghan" Jelas Farel.
"Kami mengerti" kata Andika.
"Gak" kata David dan Wira.
"Tapi, kalian jangan kaget kejutan apa yang akan kalian lihat di kereta ini ok?" tanya Farel.
Pip! Pip! Lampu kereta tiba-tiba nyala-mati nyala-mati.
"Kenapa ini?"
PIP! Lampu kereta mati.
TIK! Lampu kereta menyala kembali dengan munculnya makhluk astral berjenis hantu Matianak.
"Hi... Hi!! Mati... Matianak!!" Seru Wira.
"Kenapa, bisa di kereta ini?" tanya David.
"Itu di karenakan, Matianak suka menggoda laki-laki, kalian jangan sampai tergoda olehnya" kata Farel yang bersiap dengan pedangnya.
Matianak itu menyeramkan dan mulai mendekat.
"Kalian mundurlah" kata Farel.
"Eh?" tanya Andika.
GREP! Farel bersiap menarik pedangnya dari saku pedangnya.
"Indra Fauna... Jurus tebas alami!" Farel langsung bergerak kilat dan memenggal kepala Matianak dan Matianak itu langsung menjadi abu dan mati.
"Selesai" kata Farel sambil memasukkan pedangnya ke dalam saku pedang.
"Dia bergerak secepat Cheetah, apakah dia memiliki DNA keahlian para hewan?" batin Andika.
"Hebat! tolong ajarkan kami!" kata Wira.
"Kurasa itu bukanlah hal yang buruk" kata Farel sambil tersenyum.
"Aku juga!" kata David.
"Kenzo?" tanya Farel.
"E.. Em, kurasa aku tak keberatan" kata Andika malu-malu.
"Hahaha! baiklah! aku akan mengajari kalian setelah sampai" kata Farel.
"Terimakasih!!"
Di Markas...
Erika membaca surat dari Adin tentang penyerahan tahta sementara yang akan di pegang Rafi.
"Memang benar sih, tak mungkin Paman Rafi memalsukan tanda tangan Mama" batin Erika sambil merapikan barang-barangnya.
"Ng? hmf... kenapa aku bisa lupa kalau aku membawa bingkai foto ini?" tanya Erika sambil tersenyum.
Erika menaruh bingkai foto Papa, Mama, Andika, Amir, Umar, dan dirinya.
"Kenapa Jasad Mama dan Papa tidak ketemu? aku merasa kalau ada yang janggal, yang di sembunyikan secara dalam oleh Lord Fifth" batin Erika.
Tok! Tok! Tok! ada yang mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum"
"Suara Zayn..." batin Erika.
"Wa'alaikummussalam" kata Erika.
"Maaf mengganggu, Eri" kata Zeydan.
"Tak apa Zayn, gak kok... ada apa?" tanya Erika.
"Begini, apakah kau punya kertas? jika ada aku minta 3 lembar boleh?" tanya Zeydan.
"Ya, ada di laci... " kata Erika.
Ada sebuah buku tulis.
"Eh? ini Buku tulis" kata Zeydan.
"Tak apa, buatmu saja" kata Erika.
"Tidak! aku hanya minta 3 lembar!" tolak Zeydan.
"Aku masih punya banyak, buatmu saja" kata Erika.
"Tak bisa! aku hanya minta 3 lembar, Eri!" kata Zeydan.
"Ada apa ribut-ribut?" tanya seseorang di depan pintu kamar Erika.
"Ka.. Kapten Edward" kata Zeydan.
Edward masuk ke kamar Erika.
"Tidak ada apa-apa Kapten" kata Zeydan.
"Ng?" gumam Edward saat melihat foto keluarga Erika di meja.
Edward melihatnya begitu lama.
GEBRAK!!! Buku sejarah tebal yang berjumlah lebih dari 900 lembar itu sengaja di jatuhkan Erika dari atas lemari ke meja yang membuat Edward dan Zeydan kaget bukan main.
"Innalillahi wa innailaihi raji'un!!" Seru Zeydan.
"Maaf sengaja" kata Erika.
Edward hanya kaget dalam hati dan bahkan foto yang dia pegang, jika di pegang orang sedangkan foto itu masih ada di tangannya, detak jantungnya yang keras sekali akibat kaget membuat siapapun dapat merasakannya.
"Aku ambil ini kembali, eh? Kapten? kenapa detak jantungmu keras sekali? aku bisa merasakannya dari memegang foto ini yang terkoneksi langsung dengan tanganmu?" ledek Erika dengan nada meremehkan sambil mengambil kembali foto yang di tangan Edward.
CKT!! Urat kesal Edward muncul, meski Erika itu termasuk keponakannya, dia tetap saja kesal, dan tahu kalau Erika tak suka dia memegang lama foto itu.
"Foto ini harus tetap bersih" kata Erika.
"Ya,.... benar sekali" kata Edward sambil berbalik pergi dan melemparkan lap dan jatuh ke kepala Erika.
CKT!! Karena kesal, urat kesal Erika muncul karena ulah Edward yang melemparkan lap ke kepalanya.
"Bersihkan foto itu sampai bersih, sepertinya kau masih pemula dalam bersih-bersih, tidak seperti ibumu yang OCD kebersihan" kata Edward.
"Gak bercermin" gumam Erika.
Edward lama-lama kesal dan akhirnya memutuskan untuk pergi dan ke ruangannya.
"W... wah, ini pertama kalinya aku melihat ada yang bisa membuat Edward banyak bicara" batin Ersya.
"Kenapa... kau begitu berani pada, Kapten?" tanya Zeydan.
"Apakah dia adalah penguasa? kenapa aku harus takut? dia hanya Kapten cebol" kata Erika, memang... Edward hanya setinggi 171cm, kalah tinggi dari Meghan yang 177 cm.
"Be.. Benar sih"