
"Phantom Lady?" tanya Pak Andi.
"Lama tak bertemu ya? Kakek? setelah 3 tahun?" tanya Phantom Lady.
"Masih manggil kakek ya Nak?" tanya Pak Andi.
"Bagaimanapun juga, saya akan tetap anggap anda itu kakek saya, anda juga pernah memperbolehkan saya kan?" tanya Phantom Lady.
"Iya, em... apakah menyandang nama Phantom Lady harus berpakaian menutup aurat seperti itu?" tanya Pak Andi.
"Nama saja Phantom Lady, kalau aurat itu prioritas utama. Haha" kata Phantom Lady.
"Iya..." kata Pak Andi yang benar-benar terharu.
Di Tebing...
Erika langsung bertapak di dinding tebing, dia bertahan dengan jangkarnya.
Erika mengaktifkan Silent-nya.
"Ck... aku tak bisa melihat ada celah di pertarungan ini! tunggu! aku sudah berapa kali menggunakan Silent-ku!?" tanya Erika yang melihat pandangannya mulai agak kabur.
Andika, Zeydan, melawan Yusuf, dan Mansa.
"Seenaknya saja kau menggunakan rantai khas Fujiwara!" kata Andika yang agak susah melawan Yusuf yang sudah berpengalaman.
"Memangnya kenapa?" tanya Yusuf.
Mansa menyerang Zeydan dengan menggunakan jurus api Klan Kitagawa yaitu "Jiko Shinkuken"
"Hawa api ini sama dengan aura panas tadi" gumam Zeydan dengan aura marah.
"Dapat! kelemahan sementara yang sangat mempengaruhi adalah bagian betis otot kaki! aku akan menebasnya!" batin Erika dan langsung pergi ke arah pertarungan sengit di bawah tebing itu.
"Eh!? apa yang akan dilakukan Yuna?" tanya Meghan.
"Bagaimana Farel? kau dapat?" tanya Vanora yang menelusuri lewat auranya.
"Ada! sekitar 735 km! di bagian utara!" kata Farel.
Andika melihat adiknya yang mendekati Yusuf.
CTRANG!! Erika menebas lipatan kaki dan otot betis Yusuf dan Mansa secara bersamaan dengan cepat.
"Kalian takkan bisa bergerak sekarang!!" Seru Erika.
"Ck! aku lupa kalau angkatan 85 punya prajurit handal" batin Yusuf.
Akhirnya Yusuf yang kehilangan tenaga langsung menyerap energi dari Andika, dan Mansa menyerap energi dari Zeydan lalu mereka berdua membawa Andika dan Zeydan pergi dengan jurus teleportasi Hasegawa.
"Berhenti kau!!" Seru Erika dengan kesal lalu akan menahan mereka dengan reaksi Silent.
DUAK! Yusuf hanya bisa menghempaskan Erika ke batu besar dan pergi.
"Ukh... kembalikan... keluargaku" Erika yang hanya bisa terbata-bata langsung mengambil pedangnya.
"Apa... yang? kenapa... mataku... mulai gelap? tidak! aku harus mengejar mereka!" kata Erika yang mulai berdiri dan berjalan tertatih-tatih.
"Aku... kalah... Mama... aku... harus gimana? sekarang..., Dasar... " gumam Erika yang keluar darah dari pelopak matanya bagaikan air mata karena Silent Erika mulai tak beraturan karena Erika memaksa mengaktifkan energi Silent terakhir.
"Eh!? Erika butuh bantuan! aku akan ke sa-... " belum selesai Pasha bicara.
Edward langsung ke sana.
Setelah sampai di sana, Edward mengerutkan keningnya... karena selain Amanda, belum ada yang bisa mengaktifkan energi Silent terakhir dan akan berbahaya jika secara paksa.
"Hentikan! kita harus mundur!" kata Edward.
"Dia bisa kehilangan kendali karena memiliki darah Kitagawa" batin Edward.
"Oi! kita harus kembali!!" Kata Edward yang meninggikan suaranya.
Darah dari mata Erika makin banyak yang terbujur keluar.
"Ck! kalau begitu... " Edward menaruh tangannya di atas kepala Erika untuk mematikan kesadarannya.
Karena kehilangan kesadaran, Erika hampir ambruk ke depan kalau saja Edward tidak menangkapnya.
"Untung saja aku mempunyai tenaga untuk mengaktifkan jurus menghilangkan kesadaran dari klan Taira" gumam Edward dan langsung membawa Erika ke tebing.
Beberapa saat...
"Berapa korban yang terkena hawa panas tadi?" tanya Meghan.
"Hampir semua pasukan! anda juga kena ketua!" kata David.
"Haha! aku baik!" kata Meghan.
Pasha melihat Salsa yang merintih kesakitan.
"Salsa! kau baik-baik saja? Salsa!" kata Pasha yang melihat ada luka bakar di pergelangan tangan Salsa.
"Ng!! Salad kentang!" gumam Salsa.
"Di.. Dia pasti baik-baik saja" kata Pasha.
Erika membuka matanya.
"Ukh! Masya Allah, kepalaku pusing sekali" gumam Erika.
"Erika! kau baik-baik saja!?" tanya Pasha menghampiri sahabat masa kecilnya itu.
"Ng? kepalaku di perban?" tanya Erika.
"Ya, tadi kau banyak menggunakan Silent sampai hampir mencapai tahap maksimal!" kata Pasha tapi kemudian dia kaget karena Erika berdiri.
"Dimana... dimana kak Andika!? dimana Zayn!?" tanya Erika.
"Anu... itu" Pasha hanya berdiri dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
GREP! Erika mencengkeram kerah seragam pasukan Pasha.
"Katakan padaku!! dimana kakak dan Zayn!? Zayn! mereka baik-baik saja kan!?" tanya Erika panik.
"I... itu.. " Pasha hanya agak seram melihat Erika yang serius.
"Katakan padaku Pasha!!" Seru Erika.
"Kami pasukan banyak yang terluka! dan tidak bisa mengejar mereka dengan keadaan seperti ini! 2 pilar tengah bertugas untuk mencari mereka dan juga untuk merasakan keberadaan musuh! dua pilar lainnya mengobati dan membuat rencana! kita tak bisa menyelamatkan Kak Andika dan Zeydan dengan keadaan seperti ini!" kata Pasha yang capek menjelaskan hingga nafasnya tak beraturan.
"Hah! hah! hah!"
Erika syok dan melepaskan cengkeramannya dari Pasha lalu jatuh terduduk.
BRUK!
"Tidak... mungkin" kata Erika.
"Kak Andika... Zayn... Zayn!" gumam Erika sambil menangis pelan dan menutup mulut dan hidupnya dengan kain putih yang diberikan Zeydan.
"Aku... tidak berguna" gumam Erika.