Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
BONUS! Tidak beres ( FINAL EPISODE )



Edward terbangun lalu mandi dan cuci muka, lalu pertama dia akan ke ruangan Amanda dulu.


Tok! Tok! Tok! Edward mengetuk pintu.


Tidak ada yang menjawab...


Tok!


Tidak ada yang menjawab...


"Yumna" panggil Edward.


Tidak ada yang menjawab...


"Kenapa dia tidak menjawab? dia dikamarnya?" batin Edward dan membuka pintu.


Ceklek!


Edward mendapati Amanda sedang melamun di meja kerjanya.


"Yumna?"


Amanda tak menghiraukan Edward.


"Yumna?"


Tidak di hiraukan.


"Yumna!!" seru Edward.


"Astaghfirullah!! Kapten! kalau mau masuk ketuk pintu dulu!! Dasar..." seru Amanda dengan kesal.


"Apaan!? aku sudah ketuk pintu sebanyak 4 kali, dan memanggilmu sebanyak 4 kali juga dan kau tidak menjawab, hanya melamun tidak jelas" kata Edward dengan kesal.


"S.. sungguh? haha, maaf aku tidak mendengar" kata Amanda.


"Kau kenapa?" tanya Edward.


Amanda terdiam.


"Tidak... tidak ada apa-apa" kata Amanda sambil berdiri dan memperbaiki berkas-berkas lalu menuju pintu.


"Kau ingin kemana?" tanya Edward.


"Ke kamar"


Blam!


"Ada yang tidak beres... kenapa Yumna terlihat sedang memiliki masalah? dia bahkan tak menyadari aku mengetuk pintu" batin Edward.


Yumna jadi seperti itu, jarang ke ruang kerjanya dan lebih sering menyendiri di atas atap istana sambil mengelus Roza si ular putih milik Rahmat.


"Yumna" kata Edward.


"Eh!? Hm!?" tanya Amanda yang kaget lalu berkeringat.


Bahkan Yumna langsung kaget saat melihatku, seharusnya dia bisa tahu lewat aura.


"Ada apa?" tanya Edward.


"A... apanya yang kenapa? o... oke, baiklah aku akan ke ruang kerja lagi bersama Roza" kata Amanda.


Ini jelas bukan aneh, malah tidak beres.


Akhirnya...


Esok harinya....


Ruangan Amanda tertutup jendelanya karena di kunci dari luar, bahkan pintu darurat juga.


"A... Apa-apaan ini!?" tanya Amanda.


"Sekarang kau sudah tidak bisa kabur lagi" kata Edward.


"Hii!! kau mau apa!?" tanya Amanda.


"Jangan berpikir macam-macam!!" seru Edward dengan kesal.


"Apa yang terjadi? kau jadi tidak berpikir dengan baik akan pekerjaanmu, apakah ada yang mengganggumu?" tanya Edward.


Amanda tersentak, tapi langsung terdiam sambil menunduk.


"Ada apa?" tanya Edward.


Amanda terdiam tapi merasa khawatir untuk memberitahu.


Edward juga mengerti kalau Amanda orangnya itu introvert.


"Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Edward


"Eh!? A... aku-... " belum selesai Amanda bicara.


"Kau selalu menyembunyikan sesuatu dari orang-orang, tapi kau tidak bisa menyembunyikannya dariku, karena aku adalah kakak sepupumu" kata Edward.


Amanda terdiam.


"Ceritakan saja padaku, apa yang terjadi?" tanya Edward.


"Ehm... sebenarnya... "


Flashback...


Saat Amanda ke kamar Erika...


"Lho? Erika mau pergi lagi?" tanya Amanda.


"Iya, Ma" kata Erika.


"Kemana?" tanya Amanda.


Erika terdiam.


"Jangan bilang... ke tempatnya Zeydan lagi ya?" tanya Amanda.


"Iya"


"Em... Erika, ada baiknya kamu gak usah sering ke sana, karena pendidikanmu masih perlu kamu lanjutkan bukan? kamu masih punya banyak waktu setelah pendidikan kau urus" kata Amanda.


"Ma, Zayn sudah berusaha untuk pasukan pemberantasan sampai-sampai mengkhianati kita dan bekerjasama dengan Chandra Nagata! kita belum bisa membalas apapun meski yang dia perbuat tak menghasilkan keuntungan apapun, tapi dia itu baik" jelas Erika.


"I... iya Mama tahu! tapi ada baiknya kamu juga mengurus dirimu sendiri Erika, Zeydan juga pasti ingin kamu memiliki masa depan yang baik! dia ingin kamu bisa memiliki kehidupan yang bahagia dan positif!" jelas Amanda.


"Kenapa Mama tiba-tiba kayak gini? Mama kan selalu gak peduliin kita-kita dan hanya fokus akan pekerjaan" kata Erika.


"Bukan kayak gitu, Erika!" kata Amanda.


"Lebih baik aku ke Zayn saja" kata Erika.


Erika terdiam tapi langsung pergi, dia tak ingin berdebat dengan Mamanya.


"Erika! ck, Dasar... "


Flashback Off...


"Aku hanya cemas akan terjadi sesuatu yang tidak-tidak akan pemikiran Erika" kata Amanda.


"Begitu ya, dia membantah perkataanmu dengan alasan seperti itu?" tanya Edward.


Amanda terdiam.


"Haaaah! ada-ada saja! si Zeydan meski sudah mati masih saja menghantui" kata Edward.


"Meski Zeydan sudah gak ada, aku yakin Erika masih menyayangi Zeydan, dan selalu-selalu di dalam lubuk hatinya kalau tanpa Zeydan, maka Pasha dan dirinya merasa ada yang... kurang! aku yakin banyak hal-hal yang sudah mereka bertiga habiskan momen bersama" jelas Amanda.


"Aku juga mencemaskan masa depan Erika jika dia terus memikirkan Zeydan! dia boleh-boleh saja mengunjungi Zeydan lagi, tapi gak kayak gini caranya!" kata Amanda.


"Erika sudah berusaha setabah mungkin setelah membunuh Zeydan demi menghentikan Perang Kehancuran Dunia Astral keempat, aku tidak ingin menyakiti perasaan Erika lebih dalam lagi dengan membuatnya melupakan dan menghentikannya mengunjungi makam Zeydan terus!" jelas Amanda.


Edward terdiam.


"Kau itu naif sekali, Yumna" kata Edward.


"Tapi ya sudahlah, itu pilihan kamu" kata Edward.


Amanda terdiam.


"Tapi Yuna sampai-sampai membantah perkataanmu yang sebagai orang tuanya, itu sudah sangat kelewatan dan itu sudah seperti durhaka" kata Edward.


"Yuna sudah kelewatan, nanti akan ku urus dia" kata Edward.


"A... Apa!? Tapi-... " belum selesai Amanda bicara.


"Tenang saja, aku takkan menyakitinya atau semacamnya" kata Edward.


"Em... " Amanda bergumam.


"Kalau begitu kau sebaiknya refreshing-lah sedikit, jangan sampai waktumu terbuang percuma hanya mengurus berkas-berkas membosankan itu" kata Edward.


"Huu! kalau kau jadi aku, kau pasti akan tahu tingkat kesusahannya!" kata Amanda.


Saat Erika ada di aula.


"Oi"


"Ng?" tanya Erika.


"Apa sebenarnya yang kau pikirkan?" tanya Edward.


"Apanya yang apa? kau sendiri datang tiba-tiba tanpa mengetuk" kata Erika.


"Ya aku tahu aku salah, tapi apa maksudmu yang membantah perkataan Ibumu?" tanya Edward.


"Ha?"


"Ibumu sudah menyarankan yang baik untuk masa depanmu sekarang kau seperti ini dan hanya memikirkan Zeydan yang sudah tiada?" tanya Edward.


"Huft... " Erika akhirnya pergi.


"Ikut aku" kata Erika dan pergi keluar dari Aula istana.


Edward mengikuti Erika.


Sesampainya di ruangan Amanda...


Ceklek! Erika membuka pintu.


"Mama, permisi" kata Erika.


"E... Erika? Kapten? ada apa ini?" tanya Amanda.


Erika berdiri di depan meja Amanda dan Edward di belakang Erika.


"Yang Mulia Aliana Jahzara Ameera, saya ingin mengatakan kalau saya sebenarnya tengah melakukan lelucon pada Anda selama dua hari ini atas bantuan ketiga kakak saya" jelas Erika.


"Eh?" tanya Amanda.


"Ng?" tanya Edward.


"Lelucon!" kata Erika.


"Baik" kata Amanda dan Edward.


"Tapi saya gak menyangka kalau Pilar pedang juga terseret ke permainan ini" kata Erika.


"Saya selama ini terus mengawasi anda yang sangat sibuk akan jadwal, jadi saya pikir anda takkan punya waktu untuk menghabiskan waktu bersama saya dan ketiga kakak saya, jadi saya merencanakan lelucon ini karena untuk mengetes anda apakah anda masih meladeni saya di sela-sela jadwal anda yang sibuk atau tidak" jelas Erika.


"Jadi, karena lelucon ini selesai, bagaimana?" tanya Erika.


"Yah, kurasa kau benar Yun-chan" kata Andika.


"Tapi emang gak terlalu?" tanya Amir.


"Tahulah" kata Umar.


"Kalian" kata Amanda.


"Jadi... " Erika mendatangi Amanda.


Erika mengulurkan tangannya.


"Aku kalah, Mama, aku salah... ternyata meski Mama jadwalnya sibuk, Mama terus meluangkan waktu agar bisa membuat kami terus tersenyum" kata Erika.


"Erika.... " kata Amanda.


"Oh ya, sebelumnya aku tidak memberitahumu" kata Erika sambil meminta Andika membawakan berkas.


"Eh? apa ini?" tanya Amanda.


"Buka saja"


Amanda membukanya dan betapa kagetnya dia melihat surat penerimaan masuk Universitas Helvetia Internasional, Erika berhasil di terima tanpa ia ketahui sama sekali.


Erika memeluk Amanda.


"Jadi, apapun yang terjadi... aku tidak akan sudi untuk mendurhakaimu" kata Erika.


"Iya... iya" Amanda tersenyum.


"Benar-benar merepotkan, kalau begitu kau tidak akan tahu kalau kuliah itu membuatku agak kesusahan untuk tidur malam" kata Andika.


"Eh?" tanya Erika.


"Benar Erika, Kuliah itu hampir selalu mengejar Deadline, bahkan sampai kadang-kadang istirahatpun tidak bisa" kata Amanda.


"A... Apa!?" tanya Erika.


"Yah, seneng-seneng saja dulu, penyesalannya diakhir, kalau di awal namanya pendaftaran" kata Edward.


"Ha... ha... gitu"


"Btw, kenapa aku jadi ingat masa lalu ya?" tanya Amanda.


"Maksudnya?" tanya Edward.


"Ini terjadi saat aku bersama Lupin Star untuk mengumpulkan informasi tentang Dirgapati, aku pergi ke masa lalu menggunakan efek Dimensi Tsukuyomi" kata Amanda.


"Sungguh!? benarkah!?" tanya Andika.


"Kau tidak pernah menceritakannya" kata Edward.


"Memang gak, tapi... aku ke masa lalu, dan bertemu Lord First, Lord Second, Lord Third, dan Lord Fourth" kata Amanda.


"Apa!?"


"Iya, itu benar


*****


"Halo! Author disini, sesuai judulnya! ada Final Episode! ini akan menjadi episode terakhir di Between Curse And Peace! jadi... untuk QnA gak tahu deh, hehehe... Insya Allah aja deh"


"Ok! see you again! sampai jumpa di karya Author yang lainnya!"