
Pasha sedang ada di penjara menemani Zeydan dan Erika.
"Apakah kau tidak bosan? kesini terus?" tanya Zeydan.
"Aku sangat bosan karena tidak ada kalian di taman, ruang makan, dan lainnya" kata Pasha.
"Bagaimana janji kita untuk melihat Bintang, Bulan, dan Matahari?" tanya Pasha.
Zeydan dan Erika terdiam.
"Kita akan berbicara bertiga lagi di taman itu menyenangkan bukan?" tanya Pasha.
"Sangat"
Sedangkan Edward berada di lantai dua yang tersambung dengan penjara bawah tanah sedang mendengarkan perbincangan mereka bertiga.
Kebersamaan Zeydan, Erika, dan Pasha itu mengingatkannya pada saat Amanda, Andra, dan dirinya sedang bertiga ada misi.
17 tahun yang lalu...
Edward dan Andra berada di kota Magnaga sedang menunggu Amanda di sebuah rumah.
"Kau yakin? ingin Yumna juga menjalankan misi?" tanya Edward yang duduk dan mengelap pisaunya.
"Saya percaya pada adik saya, lagipula dia agak berpengalaman tak apa jika dia membantu kita dalam misi memata-matai transaksi ilegal" kata Andra.
"Jangan menggunakan kata 'saya' atau 'kamu' kita ini kerabat, tapi blood relatives kan?" tanya Edward.
"Mau bagaimanapun meski kita sepupu, tapi kita berbeda karena Utama dan Cabang kan?" tanya Andra.
Tiba-tiba...
BRAK!! Pintu rumah terdobrak dan Amanda dengan kondisi tangan terikat kebelakang terjatuh.
"Ukh!!"
"Ana!? kau kenapa?" tanya Andra.
"Aku yang melakukannya" kata seorang preman yang datang dengan dua anak buahnya.
"Preman kelas teri" batin Edward yang berdiri.
"Ini daerah kekuasaan ku sekarang! segera angkat kaki!" kata si preman sambil memegang dagu Amanda.
"Le... pas!" kata Amanda.
Edward mendatangi Amanda yang terikat dan membantunya berdiri.
"Heh, baiklah... itu mempermudah, jadi aku akan membuat ini menjadi markas-..." belum selesai si preman bicara sambil memegang bahu Edward.
CTAS!! Edward langsung menangkis tangan si preman dengan pisaunya tanpa bergerak sedikit pun.
"Jangan sentuh dia ataupun aku dengan tangan kotormu" kata Edward sambil memberikan isyarat pada Andra untuk menjaga Amanda.
"Ukh!" Si preman langsung kesakitan.
"Bos! kau baik-baik saja!?" tanya anak buahnya.
Andra sedang membantu Amanda, sedangkan Edward menatap mereka dengan Silent-nya yang merah pekat karena marah.
"Ukh! dia orang yang berbahaya, ayo pergi!" kata si bos dan mengisyaratkan mereka pergi.
Akhirnya Edward menutup pintu.
Andra membuka tali yang mengikat Amanda.
"Terimakasih kak Andra, Kapten" kata Amanda.
"Sama-sama, kok bisa ketemu preman sih?" tanya Andra dengan lembut.
"Mana premannya kelas Teri pula, ga asik" kata Edward yang kembali duduk sambil mengelap pisaunya, kali ini dia duduk di kursi ruang tamu.
"Bersyukur mereka gak berbahaya Edward!" kata Andra.
"Sebenarnya, tadi saat perjalanan jalan kaki mau ke rumah, aku ketemu sama anak burung Elang ini" kata Amanda sambil mengambil anak burung elang yang ia sembunyikan di saku roknya.
"Kecil dan menggemaskan, lalu apa hubungannya dengan preman-preman tadi?" tanya Andra saat melihat anak burung yang di pegang adiknya.
"Em... tadi anak burung elang ini diincar sama mereka! sampai anak burung Elang ini jatuh dan ketemu aku! terus ku sembunyikan di rok, ketemulah aku sama mereka bertiga! dan di godain lah, ini lah. Itu menyebalkan, Dasar...!" Jelas Amanda.
"Lalu kenapa gak lari?" tanya Andra.
"Aku gak bisa lari, ntar anak burung elangnya bisa luka di sakuku, lagipula mereka juga ternyata sudah mengincarku sampai-sampai tahu markas rumah ini" jelas Amanda.
"Huh, begitu? coba ku lihat?" tanya Edward.
"Anak burungnya?" tanya Amanda.
"Ya iyalah, siapa lagi?" tanya Edward.
"Nih"
Edward memperhatikan burung itu dengan seksama.
"Sudah selesai" kata Edward yang selesai mengobati anak burung.
"Wah!! terimakasih, Kapten!!" Seru Amanda.
"Tumben kau peduli? biasanya orang lain minta tolong kau tak peka" kata Andra meledek.
"Apaan emang? nolong gak boleh?" tanya Edward.
"Bukan, kayak gak biasanya... tumben-tumbenan" kata Andra meledek.
"Hentikan! jangan meledek seperti tidak ada kerjaan!" kata Edward.
"Baiklah, aku ada roti tadi beli, mau?" tanya Andra.
"Wah! burger!" kata Amanda.
"Burger? oh... iya, Burger maksudnya! lama gak makan burger sih" kata Andra.
"Aaa... Eh? serius?" tanya Amanda saat akan memakan burger.
"Ya, kau mau Edward?" tanya Andra.
Edward diam saja sambil mengelap pisaunya.
Amanda mengambil burger dari Andra.
"Kapten mau?" tanya Amanda.
Edward hanya mengambil burger dan mengatakan terimakasih.
Edward juga melakukan hal yang sama, tapi menaruh tangannya di atas tangan Andra untuk menjaga batasan, tapi memang niat untuk menepuk kepala adik sepupunya itu.
Amanda tersipu dan terbelalak dengan mata yang menggemaskan.
"Hihi... " Amanda hanya cekikikan.
Setelah selesai dari Magnaga, mereka ke markas di Dimensi Astral.
Andra dan Edward sedang duduk di beranda atap.
"Bagaimana pekerjaanmu sebagai Lord Seventh? melelahkan? kau juga memegang tahta kerajaan Carna, menjadi presdir perusahaan yang di kelola keluarga Ameera, keluargamu sendiri, menjadi pemimpin klan Fujiwara, menjadi kepala keluarga Ameera, cukup melelahkan" kata Edward.
"Huh, sangat kau tahu? saya jadi khawatir kalau saya menelantarkan Ana karena pekerjaan saya yang sibuk" kata Andra.
"Jujur... Erlan pas juga dengan Ana sebenarnya, saya harap Erlan bisa menjaga Ana nanti" kata Andra.
"Itu saja yang kau khawatirkan?" tanya Edward.
"Bukan itu, hanya saat Erlan, dan saya tiada nanti... tolong, jaga adikku" kata Andra.
Edward kaget.
"Kenapa? aku?" tanya Edward.
"Kau gak mau?" tanya Andra.
"Bukan begitu, aku hanya tidak bisa memastikan dia selalu aman" kata Edward.
"Mau bagaimanapun juga, selama ini saya sudah melihat dan membuat kesimpulan kalau kamu berurusan dengan Ana, pasti berlawanan dengan sikapmu yang sebenarnya, sikapmu yang sebenarnya kan suka marah, tak peka, berwajah masam dan dingin ( meski tampan ), dan tak peduli" Jelas Andra.
"Tapi... jika dengan Ana, seperti lain lagi ceritanya" kata Andra.
"Itu tak penting! lagipula, kenapa kau bisa-bisanya mempercayakan adikmu padaku?" tanya Edward.
"Karena-... " belum selesai Andra bicara.
PUK! Ada yang menutup mata mereka berdua yang masing-masing dengan satu tangan yang dilapisi sarung tangan.
"Eh? siapa ini?" tanya Andra.
"Duh! siapa? Snif... Snif... " Edward mencium bau tangan kanan yang dilapisi sarung tangan yang menutup matanya.
"Tangannya bau bawang pula" kata Edward.
Andra dan Edward berhasil membuka tangan yang menutup mata mereka.
"Ana?" tanya Andra.
"Yumna?" tanya Edward.
"Hello Everyone!" kata Amanda.
"A... Aduh! mataku!!" kata Andra yang matanya mengeluarkan air mata.
"Kenapa perih sekali!?" tanya Edward yang juga mengalami hal yang sama seperti Andra.
"Eh? waduh! Dasar... maaf!! sarung tangan ini untuk mengupas bawang!!" kata Amanda.
"Ukh! perih!!" kata Edward.
"Ini! aku ada dua kain basah!" kata Amanda.
Mata Andra dan Edward sudah merasa lebih baik.
Amanda duduk di kursi sebelah Edward, sedangkan Andra di sebelah kiri Edward.
"Maaf ya, tadi habis bantu koki masak sambil kupas bawang" kata Amanda.
"Kenapa tidak pakai pisau?" tanya Andra.
"Em, kelamaan" kata Amanda.
"Kelamaan? justru pakai tangan itu yang kelamaan" kata Edward.
"Hahaha! tapi tetap saja aku minta maaf soal tadi" kata Amanda.
"Tidak masalah"
"Indah sekali bintang malam ini" kata Amanda.
"Jujur saja, aku gak bisa menerima kalau kalian ingin menjadi bagian gerakan pemberantasan, karena jika kalian mati, tidak akan hidup kembali... kalaupun ada, itu takkan lama seperti jurus Tensei" kata Edward.
Andra dan Amanda melihat Edward.
"Tugasku sebagai Fujiwara Cabang adalah melindungi kalian yang Fujiwara Utama, jika kalian mati... aku tak berhak untuk menjadi seorang Fujiwara, jadi kumohon pada kalian, jangan bergabung dengan pasukan pemberantasan, kalaupun kau memang memimpin Hikaru, kau jangan sampai mati" kata Edward dengan menunduk.
Amanda dan Andra bertatapan.
"Heh, Fisik hebat, tapi mental lembek?" tanya Amanda.
Edward terbelalak dan menatap Amanda.
"Kau jangan meremehkan kami, lagipula jangan juga selalu melindungi kami!" kata Amanda.
"Ana benar, soal Utama dan Cabang adalah urusan leluhur Fujiwara dulu karena Fujiwara Utama berada di ambang kepunahan dan Fujiwara Cabang semakin banyak, sekarang tidak lagi... karena saya sudah mengubahnya, karena saya dan Ana ingin... " Andra memberhentikan kata-katanya.
"Klan Fujiwara adalah keluarga yang hidup berdampingan!" kata Amanda
Edward terbelalak.
"Percayalah pada kami, Kapten!" kata Amanda.
Edward menatap Amanda dan menatap Andra sambil mengingat dimana mereka bertiga melepaskan anak burung elang yang ternyata milik Erlan untuk bebas setelah diobati.
Edward tersenyum untuk pertama kalinya.
"Ya, aku percaya pada kalian berdua" kata Edward.
"Yuhu!!! Kau ini benar-benar keras kepala, kapten! hahaha!!" kata Amanda.
"Hehehe" Andra hanya tertawa lembut saja.
Sudah 16 tahun yang lalu sejak kejadian itu, tapi 3 tahun yang lalu... kalian berdua mati.
Ini salahku, tidak menjaga kalian, meski percaya pada kalian dan kau Hikaru yang telah menghapus tentang peraturan Utama dan Cabang Fujiwara itu... tidak mengubah apapun.
Setelah menerima kabar dari burung Elang yang pernah kita tolong itu, mendengar kalian gugur... Burung Elang itu juga sedih, aku sempat mengamuk dan menghabisi sekitar 92 makhluk astral tingkat sedang saat itu kalau saja Arsya tak menghentikan ku, mungkin aku sudah gila sampai sekarang.
Kemarahan ku ku lampiaskan setelah membunuh 92 makhluk astral dengan kemarahan ku yang membara, tapi kalian berdua tahu? hal itu tak menghasilkan apa-apa.
Yang ada hanyalah penyesalan, yang ku tusukkan ke hati dan pikiranku sedalam-dalamnya, karena... serpihan kenangan itu, hanyalah pengalaman yang selalu ku idam-idamkan untuk terjadi kembali meski aku tahu itu takkan pernah terulang kembali.