
D akhirnya berubah menjadi abu dan mati.
Nisa, Wira, dan David akhirnya bisa bernapas lega.
David terduduk.
"Akhirnya.... dia mati!" kata David.
"Tapi... semua teman-teman punya orang tua, hanya aku yang tidak" batin David.
Flashback...
"Ng? apa yang terjadi apabila tidak punya orang tua?" tanya Andika.
"Ya! pasti orang tua itu menyebalkan seperti kata orang-orang kan? suka mencampuri urusan pribadi kita! melarang ini dan itu! suka cerewet!" kata David.
"David! jaga bicaramu!" kata Wira.
"Huh!" kata David.
"David, jangan bilang begitu... aku yakin orang tuamu... sangat sayang padamu" kata Andika sambil tersenyum.
Flashback Off...
David membayangkan kedua orang tuanya.
David!
David langsung menangis.
"Ukh!! Ibu... Ayah" gumam David.
"Bersabarlah, David" kata Wira sambil menepuk punggung David.
Wira melihat Nisa.
"Nisa... " gumam Wira.
Nisa menggenggam kacamata milik Meghan dan Miranda.
"Maafkan aku Nona Meghan... Kak Miranda... karena aku tidak tahu kalau kalian memiliki banyak resiko saat kak Miranda menjadi Pilar Pengintai, dan resiko saat Nona Meghan menjadi Pilar Pengintai & Medis" batin Nisa.
"Ukh... " Nisa menunduk sambil mendekap kacamata milik Meghan dan Miranda.
Tiba-tiba Nisa merasa ada sepasang tangan yang berbeda memegang kepalanya dan mengelusnya dengan pelan.
Kau sudah bekerja keras... terimakasih, Nisa.
Nisa langsung terbelalak dan melihat sekilas impian Meghan dan Miranda.
*****
"Ayah!! Ibu!" Meghan dan Miranda berlari ke arah orang tua mereka dan saling berpelukan.
"Impian... Nona Miranda dan Nona Meghan" batin Nisa.
*****
Nisa mengerti kalau impian Meghan dan Miranda ingin mereka berkumpul kembali bersama orang tua mereka.
Nisa mendekap kacamata milik Meghan dan Miranda sambil menangis.
"Kakak... " gumam Nisa.
Tak ada yang bisa menghentikan emosi meluap-luap ini.
Akhirnya, David di rangkul Wira untuk dibantu berjalan, dan Nisa membawa pedang David, miliknya, dan Wira, mereka harus bersiap ke pertarungan selanjutnya, perang takkan berakhir sebelum Chandra musnah.
Sementara itu Andika....
Andika siuman.
"Sudah bangun?" tanya Edward.
"Ka.. Kapten!?" tanya Andika.
"Baguslah, kalau begitu... kita harus bersiap ke tempat Chandra" kata Edward.
"KAAK!! KAAK!! MEGHAN! NISA! DAVID! WIRA! MEREKA BEREMPAT BERHASIL MENGALAHKAN PASUKAN DIRGAPATI ATAS NOMOR 2!" Kata burung gagak.
"Apakah mereka baik-baik saja!?" tanya Andika.
"Kurasa" kata burung gagak.
"Wah... ini menakjubkan, kami semakin dekat dengan Chandra" batin Andika.
Sementara itu Vanora dan Rahmat...
Vanora dan Rahmat menghadapi E, Pasukan Dirgapati atas nomor 4.
"Baiklah! aku menemukannya, Rahmat! itu dia!" kata Vanora menunjuk E.
"Pasukan Dirgapati atas nomor 4! dia yang dikalahkan Ersya! mungkin dia sudah mengganti posisi... ternyata dia yang membuat benteng labirin astral ini atas perintah Chandra" batin Rahmat.
"Meghan mengorbankan nyawanya agar bisa menang! aku harus lebih bersemangat!" batin Vanora.
Vanora akan mengarah ke E untuk menebasnya.
DUK!! E langsung mengalihkan sebuah pintu untuk melindunginya dari Vanora.
"Apa-apaan itu!? itu malu-maluin banget tahu!!" batin Vanora.
Rahmat menyelamatkan Vanora.
"Vanora... kita tidak tahu apa kekuatan musuh yang kita hadapi, jadi lihat baik-baik dan tenangkan dirimu" kata Rahmat.
Vanora masih malu.
"Baik" kata Vanora.
"Ok! aku gak bakalan jatuh ke trik yang sama!" kata Vanora.
E langsung menyediakan pintu untuk trik yang sama.
Vanora menghindar dan akan menebas E, tapi E menyediakan benteng berlubang dan Vanora masuk ke dalamnya dan terpisah dari Rahmat.
"Vanora!!" Seru Rahmat dan kesulitan menghadapi E.
"NYEBELIN!!!!" teriak Vanora.
Di tempat Elena dan Ersya...
"Chandra Nagata sudah dekat! jangan lengah ya!" kata Elena.
"Ya!" kata Ersya.
Tiba-tiba...
WOSH!!! Ada sebuah benteng yang mendorong Ersya dan memisahkannya dari Elena.
"Er... Ersya!!!" Seru Elena.
"Jangan hiraukan aku, kak! terus lurus saja!" kata Ersya.
DUAK!! Benteng itu mendorong Ersya hingga tembus ke sebuah ruangan.
BRUK! Ersya terjatuh.
"Jadi kalian sudah disini... pasukan pemberantasan, ng? kau? rasanya tidak asing" kata S.
"Pasukan Dirgapati atas nomor 1!!" batin Ersya.
"Hm... aku rasa aku tahu sekarang" kata S saat melihat melihat Ersya.
"Inikah... Pasukan Dirgapati atas nomor 1? dia sangat berbeda dibandingkan Pasukan Dirgapati dan makhluk astral yang lain, dia terlihat bermartabat, dan pedang nya... melengkung, apakah orang ini dulunya adalah pasukan pemberantasan!? maka, dia juga adalah pengguna jurus-jurus jitu! dia mungkin juga ahli dalam menguasai aura-... " belum selesai Ersya berbatin.
GK!!! Tiba-tiba saat Ersya akan menarik pedangnya dari sakunya, tangannya bergetar.
"Aku tak bisa berhenti ketakutan! tubuhku menolak pertarungan! sebelumnya ini belum terjadi" batin Ersya.
"Nama... Namamu, sebutkan namamu" kata S.
"Ersya Ramanathan... namaku di Klan adalah Kitagawa Masahiko" kata Ersya.
"Kitagawa ya? jadi nama Kitagawa masih ada sampai saat ini?" tanya S.
"Me.. Memangnya kenapa!?" tanya Ersya.
"Lagipula sudah ratusan tahun, baiklah... tak apa, nama Kitagawa kusandang saat masih menjadi manusia, Kitagawa Masahiro" kata S.
"Kau termasuk Klan Kitagawa, itu berarti kau termasuk generasi anakku, jadi kau adalah anak cucuku" kata S.
Ersya terbelalak.
"Anak cucunya!? mustahil, aku tidak percaya ini! apakah itu artinya... aku, kak Erlan, dan kak Elena!? terserah! tapi, itu berarti dia punya Turquoise? tenangkan dirimu! jangan panik, ini bukan masalah" batin Ersya.
Ersya langsung tenang.
"Huh, kekuatan mentalmu layak untuk dipuji, kau bisa tenang... kau hanya panik sebentar" kata S.
Ersya langsung maju dengan pedangnya.
"Jurus tekanan frekuensi!!" Ersya langsung menebaskan pedangnya dengan dialiri jurus yang tekanan radiasinya sama dengan frekuensi radio tingkat tinggi, yang bisa menulikan telinga.
"Itu jurus yang cukup bagus, tekanan frekuensi radiasi ya? lumayan" kata S yang muncul di belakang Ersya.
"Jurus ultra sonik!!" Ersya melakukan jurus berelemen efek dari teknologi.
S selalu menghindar dan Ersya tak bisa mengenai S.
"Masahiko, jadi umurmu 28 tahun di tahun ini, dan teknikmu sangat sempurna di usia segini... meskipun kau ragu melawanku, kau punya keberanian untuk memberikan tekanan agar bisa mengalahkanku" kata S yang melihat Ersya mengaktifkan Turquoise-nya.
"Generasiku memang hebat, darahku mungkin sudah tidak dominan, tapi itu bukan masalah, meskipun namaku sudah mati, selku tumbuh dan tinggal didalam dirimu" kata S.
"Apakah kau bercanda? meski aku dan kedua kakakku adalah anak cucumu, jika sudah ratusan tahun sudah berlalu, mana ada satupun darah dan selmu yang tinggal didalam diriku maupun kakak-kakakku" kata Ersya.
WOSH!!! Tiba-tiba diwajah Ersya, tanda ninjanya bangkit untuk kedua kalinya.
"Tanda ninjanya... tanda ninjanya muncul" batin S.
"Jurus teknologi! sengatan radiasi!!" Ersya mulai menebas S dengan cepat.
"Tempo yang lumayan unik, susah sekali membaca pergerakannya teknik yang menggunakan teknik pengganggu, tekniknya mengalir dan indah, Masahiko pastilah satu-satunya yang membuat jurus berelemen benda era masa depan ini" batin S saat melihat Ersya terus menyerangnya menggunakan pedang.
"Aku harus menghunuskan pedangku juga, tidak sopan kalau aku tidak melakukannya" kata S.
"Jurus Cahaya, hempasan cahaya bintang!!"
CTRASH!!!! S langsung menebas dan lengan tangan kiri Ersya langsung putus.
Ersya yang terkejut langsung menggigit kain bajunya dan mengeratkannya untuk mencegah pendarahan.
"Jurus Cahaya!? jadi... dia bisa menggunakan teknik yang memerlukan jurus meski sudah menjadi Subjek Pandora!? kecepatannya di level yang berbeda" batin Ersya yang berlari ke arah S dan akan menebas.
"Luar biasa, dia punya keberanian untuk menahan pendarahannya meski sudah kehilangan satu tangan, kemudian langsung menyerang ke arahku" batin S.
"Jurus Optik! radiasi elektromagnetik!!"
S langsung mengambil pedang Ersya dan menusukkannya pada bahu Ersya hingga tembus ke sebuah tiang.
SRUK!!!
"GGHH!!!" Ersya menahan sakit.
"Generasiku, izinkan aku mengubahmu menjadi Pasukan Dirgapati atas, jadi kau bisa berguna bagi orang itu" kata S.