
Di tempat rubik Zeydan, semuanya juga bergetar, Erika, Pasha, Ilman dan Dirga langsung merasa panik akan hal itu.
Di tempat Chandra...
Semuanya bergetar karena E tidak bisa mengontrol benteng labirin dengan baik karena penglihatannya di manipulasi oleh Vandro.
"Gawat! Chandra berusaha memilah benteng agar kami terpisah! seperti sebelumnya!" batin Amanda.
"Tekanan getaran bentengnya kuat sekali! rasanya aku akan hancur!" batin Vanora yang berusaha menahan kakinya dan tubuhnya agar tidak ikut terguncang.
"Mana si Chandra ini seramnya minta ampun!! bahkan lebih seram daripada Vandro!" batin Vanora.
"Aku tidak bisa melihatnya, tapi aku merasakan ada seseorang di sebelah E! berani sekali anaknya Bella itu! sepertinya dia sudah diajarkan jurus-jurus!" batin Chandra.
Di tempat Vandro...
Vandro sedang bersama Gibran, sedangkan Aram sedang mencari yang lainnya.
GRRK!!! Tiba-tiba tubuh Vandro menjadi memar.
"Gawat! Chandra berusaha membuatku hampir dibawah kendalinya! dia akan menyerap sel ku!" batin Vandro.
"Izinkanlah aku membantu! makanlah aku! jika itu bisa membuatmu mengalahkan Chandra!" kata Gibran.
"Berisik!!" Seru Vandro.
"Maaf!" kata Gibran.
****
Chandra terpojok karena Amanda dan Edward akan menyerangnya.
"Jurus Fujiwara... Uchu Ankoku Ninpou!!"
"Jurus Fujiwara... tebasan astral!!"
"Aku harus menyingkirkan dua petarung ini! karena merekalah yang paling merepotkan!" batin Chandra sambil memasukkan Amanda dan Edward ke sebuah benteng dan benteng itu akan memisahkan mereka dari Chandra dan yang lainnya.
"Gawat!! Chandra!!" Seru Edward.
"Dia memerangkap kita disini!" kata Amanda.
"Lebih baik kau pedulikan saja si Putri Silent itu, Edward! kau bilang dia itu prioritas utamamu kan!?" tanya Chandra.
Edward mendengus kesal melihat Andika dan yang lainnya akan melawan Chandra.
"Kapten... "
Lamunan Edward tersadarkan.
"Apakah... yang dikatakan Chandra itu benar?" tanya Amanda menatap Edward dengan prihatin.
"Eh?" tanya Edward.
*****
"Ukh! Chandra! kembalikan ibuku!" kata Andika.
"Mereka hanya akan mengganggu ku! disini, kalian akan ku musnahkan" kata Chandra.
Tapi Chandra tetap terpojok lalu dia mengepalkan tangannya.
Di tempat Vandro...
CPLASH!! E langsung tewas karena kepalan Chandra.
"Dia membunuhnya! dari jarak jauh, gawat! benteng ini akan rubuh! dan hanya 2 benteng yang dia kendalikan!" batin Vandro.
Di tempat Amanda...
"Kenapa? apakah... itu benar? kau memfokuskan balas dendam pada Chandra? meski aku... isunya sudah meninggal?" tanya Amanda.
"Kenapa? kenapa kau tetap meladeninya? kau harusnya tetap maju ke depan dan menatap masa depan, ini semua gara-gara aku! orang sepertiku sudah berbuat hal apa sampai kau seperti ini?" tanya Amanda.
"Aku... " Edward melangkah mendatangi Amanda.
"Jangan dekati aku, aku bersalah... karena aku kau seperti ini... aku tidak ingin terus di lindungi seperti antara Utama dan Cabang! kita ini keluarga, Kapten!" kata Amanda yang duduk bersimpuh sambil membendung air matanya.
"Baiklah... " kata Edward.
"Eh?" Amanda yang menunduk langsung menengadahkan kepalanya.
"Setiap orang memiliki masa depannya masing-masing, itulah sebabnya... " Edward mulai duduk.
"Orang yang sudah kehilangan Ibunya... bahkan dua teman terdekatnya seperti aku, yang harus berjuang. Walau sangat menyakitkan, walau aku dibenci..." Edward menatap Amanda.
"Itu sangatlah mudah untukku" kata Edward.
Edward berdiri.
"Tapi untukmu, walaupun aku ini seorang Pilar... sekaligus Fujiwara Cabang, sering tidak menghiraukan nyawa prajurit, kau tetap memanggilku Kapten, huh... aku senang sekali" kata Edward yang sedikit tersenyum menyungging.
"Ketika tidak ingin di lindungi, sebagaimana antara Fujiwara Utama Cabang, dan itu membuatmu frustasi, aku tidak akan melakukannya kalau itu membuatmu merasa lebih baik.... tapi dengan satu syarat, kau jangan pernah jauh dariku, akan aku pastikan dan ku tunjukkan pada Hikaru dan Mizuki bahwa kau selalu aman dan baik-baik saja" kata Edward sambil membelakangi Amanda.
"Kapten... " kata Amanda.
"Maaf... aku... aku hanya tidak ingin menjadi beban" kata Amanda sambil duduk bersimpuh dan menunduk dan menahan air matanya.
"Aku... hanya tidak ingin anak-anakku mati, jika mereka sampai mati.... aku tidak pantas menjadi seorang Ibu! mereka harusnya kecewa karena mereka dipilih untuk menjadi anak-anakku" kata Amanda sambil menangis.
Edward berlutut.
"Kau tidak seperti itu" kata Edward.
Amanda terbelalak dan menatap Edward.
"Mereka takkan sehebat itu jika tidak lahir ke dunia ini, mereka bisa pintar, hebat, dan istimewa, itu karena didikan orang tuanya, dan mereka kau didik dari kecil, mereka sehebat itu karena didikanmu, kau patut bangga pada mereka atas didikanmu, kau harus tahu itu" jelas Edward sambil berdiri.
"Tapi... aku-... "
PUK! Edward menjatuhkan jubah hijaunya ke punggung Amanda dan mengarah ke salah satu dinding benteng yang mengurung mereka.
"Eh!? I... ini!?" tanya Amanda sambil menarik lebih dalam jubah hijau Edward agar menutupi bahunya.
"Kau masih menyimpannya? kupikir... sudah rusak" kata Amanda yang takjub.
"Meski begitu... aku kurang yakin kita bisa berhasil" kata Amanda.
"Kita harus yakin, karena kita berdua adalah... Fujiwara" kata Edward.
"Kita harus keluar dari sini" kata Edward dan menebas dinding benteng dan akhirnya itu berhasil membuat lubang.
"Kita keluar sekarang, Chandra sudah menghancurkan benteng yang lain kecuali ini dan benteng dimana rubik Zeydan berada" kata Edward.
"Kita akan ke rubik Zeydan dulu!" kata Amanda.
"Apa?" tanya Edward.
"Ada sesuatu... yang harus ku sampaikan pada Putriku" kata Amanda.
Sesampainya di rubik Zeydan....
Erika terpeleset karena rubiknya bergerak.
"Ah-...!"
"Erika!" kata Pasha.
Tiba-tiba ada yang menggapai tangan Erika.
Erika membuka matanya.
Amanda tersenyum pada Putrinya, Erika sampai terbelalak dan menangis.
Amanda akhirnya membawa Erika ke tempat Pasha dan yang lainnya.
"Mama! bagaimana bisa-...?" tanya Erika.
"Tante... Amanda" gumam Pasha.
"Mama mertuaku cantik ya" kata Ilman.
"Jaga mata!!" seru Dirga.
"Terimakasih karena sudah berusaha dengan keras hingga sampai disini. Sangat sulit untuk menemukan dimana rubik Zeydan berada" kata Edward.
"Akan sangat panjang ceritanya, aku dan Kapten di bawa menjauh oleh Chandra, jadi karena aku harus bergegas... ada beberapa hal yang harus ku sampaikan pada kalian semua dan waktunya belum tentu cukup, jadi dengarkan baik-baik" kata Amanda.
"Zeydan adalah inti kedua Chandra, begitu energi Chandra menipis... dia akan mengambil energi dari Zeydan sebagai pasokan" kata Amanda.
"Jadi... itulah kenapa Chandra menahan Zeydan di rubik?" tanya Dirga.
"Benar, tapi ini bukanlah rubik sebenarnya, kalian harus masuk ke dalamnya... karena di dalamnya akan banyak sekali Dimensi, jadi hati-hati atau kalian akan tersesat, cara satu-satunya... adalah membunuhnya" kata Amanda.
Erika hanya menunduk.
"Apakah... kita tidak bisa menggunakan cara lain?" tanya Pasha.
"Tidak bisa Pasha, karena Zeydan sudah menjadi inti kedua Chandra, dan sudah melekat seutuhnya pada Chandra, sungguh mustahil sekali untuk menghentikan Zeydan... " kata Amanda.
"Jadi, untuk disini, kalian membutuhkan satu Pilar untuk memandu, membantu, dan memimpin kalian" kata Amanda.
"Kapten, tolong ya" kata Amanda.
"Tapi aku harus melawan Chandra juga!" kata Edward.
"Jangan, kau akan menjadi kesempatan kedua kami untuk memenangkan perang ini, tolong bantu mereka, aku mohon! yang lainnya jangan sia-siakan kesempatan ini!" kata Amanda sambil melepaskan jubah hijau Edward.
BUK! Amanda menempelkan jubah hijau Edward ke dada Edward.
Edward mengambilnya.
"Jaga mereka seperti kau menjaga jubah itu" kata Amanda.
"Baiklah, kalau begitu... kau harus membunuh Chandra dengan menggunakan ini, ini adalah keahlian khusus Fujiwara cabang. Ray memberikannya padaku sebelum kematiannya, aku berniat ingin mengalahkan Chandra, tapi karena aku harus mengurus Zeydan, jadi anggap saja jika kau menggunakan itu untuk membunuh Chandra, itu sama saja dengan diriku yang ikut menghabisi Chandra" jelas Edward.
"Baiklah... aku akan pergi ke lokasi Chandra sekarang" kata Amanda.
"Yumna"
Amanda berbalik.
"Jangan sampai mati" kata Edward.
"Aku tidak bisa menjamin hal itu" kata Amanda.
"Ayo semuanya!" kata Edward memimpin yang lainnya.
Di tempat Chandra...
Semuanya terjatuh dan berada di kawasan Dimensi astral.
"Akhirnya... kita keluar dari benteng, kita ada di Dimensi astral" kata Andika.
"Kita menyeret Chandra Nagata keluar benteng!"
Di Istana Carna...
"Tempat tujuannya lumayan diharapkan karena dekat dengan tempat terbitnya matahari!!" kata Umar.
"Bentengnya hancur karena pertarungan antara Vandro dan Chandra, fakta kalau dia berhasil menyeret Chandra ke permukaan Dimensi itu sangatlah luar biasa" batin Adelia.
"Berapa lama sampai matahari di dunia nyata terbit!? sinar matahari yang di dapat di Dimensi astral adalah sinar matahari yang ada di dunia nyata!" kata Adelia dengan deg-degan.
"Sekitar... satu jam setengah lagi" kata Amir dengan keringat dingin.
"Setelah itu... maka... " Adelia menghentikan batinannya.
Di Dimensi astral...
"SATU SETENGAH JAM!! SAMPAI SATU SETENGAH JAM LAGI SAMPAI MATAHARI TERBIT!!" Teriak Burung gagak.
"Masih lama... masih terlalu lama, Ibu dan Kapten dibawa jauh oleh Chandra, semoga mereka bisa cepat kemari!" batin Andika.
"Kak Vanora... Kak Rahmat... kalian selamat!" batin Andika.
"Dimana Chandra!?" batin Andika lagi.
GGRK!!! DUAR!!! reruntuhan benteng terbuka dan berceceran karena Chandra memaksa keluar.
"Apakah kalian berniat menahanku disini sampai matahari terbit!? coba saja!! jika kalian sanggup!" kata Chandra.
Chandra menggunakan tangan-tangannya yang lebih dari dua tangan, yang memanjang dan membuat Vanora dan Rahmat kesusahan.
Vanora dan Rahmat berhasil mendekati Chandra.
"Jurus Aura! aura negatif!!" Vanora akan menebas dengan jurus di pedangnya.
"Jurus Karya! classic manipulation!!" Rahmat juga akan menebas.
Tapi tak bisa dipercaya, begitu mereka menebas, regenerasi Chandra juga terjadi di saat yang bersamaan.
"Eh!? kita mengenainya! tapi dia tidak terpotong!?" tanya Vanora yang kaget.
"Tidak! kita sudah memotongnya! tapi monster ini... regenerasi-nya lebih cepat!" batin Rahmat.
"Ini berbahaya! kita terlalu dekat!" kata Vanora.
Tiba-tiba para prajurit yang lain tiba-tiba datang dan melindungi Andika, Vanora, dan Rahmat.
"Serang!! teruslah maju! jadilah perisai untuk para Pilar! tetap waspada dan paling tidak berikan perlawanan pada Chandra!!" seru salah satu pasukan.
Hampir semua pasukan tewas karena melindungi Andika, Vanora, dan Rahmat.
"Para Pilar pernah menyelamatkan nyawa kita hingga tak terhitung berapa kali jumlahnya! jadi, jika bukan karena mereka, kita takkan bisa hidup! jangan takut untuk bertarung!" kata salah satu pasukan.
"Tidak!! kalian semua berhenti!!" seru Vanora sambil membendung air matanya.
"Ikuti mereka jangan mundur! jika kita semua menyerang-..." belum selesai Andika bicara.
"OHOK!!" Andika tiba-tiba tersedak dan terjatuh.
BRUK!!
"Mereka yang mati karena bertarung, bahkan mereka yang tidak menyerangku sudah tamat, lihat ke sana" kata Chandra.
Vanora dan Rahmat sangat terkejut melihat Andika dengan wajahnya yang luka bakar.
"Dia terkena darahku saat serangan tadi, jumlah darahku yang terlalu banyak itu tidak akan membuatnya berubah menjadi makhluk astral karena adanya kutukan Pandora di tubuhnya, darahku akan menghancurkan selnya hingga dia binasa, Kitagawa Kenzo sudah mati" kata Chandra.
Basa-basi dan Fakta 😋
Matahari di dunia nyata bertaut pada Dimensi astral, itulah kenapa meski Dimensi astral semuanya buatan manusia, tapi tumbuhan, langit, dan hal-hal alam itu berasal dari Dunia nyata.