
"Si Subjek Pandora Wanita ini telah membunuh kak Farel dan menyakiti Yun-chan!" batin Andika yang sangat marah dengan kondisi adiknya sambil menyerang Aram.
Aram terus saja menghindar dan Zeydan mengambil ruang untuk menyerang.
Andika melakukan segel tangan jurus khas ibunya.
"Uchuu Ankoku Ninpou!" kata Andika dan langsung melontarkan jurus berelemen listrik itu.
Aram menghindar lagi.
Di markas...
Meghan tengah fokus mengobati Erika dengan menjahit beberapa lukanya dengan sangat pelan dan pelan agar tidak salah.
Vanora membantu memberikan energi medis secara astral juga mengusap keringat yang terus menerus keluar dari wajah Meghan.
"Tulang rusuknya patah, dan beberapa luka memar di kepala, dan ada di beberapa bagian tubuh yang luka lebar sehingga harus ku jahit perlahan" batin Meghan dan memperbaiki maskernya.
"Vanora, tolong pasangkan masker oksigen pada Yuna" kata Meghan.
"Y... ya!" kata Vanora.
Sedangkan Pasha, Nisa, Salsa, Ilman, Ikram, Dirga, Nisa, dan Edward menunggu di ruang tunggu.
"Erika... " batin Pasha.
Kalau Ilman terus saja gelisah dan khawatir.
Ikram dan Dirga hanya menunggu.
Salsa khawatir sambil memakan sandwich.
Sedangkan Edward tetap berwajah dingin tak berubah ekspresi tapi dengan mengepalkan tangannya.
Pintu terbuka.
"Nona! bagaimana keadaannya Erika?" tanya Pasha dengan penuh nada khawatir.
"Dia baik-baik saja, tapi akan semakin kritis karena kekurangan jumlah darah di dalam tubuh" kata Meghan sambil membuka maskernya.
"Kita panggil Andika sekarang!" kata Nisa.
"Tapi kak Andika sedang dalam pertarungan! kita harus bagaimana?" tanya Dirga.
"Jangan berisik! aku yang akan membawanya kembali, Meghan... ikutlah denganku" kata Edward sambil pergi dan terus mengepalkan tangannya dengan erat.
"Hadeh! kau meminta seperti memerintah" kata Meghan.
"Cepatlah!" kata Edward.
"Ya ya!!" Seru Meghan.
"Vanora! tolong jaga Yuna! kalian jangan masuk ke ruangan!" kata Meghan.
Di lokasi pertarungan...
Andika dan Zeydan terus menyerang Aram sampai kewalahan.
BRUK!! Aram terjatuh sedangkan Zeydan sudah kehilangan tenaga nya, Andika mendatangi Aram dengan amarah.
"Dia membuat Yun-chan kesakitan, aku akan membuatnya merasakan hal yang sama... " batin Andika dan akan menyerang Aram.
GREP!! Meghan menahan Andika dengan lengannya.
"Hentikan, Kenzo!" kata Meghan.
Andika terus memberontak, sedangkan Zeydan tidak bisa bergerak karena kehabisan tenaga dan telah di tangani Edward.
"Tenaganya kuat sekali... jangan bilang kalau Andika di kendalikan oleh ambisi Pandora?" batin Meghan yang kesulitan menahan Andika.
Edward langsung menyerang Aram dengan cepat hingga Aram langsung kehabisan tenaga sampai akhir.
Edward akan menebasnya, tiba-tiba...
KRRK!!! Tubuh Aram sekelilingnya langsung menjadi beku.
Aram langsung tertutup dengan kristal yang menyelimutinya dan Aram tak berkutik di dalamnya.
Andika emosinya tidak terkontrol.
Andika berhasil memberontak dan mendorong Meghan tanpa melukainya.
"Berhenti, Kenzo! Edward! awas!" kata Meghan.
Edward langsung menghindar dan menyerang tengkuk leher Andika dengan sisi kelingking tangan yang membuat Andika langsung pingsan.
BRUK!
Meghan mendekati Edward.
"Ambisinya berbahaya sekali" kata Meghan.
Edward dan Meghan membawa Zeydan, Andika, dan Aram.
Andika sudah sadar dan mendonorkan darahnya pada Erika.
"Yun-chan... " gumam Andika dan mengelus kepala adiknya yang dilapisi jilbab itu.
Edward berada di luar ruangan dan langsung keluar dari jendela lantai 6 jungkir balik ke atap markas.
"Ng? Maniak tak sayang nyawa?" tanya Meghan yang sedang duduk santai.
"Berhentilah memanggilku begitu" kata Edward.
"Ngomong-ngomong, sedari tadi kau mengepalkan terus tangan kananmu?" tanya Meghan.
"Jujur saja, aku tadi hampir tak terkendali emosi dan ingin menghabisi subjek Pandora yang membunuh Farel dan melukai anaknya Yumna" kata Edward.
"Lalu?" tanya Meghan.
"Karena keahlian ku dalam berpedang sebenarnya terletak pada tangan kananku, jadi aku berusaha menahan emosiku" kata Edward dan perlahan membuka kepalan tangannya dan terlihat tangannya yang terluka karena tekanan jari.
"Tapi kurasa malah menyakiti diriku sendiri ya?" tanya Edward.
"Kebiasaan, emosi gak di tahan" kata Meghan dengan nada meremehkan.
"Aku bisa menahan emosiku!" kata Edward.
"Kau yakin?" tanya Meghan.
"Ya"
"Baiklah... " Meghan langsung menyenggol tempat sampah.
"Kenapa kau menjatuhkan tempat sampah itu!?" tanya Edward dengan kesal dan mengaktifkan Silent-nya.
Silent juga bisa membuat seseorang yang menatapnya menjadi tak bisa bergerak selama, si pengguna melepas reaksinya.
"Eits! jangan pikir aku adalah orang yang bisa terkena Silent-mu" kata Meghan yang langsung melemparkan butiran pasir.
"Ukh! Perih, kacamata menyebalkan!!" seru Edward.
"Tuh kan! tuh kan!" kata Meghan.
"Sabar... sama pembuat masalah, sabar, Ward" gumam Edward.
"Ternyata kau itu selalu punya batasan" kata Meghan.
"Berisik!!" Seru Edward dan langsung melemparkan sapu pada Meghan.
Meghan langsung melompat ke tiang.
"Ok! dah maniak tak sayang nyawa!" kata Meghan dan langsung melompat dari atas ke bawah.
"Berhenti di sana, Kacamata menyebalkan!" kata Edward dan langsung ikut lompat menyusul Meghan.
"Ck! tu dua orang pengen bunuh diri apa?" batin Rahmat.