Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 3 Episode 11 : Dinding selatan



Semua prajurit dan angkatan 85 juga sedang makan berjamaah di ruang makan.


"Perhatian semuanya!" kata Meghan.


"Kenapa Pilar Pengintai & Medis dan Pilar Pedang serta Komandan Arsya ada disini?" tanya Ilman dengan berbisik.


"Entahlah, kita tak tahu" kata Pasha.


"Pasukan yang disini akan diarahkan bersama kami bertiga untuk merebut kembali area selatan Dimensi yang dikuasai Dirgapati, kita akan berangkat malam ini juga, jika tidak bersiap, bersembunyi saja dibawah kasur dengan gemetaran seperti anak kecil!" kata Edward dengan dingin.


Mereka akhirnya bersiap setelah makan malam dan menaiki kuda pada malam hari.


Nisa terus mengawasi Erika agar tak terkena sinar Bulan maupun Bintang, sedangkan Andika berada di barisan tengah, sedangkan Nisa berada di depan bersama Erika, Zeydan, dan yang lainnya.


"Di bagian selatan, ada sebuah dinding, dinding itulah yang memisahkan bagian selatan, utara, timur, dan barat Dimensi" kata Pasha.


"Kau tahu itu darimana?" tanya Zeydan.


"Ada di buku panduan pasukan" kata Erika.


"Begitu" kata Zeydan.


Arsya menghentikan kudanya.


"Kita akan istirahat dan menyusun rencana cadangan terlebih dahulu" kata Arsya.


Mereka akhirnya berbicara dan berbincang-bincang sambil menyusun rencana.


"Dinding ini di sebut dinding mata angin, yang memisahkan area 4 mata angin, disini... area selatan hampir seutuhnya diambil alih Dirgapati, kita akan membuntuti mereka dan naik ke atas dinding lalu beberapa tim yang sudah di bagi akan menembakkan suar apabila terjadi sesuatu" Jelas Arsya.


"Di mengerti!"


Untuk mengepung, Tim dibagi menjadi 2, satunya di pimpin Arsya, yang terdiri dari pasukan yang setara dengan Andika, Zeydan juga bergabung dengan Arsya, sedangkan satu tim lagi di pimpin oleh Meghan dan Edward yang memimpin angkatan 85 sebagai pengintai.


Andika, Wira, David, Nisa, dan Zeydan bersama Arsya. Sedangkan pasukan angkatan 85 selain Zeydan bersama Meghan dan Edward.


Di tim Edward....


Mereka menaiki kereta.


"Kau yakin? kalau Chandra adalah induk ketiga setelah Pascal dan Bestari?" tanya Meghan.


"Ya, Pascal adalah seorang Kitagawa atau leluhur Kitagawa yang berumur panjang, tapi dia sudah tewas, kita tidak tahu bisa mendapatkan banyak informasi tentang Pascal atau tidak" jelas Edward.


Edward menatap Erika yang duduk di samping Meghan sambil memeluk kedua lututnya.


"Apakah dia termasuk leluhurmu?" tanya Edward.


Erika menatap Edward dan mulai berbicara.


"Ayah dan Ibuku pernah bercerita... tentang hubungan persahabatan, antara Kitagawa dan Fujiwara, dan bagaimana kedua Klan itu menjadi musuh bebuyutan untuk waktu yang lama" jelas Erika.


Edward dan Meghan menatap Erika sambil mendengarkan dengan seksama.


"Ibuku berasal dari Fujiwara Utama dan dijuluki Putri Silent karena memiliki Silent yang luar biasa kuatnya, Ayahku berasal dari Kitagawa, mereka sudah saling mengenal sejak masa kecil, dan akhirnya menjalin pertemanan bersama orang tua Zayn lalu menikah" jelas Erika.


"Ibuku memiliki perbedaan ras karena campuran Fujiwara juga yang lebih menuruni Asia Timur, dan Fujiwara dibantai oleh Kitagawa sejak dulu karena otak dan pikiran mereka tidak dapat di hapus, setelah pernikahan mereka... Kitagawa sudah tidak membantai Fujiwara lagi"


"Itu karena Ayah saya menetapkan tak ada lagi tentang pembantaian jika suatu saat ada seseorang yang akan membongkar dari kenyataan perang kehancuran dunia astral pertama, tapi karena belum ada yang bisa membongkar kenyataannya, itu berarti pembantaian bisa terjadi kapan saja" jelas Erika.


"Apakah... kau pernah merasakan kalau adanya kekuatan yang bangkit di dalam dirimu?" tanya Edward.


Erika kemudian mengingat dimana kakak-kakaknya tak sengaja merobek buku dari Nisa dan membuatnya merasakan ada tekanan besar bahkan Silent-nya sampai bangkit.


"Pernah... tapi saya mendapatkan itu bersamaan dengan Silent" kata Erika.


Edward terdiam.


"Ibumu juga mengatakan dia merasakan Awakend Power, tapi Silent-nya bangkit sejak dia lahir, Ray juga seperti itu, bahkan aku juga" kata Edward.


Sesampainya di sana saat fajar...


Mereka naik dengan menggunakan jangkar ke atas dinding.


"Lumayan mengerikan melihat dari atas ke bawah" kata Dirga.


"Kalau begitu jangan lihat bawah!" kata Ilman.


"Benar juga katamu, Dirga" kata Salsa.


"Kan! si Ilman gak percaya sih" kata Dirga.


"Bagaimana? kau melihat sesuatu?" tanya Meghan saat Edward menggunakan Silent-nya.


"Tidak, tapi aku merasakan aura musuh, pertanyaannya... kenapa bagian dalam Dinding tidak ada penghuninya sama sekali? kita sudah tahu kalau Hologram manusia tiruan telah dimatikan di markas pusat, tapi dimana Dirgapati dan pasukan lainnya?" tanya Edward.


"Mana ku tahu! apakah, kita bisa meminta Yuna untuk menggunakan Silent-nya?" tanya Meghan.


"Kau tidak lihat sinar matahari itu?" tanya Edward.


"Kurasa kau benar" kata Meghan.


"Bagaimana dengan matamu, Erika?" tanya Nisa.


"Bagus kok, hanya tak boleh terkoneksi langsung dengan sinar matahari" kata Erika.


"Kau sudah menggunakan obat tetes mata?" tanya Nisa.


"Sudah, 1 jam yang lalu... masih ada 2 jam kurasa tak apa" kata Erika.


"Tetap jaga kesehatan" kata Andika yang tiba.


"Ya, bawel" kata Erika dengan sewot.


"Ngomong-ngomong, sekarang tanggal berapa ya?" batin Andika.


"Ini perasaanku saja atau dari tadi ada aura lain selain kita?" tanya Erika.


"Jangan semudah itu membuat kesimpulan, kita tunggu dari laporan para pasukan yang ditugaskan mengecek" kata Zeydan.


"Sudah, katanya tidak ada orang ataupun penghuni satupun" kata Meghan.


"Jadi... apa yang harus kita lakukan? apakah kau bisa menggunakan Silent-mu, Erika?" tanya Salsa.


"Bisa saja" kata Erika dan mulai mengaktifkannya.


Sinar matahari membuat matanya agak memudar.


"Ukh... "


"Sinar mataharinya kuat sekali, kenapa tiba-tiba terik?" tanya Dirga.


"Jangan memaksa, Yun" kata Andika.


"Ya"


Pasha mulai meraba Dinding yang dia pijak.


"Ah! aku punya ide! Komandan! tolong arahkan pasukan untuk mengecek Dinding ini!" kata Pasha pada Arsya.


"Ada apa, Pasha?" tanya Zeydan.


"Kita takkan menemukan satupun musuh! dikarenakan mungkin mereka mempunyai rencana lain! Dinding ini tingginya 50 meter, sedangkan lebarnya 7 meter! artinya mungkin musuh bersembunyi di dalam Dinding!" kata Pasha.


Semuanya kaget, sedangkan Meghan dan Edward hanya mengerutkan dahi mereka.


"Meghan, arahkan pasukan untuk mengecek Dinding dengan jangkar" kata Arsya.


"Ya"


Semuanya termasuk Pasha mulai mengecek, sedangkan Zeydan dan Andika tetap di atas karena dia menjadi incaran musuh karena mereka adalah pemegang Kutukan Pandora, sedangkan Erika mengawasi dari atas bersama Edward, Meghan, Arsya, Zeydan, dan Andika.


Tuk! Tuk! para pasukan mulai mengetuk dinding satu persatu untuk mengecek adanya dinding atau tidak.


"Bagaimana Pasha bisa berpikir kalau mereka bersembunyi di dalam Dinding?" tanya Meghan pada Zeydan.


"Karena melihat kelebaran Dinding ini mungkin saja Pasha berpikir seperti itu" kata Zeydan.


"Seperti apa memang jalan pikirnya?" tanya Meghan.


"Kami juga selalu ingin tahu hal itu" kata Erika.


Pasha dan salah seorang Pasukan sedang mengecek dengan mengetuk dinding menggunakan pedang.


Duk! Duk! Tiba-tiba tembok yang diketuk seperti lebih dalam.


"Ah!" DOR! Pasukan yang berada di sebelah Pasha menembakkan suar hijau.


"Komandan!! ada lubang disini!!" Seru Pasukan.


Meghan, Edward, dan Arsya terbelalak. Sedangkan Nisa, Zeydan, Andika dan Erika mengerutkan kening mereka.


GRRSK!! Tembok yang berlubang itu terbuka oleh seseorang.


CRAK!! Si pasukan yang menembak suar tadi langsung ditusuk menggunakan pedang dan dorong jatuh.


Pasha kaget.


"Yusuf!!" Seru Pasha melihat Yusuf yang keluar dari Dinding.


"Ck!" kata Yusuf saat melihat Pasha.


"HIAA!!!" Edward langsung memasang jangkar dan melompat ke bawah dengan mendorong pedangnya, dan menusuk leher samping kanan Yusuf dan tembus ke kiri lalu menusuk dada Yusuf.


Edward mendorong untuk memastikan Yusuf kehilangan kesadarannya.


Yusuf langsung membalikkan bola matanya, Edward kaget dan langsung mencabut pedangnya dan naik ke atas Dinding.


BZZZT!!! Yusuf langsung berubah menjadi Subjek Pandora.


Edward bertapak di Dinding.


"Kapten!" kata Andika sambil menghampiri Edward.


"Kita terlambat" kata Edward.


BZZZT!! BZZT!!! Tiba-tiba di belakang Dinding terdengar suara gesekan listrik.


"Apa-apaan itu!?" tanya Nisa.


"Rombongan makhluk astral?" tanya Erika.


"Jangan bercanda!! itu banyak sekali!" kata Zeydan.


"Di sana... ada yang paling besar, Buto Ijo?" tanya Andika.


Erika akhirnya bisa mengaktifkan Silent-nya.


"Bukan... seperti, ada orang di dalamnya yang mengendalikan tubuh Buto Ijo itu, kenapa dia sepertinya pernah ku lihat?" tanya Erika.


"Benarkah? eh? aura... kenapa auranya seperti... " Andika terbelalak dan menatap Zeydan dan Zeydan ikut terbelalak dan menatap Andika.


"Aura Chandra!!"


"Aura Chandra!!"


Kata mereka berdua.


"Ini buruk" kata Arsya.


"Apa maksudmu?" tanya Edward.


"Sepertinya bukan kita yang akan mengepung mereka, tapi kitalah yang terkepung oleh mereka"