
"Jadi maksud dari ucapanmu, kau tidak mementingkan korban yang ada karena perbuatanmu, Chandra?" tanya Andika.
"Kenzo, kau tidak terpengaruh, syukurlah" batin Edward agak lega.
"Chandra... dia tidak bisa dibunuh meski kepalanya di penggal, kami harus menyeretnya ke sinar matahari bagaimanapun caranya" batin Andika.
"Aku sama sekali tidak mementingkan apapun selain mengabdikan diri pada Kanjeng Nyai Bestari dan Tuan Kitagawa Pascal. Apapun aku rela demi mereka meski harus membunuh manusia" kata Chandra.
"Nyawa yang telah hilang tidak akan pernah kembali meski jika menggunakan sihir, kekuatan, atau semacamnya. Hidup hanya sekali, mereka tidak akan kembali" kata Andika dengan suara berat dan menunduk.
Edward terdiam.
Di istana Carna...
Umar terdiam melihat kakak sulungnya menahan amarah, yang membuatnya teringat percakapannya dulu dengan Andika.
Flashback...
"Kak Andika"
"Ya?"
"Kau... dan Erika itu mirip ya?" tanya Umar.
"Maksudnya? kita ini saudara kandung, tentu saja mirip" kata Andika.
"Bukan itu, cuman... kau dan Erika dominan mirip Ibu, sedangkan Ibu berkata aku dan Amir dominan mirip Ayah. kalian sama-sama baik dan penuh aman kasih sayang. Namun sangat mengerikan apabila marah" kata Umar.
"Hm? memangnya kau pernah melihat aku marah?" tanya Andika.
"Hmm... jujur saja, saat kau menghajar preman yang berusaha mencelakakan dirimu dan Erika. Dan kakak gak ingat? bagaimana Ibu dan Erika marah? kau bahkan pernah tidak tidur 3 hari karena amarah Ibu" jelas Umar.
"Jangan diingat! bikin merinding! Yun-chan kalau marah sudah 1/2 mirip Ibu!" kata Andika.
Flashback off...
"Makhluk hidup yang bernafas, tidak hidup seperti Iblis, makhluk astral, dan sebagainya. Kenapa kau merenggutnya? kenapa kau menindas nyawa orang-orang yang diberikan hak untuk hidup?" tanya Andika semakin menekan.
"Kata-kata itu... kenapa? sama seperti 45 tahun yang lalu?!" batin Chandra.
"Apa yang membuatmu senang melakukan itu? apa yang kau nikmati dari itu? seperti apa nyawa bagimu? kau anggap nyawa itu seperti apa?" tanya Andika dengan Turquoise dimatanya yang membuat ucapannya amat mengintimidasi.
Chandra melotot karena sosok Andika mirip dengan orang yang pernah membuatnya sekarat dulu.
"Akira... Kau!!!" seru Chandra.
"Akira?!" batin Andika.
Andika tiba-tiba langsung teringat mimpi yang muncul dibenaknya.
*****
Ada seorang laki-laki berusia 30-an tengah menggendong bayi perempuan yang baru berusia 2 bulan, dan menemani seorang anak laki-laki yang baru berusia 8 tahun.
"Wah! paman hebat sekali!" kata Andra yang saat itu masih berumur 8 tahun melihat Akira bisa dengan sangat cepat dan handal menyelesaikan permainan rubik.
"Ah! Paman! Ana memegang jarimu!" kata Andra.
"Iya, adikmu lucu kan?"
"Ahaha! Ana! bagaimana Paman bisa menemani kakak bermain jika kau memegang jarinya?" tanya Andra sambil sedikit tertawa dan menggendong adiknya.
"Akira-san, maaf membuatmu kerepotan ya" kata Arif, kakek Andika dari pihak ibunya yang datang sambil membawa nampan makanan.
"Tidak masalah, melihat anak-anakmu membuatku tenang dan santai"
"Karena Mika tidur mungkin karena kelelahan, aku jadi menitipkannya padamu. Aku sungguh tidak enak hati" kata Arif sambil mengambil Ana dari Andra.
"Ah Papa!" kata Andra.
"Jangan sungkan begitu, biarkan Mika-san istirahat, karena melahirkan dan merawat anak ity pekerjaan yang berat. Kau bisa meminta bantuan padaku kapan saja. Tapi, sepertinya aku sangat mengganggu sering menginap dan makan di istanamu"
"Tidak, jangan menolak kebaikan apapun yang aku dan istriku berikan. Karena jika bukan karena dirimu, Pandora pasti sudah jatuh ke tangan musuh dan pembantaian Kitagawa akan semakin merajalela. Yang kulakukan tidak akan pernah bisa membayar hutang budi itu" jelas Arif.
"Tidak perlu hutang budi, sudah sangat lazim seorang manusia menolong sesama"
"Dan menyelamatkan Nyawa adalah hal yang sangat utama. Tidak akan kubiarkan siapapun merenggut hal itu"
"Begitu... " kata Arif.
Flashback Off...
"Akira... Akira... siapa dia? aku pernah membaca di sebuah buku tentang Kitagawa pemberontak" batin Andika.
Chandra menyerang Andika dan Edward.
"Serangannya sekitar 10× lipat! seharusnya saat misi di dinding selatan ku bunuh saja makhluk ini! sulit sekali mendeteksi serangannya dengan luka di wajah dan Silent-ku yang hanya satu" batin Edward.
"HAAA!!!" Edward dengan cepat langsung menebas semua tentakel Chandra. Tapi Chandra meregenerasikannya dengan sangat cepat.
"Dan yang kulihat, Pria yang bernama Akira itu, dekat dengan kakek" batin Andika.
"Tangannya.... memanjang, dan juga tajam seperti pedang! ini juga cepat sekali" batin Andika.
Andika terus berusaha mendekati Chandra, sedangkan Edward sudah menebas semua tentakel Chandra dengan sangat cepat namun regenerasi Chandra tidak masuk akal.
BRUK! Andika terlempar, bahkan Chandra tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Kenzo!!!" Seru Edward.
Edward sangat jauh dari tempat Andika, Chandra akan melakukan serangan tebasan, hanya dengan itu... nyawa seseorang akan mati, tapi mungkin Andika akan sekarat dan bisa memulihkan diri karena dia pemegang kutukan Pandora.
"Gawat! lakukan jurus! ayo! tapi, tubuhku... tidak cukup tenaga untuk mengeluarkan jurus pedang! tidak seperti Kapten Edward! aku... hanya bisa mengeluarkan jurus bayangan! ya! gunakan itu! cepat!" batin Andika yang tidak bisa bergerak karena ototnya meregang.
WOSH!! Tiba-tiba ada yang menggendong Andika dengan bridal style dan menyelamatkan Andika sebelum serangan Chandra mencapai Andika.
Chandra terbelalak dan melontarkan tentakelnya.
WUSH! CRAK! CTRANG!! si orang misterius yang menyelamatkan Andika menangkis tentakel Chandra dengan cepat dan memotong-motongnya.
"Tebasannya, cepat sekali. Bahkan dapat memperkirakannya dengan baik, ia bahkan tahu bagian mana tentakel ku yang gampang di tebas" batin Chandra.
"Yang dia katakan benar, semua korban yang kau hasilkan dari perbuatanmu tidak akan bisa membuat mereka kembali. Mereka tidak akan kembali, maka dari itu... kau harus membayarnya dengan nyawamu"
"No... Nona Phantom Lady!?" tanya Andika melihat seseorang berjubah hitam dengan topeng menyelamatkan dirinya.
"Siapa dia!?" batin Edward.
"Jurus teleportasi... cepat sekali" batin Chandra.
KRTK!! Topeng si seseorang misterius itu retak karena terkena tebasan Chandra.
"Terimakasih... karena kalian sudah bisa bertahan sampai sejauh ini, kurasa dengan begini aku tak perlu menyembunyikan identitas sebenar ku dibalik topeng Phantom Lady-ku" kata Phantom Lady sambil melepas topeng di wajahnya.
Andika sangat terbelalak dan bahkan sangat kaget, belum pernah dia sekaget ini sebelumnya melihat siapa sebenarnya Phantom Lady itu.
Edward bahkan kaget sekali.
"Kau!? kenapa kau masih hidup!? seharusnya kau sudah mati!!" seru Chandra.
"Apa kabar Andika? oh bukan... Putraku?" tanya seseorang tak lain adalah Amanda, Ibu Andika sendiri.
"I... Ibu..." lirih Andika tak percaya, Ibunya yang seharusnya sudah meninggal 6 tahun yang lalu kini ada di depannya.
"Yu... Yumna!!?" tanya Edward tak percaya melihat sepupunya.
Di istana Carna...
"Nona Adelia!! bantuan telah sampai!" kata Amir dengan penuh rasa syukur.
"Benarkah!?" kata Adelia yang ikut lega mendengarnya.
*****
Amanda perlahan menaruh anaknya dengan penuh kasih sayang.
PUK! Sambil menepuk dan mengelus kepala Andika.
"Kau sudah berusaha dengan baik bersama Kapten, pulihkan dirimu. Anakku memang hebat" kata Amanda sambil tersenyum.
"Hiks... huaa!! huaa!!" Andika menangis dengan cengeng.
Edward membendung air matanya.
"Fufu... " Amanda tertawa kecil dengan bergumam sambil tersenyum melihat Andika yang cengeng seperti dulu.
Chandra menatap Amanda dengan tatapan membunuh, sedangkan Amanda melirik Chandra bagaikan predator dan lirikan penuh kebencian.
"Apa kabarmu, Chandra Nagata?" tanya Amanda.
"Heh, seperti yang kau lihat, aku tidak akan kalah karena sudah memulihkan tenaga ku" kata Chandra.
"Oh? jadi tak puas kah hatimu kau sudah membunuh suamiku, kakakku, khodam-ku, dan hampir membunuhku? sekarang kau ingin melenyapkan yang lainnya juga?" tanya Amanda.
"Itu karena mereka yang punya nyali ingin menghabisi diriku, jadi aku takkan segan-segan mengirim mereka ke akhirat" kata Chandra.
"Yah, sekarang gantian dirimu yang akan ku musnahkan beserta sekte-mu, karena sekarang... sekte-mu sudah diurus oleh para Lupin Star dan para pengawal kerajaan" kata Amanda sambil tersenyum.
Di markas sekte Dirgapati...
Semua anggota sekte ditahan oleh Agensi SAI, pengawal kerajaan, dan Lupin star yang mereka semua dikomandoi oleh Sembilan.
"Manda! saya sudah menahan mereka!" kata Sembilan sambil menekan Earpiece miliknya.
DUAK!!
"Jangan mengganggu Nona!" kata Radith sambil menjitak kepala Sembilan.
"Adeh! Sakit, Dith-Dith!" kata Sembilan.
DOR! Sembilan tiba-tiba menembak pistol melalui samping kepala Radith.
"Hampir saja, Dith-Dith! kalau gak, pasti kamu udah ke akhirat. Hahaha!" kata Sembilan yang ternyata menembak salah satu anggota Dirgapati yang berniat menyakiti Radith.
Kembali ke benteng labirin astral...
Amanda berkeringat keheranan mendengar keributan Sembilan dan Radith.
Mata Chandra langsung muncul urat-urat merah bagaikan marah membara.
"Oh ya, Andika! sudah lama sekali ya? hmm, kalau ku perhatikan lagi kamu ini mirip dengan Ayahmu ya? hmf, biar kuingat! dia selalu berpura-pura dan usil! dan juga-... " belum selesai Amanda bicara.
Chandra tiba-tiba muncul di belakang Amanda dan akan menebas lehernya.
"Di belakangmu!!" seru Edward.
"Aku tahu" kata Amanda dan menggendong Andika ke tempat Edward dengan jurus teleportasi.
"Kau akan aman disini bersama Kapten, Kapten... tolong titip Andika" kata Amanda.
Chandra langsung membuat beberapa makhluk astral abnormal dan menyerang ke arah Amanda.
"Jurus Fujiwara... radiasi Silent" Amanda mengarahkan tangannya ke depan dan bagaikan semburan topan, makhluk astral itu langsung terdorong dan hancur menjadi abu.
"Oh ya Andika, Kapten, boleh kulanjutkan storynya gak?" tanya Amanda.
"Sebentar saja!" kata Andika dan Edward.
"Baiklah, karena mereka yang minta ok? jadi Chandra... " Amanda langsung muncul ke belakang Chandra dengan jurus teleportasi.
"Kapten sudah pernah melihat kehebatanku, jadi bolehkan? kalau aku menunjukkan kehebatanku pada anakku sendiri?" tanya Amanda.
WHOSH!!! Bagaikan dikelilingi, ada aura biru pekat yang menyelimuti tubuhnya Amanda yang membuatnya seperti berbahaya untuk dihadapi.
"Sudah berapa kali kau menggunakan teknik Ryu?" tanya Aika di dalam telepati.
"Hmf, entahlah"
"Mana Ryu... menyelimutinya" batin Andika.
"Lagipula meski kau sudah berkembang sejauh ini atau lebih, tak ada gunanya kau ingin memusnahkan diriku, aku akan mencapai tahap keabadian dimana aku tak dapat di hancurkan" kata Chandra.
"Sayangnya... impianmu akan pupus malam ini juga" kata Amanda.
"Kau percaya diri sekali bisa menganggap Putrimu itu baik-baik saja" kata Chandra.
"Lagipula... Pilar dengan jubah merah muda, dan Pilar berjubah coklat yang ahli dalam sulap itu sudah tewas di tangan anak buahku" kata Chandra.
Amanda terbelalak.
"Kak Vanora... Kak Rahmat!?" batin Amanda.
Chandra dan Amanda akhirnya bertarung dengan sengit, bisa di bilang mereka setara.
"Ibu... " gumam Andika.
Chandra akan menyerang Edward dan Andika menggunakan tangannya yang bisa memanjang.
"Gawat!! aku tak sampai!" batin Amanda.
"Kapten!!" Teriak Amanda.
Edward berbalik dan tak sempat menghindar.
BRAK!! Tiba-tiba atap benteng di atas Chandra jebol.
"Hentikan semua ini!!" kata Vanora yang tiba-tiba datang.
"Apa!? wanita itu kan!?" batin Chandra.
"Vanora!? dia masih hidup!?" batin Edward.
"Kak Vanora!" batin Amanda.
Vanora melayangkan pedangnya yang tajam tapi juga elastis pada Chandra tapi tidak menimbulkan apapun.
"Ba... Bagian itu tidak menimbulkan bekas!! aku tak pernah sekaget ini sebelumnya!!" batin Vanora.
Tangan panjang Chandra yang akan mengenai Edward dan Andika tiba-tiba terpotong karena lemparan kartu AS dari seseorang.
WHOSH! Lemparan kartu itu kembali ke sisi-sisi tangan seseorang.
"Kalian tidak waspada" kata Rahmat.
"Kak Rahmat!" kata Andika.
"Rahmat!?" tanya Edward.
"Amanda!? kau... " Rahmat menghentikan kata-katanya.
"Kamu, masih hidup!?" Vanora membendung air matanya.
"Bagaimana bisa!? bukannya kau-..." belum selesai Rahmat berkata-kata.
"Aku mengerti perasaan kalian, tapi aku mohon kesampingkan dulu hal tersebut" kata Amanda.
"Apa yang terjadi? aku telah melihat dari penglihatan E kalau mereka sudah tewas!? kenapa mereka masih disini!?" batin Chandra saat melihat Rahmat dan Vanora yang bercakap-cakap dengan Amanda.
"Apa yang kau lakukan... E!!?" tanya Chandra.
"Aku lumayan bersyukur Vandro menolongku dengan menggenggam jubahku... tapi apakah benar, Mama sudah tiada?" batin Vanora sambil mengingat Bella.
Di tempat E...
Ternyata Vandro memanipulasi penglihatan E dengan alat-alat medis milik Bella dan beberapa serbuk bidara.
"Apa yang sudah aku lakukan? aku sedang memanipulasi penglihatan wanita ini!" kata Vandro.
*****
"Chandra... kau! harus menanggung kesalahan yang kau buat! kau telah mengambil Ibuku dariku!! aku akan membuatmu menyesal!" suara Vandro bergaung di telinga Chandra, tapi karena dia memanipulasi penglihatan E, benteng labirin jadi bergetar.
"Apa-apaan ini!? kenapa bentengnya bergetar!?" batin Andika.
"Resonansi!?" batin Amanda.
"Mulai saat ini juga! akan kupastikan kau musnah!" kata Vandro dengan marah sambil menangis.
Basa-basi dan Fakta 😋
Alasan kenapa Chandra sangat lemah saat di Dinding selatan, karena perisai Chandra terlalu terpapar akan sinar matahari yang membuatnya melemah, tapi tak sepenuhnya melemah karena memiliki perisai Buto Ijo Ghaib yang efeknya sementara.
BONUS!!!
Di istana Carna...
"SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI SEMUANYA!!"
"Mohon maaf lahir dan batin ya, kakak-kakak tersayang" kata Erika dengan wajah datar.
"Wuaah!! my satu-satunya adik perempuanku!! kamu gak salah apa-apa! kakak yang salah Yun!" kata Andika.
"Syukurlah ada pengakuan dosa pada kakak pertama kita" kata Umar.
"Hush, Umar gak boleh gitu" kata Amir.
"Ayo, nastarnya dimakan!" kata Amanda.
"Makasih, Mama!" kata Erika.
"Huft, capek! Oi! Hikaru! kenapa tidak sholat ied di istana saja? lebih dekat kan? ini juga Mizuki main dukung aja" kata Edward.
"Biar lebih enak suasananya, jangan malu-maluin deh!" kata Amanda.
"Ck! ya! ya!"
Tok! Tok! Tok! Pintu ruang keluarga ada yang mengetuk.
"Siapa?" tanya Andra.
"Assalamualaikum!! Selamat hari raya idul fitri!!" seru Rafi.
"Rafi, jangan permalukan Ayah" kata Azka.
"Gak apa Pah, lagi senang Rafi" kata Felicia, Ibunya Rafi.
"Andika! Erika! Amir! Umar!" kata Nisa yang datang bersama Zeydan, Zaki, dan Nina.
"Wa'alaikummussalam, baru sampai Fi? Ki?" tanya Erlan.
"Iya Lan, maaf ya kalau lama. Habis beres-beres tadi" kata Zaki.
"Hehe, Iya kak. Halo semua keponakan Paman!" kata Rafi.
"Taqaballahu minna wa minkum, Paman Rafi" kata Amir.
"Iya, Taqaballahu juga Amir" kata Rafi.
"Terimakasih karena mau datang Nina,Tante" kata Amanda.
"Sama-sama, Nda!" kata Nina.
"Sama-sama, Ana" kata Felicia.
"Ck, jika tidak ada kejahilan maka raya tahun ini akan amat membosankan!" batin Erika.
Erika melirik Edward yang tengah main PS.
"Hehe, jadi ada ide aku" batin Erika.
"Semuanya! Kapten mau bagi-bagi angpau lebaran!" kata Erika dengan heboh.
"Ha? apa?" tanya Edward.
"Serius? mau! mau!" kata Andika yang ke arah Edward.
"Aku juga!" kata Zeydan yang menyusul Andika.
"Rezeki tidak boleh ditolak!" kata Umar yang langsung bergegas.
"Duh, ikut juga! dapat pemasukan!" kata Amir.
"Erika, ayo! mumpung dapat bayaran dari atasan!" kata Nisa.
"Ya!"
"He... Hei! apa-apaan ini?! aku tidak ada rencana bagi-bagi angpau! hei!" kata Edward yang dikerumuni.
"Sudahlah Ward, gak apa-apa" kata Andra.
"Aku juga mau dong, kakak sepupu?" tanya Rafi.
"Kau dah Gede!!"
"SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI!!"