
Edward sedang berada di ruangannya.
"Ck... aku terpaksa berbohong soal darimana aku bisa mengenal Yumna, aku tak bisa membuatnya marah" batin Edward.
"Jika dia tahu, dia pasti akan banyak bicara dan bilang kenapa aku tak menyelamatkan Ibunya, Ayahnya, Pamannya dan lain sebagainya" batin Edward dengan bermuka gerutu.
"Tapi... ini memang salahku"
Sementara itu...
Andika, Wira, dan David berada di kota pada malam hari.
"Wah, jadi ini kota pada malam hari" kata David.
"Memang agak beda, sebaiknya cepat! kita harus ke stasiun di area selatan Dimensi!" kata Wira.
Andika termenung.
Flashback...
"Eh? kau ingin bertanya kenapa Meghan menjadi pilar 2 bidang sekaligus?" tanya Elena, dia adalah Tante Andika sekaligus kakak Ayahnya.
"Ya, jika memang bisa, harusnya Pilar lainnya juga begitu kan?" tanya Andika.
"Sebenarnya ini sudah menjadi isu dulu, kalau sebenarnya Pilar Medis sebelumnya telah tertangkap oleh Chandra Nagata, dan dipaksa meminum Morph-x, dan akhirnya bisa menjadi subjek Pandora" kata Elena.
"Apa!?" tanya Andika.
"Jujur kami memakluminya, tapi Toni tidak suka, dan tidak bicara juga menggubris mantan Pilar Medis, karena merasa tidak enak dia mengajukan diri untuk mengundurkan diri dan satu lagi! jika kau bertemu subjek Pandora, mereka takkan bisa mati hanya dengan memenggal kepalanya" jelas Elena.
"Maksudnya gimana kak?" tanya Andika.
"Jika inti kesadaran nyawa yang di kepala dapat di pindahkan sesuai kemauan pemilik tubuh, dia takkan mati karena adanya cairan Morph-x di dalam tubuhnya" Jelas Elena lagi.
"Jadi, meski kita memenggal kepalanya maka dia takkan mati? dan akan meregenerasi kembali?" tanya Andika.
"Itu benar, tergantung seberapa cepat regenerasi-nya dan inti kesadarannya di kendalikan" kata Elena.
"Dan karena tak ada yang lebih ahli, lagipula Meghan adalah murid mantan Pilar medis dan mengambil dua bidang" kata Elena.
"Siapa nama Pilar itu?" tanya Andika.
"Dia adalah Ibu General Manager AR Group yang perusahaannya milik keluargamu yaitu Ameera, sekaligus tangan kanan Andra, juga Ibu dari Pilar Aura. Ibu dari saudara kembar Vandro dan Vanora, namanya adalah Bella Kencana" kata Elena.
"Dia juga sering masuk ke Dimensi pemberantasan untuk mengambil dan meneliti tumbuhan apa saja yang di hindari makhluk astral" kata Elena lagi.
Flashback Off...
"Jadi... Nyonya Bella adalah Ibu Paman Vandro dan Kak Vanora? dari keluarga Kencana yang dulunya kudengar ingin merebut Pandora?" batin Andika.
"Andika! Andika!" kata David.
"Eh!?" tanya Andika.
"Kenapa melamun? ayo!" kata Wira.
"Eh? Oh! maaf! Dasar... " kata Andika.
Di Hutan...
"Kita mendapatkan misi untuk membantu Pilar Fauna untuk menyelidiki penyerangan makhluk astral itu ya? lokasinya dimana?" tanya David.
"Kita hanya perlu melewati hutan ini dan pergi ke kota Dimensi bagian selatan untuk ke stasiun" kata Andika.
"Hawanya lumayan menyeramkan" kata Wira.
"Kita harus terus waspada" kata Andika.
"Te... teman-teman!" kata David.
"Ada apa?" tanya Wira.
"Ha... Harimau!?" tanya Andika.
"Apa-apaan ini? hutan apa yang kita masuki? bagaimana mungkin ada harimau yang berburu pada malam hari!? penglihatan harimau pada malam hari tak cukup bagus! kan?" tanya David.
"Kau benar" kata Wira.
Andika mengaktifkan Turquoise-nya.
"Pantas saja, di dalam tubuh Harimau itu ada cairan Morph-x, dia liar! dan tidak terkendali, Hati-hati!" kata Andika saat melihat aliran darah di organ-organ harimau.
"GRAAAA!!" Harimau itu melompat ke arah David.
"David!! awas!" kata Wira.
David yang kaget langsung melemparkan serbuk bidara.
Harimau itu agak menghindar.
"Bagus David! semuanya, berusahalah agar jangan sampai menyakiti harimau itu apalagi membunuhnya!" kata Andika.
"Kau tak sayang nyawa ya Andika!?" tanya Wira.
"Bagaimanapun juga, dia adalah makhluk hidup! dan di kendalikan, tak ada wewenang kita membunuhnya kecuali kita benar-benar terancam mati" kata Andika.
Tiba-tiba...
Ada semacam serbuk bidara yang tiba-tiba muncul.
"Eh? David? kau?" tanya Andika.
"Bukan! Serbuk Bidara yang ku lempar tadi itu yang terakhir" kata David.
"Terus? siapa yang-... ? Wira?" tanya Andika.
"Bukan!"
Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang.
"Kalian dari regu pasukan pemberantasan ya?" tanya laki-laki itu.
"Eh!? Paman Vandro?" tanya Andika.
"Pamanmu?" tanya Wira.
"Bukan, dia dulunya adalah tangan kanan mendiang Pamanku, juga dia adalah General Manager di AR group" kata Andika.
"Andika? ya? kalian ikutlah denganku" kata Vandro.
"Tapi, kami sedang ada misi" kata David.
"Tahu, sebaiknya kalian ikut denganku dulu" kata Vandro.
Akhirnya mereka bertiga mengikuti Vandro.
"Tapi, terimakasih karena Paman menyelamatkan kami" kata Andika.
"Tak apa" kata Vandro dan akhirnya memegang sebuah pohon.
"Kenapa Paman ini? korban kena mental?" tanya Wira.
"Hus! Wira!" kata Andika.
Vandro langsung tembus.
"Eh!? apakah pohon itu tembus pada suatu tempat?" tanya Andika.
Mereka bertiga masuk ke pohon.
"Ini adalah pohon astral, hanya yang berpengalaman yang bisa tahu pohon astral yang seperti apa" kata Vandro lagi.
Di Markas Dirgapati...
"Jadi? kalian gagal?" tanya Chandra.
"Ya Tuan, maaf... kami hampir di serang, saat akan membawa dua pemegang Pandora itu dan juga gadis Kitagawa itu" kata Mansa.
"Begitu? tak apa, kalian sudah berusaha yang terbaik, tapi kita belum mencapai tahap terakhir, setelah itu... kita akan menyerang mereka secara serentak" Jelas Chandra.
"Kalian!" kata Chandra pada hantu *Suanggi dan *Si Manis.
( Di Indonesia, Suanggi berasal dari papua, termasuk ilmu Hitam yang paling ditakuti di papua dan ada jenis hantunya juga. Sedangkan Si Manis di ambil dari nama Si Manis Jembatan Ancol, hantu wanita yang memakai pakaian betawi ( berpayung ) sering terlihat penampakannya di jembatan Ancol ).
"Iya, Tuan Chandra" kata mereka berdua.
"Habisi para pasukan Pemberantasan yang usianya remaja, dan yang terpenting... habisi pemuda yang berambut hitam dengan logo naga hitam alias kutukan Pandora di punggung tangan kanannya. Jika dia sekarat, serap energinya sampai habis dengan batu Mustika Delima Merah!" Kata Chandra.
"Ya! Tuan Chandra!" kata mereka berdua dan pergi.
Di Tempat Andika....
Dan mereka berempat langsung tiba di sebuah rumah bertingkat dua yang lingkungannya luas, juga di kelilingi dengan pagar.
"Wah, rumah yang lumayan bagus" kata David.
"Lumayan?" tanya Andika.
"Maksudnya bagus" kata Wira yang menyangkal perkataan David.
"Ini di Dunia nyata, tapi kalian takkan bisa kemana-mana karena kalian hanya sedang ada di rumahku, aku mengundang kalian untuk berbicara dengan seseorang. Lagipula rumahku ini jauh dari pemukiman warga" jelas Vandro.
"Jadi, pohon tadi hanya terhubung kesini?" tanya Wira.
"Paman benar, aku bahkan tak bisa kemana-mana, percuma saja jika kita ingin pulang, karena kita hanya bisa lewat portal Dimensi, tidak bisa menggunakan pohon astral ini" kata Andika.
Di Ruang tamu...
"Maaf sudah menunggu" kata seorang perempuan.
"Eh?" tanya Andika, David, dan Wira.
"Perkenalkan, namaku Bella Kencana, senang bertemu dengan kalian pasukan Pemberantasan" kata Bella.
"Jadi, anda adalah mantan Pilar medis itu?" tanya Andika.
"A... apa?" tanya David.
"Oh, jadi kau sudah tahu ya" kata Bella sambil tersenyum.
BLUSH!!!
Wajah Bella yang baby face itu membuat Andika, dan Wira blushing.
"Ca... cantik" batin mereka berdua.
Tapi mereka berhenti menatap lama Bella setelah Vandro memberikan tatapan membunuh pada mereka.
"Vandro, jangan seperti itu" kata Bella.
"Baik Nyonya!" kata Vandro.
"Bukankah anda adalah Ibunya Paman Vandro?" tanya Andika.
"Benar sekali, saya mengundurkan diri dari Pasukan Pemberantasan karena tidak sengaja terminum Morph-x, dan aku menjadi subjek Pandora. Aku sempat di paksa Chandra untuk ikut dirinya mencari beberapa sampel serbuk bunga Edelweis langka, yang bisa membuat umur Chandra yang sudah 957 tahun itu mencapai ribuan tahun, aku pernah ikut dengannya saat 58 tahun yang lalu" Jelas Bella.
"Eh!? 58 tahun yang lalu!? usiamu sekarang berapa Nyonya!?" tanya Andika, sedangkan David dan Wira hanya terbelalak mendengar perkataan Bella.
BLETAK!! Andika di jitak Vandro.
"Tak sopan!" kata Vandro.
"Vandro!" kata Bella.
"Iya! Ibunda!" kata Vandro.
"Jangan bersikap seperti itu pada anak yang lebih muda darimu" kata Bella.
"Baik! takkan ku ulangi lagi" kata Vandro.
"Oh ya! harimau yang tadi?" tanya Wira.
"Tentang Harimau tadi tenang saja, karena saya sudah menaruhnya dalam lab penelitian untuk pengobatan, karena harimau itu milik Pilar Fauna" kata Bella lagi.
"Kak Farel?" tanya David.
"Ya" kata Andika.
"Aku menghargaimu, Andika... karena mendiang Ibumu dulu benar-benar sangat baik padaku, maaf karena aku tak sempat mengucapkan kata-kata terakhir, dia tiada karena ulahnya Chandra" Jelas Bella.
"Ya, tidak apa-apa Nyonya Bella" kata Andika.
"Tapi, aku ingin kau mewakili ucapan terimakasih dan permohonan maaf ku untuk beliau, jadi saya berterimakasih padamu dan meminta maaf padamu juga ya" kata Bella lagi.
"Tentu! akan saya wakili! saya juga berterimakasih juga karena anda pernah menjadi bagian pasukan pemberantasan! dan juga anda tak perlu minta maaf, saya yakin Ibu saya akan memakluminya" kata Andika.
"Grrrr.... " Vandro semakin geram karena Andika sangat banyak berbincang dengan Ibunya.
"Baiklah, karena kau mau mampir kesini... ini ada sedikit bingkisan" kata Bella.
Vandro memberikannya sebuah kantong berisi serbuk Bidara, dan juga serbuk Edelweis langka untuk keperluan di markas ataupun mereka.
"Terimakasih Nyonya! tapi... apakah ini tidak terlalu banyak?" tanya David.
"Tidak apa-apa, oh ya Andika... Pamanmu Rafi menitipkan surat ini padaku" kata Bella memberikannya pada Andika.
"Baiklah, terimakasih... akan saya baca nanti" kata Andika sambil memasukan surat itu ke tas pinggangnya.
DEG!! Andika langsung pucat.
Andika langsung berbalik ke belakang.
"David!! Wira! Paman! Nyonya! Kita dalam bahaya!" kata Andika.
Di Luar pagar...
"Lakukan, Suanggi" kata Si Manis.
"Ya... aku tahu" kata Suanggi.
"Ledakan... Bayangan" kata Suanggi sambil meledakkan pagar rumah Bella.
JDUAR!!! Pagar rumah langsung hancur.
"Apa itu!?" tanya Wira.
"Sudah terlambat! pantas saja Turquoise-ku merasakan aura yang aneh dan begitu jahat" kata Andika.
"Kita kedatangan tamu, dari Chandra" kata Bella dengan raut wajah khawatir.
( Bella Kencana pernah muncul di novel Author The Unifying Butterfly)