
Di ruangan Vanora...
Zeydan dan Andika bertemu Vanora.
Pilar Aura : Veronica Kencana
"Wah!! Zeydan! Andika!! kau benar-benar mirip dengan ibumu!" kata Vanora dengan riang.
"Ha.. Halo kak" kata Andika dan Zeydan.
"Snif... Snif... apakah ada madu di ruanganmu? aku merasakan aura madu" kata Andika.
"Wah! benar! aku sangat menyayangi lebah! karena lebah yang ku rawat jinak-jinak semua! ayo! berkunjunglah ke ruanganku sekarang" kata Vanora.
"Kau yakin mereka tidak menyengat?" tanya Zeydan.
"Tentu saja! karena lebah-lebah ini hadiah dari Farel saat aku ulang tahun dulu" kata Vanora.
"Dari... kak Farel?" tanya Andika.
"Benar, kalian sedang ada seleksi pemeriksaan ya?" tanya Vanora.
"Benar, karena kami memegang kutukan Pandora, jadi kami akan diperiksa satu-satu oleh para Pilar" jelas Zeydan.
"Baiklah! masuk dan rileks saja! aku akan menjamu kalian dengan panekuk yang di sirami dengan madu segar!" kata Vanora.
Setelah selang beberapa waktu di ruangan Vanora, Andika dan Zeydan lanjut ke ruangan selanjutnya.
Di ruangan Rahmat...
Pilar Karya : Ar-Rahmat
"Masuk saja dan jangan suka lambat" kata Rahmat.
"Ba.. Baik" kata Andika dan Zeydan.
Andika dan Zeydan lumayan kesulitan karena bukan meminum teh, dan relaksasi seperti yang dilakukan Vanora... akan tetapi bertarung di ruangan yang hanya sepetak saja.
"Disini kalian tidak ada kata bersantai-santai... ku dengar kalian berdua bersenang-senang bersama Vanora ya?" tanya Rahmat, dia dan Vanora biasanya bertukar surat.
Pertarungan dan seleksi pemeriksaan Andika dan Zeydan selesai begitu mereka berhasil menebas jas Rahmat, lumayan susah bertarung dengan Rahmat karena Rahmat melakukan teknik sulap yang tak terduga.
"Pergilah dan jangan menunjukkan wajah kalian disini, dan jangan coba-coba sok akrab dengan Vanora lagi" kata Rahmat dengan aura suram.
Andika dan Zeydan langsung cepat-cepat pergi dari ruangan Rahmat.
Mereka sampai ke ruangan Meghan.
Pilar Pengintai & Medis / Komandan kesepuluh pasukan pemberantasan : Meghan Sparkle
"Apa kabar kalian?" tanya Meghan dengan ceria.
"Kabar kami baik" kata Zeydan.
"Ok! langsung saja! untuk seleksi kalian, aku ingin mengetes kekuatan kutukan Pandora kalian! pertama, kalian harus menggunakan kekuatan kutukan Pandora kalian untuk melakukan gesekan yang membuat lampu yang sudah ku rakit ini menyala!" jelas Meghan.
"Wah, langsung"
Andika dan Zeydan mencoba, sedangkan Meghan memperhatikan sambil menulis di laporannya.
"Mata Kenzo selalu sembab sehabis bangun tidur saat melakukan relaksasi sementara tadi, sedangkan Vanora hanya merasakan aura aneh" batin Meghan.
"Ok! istirahat saja dulu! kalian bisa ngemil!" kata Meghan.
"Aku ambilkan, di dapur ya?" tanya Zeydan.
"Ya"
Tinggallah Andika dan Meghan berdua.
"Kau bagus sekali, Kenzo" kata Meghan.
"Terimakasih Komandan" kata Andika.
"Em... Komandan?" tanya Andika.
Meghan menoleh dengan tersenyum.
"Apakah... Komandan marah? aku merasakan aura amarah" kata Andika dengan prihatin.
Meghan sangat terkejut.
"Itu-... "
"Ini ngemilnya!"
Akhirnya mereka memutuskan untuk ke ruangan Elena setelah dari Meghan.
Meghan pergi ke ruang privat bawah tanah dengan bermuka suram.
Meghan melihat ada meja yang ditumpuk dengan kursi.
Apakah... Komandan marah?
"Ukh!! AKGH!!!!" Seru Meghan yang menendang meja dengan kesal sampai-sampai meja beserta beberapa kursinya hancur dan patah.
Tap! ada suara langkah kaki.
Meghan menoleh.
"Edward" kata Meghan.
"Kenapa?" tanya Edward yang melihat Meghan dengan raut wajahnya yang dingin.
"Huft, tidak apa-apa, tadi ada kecoa" kata Meghan.
Edward melirik kursi dan meja yang rusak dan hancur.
"Begitu, pasti kecoa itu sudah mati karena tendanganmu" kata Edward.
Pilar Bayangan : Elena / Kitagawa Miyuki
"Andika, Zeydan... masuklah" kata Elena.
"Tante, maaf ya kalau kami misalnya merepotkan" kata Andika.
"Oh tidak, gak kok... dan jangan memanggilku Tante ok?" tanya Elena.
"Baiklah"
Andika dan Zeydan diajari tentang jurus Bayangan.
"Lumayan susah ya" kata Andika.
"Tenang saja, makanya perhatikan... Zeydan juga ya, energi dalam tubuh kalian harus kumpulkan secara batin" kata Elena.
"Baiklah, tapi... apakah jurus bayangan ini akan berpotensi mempengaruhi bayangan kita?" tanya Zeydan.
"Pertanyaan yang bagus, tapi sebenarnya tidak akan mempengaruhi, karena jurus bayangan yang di keluarkan berasal dari fokusnya dirimu dengan mengkombinasikannya dengan energi di tubuhmu, lalu kau bisa membuat bayangan bermacam-macam, aku harap kau bisa mewarisi jurus ini, Andika... karena kau Kitagawa" kata Elena.
"A... Apakah harus?" tanya Andika.
"Sebenarnya, tidak... mungkin jurus ini akan berguna sebagai perlindungan diri kalian berdua" jelas Elena.
"Baiklah, ayo!"
A few moments later...
Andika dan Zeydan lumayan kelelahan setelah mencoba terus.
"Kalian baru mencapai 29% dari tingkat seharusnya... tapi tak apa, ini usaha yang sangat bagus!" kata Elena.
"Akan sangat sulit jika tidak menggunakan kekuatan kutukan Pandora" kata Andika.
"Jangan selalu mengaktifkannya kecuali di saat-saat genting!" kata Elena.
"Tapi, kami mengaktifkannya saat pertarungan di Dinding Selatan sebelumnya" kata Zeydan.
"Usahakan jangan banyak digunakan! karena Kutukan Pandora adalah faktor yang langka! yang dapat memengaruhi perkembangan energi di dalam tubuh" kata Elena.
"Baik"
"Tapi, kalian sudah berusaha sangat baik... aku bangga, ok... kalian bisa ikut ke seleksi pemeriksaan berikutnya" kata Elena.
"Eh!? benarkah!? bahkan bersama Pilar Karya kami sampai 2 hari, meski dia galak" kata Andika.
"Ng? Rahmat galak? gak tuh, dia biasanya berwajah datar" kata Elena.
"Serius, dia bilang kami jangan coba-coba sok akrab dengan Kak Vanora lagi" kata Andika.
"Haha... kalau masalah itu sih, si Toni dan Ersya udah pernah kena" gumam Elena.
"Ada apa, kak?" tanya Andika.
"Ah! gak apa, baiklah... silahkan ke pemeriksaan selanjutnya!" kata Elena.
Andika dan Zeydan berjalan di koridor.
Di ruangan Toni...
Pilar Bela diri : Toni
"Lama sekali kalian!!" kata Toni.
"Kalau ini bukan karena permintaan Lord Fifth, aku takkan sudi!" gumam Toni.
"Baiklah, kita akan bertarung bela diri untuk uji coba tentang Kutukan Pandora kalian!" kata Toni.
"Ba.. Baik!!"
Andika dan Zeydan hampir tak bisa diam saat bertarung dengan Toni, karena Toni dulunya adalah wakil geng terkenal, bahkan Toni bisa menguasai 5 bidang bela diri sekaligus!.
Andika dan Zeydan belum selesai dengan pembelajarannya lalu akan ke kamar untuk istirahat dan besok akan lanjut.
Andika memilih pergi lewat jalan markas belakang yang tersambung dengan taman.
"Capek sekali, Dasar...! bahkan kak Rahmat bisa memberi kami waktu istirahat, ini sama sekali tidak! aku bahkan lebam dan Zeydan seperti lemas sekali, aku yakin Yun-chan akan menanyakan apa yang terjadi pada Zeydan" batin Andika yang mengarah ke lorong sebelah kanan.
"Sudah berapa kali ku bilang!?"
"Tolong! dengarkan aku, kak!!"
Andika langsung kaget seperti ada yang berdebat di sebelah lorong kanan dan akhirnya memutuskan untuk mendengarkan.
"Eh!? itukan Doni, prajurit pasukan pemberantasan yang sering menerima misi di sektor yang berbeda, kenapa dia mencari masalah dengan Pilar Bela diri?" batin Andika.
"Sudah berapa kali ku bilang!? aku tidak punya adik! jadi jangan menggangguku dan urus dirimu sendiri!" kata Toni.
"Kulihat kau juga tidak punya bakat sebagai prajurit pemberantasan, jadi berhentilah menjadi salah satu pasukan!" kata Toni.
"Mereka yang tidak bisa menggunakan teknik jurus ataupun bertarung gaya yang diajarkan turun temurun para pasukan pemberantasan tak pantas di juluki sebagai pasukan!" kata Toni sambil pergi dengan urat-uratnya yang terlihat menegang.
"Tu... Tunggu kak! tapi aku ingin selalu minta maaf padamu!" kata Doni.
"Ya.. Ya, aku benar-benar tidak peduli" kata Toni.
"Lakukan! kau pasti bisa, Doni!" batin Andika, jujur saja kalau Andika pernah memberinya saran seperti itu.
"Ta.. Tapi, aku! aku bahkan sampai meminum Morph-x, agar aku bisa bertarung" kata Doni.
DEG!! Maupun Toni dan Andika yang menguping sangat kaget mendengar perkataan Doni.
"Kau apa? apa kau bilang? apa yang kau katakan tadi? kau... " Toni menatap Doni dengan tatapan membunuh.
"Morph-x? kau meminumnya!?" tanya Toni.
Andika dan Doni sampai ketakutan melihat tatapan menakutkan dan suara serak Toni.
Toni langsung hilang dalam sekejap.
"Dia menghilang!?" tanya Doni.
Andika terbelalak.
"Doni! menghindar!!" Seru Andika dan langsung merangkul tubuh Doni dan melompat keluar dari markas belakang dan sampai ke taman.
BRUK!!! Toni sampai meninju pintu geser markas belakang sampai jebol dan syukurlah karena Andika dan Doni tak terkena dampaknya.
"Eh!? Andika!" kata Wira yang ada di taman.
"Andika!?" tanya Doni melihat Andika menyelamatkannya.
"Kenapa... ada suara nafas yang terengah-engah?" tanya Wira.
Terlihat Toni yang muncul dengan amarah.
"P... pilar itu mengamuk!! dia menghajar semua orang bahkan di luar area!" batin Wira.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan!? apakah kau berniat membunuh Doni!?" tanya Andika dengan membentak.
"Aku tak membunuhnya, membunuhnya adalah hal yang mudah, tapi membunuhnya itu bisa melanggar peraturan yang ada. Aku hanya akan membuat dia tidak bisa beregenerasi lagi, saat itu terjadi dia bisa berhenti dari menjadi prajurit pasukan pemberantasan dan aku akan memaafkan dia" kata Toni dengan tampang menyeramkan.
"Oh yang benar saja!! kau tidak berhak bertindak sejauh itu! jangan paksa dia untuk berhenti! kau sendiri bilang tidak punya adik, jangan berkata seolah Doni punya pilihan lain! mau dia punya bakat lah atau tidak, dia mau mempertaruhkan nyawanya!" seru Andika dengan mengaktifkan Turquoise-nya.
"Kalau kau bilang kau bukanlah kakaknya, aku takkan membiarkanmu menghalangi Doni! kalau saja di sektor tempat Doni menjalankan misinya Doni tidak ada di tempat, pasti mereka takkan bisa menang berkat usaha Doni selama ini!!" bentak Andika.
"Tidak akan kubiarkan kau menyakiti dia!" kata Andika.
"Heh, meski kau mirip Ibumu dulu yang mengatakan hal benar juga formal, tapi itu takkan menghalangiku. Baiklah, aku akan menghajarmu terlebih dahulu" kata Toni dengan tampang pemangsa.
"Dia datang... dia-... " belum selesai Andika berbatin.
Turquoise Andika dan mata Toni langsung bertatapan.
DUAK!! Toni meninju bagian tulang belikat Andika.
"UAKH!!!"
"Andika!!" Seru Wira.
"Anaknya Amanda ini, menghentikan pukulanku!" batin Toni saat melihat Andika menggenggam kuat pergelangan tangan Toni.
Andika langsung memutar dirinya ke samping untuk membuat kakinya menendang kepala Toni.
DUAK!!!
"WAAH!!! dia benar-benar menyerang balik!" batin Wira.
"Wira! bawa Doni pergi dari sini! tolong!" kata Andika.
"Andika!! jangan sebut namaku dan berikan aba-aba yang lebih baik!!" batin Wira.
"Andika!" kata Doni.
Toni melakukan tendangan sabit melengkung.
"Dia menggores pipiku dari tendangan kakinya!" batin Andika.
"Wah, nyalimu besar juga bocah, kau ingin menyusul orang tuamu ya? tidak masalah aku akan membantumu dengan membunuhmu" kata Toni.
"Hentikan kak!! Andika tidak ada hubungannya dengan semua ini!" kata Doni.
GREP!! Wira menggenggam tangan Doni dan menyeretnya lari.
"Siapa kau!? apa yang kau lakukan?" tanya Doni.
"Aku Wira! temannya Andika! tak ada waktu untuk menjelaskan! mereka berdebat! kita harus lari! kau adiknya!? dia itu bukan manusia! aku minta-... " belum selesai Wira bicara.
BUAK!! Doni meninju wajah Wira.
"Jangan mengatakan hal buruk soal kakakku!!" Seru Doni.
"Tapi kita ada di pihak yang sama!" kata Wira.
Setelah itu, semuanya jadi kacau. Kekacauan itu berlanjut sampai sore kalau saja Rahmat dan beberapa pengawal tidak datang dan melerai mereka.
Andika mendapat teguran resmi dari atasan, dan seleksi pemeriksaannya dengan Pilar Bela diri tidak hanya ditunda, tapi dia dilarang untuk mendekatinya.
Dan Andika gagal untuk membantu menengahi dan memperbaiki hubungan dua laki-laki bersaudara itu.
Bonus Chapter!
Penilaian para Pilar pada Farel :
Pilar Aura : Veronica Kencana
"Eh? tentang Farel? dia benar-benar asyik dan menyenangkan! dia benar-benar cocok untuk menjadi seorang kakak! dia benar-benar penyayang!" kata Vanora sambil bersemangat.
Pilar Karya : Ar-Rahmat
"Selalu bersemangat dan sangat menghargai orang lain. Di saat ada sebuah pilihan, dia tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi di akhir dan selalu bersemangat, itu membuat orang lain merasa nyaman dengannya" Kata Rahmat dengan datar.
Pilar Teknologi : Ersya Ramanathan / Kitagawa Masahiko
"Mirip dengan penghibur, tapi dia sangat memiliki semangat yang membara" kata Ersya dengan wajah datar.
Pilar Bayangan : Elena Ramanathan / Kitagawa Masahiro
"Dia bagaikan setitik cahaya semangat yang berada di raungan bayangan" kata Elena dengan tersenyum.
Pilar Pengintai & Medis & Komandan Pasukan pemberantasan kesepuluh : Meghan Sparkle
"Dia sangat setia pada teman-temannya dan keluarganya, selalu menepati janjinya, dan mengusahakan untuk bisa memenuhi hal yang diperlukan, dia benar-benar teman yang sangat berarti" kata Meghan.
Pilar Bela diri : Toni
"Dia orang yang bersemangat"
"Wah! betapa hebatnya kak Farel! bahkan para Pilar memberikan penilaian positif padanya!" kata Andika.
"Bagaimana dengan Kapten Edward?" tanya Wira.
"Ayo kita dengarkan!" kata Andika.
Edward terdiam.
Pilar Pedang & Kapten pasukan pemberantasan : Fujiwara Edward
"Dia orang yang baik, Yumna dan Hikaru juga senang dengannya" kata Edward dengan dingin.
"Begitulah! tapi, kita bisa mengenang apa yang ia lakukan" kata Andika.
"Kau benar" kata David.
"Sampai jumpa di episode selanjutnya!!"