
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Pasha.
"Aku mendapatkan gulungan ini dari Paman Alen" kata Erika.
"Alen? Oh!! Juniornya Yumna saat dia kuliah dulu! ya! ya!" kata Meghan.
"Aku tak kenal" gumam Ilman.
Edward langsung mengambil gulungan itu.
"Apa.. yang kau lakukan, Kapten? dengan itu, kita bisa menyegel mode Tensei kembali?" tanya Salsa.
"Tidak bisa, karena Chandra bisa saja mendeteksi kita... saat ini dia mengincar Kenzo dan Zeydan, kita tak bisa mengambil resiko yang sama dengan adanya korban di rencana sebelumnya, tapi kali ini berbeda... musuh yang kita hadapi adalah pembunuh berantai yang telah membantai pasukan pemberantasan dan juga kepolisian militer" Jelas Edward.
Mereka terdiam.
"Lagipula... ini adalah keputusanku" kata Edward sambil memegang gulungan itu.
"Kau memang tak berubah, keputusanmu selalu tak bisa digugat" kata Meghan.
"Lalu, bagaimana kita bisa memutuskan jurus mode Tensei?" tanya Zeydan.
"Kita akan memberikan urusan ini pada Lord Fifth, karena untuk mematahkan jurus Tensei memerlukan yang berenergi tinggi seperti keturunan Fujiwara, dan yang ahli dalam mengatur Mana" Jelas Meghan.
"Ya, kita hanya bisa berharap seperti itu dan kembali ke Dimensi" kata Edward.
"Kita akan mengurus si tahanan di bawah tanah terlebih dahulu" kata Meghan.
"Ah... mulai lagi" batin mereka semua kecuali Meghan dan Edward.
Di markas Lupin Star...
"Ray... hidup kembali!?" tanya Phantom Lady.
"Jangan terlalu terkejut seperti itu, ini karena Chandra yang menggunakan sihir sekte terlarang yaitu mode Tensei" kata Cassiopeia.
"Bagaimana aku tidak kaget!? biarkan aku kembali ke Pasukan pemberantasan! aku harus bicara banyak dengan Ray!" kata Phantom Lady lagi.
"Kami tak bisa mengizinkan, karena Chandra bisa saja mengetahui kejadian yang sebenarnya tentang penyegelan Pandora 3 tahun yang lalu dan membuat rencana kita dan Lord Fifth untuk mengalahkan Chandra bersama menjadi gagal rata" kata Perseus.
"Tolong tenangkan dirimu, kami melakukan semua ini untuk melindungimu" kata Andromeda.
"Sampai kapan? aku tak tahu harus apa! aku juga tidak bisa membiarkan Carna dan Verheaven kosong tanpa pemerintahan!" kata Phantom Lady.
"Hal itu sudah diambil alih oleh mertuamu dan adik sepupumu" kata Cassiopeia.
"Lagipula, kalau kau malah melakukan orientasi dengan Gerakan Pemberantasan Sekte dan Organisasi sesat, Edward mungkin takkan bisa menerima kenyataan yang sebenarnya, hehe" kata Perseus dengan sedikit tertawa.
"Kami juga tak bisa memastikan kapan kita akan mengalahkan Chandra Nagata, kita hanya bisa menunggu disaat yang tepat tapi kita hanya bisa yakin kalau Chandra Nagata akan kalah telak pada seorang Fujiwara Utama" kata Cepheus.
"Baiklah... aku mengerti"
Bonus Chapter!
Para Pilar dibalik layar!
"Capek gak ya? setelah syuting?" tanya Ilman.
"Ya iyalah! lebih bagus dapat peran figuran!" kata Dirga.
"Bersyukur saja teman-teman" kata Pasha.
"Ok! kita akan membahas isu para Pilar di balik layar! ini cerita dimana mereka baru masuk sebagai tokoh-tokoh!" kata Andika.
Pada malam hari...
Para Pilar tidur di sebuah ruangan yang sama yang hanya beralaskan busa kasur, bantal, dan selimut.
"Bagaimana kalau kita buat rencana?" tanya Ersya, rupanya mereka sedang asik bercerita sebelum tidur.
"Yah, langsung tidur saja" kata Elena.
"Tidak seru! tidak seru! bagaimana kalau setelah guru pergi... kita, perang bantal!" kata Vanora, mereka memanggil Pak Andi dengan guru karena yang mengemban jabatan sebagai Shinobi legendaris saat itu Andra yang menjadi Lord Seventh.
"Ya! ya! setuju! setuju!" kata mereka semua kecuali Edward yang terbaring dan Rahmat yang sedang membaca buku.
"Hei! jangan berisik dan cepatlah tidur!" kata Pak Andi.
"Baik"
KLIP! Lampu sudah dimatikan.
"Guru sudah pergi!" bisik Toni.
"Ayo! bangun!" bisik Meghan.
"Mulai!" Toni, Ersya, Farel, sedangkan Rahmat hanya melemparkan bantal ke arah mereka semua.
"Kurasa ini terlalu rusuh buatku" kata Elena sambil bermain tablet.
"Hei! Hei! jangan ribut atau tidak, guru akan marah" kata Edward dengan datar dan dingin.
BAK! BAK! BUK! Ersya dan Toni melemparkan bantal ke Edward.
Sedangkan Farel memakaikan selimut dan menggulung Edward.
"Eh! Oi! aku tak bisa melihat!" kata Edward.
"Berisik!" kata Pak Andi yang datang dan menyalakan lampu.
Semuanya langsung berpose pura-pura tidur sedangkan Edward kesusahan membuka selimut.
"Sudahlah! nanti guru galak datang!" kata Edward.
"Siapa yang kau bilang galak?" tanya Pak Andi.
"Gu.. Guru" gumam Edward sambil menyingkirkan selimut darinya.
"Saya hanya mencari... selimut, mereka dari tadi perang bantal" kata Edward.
"Apanya? mereka tidur sambil berpose!" kata Pak Andi.
Yah, Toni dan Ersya tidur dengan satu bantal sambil duduk sedangkan Farel menahan tawa sambil tidur pura-pura.
"Kau tidak bisa seperti itu kan!? jadi jangan berisik!" kata Pak Andi.
"Baik... maafkan saya" kata Edward.
KLIP!
"Kami hanya ingin membuatmu disayangi oleh Guru" kata Meghan.
"Kau itu terlalu hebat, Edward" kata Elena.
"Baiklah! kita akan melihat pedang masing-masing! ini dia... tapi pedang ku ini sulit di tarik! siapa yang bisa menariknya?" tanya Farel.
"Aku tak bisa!" kata Meghan.
"Aku juga" kata Vanora.
"Sepertinya ini perlu di gergaji" kata Rahmat.
"Bagaimana denganmu Edward? kau ingin coba?" tanya Farel.
Edward menarik pedang milik Farel dengan sangat gampang.
"Hebat!!" kata Farel.
"Perfect" kata Ersya.
Edward akhirnya melihat sedikit dan melakukan jurus secara tutorial.
"Kau sedikit lembek sepertinya" kata Toni.
"Siapa yang kau sebut lembek!?" tanya Edward.
Edward akhirnya menirukan beberapa jurus pedangnya.
"Aku bisa!" kata Edward.
KLIK! Pak Andi datang dan menyalakan lampu.
"Gila ni anak" kata Pak Andi.
"Gu... guru" kata Edward.
"Lihatlah! mereka tidur berpose lagi!" kata Pak Andi sambil melihat Edward.
Kali ini, Ersya memegang pedang sambil berdiri dengan tidur pura-pura dan Toni duduk bersimpuh sambil memegang ujung pedang Ersya sambil menahan tawa dan tidur pura-pura.
"Jangan banyak bermain! cepatlah tidur! sudah malam! sampai capek aku memarahimu!" kata Pak Andi.
"Baik... maafkan saya" kata Edward.
BLAM!
"Ya ampun, tadi itu hampir saja" kata Rahmat.
"Aku lagi yang kena marah" kata Edward.
"Kan kami bilang kami berusaha membuat guru menjadi selalu memperhatikanmu" kata Vanora.
"Oh ya! kalian ingin lihat ini?" tanya Toni.
"Ini nih biang keroknya" kata Rahmat.
"Ta-da! majalah Teen edisi terbatas!" kata Toni.
Toni, Ersya, dan Farel membacanya, sedangkan Rahmat yang melirik langsung beristighfar dan meminta ampun kepada Allah karena atas lirikannya.
"Kenapa memangnya? apa bagusnya seperti itu?" tanya Edward.
"Kau belum lihat! lihat dulu!" kata Ersya.
"Dasar mata tak bisa dijaga" kata Vanora.
"Lihat saja, kalau keterusan kulaporkan pada Andra" kata Elena.
Edward melihatnya tapi semakin serius bahkan sampai Silent-nya aktif.
"Hahaha! lihat! suka juga kan!" kata Ersya.
"Ngeyel sih!" kata Farel.
"Dasar Edward, seleranya rendahan" kata Toni.
"Hei!" seru Pak Andi dari luar.
"Guru akan datang! cepat! Pura-pura tidur!" bisik mereka ricuh Edward langsung berhenti membaca.
Mereka semua tertidur pura-pura saat Pak Andi masuk ke kamar.
"Hmf... " Pak Andi menghembuskan nafasnya.
"Majalah porno? sudah ku bilang kalau jangan membawa dan membaca benda seperti ini!!" Seru Pak Andi.
Mereka semua berdiri kecuali Edward yang bengong.
"Maafkan kami!" kata mereka semua kecuali Edward.
"Baiklah, sekarang selesai main-mainnya, katakan padaku siapa yang membaca ini?" tanya Pak Andi.
Toni, Farel, Ersya, Rahmat, Elena, Vanora, dan Meghan langsung menunjuk Edward.
"Bagus, tikus tertangkap" kata Pak Andi.
"Bu.. Bukan, tapi aku-... " belum selesai Edward bicara.
"Jangan banyak alasan! cepat! kah harus dihukum!" kata Pak Andi dan menarik Edward keluar kamar.
Yang lainnya hanya menahan tawa dan Toni melambaikan tangan pada Edward.
Disitulah permulaan Edward menjadi sangat dingin dan sangat datar, juga tak suka basa-basi karena kejadian itu.
Banyak mungkin yang penasaran kenapa sama Amanda dia tak begitu? karena dia pernah menceritakannya pada Amanda dan Amanda hanya tertawa yang membuat Edward menjadi malu tapi dengan tampang kesal karena tak percaya dia bisa menceritakan hal semudah itu.
Tapi Amanda memakluminya karena bagaimana kan? manusia pasti ada yang usil, ini dan itu, itulah kenapa Edward lebih percaya pada sepupunya.