
Andika berhasil menghubungkan 6 jurus dan menggunakan kekuatan kutukan Pandora-nya untuk menekan serangan yang ia lontarkan.
"Dia memang cepat, tapi pedang dan tebasannya lebih cepat dan keras" batin Chandra sambil membayangkan Akira.
"Aku sudah bertarung dengan Andika Ameera selama 5 menit yang lalu, tapi kenapa dari tadi aku tidak bisa membunuhnya? aku tahu... itu karena aku melambat, apakah ini karena reaksi obatnya Bella? aku akan melihat jawabannya karena aku menelan sel Bella" batin Chandra.
Di alam bawah sadar Chandra...
Chandra membentuk sel Bella yang dia bunuh.
"Apa yang kau rencanakan? bukankah, obat yang kau buat itu bisa mengubah Iblis, Subjek Pandora, dan manusia yang diubah menjadi makhluk astral menjadi manusia?" tanya Chandra.
"Obat yang kubuat memang untuk itu tapi... aku tidak akan, memberitahu tujuanku yang lain, gunakan otakmu yang banyak itu dan berpikirlah" kata Bella sambil tersenyum.
"Sesuatu yang paling kau benci dan kau hindari di dunia ini yaitu kematian, akan segera datang kepadamu" kata Bella dengan tersenyum mengerikan.
CRAK!!! Chandra mengepalkan tangannya dan menghancurkan sel Bella.
"Aku akan membaca memori yang terkandung di dalam selnya"
Chandra akhirnya melihat ingatan Bella.
"Perempuan itu... dia adalah Komandan Pasukan pemberantasan, muridnya Bella dan dia yang dimakan D" batin Chandra.
*****
Meghan dan Vandro sedang sama-sama melakukan penelitian.
"Mari kita gabungkan dua racun, anggap saja dia bisa bertahan dengan racun yang pertama" kata Meghan.
"Racun pertama, akan membuat Subjek Pandora/makhluk astral yang dulunya manusia yang ditumbalkan berubah menjadi manusia. Apabila itu tidak berhasil, mari kita juga memasukkan sesuatu yang akan memiliki efek yang lebih besar" kata Meghan.
"Kalau begitu, kita harus menyiapkan obat yang kedua, karena tidak ada jaminan kalau obat pertama akan berhasil" kata Bella.
"Itu benar, untuk yang kedua, ramuan penuaannya akan sempurna, di tambah dengan racun yang dibuat Guru ini, akan membuat Chandra bertambah tua 50 tahun dalam satu menit" jelas Meghan sambil menaruh ke atas safety glasses miliknya dan mendekatkan matanya ke lensa mikroskop.
*****
"Begitu... aku bertambah tua, sudah berapa jam sejak Bella memberikanku obat itu? 4... bukan! 5 jam yang lalu, jika aku kurangi waktu yang diperlukan untuk mulai bekerja, obatnya sudah aktif dalam 3 jam. Dengan kata lain, umurku sudah bertambah sebanyak 9 ribu tahun!!" batin Chandra.
"59 menit sampai matahari terbit! dan anaknya Yumna benar-benar mengganggu!" batin Chandra.
"Seharusnya aku menyadarinya saat rambutku yang terus memutih!"
"Jurus kutukan Pandora!! pemusnahan!" Andika melontarkan serangan pemusnahan pada Chandra.
Tubuh Chandra meleleh, namun Chandra meregenerasi kembali.
Di sisi lain perang...
Vandro, dan beberapa pengawal datang.
Vandro mengambil kepala Moi.
"Moi! kau baik-baik saja?" tanya Vandro sambil memasang kembali kepala Moi.
"W... Wah! kucing itu hidup kembali?" tanya salah satu pengawal.
"Aku sudah mengubahnya menjadi Subjek Pandora sebelum perang dimulai" kata Vandro.
"Apa yang kalian lakukan!? cepat obati yang lain!" kata Vandro.
"Ba.. Baik!"
"Amanda... dia terluka amat parah akibat tusukan dari tangan besi Chandra yang bercampur darah Chandra, tapi itu takkan membuatnya menjadi makhluk astral ataupun Subjek Pandora, tapi manusia bisa saja mati hanya sekali tusukan!" batin Vandro.
"Elena membutuhkan pengobatan segera, kakinya patah dan menimbulkan luka parah... kalaupun di sembuhkan dia kehilangan banyak darah, mustahil baginya untuk bertarung bersama Andika" gumam Vandro.
"Para Pilar sangat terluka parah! mereka juga terinfeksi darah Chandra, mereka harus segera diobati atau tidak maka darah Chandra akan memakan sisa hidup mereka!" batin Vandro.
"Ibu... Vanora... " batin Vandro membayangkan Ibu dan adik perempuan yang kembar dengannya.
"Tolong bu, tolong bantu Andika" batin Vandro sambil menangis.
Di pertarungan...
Andika sama sekali tidak terkena serangan Chandra.
"Chandra... berusaha ingin membunuh Ibu untuk kedua kalinya!? takkan kubiarkan!" batin Andika.
"Para Pilar itu... sudah ku infeksi kan dengan jurus Pandora yang dicampur dengan darahku! mereka akan segera mati! tapi, anaknya Yumna benar-benar merepotkan!" batin Chandra.
"Eh!? gawat! aku kekurangan oksigen dan kehilangan penglihatanku!" batin Andika.
Chandra akan memberikan serangan pada Andika.
GREP!! Tiba-tiba ada yang melingkarkan tangannya ke perut Andika dan menyelamatkannya.
"Eh!?" batin Andika.
"Kenapa kau belum mati!!?" tanya Chandra melihat orang yang menolong Andika.
"A... Aura ini!?" batin Andika.
"Kak Rahmat!?" tanya Andika.
"Eh!? luka di wajahmu itu!? karena menyelamatkanku!?" tanya Andika.
"Bukan! ini karena pertarungan tadi! kau pikirkan dirimu sendiri baru orang lain!" kata Rahmat karena melihat wajah Andika yang terkena luka bakar akibat serangan Chandra dan ularnya membantunya memakai lensa kontak astral.
"Bagaimana... bagaimana dengan Ibuku!?" tanya Andika.
"Dia... "
Di tempat Amanda....
"Terluka sangat parah"
Amanda kehilangan banyak darah akibat tusukan seluas diameter 10 cm di perutnya.
"Kalau saja dia bukan Fujiwara, dia pasti sudah tiada" kata Vandro.
"Andika... bagaimana... dia?" tanya Amanda tanpa nada suara.
"Dia melawan Chandra, Amanda! lihat kondisimu dulu dan jangan bicara!" kata Vandro.
"Pak Vandro... tolong! berikan aku obat yang membuatku bisa menolong dan membunuh Chandra!" kata Amanda.
"Dengan luka seperti ini sangat mustahil! jangan bercanda!" kata Vandro.
"Karena... jika tidak... maka Chandra bisa bangkit kembali... karena hanya Fujiwara utama saja yang dapat membunuhnya! kumohon!" kata Amanda.
Vandro jadi bimbang.
Di tempat Andika...
Chandra sudah melemah akibat Andika, sedangkan Andika dan Rahmat juga terluka parah sekali.
"Ini gawat! Chandra akan meledakkan dirinya seperti saat Akira-san akan mengalahkannya dulu!" batin Andika.
Chandra melepaskan radiasi tinggi, bahkan radiasinya mempengaruhi lensa kontak yang mereka pakai.
Radiasi yang dilontarkan Chandra adalah Radiasi yang bukan sembarangan, yang bahkan partikel radiasinya bisa membuat sel-sel tubuh hancur setelah partikel-partikel Radiasi memenuhi sel-sel yang ada.
Bahkan Adelia, Amir, dan Umar terkena dampak radiasinya.
Di istana Carna...
"Ukh!" Adelia mimisan akibat radiasi dan satu pembuluh darah di lapisan hidungnya pecah.
Adimas, Tuan Maykatra, dan Daniel membantu Adelia, Amir, dan Umar.
"Aku baik-baik saja! jangan takut!" kata Adelia.
"Apa serangan Chandra tadi sampai kesini ya? tidak mungkin, dia tidak bisa ke dunia nyata dengan sektenya yang sudah diurus dan portal Dimensi yang telah ditutup" batin Tuan Maykatra.
"Lensa kontaknya tergeser! aku jadi tidak bisa melihat!" kata Umar yang mimisan dan ditolong Adimas.
"Matahari akan terbit 25 menit lagi!" kata Amir yang ditolong Daniel sambil memperbaiki posisinya dan mengusap darah di mimisannya.
"Itu takkan lama! siapapun tolong hentikan Chandra! kumohon! kita tidak boleh membiarkan pengorbanan selama ini sia-sia!!" kata Adelia.
Di pertarungan...
David menghentikan Chandra yang ingin kabur karena matahari akan terbit dengan menebas-nebas tentakelnya.
"David! jangan! itu berbahaya!" batin Andika yang kesakitan, sedangkan Rahmat kehilangan tenaganya dan mulai terinfeksi darah Chandra.
"Kau benar-benar... sudah kelewatan sekarang! dan aku takkan diam saja! mereka melindungi kami! Tante Elena, tantenya Andika kehilangan kakinya! Tante Vanora dan Paman Toni sedang kesakitan dan tubuhnya lumpuh! Paman Rahmat sedang tak berdaya! semua tubuh yang terbaring disini adalah teman-teman yang sudah berbagi kebersamaan denganku!!" seru David dengan membendung air matanya sambil bergetar.
Andika menangis mendengar perkataan David.
"Kembalikan hidup mereka! kaki dan tangan mereka! nyawa mereka semua! kalau kau tidak bisa melakukan itu... " David menghentikan kata-katanya.
Chandra akan menebas David dengan tangan panjangnya.
"Maka kau harus membayarnya dengan jutaan kematian!!" seru David dengan menangis.
"David!! ukh! itu berbahaya!!" kata Wira.
"Gawat, kakiku patah satu! aku tidak bisa melawan lagi dengan staminaku yang seperti ini" batin Wira.
Wira langsung berlari ke arah David saat serangan Chandra akan dilontarkan.
Wira takkan sampai untuk bisa ke tempat David, dan serangannya akan sampai.
GBRAK!! Senjata bintang pagi menghancurkan bahu Chandra.
"Tante Elena!!" batin Andika.
CTRANG!
"EH!?"
Semua yang tersisa bangkit.
"Aku tidak bisa mengontrol tubuhku, tubuhku terasa berat sekali!" batin Chandra.
"Seorang prajurit yang memiliki keahlian jurus sulap dan Pilar yang juga memiliki keahlian sulap akan segera bangun lagi"
"Si prajurit dengan jurus bela diri itu!!" batin Chandra dengan geram begitu melihat David.
"Aku sudah menyerang mereka lagi dan lagi, namun mereka tidak mau mati! mereka selalu bangkit hingga terbitnya fajar, sampai saat dimana mereka bisa mengalahkanku!" batin Chandra saat melihat Elena, Toni, dan Rahmat bangun.
Kau benar-benar harus dibalas dengan perbuatan yang sama atas perbuatanmu 3 tahun yang lalu.
Chandra teringat saat Edward hampir membunuhnya.
"Lihat saja Fujiwara Edward, setelah aku membunuh para Pilar dan sepupumu untuk yang kedua kalinya, aku juga akan mengirimmu pada kematian" batin Chandra.
Toni langsung datang.
"Jurus Bela diri! tebasan tanpa jejak!!" Serangan Toni benar-benar cepat namun tak secepat Chandra.
Rahmat tak bisa mengurung Chandra di dalam ilusinya dan memotong-motong semua tentakel Chandra.
Di istana Carna...
"Chandra itu!! dia mulai menumbangkan semuanya kembali!!" seru Umar.
"Pasukan di rubik Zeydan sedang berusaha mati-matian!" kata Amir yang sedang mengawasi.
"Musnah saja kau!! Chandra!!" Seru Adelia.
Di Dimensi astral...
Andika berhasil menyudutkan Chandra dan tentakel Chandra akan menyerang dari belakang.
JLEB!!
"EH!?"
"Cukup!!! hentikan saja dirimu!!" kata Vanora yang sambil menangis
"Nona Vanora!!?" tanya Wira.
Punggung Vanora terkena serangan Chandra yang ada darah Chandra
BRUK!
"Kak Vanora!!!" Seru Andika.
"Jurus... Pedang darah Fujiwara!" kata seseorang.
Tiba-tiba muncul dari tubuh Chandra pedang-pedang yang mencegahnya untuk meledakkan diri, itu karena sebelumnya... Amanda melemparkan pedang-pedang yang diberikan oleh Edward, jika Fujiwara utama memiliki pedang khusus, maka Fujiwara cabang juga ada.
"Apa!!?" batin Adelia dan Andika bersamaan yang terkejut. Sedangkan Amir dan Umar terbelalak.
"I... Ibu!?" tanya Andika.
"Ck! lepaskan aku!! Jurus Pandora! ledakan diri!!" seru Chandra.
CTRIK!! Amanda menggores jarinya dan darah segar sedikit keluar dari luka tersebut.
DEG!! Seluruh organ tubuh Chandra tiba-tiba tidak memiliki kendali dan tubuhnya lumpuh saat merasakan aroma darah dari Amanda.
"Andika, rawat lukamu, bawa Kak Vanora pergi dari sini, hal ini biar aku yang urus" kata Amanda yang sambil memegang luka tusukannya.
Rupanya Vandro memberikan energi dari Enhancer yang dapat memulihkan tenaganya.
"Tapi aku bisa menolong-..." belum selesai Andika bicara.
"Andika!!" bentak Amanda.
"Jangan... durhaka pada orang tuamu... kau lupa? pesan Ayahmu?" tanya Amanda.
Andika hanya bisa terdiam.
"Ibu... kenapa, kau mengorbankan dirimu? dan rela akan hal ini?" tanya Andika yang menggendong Vanora dengan menunduk dan suram.
"Karena... aku sudah kehilangan banyak orang, artinya... aku hanya punya kalian" kata Amanda.
Amanda akhirnya menghindari serangan Chandra dan mulai mendekati Chandra sambil mengumpulkan tenaga.
Di tempat Erika...
"Hidup... bersama Zayn? ya, itu adalah salah satu hal yang kuinginkan, kalau begitu kenapa tidak?" batin Erika.
Tiba-tiba Erika teringat semua orang dengan membendung air matanya.
Kakak kembarnya, Papa dan Mamanya, Andra, Rafi dan Rafa, keluarga Ameera, Edward, Pak Andi dan Ratri, Vandro, Vanora dan Bella, Ilman, Dirga, Gibran, dan Aram.
David dan Wira, Salsa, Adelia, Karin, Toni, para Pilar, Nisa, Via, Lia.
Erika juga teringat dengan Meghan.
"Mau lihat reaksi percobaan kimia?"
Erika juga teringat Farel, Doni, Ersya, para Prajurit dan yang lainnya dan juga...
Andika dan Zeydan.
"Yun-chan" Erika begitu ingin Andika memanggilnya seperti itu lagi.
"Aku adalah... Erika Ameera, Kitagawa Yuna! seorang Iblis telah membantai Ayah, Ibu, dan Pamanku!" batin Erika sambil mengusap air matanya.
"Aku... hanya Astral Projection disini" batin Erika saat melihat Dimensi paralel.
"Zayn, tolong dengarkan aku" kata Erika sambil beranjak dari tempatnya dan berjalan perlahan mendekati laki-laki itu.
Zeydan sedikit mengangkat alisnya.
"Terimakasih banyak... terimakasih sekali kau sudah ada hidupku, terimakasih karena... sudah mengajariku prinsipmu untuk bisa terus menjalani hidup" kata Erika sambil terus berjalan mendekat.
"Terimakasih, karena sudah menjadi bagian dari keluargaku, terimakasih karena telah mengkhawatirkan aku, marah padaku, peduli padaku, dan disisiku"
"Dan juga... " Erika mengambil lengan baju yang menutupi lengan Zeydan itu.
Zeydan memperhatikan tangannya yang di pasangkan kain putih oleh Erika sambil terdiam.
"Karena telah mengikatkan kain putih ini di tanganku dan di tanganmu... terimakasih" kata Erika sambil tersenyum dan selesai mengikat kain putih pada tangannya dan pada tangan Zeydan.
"Aku senang, mendengar akan hidup damai bersamamu, tapi walau bagaimanapun... ini hanyalah Dimensi, yang ditautkan dengan waktu dan ruang, aku sangat berharap hal ini nyata, hidup bahagia bersamamu, orang tuaku, kakak-kakakku, dan teman-teman kita"
Zeydan mendengarkan.
"Aku selalu membayangkan... betapa sempurnanya hal itu" kata Erika.
Nayanika berwarna merah milik Zeydan meneteskan air mata harapan dari matanya mendengar perkataan Erika.
"Tapi... aku adalah Erika Ameera anak dari dua pahlawan yang amat kau kagumi, tujuanku adalah mengakhiri perang ini, Zayn"
"Maaf, tapi... aku memilih untuk mengakhiri perang ini" kata Erika.
"Jujur, aku sudah tidak ingin membahas keinginanku itu lagi hanya saja..." Erika agak menundukkan pandangannya.
"Baiklah, kalau itu pilihanmu aku takkan menghalangi. Tapi saat aku mati nanti tolong berjanjilah, aku ingin kau membuang kain putih itu, lupakanlah aku lalu hiduplah dengan damai dan sebaik-baiknya" kata Zeydan.
******
"Cepat!!! sampai mereka hancur!!!" teriak Dirga.
"Ya!"
"Ayah, kumohon bantu aku" batin Ilman dan langsung bergerak sangat cepat dengan jurus halilintarnya.
Erika langsung tersadar dari Astral Projection-nya begitu mendengar suara teman-temannya di kejauhan yang tengah berjuang dan langsung memakai kain putih dari Zeydan.
"Maaf Zayn... aku tidak bisa! jika aku melupakanmu, maka aku tidak bisa mengingat dimana kau, aku, dan Pasha bertiga bersama" batin Erika sambil memakai kain putihnya di jilbabnya bagian leher.
"SILENT!!" Erika mengumpulkan Mana terakhirnya untuk mengaktifkan Silent miliknya dan melihat Rubik Zeydan.
Tes... Tes... karena memaksakannya, matanya mengeluarkan darah.
"Zayn ada didalam rubik yang itu! aku akan membunuhnya, karena itu kumohon bantu aku" kata Erika pada Edward dan Pasha sambil menyiapkan pedangnya.
Edward dan Pasha melihat Erika dan lumayan kaget melihat kondisi mata Erika dan juga mendengar keputusan Erika namun karena itu mereka jadi bertekad.
"Baiklah... " kata Edward.
"Erika..." kata Pasha.
Pasha langsung menghabisi para makhluk astral yang menghalangi dan giliran Edward.
"Jurus Taring Air!!" Edward menebas dinding rubik dengan jurus di pedangnya.
JDUARR!!!!
Serangan yang dilontarkan Edward di dinding rubik itu langsung membuat lubang.
Erika langsung masuk ke dalam dengan pedang yang sudah ia persiapkan.
Erika membendung air matanya saat melihat ke arah Zeydan yang berdiri dengan telentang, kedua tangan Zeydan terikat oleh rantai astral dengan melebar dengan kakinya yang menekuk.
"Zayn... kamu mengemban semua beban berat itu sendirian, dan ingin membuat kami bahagia di masa depan... "
Erika berlari ke arah Zeydan dan Zeydan yang menunduk mengangkat sedikit kepalanya dan melihat Erika
*****
Erika mendatangi Zeydan di Dimensi paralel karena bersiap untuk meninggalkannya selamanya.
"Selamat tinggal,... Zayn"
*****
Amanda menatap Chandra dengan tatapan tajam.
"Hancurlah... Chandra"
*****
Amanda dan Erika sama-sama mengakhiri musuh mereka.
CTRASH!!!!
Amanda memenggal kepala Chandra dengan teknik tebasan pedang sinar matahari.
Di saat bersamaan, matahari terbit dari arah timur yang menyinari Dimensi astral.
"Makhluk yang mengancam keselamatan dan hidup kami semua... hancurlah"
CRAK!!!
Erika menusuk pedangnya tepat pada jantung Zeydan dengan perasaan hati yang ia kumpulkan agar dapat pasrah setelah mengucapkan kalimat perpisahan.
"Laki-laki yang ingin menjadi Ninja terhebat... selamat tinggal"
Basa-basi dan Fakta 😋
Sebagai Fujiwara Utama, maka sangat lazim bagi mereka yang seorang Fujiwara Utama seperti Mika untuk mewarisi sebuah peninggalan berupa pedang Fujiwara, dan mewarisi pedang yang dipegangnya pada Putrinya yang sebagai Fujiwara Utama terakhir.
Dan begitu juga, sebagai Fujiwara cabang, Hannah dan Ray mewarisi pedang yang diturunkan dari pendahulu Fujiwara cabang kepada Edward yang sebagai Fujiwara cabang terakhir.
Kebanyakan makhluk astral yang berasal Dirgapati adalah manusia yang dulunya ditumbalkan dan ubah menjadi makhluk astral.