
Elena mengaktifkan Turquoise-nya dan melirik Ersya.
"Pantas saja aku tidak bisa mendapati Ersya dimanapun" kata Elena.
"Toni, jahit luka yang ada di perutmu sekarang" kata Elena.
"Ya, maaf soal itu" kata Toni.
"Jadi kau juga termasuk keturunanku?" tanya S.
"Kau bicara apapun aku takkan peduli, kita disini sebagai musuh, bukan perwakilan untuk negosiasi kedamaian" kata Elena dan mulai melakukan jurus.
"Jurus Bayangan!! Hantaman Bintang Pagi!!" Elena membuat bentuk senjata dari jurus bayangannya.
*Bintang pagi adalah salah satu senjata brutal, yang berupa bola berduri yang terpasang pada rantai dan gagang.
Elena melontarkan serangan pada S berkali-kali.
"Dia perempuan tapi fisiknya bukan main, dia sudah terbiasa mengangkat beban berat" batin S yang menghindar.
Elena mengikat tangan S yang memegang pedang bersama dengan lehernya.
S berusaha mematahkan rantai bayangannya Elena.
"Apa-apaan ini!? aku tidak bisa mematahkan rantainya!! apakah karena rantainya ini terbuat dari bayangan!?" batin S.
S akan menebas leher Elena, Elena langsung menghindar dan melompat lalu mengayunkan kapak beserta Bintang pagi miliknya ke arah S.
CTRAK!!! Elena berhasil mematahkan pedang milik S.
Elena dan S membuat jarak.
"Kak Elena berhasil!" batin Ersya.
"Makhluk astral, dan Subjek Pandora bisa beregenerasi karena adanya kekuatan, sedangkan manusia itu lemah" kata S yang pedangnya yang patah beregenerasi kembali.
"Hah... hah... " sedangkan Elena terengah-engah dengan luka goresan di wajah yang cukup panjang.
"Jujur... aku ingin menyimpan energi dan peralatanku ini untuk saat melawan Chandra, akan tetapi jika aku gagal, akan aku selesaikan apa yang sudah kumulai" kata Elena.
"Aku takkan rugi menggunakan ini disini!!" Seru Elena.
WHOOSH!!!! Tiba-tiba, tanda ninja di dahi Elena bangkit.
"Tanda... " batin Ersya.
"Ninjanya!" batin Toni.
Sementara itu Zeydan...
Erika dan Pasha sampai di sebuah benteng yang memiliki tengah-tengah dan terdapat rubik di situ.
"Itu benar, mungkin inilah rubik yang dimaksud Gibran!" kata Pasha.
"Huee... Sakit" kata Ilman yang terluka dan di bopong oleh Dirga dan Vandro di belakang mereka.
"Dirga! Ilman!" kata Pasha.
"Kita sudah melihat satu diantara dua inti, Zeydan adalah salah satu intinya! apa yang harus kami lakukan sekarang? Salsa... " batin Dirga.
"Zeydan mempunyai kemampuan untuk membuat Dimensi lain, dan membawa seseorang ke sebuah Dimensi yang dibuatnya tapi hanya secara Astral Projection" kata Pasha.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Erika.
"Karena, Zeydan bisa mengirim salah satu dari kita, tapi yang menariknya, tubuh kita bisa tetap sadar meski kita terkena atau melakukan Astral Projection" kata Pasha.
"Sebentar, aku akan menggunakan Silent-ku untuk memeriksa Zayn di dalamnya" kata Erika.
"Ya, aku akan memeriksa peralatan medis kita" kata Vandro.
*****
"Eh!? dimana kita!?" tanya Erika.
"Semacam tempat yang asing" kata Dirga.
"Pasha!" kata Aram yang menghampiri mereka bersama Gibran.
"Aram" kata Dirga.
"Ini Dimensi" kata Pasha.
Erika, Dirga, dan Ilman berbalik pada Pasha.
"Zeydan mungkin menarik kita kesini, buktinya aku masih bisa melihat apa yang terjadi di benteng meski kita Astral Projection, hanya kita yang dibawa Zeydan kemari" kata Pasha.
"Kita cari Zeydan disini! dan menyadarkannya! hanya itu satu-satunya cara apabila kita mau berbicara dengannya! akan sulit bagi kita untuk berbicara dengan Zeydan apabila Zeydan di dalam rubik!" Jelas Pasha.
"Zeydan! kau dimana!?" tanya Ilman.
"Zeydan! jangan bersembunyi! kami disini! ingin bicara denganmu!" kata Dirga.
"Ukh... Zayn, kau tahu ataupun tidak, kami tahu kalau kau sudah banyak mengemban beban sendirian, kami tidak tahu apa sebenarnya rencanamu yang menemui Chandra, mengkhianati kami, dan membuat perang kehancuran dunia astral keempat ini" jelas Erika.
Pasha, Ilman, dan Dirga terdiam.
"Tapi... aku masih percaya padamu! kau sahabatku! kau bilang kalau kami sangat berharga bagimu lebih dari apapun! dan aku benar-benar merasakan adanya keyakinan di ucapanmu waktu itu! aku bersedia akan membantumu dan berbagi rasa sakit yang kau derita!" kata Erika.
"Kumohon Zayn! kembalilah pada kami! semuanya menyayangimu! kesempatan masih berpihak padamu sampai kami melenyapkan Chandra! aku mohon Zayn! kembalilah!" kata Erika.
"Zeydan! jangan kecewakan Erika lagi! ayo! kau bilang ingin terus bersama kami sahabatmu kan?" tanya Dirga.
"Ya Zeydan, sebagai komandan sekarang, aku bisa saja meminta Kapten Edward untuk memukulmu! kembalilah!" kata Pasha.
"Kau tega membiarkan Erika terluka!?" tanya Ilman.
"Terserah apa yang ingin kalian lakukan" kata suara yang bergaung.
"Apa... kenapa? jika kau membiarkan apa yang ingin kami lakukan lalu... kenapa? kenapa kau membawa kami kesini?" tanya Pasha.
"Untuk memberitahu kalian bahwa kita tidak perlu bicara apapun lagi"
"Aku sudah mengambil jalan yang salah, dan mungkin takkan paham dan percaya apa sebenarnya yang ingin aku lakukan, lakukanlah segala cara untuk mengakhiri perang ini, aku sudah tidak berdaya, satu-satunya cara untuk melemahkan Chandra adalah dengan membunuhnya dan membunuh diriku"
*****
Vandro memeriksa peralatan medis.
BRUK!! Vandro kaget dan berbalik.
Terlihat Erika, Pasha, Ilman, Dirga, Aram, dan Gibran ambruk sangat syok karena mendengar perkataan Zeydan.
"Apa... apa yang terjadi dengan kalian?! kalian baik-baik saja?!" tanya Vandro.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dirga.
"Zeydan sudah tidak bisa ditoleransi" kata Gibran sambil menubruk kesal ke dinding benteng dimana mereka berada.
"Jadi... apa yang harus kita lakukan sekarang?..." tanya Aram yang menunduk syok.
"Kapten?" tanya Aram pada Erika.
Erika stres dan memegang kepalanya sambil bersandar di dinding benteng.
"Erika... " gumam Pasha.
Di tempat Elena...
Ersya terus mendorong dirinya agar terlepas dari pedang yang menusuknya di tiang.
"Ukh!!"
SRUK! BRUK!! Ersya berhasil dan menarik pedang di bahunya.
"Ha... Ha.. ha.. "
"Kondisiku kritis, aku tidak berdaya akibat luka ini, butuh beberapa waktu untuk menghentikan pendarahanku menggunakan tenaga dari Turquoise" batin Ersya yang jalan tertatih-tatih sambil memegang bahunya yang tertusuk.
"Kak Ersya!" kata Doni.
"Maaf merepotkan, tapi apakah kau bisa mengambilkan beberapa tetes darah milik si Pasukan Dirgapati atas nomor satu itu? ada di sana" pinta Doni.
"Doni, kau masih hidup setelah tubuhmu seperti ini" kata Ersya.
"Aku adalah Subjek Pandora" kata Doni.
"Aku... juga ingin melindungi kakak sampai akhir, meski aku tahu aku akan mati, itu lebih baik daripada aku hidup tanpa berbuat apa-apa" kata Doni.
Ersya terbelalak.
"Baiklah, ayo kita tolong kakak kita, dan membantu mereka sampai akhir" kata Ersya.
Toni berhasil menjahit lukanya dan terengah-engah.
"Hah... Hah... hah"
WHOSH!!! Tiba-tiba di pipi kanan Toni tanda ninjanya muncul.
S dan Elena terus bertarung.
"Kau semakin memiliki amarah, apa yang membuatmu marah?" tanya S.
"Karena penghinaanmu itu yang membuat darahku mendidih" kata Elena.
"Hm... keturunanku, dilihat dari dirimu, kurasa usiamu itu sekitar 40 tahunan?" tanya S.
"Memangnya kenapa?" tanya Elena.
"Kau terlihat Baby Face, tapi ingat begitu seseorang mendapatkan tanda ninja, usianya takkan lebih dari 27 tahun. Karena tanda ninja itu akan menguras energi detak jantungmu" kata S.
Elena terdiam.
"Kau mendapatkannya sekarang setelah lewat dari 27 tahun, artinya kau mungkin akan mati malam ini" kata S.
"Kau harusnya menyesali hidupmu karena seperti ini" kata S lagi.
"Oh ya? tapi adik iparku mempunyai tanda ninjanya di usia 19 tahun dan meninggal pada usia lebih dari 27 tahun tuh" kata Elena dengan tersenyum menyungging.
"Lagipula Yang mengetahui kematianku dan segala apapun yang akan terjadi padaku hanyalah Allah Tuhanku. Kau tidak berhak menentukan kapanpun kematianku. Aku ikhlas kapanpun aku akan pergi dari dunia ini" jelas Elena.
"Memangnya kenapa? meskipun aku tidak memiliki tanda ninja, selama aku termasuk pasukan pemberantasan, maka tak ada jaminan aku bisa melihat hari esok, untuk apa aku menyesali kehidupan yang fana ini? kau tidak akan bisa menjadi Pilar dengan tekad yang setengah-setengah" jelas Elena.
"Aku menyadari ini setelah kita bicara, ada satu kebohongan yang kau katakan" kata Elena.
"Huh? aku tidak mengatakan keboho-... " belum selesai S bicara.
"Tidak tidak, ada satu... pasti ada pengecualian disini, pasti ada seseorang di eramu yang hidup melebihi 27 tahun" kata Elena.
S terdiam.
"Wah, ya ampun... kau goyah tuh, sepertinya tebakan ku benar" kata Elena sambil menetralkan jurusnya.
"Apa aku ben-... " belum selesai Elena bicara.
S langsung muncul di belakangnya dan pedang S menempel di belakang Elena.
Elena langsung menghindar, pedang S meninggalkan bekas goresan di leher Elena, jika saja Elena tidak menghindar maka hidupnya telah kelar tadi.
Toni datang ke melakukan serangan pada S.
"Heh, untung saja kita melakukan pelatihan Pilar kan, Miyuki-san? kita jadi bisa meningkatkan kekuatan kita dengan pemeriksaan seleksi itu" kata Toni.
"Kau benar" kata Elena.