Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 4 Episode 11 : History



Pagi harinya, pasukan pemberantasan angkatan 85 disuruh berkumpul ke aula utama.


"Ada apa ini?" tanya Erika.


"Eh!? Vincent!?" tanya Ilman saat melihat ada sekumpulan orang yang di borgol dan terdapat Vincent disitu.


"Mereka adalah pengkhianat yang bekerja sama dengan sekte Dirgapati, mereka juga yang memberitahu informasi kepada Dirgapati dari dalam" kata Meghan.


"Ini salah kalian karena meremehkan pasukan pemberantasan bidang pengintai seperti aku" kata Meghan dengan tertawa.


"Heh, meski kau adalah Pilar Pengintai, kau tak mirip seperti Komandan Arsya, aku penasaran kenapa kau yang dipilih" kata Vincent.


DUAK!!!


Meghan memasang wajah penasaran dan langsung menendang samping wajah Vincent sampai salah satu gigi Vincent lepas.


GREP!! BRUAK!! Meghan menggenggam rambut Vincent dan membanting wajah Vincent ke lututnya.


BRUK! Meghan membiarkan Vincent ambruk.


"Bodoh, kau sendirilah yang membawa Arsya saat itu, dan kau penasaran kenapa aku yang dipilih?" tanya Meghan dengan tatapan membunuh.


"Karena Arsya yang pilih, kau itu selain seorang pengkhianat, kau menyia-nyiakan perjuangan dan kerja kerasmu dalam membunuh para makhluk astral dan para pesugihan, aku bahkan lebih penasaran 100% kenapa kau berkhianat" kata Meghan.


Vincent tidak menjawab.


"Ck! pasukan angkatan 85! bawa para pengkhianat ke sel penjara bawah tanah markas!" perintah Meghan.


"Baik!"


"Me... Meghan, apakah kau tidak terlalu keras?" tanya Vanora.


"Itu adalah cara menghajar dan memberi pelajaran versiku yang paling lembut, jika yang paling keras, mungkin saja dia sudah kehilangan dua bola matanya" kata Meghan lagi.


"Entah apa yang terjadi jika Edward yang menghajarnya, perkiraan ku adalah... mungkin saja nyawa dan isi perutnya sudah hilang" kata Meghan.


"Mereka berdua benar-benar kejam" batin Vanora yang hanya bisa berkeringat gugup.


Erika membawa seorang gadis ke penjara.


"Kau... Kak Erika kan?" tanya si gadis bernama Siska.


"Kenapa, Siska?" tanya Erika dengan dingin.


"Tidak apa, senang rasanya bisa bertemu dengan seseorang yang selalu ku kagumi" kata Siska.


"Apakah... kak Erika pernah masuk ke penjara?" tanya Siska.


"Jangan mempersulit pekerjaanku dan masuk saja" kata Erika.


"Jujur, aku sangat mengagumimu saat kau menjalankan misi, dan kedudukanmu membuatku sangat menghormati dirimu, aku terus mencoba berbicara denganmu tapi kau sepertinya tidak bisa diganggu" kata Siska.


"Terimakasih karena sudah mengagumi diriku, tapi aku taklah sehebat yang kau ekspektasi kan" kata Erika.


Siska hanya melakukan hormat pada Erika.


Kepala Erika langsung mengalami pusing.


"Ukh... " Memori dikepalanya terus berputar.


Tidak apa, panggil saja aku Zayn.


"Kenapa kepalaku pusing!?" batin Erika.


Bukan Mahram ya? kalau begitu, kain putih ini akan menjadi jarak agar kau dan aku bisa bersama.


Semuanya baik-baik saja sekarang, Eri.


"Aku harus ke suatu tempat" kata Erika.


Erika dan Pasha akan menemui Lord Fifth di ruangan pemimpin.


"Pasha, apakah kau punya obat pereda pusing?" tanya Erika.


"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? kau sedang pusing?" tanya Pasha.


"Begitulah, akhir-akhir ini sering terjadi setelah aku menggunakan Silent" jelas Erika.


"Erika, aku bukan berlagak sok tahu, sebenarnya aku pernah baca kalau terkadang pengguna Silent akan mengalami pusing yang teramat sangat kuat. Katanya pusing itu adalah semacam 'peringatan' tapi aku tidak mengerti" jelas Pasha.


"Pusing... yang terkadang dialami pengguna Silent karena peringatan?" tanya Erika.


Sesampainya di ruangan....


Ratri ( Unknown )


"Tidak bisa" Ratri mewakili Lord Fifth yang sedang sakit.


"Kalian berdua tak kuizinkan untuk menemui Zeydan" kata Ratri.


"Tapi... Nona Ratri?" kata Pasha.


"Akan menjadi lebih buruk situasinya, apabila kalian menemui Zeydan, lagipula Lord Fifth juga tak pastinya akan mengizinkan" kata Ratri.


Erika dan Pasha bertatapan.


"Kami mengerti"


Erika dan Pasha akhirnya pamit.


"Ameera, Alifiandra" kata Ratri.


"I... iya Nona?" tanya Pasha, sedangkan Erika hanya berbalik ke arah Ratri seperti Pasha.


"Nona Ratri... tahu nama Ameera? apa mungkin beliau mengetahuinya dari Papa?" batin Erika.


"Jangan marah pada Al Farisi ok?" tanya Ratri sambil tersenyum tipis tapi tegas.


Erika dan Pasha terdiam.


"Tentu saja" kata Erika dan Pasha.


"I... iya Nona?" tanya Erika.


Ratri terdiam sebentar.


"Ne soyez pas surpris de savoir comment je connais le nom d'Ameera, ok?" tanya Ratri.


(*\= "Jangan heran bagaimana aku tahu nama Ameera, ok?")


Erika terbelalak, maklum Erika sedikit tahu bahasa prancis.


"Te... Tentu"


Sesampainya di perpustakaan...


Erika membaca buku.


"Klan Fujiwara adalah Klan yang paling tua, dan menjadi induk di antara Klan lainnya kecuali Kitagawa, mereka terkenal kuat dan ahli dalam bertarung meski anggota Fujiwara tak memiliki pengalaman bertarung secara fisik"


Erika terus membaca dalam hati.


"Tubuh mereka terus memiliki energi, diantaranya adalah Silent... Silent terletak di bagian mata pengguna yang paling banyak memiliki energi, yang bisa memindai serangan dan memberikan kesimpulan dengan cepat, sehingga pengguna Silent bisa memperkirakan serangan yang belum terjadi jika sedang bertarung dengan musuh. Juga bisa melihat sesuatu dari jauh, dan bisa membuat orang yang melihat Silent menjadi kaku dan tak bisa bergerak kecuali si pengguna yang melepaskannya atau tergantung seberapa kuat Silent itu, Silent juga bisa melihat apakah orang itu bohong atau tidak"


"Yang paling kuat adalah Aquamarine Silent, terpisah menjadi dua bagian yaitu Aquamarine Silent tingkat pertama, dan yang kedua adalah Unlimited atau Eternal, cara membangkitkan Silent yang paling umum bagi Klan Fujiwara adalah, adanya dorongan perasaan kuat yang menyebabkan rasa sakit dan penderitaan seperti kehilangan seseorang, atau sesuatu yang kita sayangi menjadi rusak, bisa juga karena latihan yang berat" batin Erika.


"Aku... membangkitkan Silent karena marah pada kak Andika, dan kakak kembar yang merobek buku milikku dulu" batin Erika.


"Tapi, beberapa anggota juga merasakan rasa pusing karena Silent yang mereka gunakan biasanya terlalu sering atau Silent memberikan peringatan untuk memerlukan pengumpulan energi di tubuh atau untuk bisa diaktifkan kembali"


"Ini yang dikatakan Pasha!" batin Erika yang terbelalak.


"Anggota Fujiwara semakin berkurang akibat pembantaian Klan Kitagawa, sehingga mereka harus berpecah menjadi 2 bagian yaitu Fujiwara Utama dan Fujiwara Cabang, Fujiwara Utama memiliki Silent yang lebih murni karena memiliki pertimbangan energi asli yang lebih banyak ketimbang Silent milik Fujiwara Cabang.... sehingga anggota Fujiwara yang masih memiliki Silent hanyalah, Fujiwara Hikaru, Fujiwara Edward dan Fujiwara Yumna si Putri Silent" batin Erika.


"Permisi... apakah saya boleh mendapatkan data tentang Fujiwara Edward?" tanya Erika.


"Oh, tentu... sebentar" kata pengurus perpustakaan bagian data komputer.


"Eh?"


"Kenapa?" tanya Erika.


"Anu... data tentang Fujiwara Edward dilarang untuk di akses, karena mungkin beliau adalah Pilar Pedang sekaligus Kapten, apakah anda mau ku buatkan surat permintaan pada perpustakaan pusat? meski sepertinya mereka takkan mengizinkannya" kata pengurus perpustakaan.


"Tidak perlu... terimakasih, saya akan meminjam buku ini" kata Erika.


"Tentu"


Di aula latihan...


"Eh? kau ingin tanya dimana Edward?" tanya Elena sambil memegang teleponnya.


Di kamar Erika...


"Iya, apakah Tante tau?" tanya Erika.


📞"Katanya, dia sedang melakukan misi rahasia, bahkan para Pilar saja tidak tahu. Eh! tapi... Meghan sepertinya tahu karena dia Pilar pengintai, meski pada akhirnya mungkin Meghan takkan memberitahukannya"


📞"Emang Erika pengen nanya apa sama Edward?" tanya Elena.


"Ah, gak... makasih Tante" kata Erika.


📞"Ya"


TRING! Erika menaruh gagang telepon.


Anggota Fujiwara yang masih memiliki Silent hanyalah, Fujiwara Hikaru, Fujiwara Edward dan Fujiwara Yumna, si Putri Silent.


Erika mengingat isi buku yang ia baca.


"Buku yang tertera nama Mama, Paman Andra dan si Kapten cebol itu, buku itu pasti diterbitkan sebelum aku lahir. Yang artinya... si Kapten cebol itu pasti tahu, sejarah Fujiwara, informasi apa yang didapat dari penyegelan Pandora yang selama ini kami dilarang mendekatinya, dan masa lalu Paman Andra dan Mama" batin Erika.


Sementara itu di Dunia nyata...


Edward sedang menjalankan misi di dekat kawah gunung berapi.


"Seharusnya disini... dimana ya?" tanya Edward.


"Kurasa aku perlu menganalisis lagi... Ukh!" Edward langsung pusing.


"Kurasa... tubuhku memerlukan energi dulu" batin Edward.


"Aku akan istirahat"


Basa-basi dan Fakta 😋


Sebagai pemegang marga Fujiwara terakhir, Edward sangat mengetahui masa lalu Andra dan Ana, Ibu dan Pamannya, serta Kakak tiri Ibunya.


Edward tidak akan membiarkan informasi sepenting itu tersebar dari telinga ke telinga lainnya dan menjaga Silent-nya untuk tetap aman.


Satu lagi, Edward diberikan sebuah buku Dimensi oleh Andra dimana jika Fujiwara yang membacanya, maka ia bisa melihat kejadian yang tercatat di dalam buku sejarah tersebut termasuk peperangan kehancuran Dunia astral pertama.


Bonus!


Suatu saat Edward pernah berbincang dengan Vanora.


"Kenapa saat aku menghadiri acara formal seadanya, pengunjung wanita malah langsung memerah wajahnya?" tanya Edward pada Vanora karena Edward pikir, Vanora lebih masuk akal untuk ditanyakan soal wanita.


Kalau Meghan sudah masuk ke tahap tomboy, meski tak terlalu.


"Kau tahu, Edward? jika seorang wanita di tolong oleh pria tampan sepertimu, jantungnya pasti akan berdebar-debar!" kata Vanora.


"Maaf, apa jantungnya itu bermasalah?" tanya Edward.


"Jika melihat senyumanmu, para wanita pasti akan langsung meleleh" kata Vanora lagi.


"Begitu aku tersenyum pada Yumna... Yumna akan langsung mati!?" batin Edward yang langsung kena mental.


"Terimakasih kau sudah memberitahuku Vanora" kata Edward.


Sejak saat itulah, karena sifat kepolosan Edward yang diambang batas, menyebabkan dia jarang tersenyum karena tak ingin Amanda mati hanya melihat senyumannya.