
Di hutan dekat istana Carna...
"Ck! pasti portal ke Dimensi telah di tutup aksesnya agar Chandra tidak bisa keluar dari Dimensi, tapi bagaimana kita bisa masuk!?" tanya Cepheus.
"Entahlah! bagaimana kalau kita grebek sekte Dirgapati yang ada di Dunia nyata!? agar para pesugihan yang di sana bisa memberikan kita jalan masuk!?" tanya Perseus.
"Jangan! kau tak pikir kalau mereka bisa menipu kita!?" tanya Andromeda.
"Bagaimana kalau kita menggunakan buku teleportasi milik Lord Fifth yang di simpan di perpustakaan istana?" tanya Cassiopeia di tengah-tengah perdebatan Cepheus, Perseus, dan Andromeda.
Cepheus, Perseus, dan Andromeda terdiam dan setuju dengan Cassiopeia, tapi mereka tetap berpikir untuk memilih cara siapa yang lebih tepat.
"Em... bagaimana kalau kalian kumpulkan tali teleportasi kalian padaku dan kita akan ke Dimensi bersama, aku ingat kalau di markas pemberantasan ada tali teleportasi sebagai tempat lokasi perhentian!" kata Phantom Lady.
Tapi Cepheus, Perseus, Cassiopeia, dan Andromeda tak mempedulikannya karena sibuk berdebat.
Phantom Lady menarik napas.
"Hnggk!!! Cukup!!!!!" teriak nya.
Cepheus, Perseus, Cassiopeia, dan Andromeda menatap Phantom Lady dengan terdiam.
"Kumpulkan tali teleportasi kalian padaku, sekarang!!! karena di markas pemberantasan ada tali teleportasi yang bisa membawa kita ke lokasi perang, Paham!!!?" tanya Phantom Lady dengan membentak.
Cepheus, Perseus, Cassiopeia, dan Andromeda hanya bisa mengiyakan saja karena ngeri.
Di tempat Nisa....
Nisa sedang berdiri menatap D yang tersenyum padanya.
"Rasa merinding ini tidak berhenti, jika aku tidak mengalirkan tenaga sampai ke ujung jariku, tubuhku akan mulai tergoncang, dibanding orang ini... semua makhluk astral yang pernah kulawan hanya seperti bayi, aku berdiri sekarang karena amarah yang dahsyat ini. Rasanya sangat kuat yang seakan membakar seluruh tubuhku!" batin Nisa.
"Jika aku tidak mengamuk, mungkin saja tubuhku bisa sobek! pertama kalinya aku merasakan seperti ini... aku pertama kali bertanya pada Mama, ternyata inilah yang beliau maksud dengan kebencian" batin Nisa.
"Kau!! beraninya kau membunuh Komandan!!!" batin Nisa dan maju melakukan jurus.
"Jurus tebasan racun pembunuh!!" kata Nisa dan akan menebas D dengan gaya menebas pedang jurus gaya medis.
"Wah... bagaikan pisau bedah, indahnya! itu sangat anggun" kata D sambil tersenyum.
"Jurus mematikan! racun laba-laba!" kata Nisa.
Nisa mulai menebas dengan cepat
"Jadi begitu... dia tak punya mata khusus dari setiap Klan karena dia tak mempunyai darah leluhur Klan yang mempertahankan ajaran Ninja, tapi dia punya efek mata yang hampir sama seperti radiasi Silent, dia mungkin mendapatkan sebuah cairan yang berisi darah seseorang yang mempunyai Silent, jadi dia menahan serangan ku bagaikan mempertahankan pukulan" batin D.
"Pundakku, lututku, tatapan siku, dia memprediksi seluruh gerakanku yang lemah, bukan hanya pintar... tapi dia juga hampir mirip seperti seorang pendekar pedang tingkat pakar, jadi izinkan aku menipu matamu" batin D dan akan menebas mata Nisa.
WOSH!!! Nisa menundukkan kepalanya ke belakang dan akan menebas dengan gaya tendangan berputar ala karate.
"Tubuh yang kau miliki itu cukup terlatih ya, mirip pegas" kata D dan mengibaskan kipasnya yang berisi jurus es kepada Nisa.
Nisa menutup mulutnya dan menghindar.
"Nyaris saja! aku harus menutup mataku, atau bola mataku akan membeku!" batin Nisa.
"Saatnya untuk jurus lain!" kata D.
"Jurus Pandora, badai es!" kata D dan mulai melontarkannya pada Nisa.
"Itu serangan jarak jauh yang sangat kuat! aku tak bisa sembarangan mendekat!" batin Nisa.
"Tombak Es!" D mulai melontarkan serangan lagi di atas kepala Nisa yang berupa es-es yang tajam seperti tombak.
Nisa menghindar.
"Eh? semakin lama kau semakin jauh saja? kau harus mendekat lho! kau ingin menebas kepalaku kan?" tanya D.
WHOSH!!! D menghilang.
"Dia... menghilang!?" batin Nisa.
D muncul di tempat lain yang agak jauh dari Nisa, dan bersamaan dengan itu pedang Nisa hilang dari genggamannya.
"Kau lihat itu? kau tidak menggenggamnya erat-erat, jadi ku ambil ya" kata D sambil menggenggam pedang Nisa.
"Kalau begitu... aku tancap disini" kata D sambil menancapkan pedang Nisa ke lantai berkayu.
"Jurus Pandora! tebasan serbuk es!"
Nisa bertahan di tempatnya.
"Apaan ini? jurusnya? perhatian lebih dekat dan putuskan! lihat melalui semampunya, seakurat yang aku bisa! aku harus melihat sampai area terkecil! dan dimana terletak serangan terkecilnya, aku harus melihat dengan jelas!"
batin Nisa, karena serbuk es yang di arahkan D membuat wajah Nisa menjadi tergores-gores.
JDAK!! Tiba-tiba atap kayu benteng labirin langsung jebol.
"Halo!! David dan Wira sudah sampai everybody!!" kata David.
"Kau terlalu berisik!" kata Wira.
"Nisa!?" tanya Wira.
David langsung menebas semua serbuk yang mengarah pada Nisa.
"Siapapun yang berniat mencelakakan temanku... artinya dia lawanku" kata David.
"Dua... kau!! kau Pasukan Dirgapati atas nomor dua! wahahaha!! kita sampai ke tempat yang tepat Wira! kau lihat itu!? jika aku membunuhnya, aku akan menjadi Pilar deh! kyahahaha!!!" Seru David dengan riang dan berisik.
"Dia terlalu berisik dan aneh, juga heboh seperti Andika" kata Nisa dengan tersenyum menyungging dan lemas lalu berkeringat heran pada David yang selalu berisik.
"Kau mirip makhluk astral abnormal" kata Wira yang berkeringat heran.
"Hadeh... punya dua teman heboh memang merepotkan, gimana lagi? '-_-...." batin Nisa dan Wira.
"Nisa!? kau terluka! kau babak belur! jika kau terluka kau tahu kan!? Komandan Meghan akan marah besar! dia akan benar-benar marah!" kata David dengan berseru.
Nisa menatap David dan Wira dengan mengerutkan keningnya dan menatap mereka dengan tatapan duka.
"Ni... Nisa? jangan bilang kau...!?" tanya Wira dan menatap D.
"Apakah dia itu sudah mati!? Komandan!?" tanya David.
"Tentu saja tidak! dia masih belum mati, dia hidup di tubuhku selama-lamanya! itulah mengapa orang yang aku makan itu terselamatkan, mereka takkan merasakan sakit dan masalah lagi kan? mereka semua itu akan senang menjadi satu di tubuhku ini" kata D dengan tersenyum.
Nisa menunduk dengan bergetar, Wira melihat Nisa dengan kasihan.
David terpaku dan mengingat saat dia dan Meghan dulu bersama.
Kau ini! di kasih tahu yang benar, kalau medis itu meliputi kefarmasian! hal medis! yang paling sulit itu adalah hal medis untuk makhluk astral! itulah mengapa, medis astral hanya bisa digunakan di Dimensi astral atau orang-orang ahli yang tertentu.
Jadi... anda itu bukan orang ahli tertentu?
Bukan gitu David! Edward, kau gak bisa kah jelaskan pada anak ini!?
Kurasa yang dia katakan memang benar.
Apa katamu!?
Baiklah, intinya kau akan bisa memahaminya suatu saat nanti, David.
David terdiam saat mengingat perkataan Meghan.
"Aku akan menebas tubuhmu hingga terkoyak-koyak kau... kurang ajar sekali kau membunuh Komandan kami" kata David dengan melirik D dengan tatapan membunuh.
David langsung melompat dan mengarah pada D dengan cepat.
"Wira! lindungi Nisa!" kata David.
"Jangan kau hirup udara dingin yang keluar dari kipasnya!" kata Nisa.
D tersenyum.
"Jurus Bela diri pedang!! Ninja ken!" kata David dan akan menebas D.
"Pfft... itu jurus yang payah, kau ingin melakukannya dengan pedang tumpul itu dan juga teknik berpedang anehmu itu, sungguh membuatku bersemangat lagi!!" Seru D dan akan menebas leher David.
David langsung menunduk ke arah belakang dan menendang kipas D.
"Waw, lincah sekali... itu hebat sekali lho, kau ini... "
David langsung secepat mungkin mengambil pedang Nisa dan ke tempat Nisa dan Wira, bahkan D saja terkejut melihat kecepatan David.
"Apa ini milikmu?" tanya David.
"I.. iya" kata Nisa.
"Jangan harap kau bisa kabur kali ini" kata David dan D langsung mendatangi mereka.
David langsung menahan D ke tempatnya dan Wira langsung merangkul Nisa dan membawa menjauh.
"Kau ini cepat juga ya... aku sampai tidak menyadarinya" kata D sambil tersenyum.
DUAK!!! David menendang D.
"Kau hebat!!" kata D.
Dari jarak 3 meter, David menebas pedangnya ke arah D tanpa mendekatinya sama sekali.
"Eh? dari jarak sejauh itu dia ingin melontarkan serangannya padaku? itu di luar jangkauan! dan serangan itu takkan mengenai ku" batin D.
David selesai menebasnya dengan sekali gerakan.
"Tuh kan... tidak ken-... " belum selesai D bicara
CTRASH!!!
"Tebasannya itu... mengenai ku" batin D saat matanya dari kiri ke kanan terluka.
"Eh!? jadi David memindahkan persendiannya? dia seperti Pilar Bela diri, tapi apa rencananya setelah ini ya?" batin Nisa.
"Kuharap dia tak heboh" batin Wira.
"Ck! kenapa harus sekarang sih!? sudah ku duga jurus ini belum sempurna! aku berniat mengincar lehernya!" kata David.
"Eh!? yang benar saja!?" batin Nisa kaget.
"Sudah kuduga si tukang heboh ini.." batin Wira sambil menepuk jidat.
"Hahaha! jadi begitu kau mengatur persendianmu, apakah tidak sakit? aku sudah hidup lama tapi aku tak pernah bertemu dengan bocah macam dirimu" kata D.
"Oh... aku ingat, aku ingat wajahmu" kata D.