Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 3 Episode 12 : Serangan dari pihak musuh



"Aura, Chandra? Chandra... Nagata!?" tanya Erika.


Andika dan Zeydan hanya terdiam.


"Banyak sekali, mustahil pasukan pemula bisa mengatasi semua ini" kata Nisa.


"Persiapkan pasukan untuk naik ke Dinding! cepat!" kata Arsya.


"Dimengerti" kata Meghan dan Edward.


Yusuf juga sudah berubah.


"Ayo! aku akan mulai sekarang!" kata Zeydan.


Arsya hanya mengangguk saja.


Zeydan langsung melakukan segel tangan lalu melompat dari dinding.


"Tunggu ak-... " belum selesai Andika bicara.


"Jangan Andika! kau tidak boleh!" kata Arsya.


"Apa!? tadi Zeydan boleh!?" tanya Andika.


"Masalahnya ada dua hal! kau akan menjadi cadangan apabila Zeydan kalah! kedua karena kau adalah pemegang kutukan Pandora dengan memiliki 5 keturunan darah kerajaan di tubuhmu! musuh bisa lebih untung jika berhasil menangkapmu!" Jelas Arsya.


"Kau ikutlah dengan Nisa! Nisa, jaga Andika dan kalian akan pergi ke belakang Dinding lalu matikan energi Selatan yang disimpan di sana, jika kesulitan... cepat tembakan suar merah!" kata Arsya.


"Dimengerti!" kata Nisa.


"Aku akan mengawasi Zayn bersama Pasha!" kata Erika sambil melompat dan menembakkan jangkarnya.


"Yun-chan!" kata Andika.


"Ayo Andika!" kata Nisa.


"I.. iya"


Erika melawan makhluk astral liar yang dilepaskan Chandra dengan pedang-pedangnya.


"Kenapa Chandra ada di sini!? akan menjadi bencana jika Chandra menjadi lawan kami!" batin Zeydan sambil mengingat kematian Amanda, Erlan, Andra, dan Rangga saat melawan kelompok Chandra yang menyerang.


PIP!!! Ada bunyi pesan suara di Handsfree yang di pakai oleh Erika, Pasha, Ilman, Dirga, dan Salsa.


📞"Kelompok yang memakai Handsfree, bisa dengarkan aku!?"


"Kapten!" batin Erika, Pasha, Ilman, Dirga, dan Salsa yang mendengar suara Edward.


( Handsfree adalah earphone yang diberi tambahan tertentu seperti mikrofon dan tombol fungsi. Biasanya terletak di telinga )


📞"Kelompok yang memakai Handsfree pergi ke sebelah kiri dinding! kita akan bertarung dengan Ray di sana!"


"Ray... " batin Erika.


"Dimengerti" kata Erika dan mengubah arah.


Mereka sampai di sana, dan langsung bertemu Edward.


"Serang mereka! dan... apakah kalian mau mengotori tangan kalian dengan darah para musuh?" tanya Edward.


"Ya!" mereka menjawab.


"Kalau begitu, serang mereka! mereka ada 45 orang!" kata Edward.


Edward langsung tidak tenang karena mencari Ray.


Ilman langsung berhadapan dengan musuh dan memberanikan diri menggorok leher si musuh.


Dirga bahkan sampai kaget melihat Ilman punya keberanian dan melamun dan tak melihat ada musuh yang akan menyerangnya.


"Dirga!! awas!" Seru Pasha.


JRAP!!! Ada sebuah panah yang menancap si musuh.


"Eh? Terimakasih Salsa!" kata Dirga yang melihat Salsa menembak si musuh dengan panahnya.


Salsa tersenyum tipis dan mengajukan jempol.


"Jangan melamun, Dirga! tetaplah bergerak dan menyerang selagi kau ditutupi asap!" kata Pasha dan langsung menembakkan terus asap agar musuh terkelabui.


"Jadi itu penyebab mereka membuat asap, agar pergerakan mereka tak kita ketahui, bisa berbahaya kalau kami berhadapan dengan Edward yang dikatakan Kapten Ray" batin Tina, salah satu pasukan Ray.


CRASH! BRAK!! Erika menebas para pasukan yang ada, dia berhasil membunuh sekitar 15 pasukan.


Berhati-hatilah pada seorang gadis, dia berasal dari Kitagawa yang mempunyai garis keturunan Fujiwara, gaya bertarungnya 55% hampir sama seperti Edward.


Tina mengingat perkataan Ray.


"Ada apa dengan perempuan itu? apakah dia Kitagawa yang dimaksud Kapten Ray?" batin Tina.


Erika langsung mengitari beberapa tiang dan menghabisi dua pasukan Ray dan men-sleding salah satu pasukan ke tiang.


JDAK!!


"Tidak salah lagi! itu pasti dia!" kata Tina.


SRAK!! Bunyi tebasan pedang di belakang Tina, rupanya itu Edward yang mencapai tahap pemangsa, jika Edward mencapai tahap pemangsa, maka kemenangan untuk menjatuhkan Edward akan sangat sulit.


Edward langsung menghabisi 3 orang dalam sekali gerakan dan malah bertemu Ray.


"Yo! Edward!"


"Tch, kenapa harus Ray yang di arahkan si Chandra!?" batin Edward.


Erika mendatangi Tina dengan tatapan pemangsa.


"HIAAA!!!"


"Ukh!" Keberuntungan yang ada, Tina berhasil menghindar tapi beberapa helai rambutnya terpotong oleh tebasan Erika.


Sementara itu Edward...


Edward berlarian diantara tiang-tiang menggunakan jangkar untuk menghindari peluru Ray.


"Lord Fifth pasti belum sempat mengakhiri jurus Tensei Ray karena kondisi beliau yang makin memburuk, kalau tahu begitu... seharusnya kemarin aku langsung mengakhirinya! ini benar-benar merepotkan!" batin Edward.


Edward akan menebas Ray dengan melayangkan pedangnya dari atas.


TRANG!! Ray menangkisnya dengan besi pistolnya.


KRRK!! Tumpuan pedang Edward dan besi pistol saling menekan antara satu sama lain.


"Kembali saja ke duniamu yang sekarang... Ray!!" kata Edward sambil menyingkir.


"Heh, sayangnya aku masih ingin bersenang-senang disini?" tanya Ray.


Edward langsung akan menebas Ray dengan gaya horizontal, sedangkan Ray menahannya dengan pisau.


"Jurus Alami! kecepatan tebasan pedang!" Edward langsung melakukan jurus pedang dan menyabet Ray.


CRASH!!


"Ukh! kau memang gagah dan tangguh seperti dulu ya?" tanya Ray sambil memanggil makhluk astral untuk menangani Edward.


Ray melakukan ini untuk mengambil perhatian Erika.


Erika melihat Ray, dan langsung menghabisi Tina saat itu juga lalu mengejar Ray.


"Berhenti!!" Teriak Edward.


Tapi suara Edward tidak sampai pada jangkauan Erika.


Setelah berada sangat jauh...


Erika langsung melakukan jurus penghapusan Tensei.


"Feiku Saibo Tensei!"


Ray langsung menyadarinya.


"Heh, baguslah kalau dia melakukannya, dengan begini... Chandra takkan mengincarnya" kata Ray.


Ray akhirnya terduduk, di sela-sela perlahan kakinya mulai berubah menjadi abu.


Erika mendatangi Ray.


"Sepertinya, jurus penghapusan Tensei berhasil ya? Dasar... " kata Erika.


"Yumna? ah, bukan... Yuna" kata Ray.


"Kenapa kau selalu menyamakanku dengan Ibuku? Ibuku itu adalah wanita yang luar biasa, aku tak pantas disamakan dengannya" kata Erika.


"Kau benar, keponakanku itu sangat luar biasa... bahkan kakak sepupunya saja menghargainya" kata Ray.


Erika menekuk sebelah lututnya.


"Apakah yang kau maksud kakak sepupu Ibuku itu... Kapten?" tanya Erika.


GREP!! Erika menggenggam kerah seragam Ray, di sela-sela betis Ray yang mulai menghilang.


"Katakan semua yang kau tahu! termasuk Fujiwara!" kata Erika.


"Aku hanya bisa memberitahukannya padamu sedikit karena kau adalah Kitagawa, musuh Klan Fujiwara" kata Ray.


"Fujiwara ya? sudah lama aku tak mendengarnya sejak aku tiada 17 tahun yang lalu sebelum kau lahir, aku mengalami luka bakar yang merobek isi perutku saat itu... dan mengatakan semuanya pada si Edward" Jelas Ray.


"Fujiwara terbagi menjadi dua bagian yaitu Utama dan Cabang, Ibumu Yumna, termasuk garis keturunan Fujiwara bagian Utama dari Ibunya yang kakak tiri ku, lalu nenekmu itu menikah dengan orang yang mewarisi titisan Hasegawa yang bernama Hasegawa Kaito, kakek dari Ibumu, Pamanmu, Fujiwara Hikaru mewarisi sebagian besar Hasegawa" Jelas Ray di sela-sela tubuhnya yang menghilang.


"Kenapa... kenapa Ibu dan Pamanku mewarisi Fujiwara utama? bukankah harusnya Hasegawa?" tanya Erika.


"Aku tak tahu soal itu" kata Ray.


"Jangan kau mencoba berbohong!" kata Erika.


"Kau memiliki Silent, mana mungkin aku bisa berpura-pura dari mata yang bisa melihat kebohongan" kata Ray.


"Benar sih... lalu, katanya Kakek dan Nenek dari Ibuku itu meninggal karena melindungi Ibuku dan Pamanku ya? lalu aku ingin tanya! apakah Kapten itu adalah Fujiwara Cabang yang kau maksud?" tanya Erika.


Ray terdiam, Edward hanya bersembunyi di balik pohon dan mendengarkan sambil menyembunyikan auranya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Ray.


"Menurutku... iya, tapi aku ingin jawaban yang pasti! Dasar... " kata Erika.


"Dasar...? itu membuatku terngiang-ngiang akan kakak tiri ku alias Ibunya Ibumu yang berasal dari keturunan Fujiwara utama, menurutku.... kau harus bertanya pada orangnya sendiri" kata Ray.


"Baiklah... pergi dan tolonglah temanmu, aku sudah tidak bisa apa-apa disini" kata Ray.


Erika terdiam.


"Ah! Zayn!" Erika langsung pergi ke arah lain untuk mengecek.


Jurus penghapusan Tensei sudah mencapai pinggang Ray.


"Yo, Edward... kau di balik pohon kan? keluarlah, dia sudah pergi, kenapa kau tidak mengatakan identitas mu pada Yuna?" tanya Ray.


Edward keluar.


"Kau sendiri kenapa tidak mengatakannya pada anaknya Yumna? apakah karena kau masih memiliki perasaan dendam karena anaknya Yumna mewarisi Kitagawa? sekarang sudah tidak ada lagi permusuhan... Fujiwara, Kitagawa, Taira, dan Hasegawa hampir musnah seutuhnya seiring berjalannya era zaman" Jelas Edward.


"Entahlah, kadang dia mirip Yumna, kadang mirip Mika, kakakku sekaligus ibunya Yumna" kata Ray.


"Tapi kita Fujiwara... heh, persoalan keluarga ini rumit ya? haha,... aku harap kau secepatnya memberitahu Identitas mu yang sebagai Fujiwara Cabang, karena entah cepat atau lambat, sekutu Klan Fujiwara pasti akan mencari anggota Fujiwara karena diambang kepunahan" Jelas Ray.


Edward hanya mengerutkan keningnya.


"Kau tahu Edward? dulu sebelum aku mati juga seperti ini kan? heh, aku dulu hanya bisa berbicara saat Yumna ada di penjara karena ku tahan, aku harap ini akan menjadi terakhir kalinya aku dihidupkan dengan jurus Tensei" kata Ray.


"Memangnya apa yang kau inginkan?" tanya Edward.


"Entah, aku juga selama ini tak tahu apa hobiku, tapi... jujur sebelum aku mati aku ingin sekali bertanya padamu"


"Saat kau menjaga Yumna, aku tahu, kenapa seperti kau sangat antusias dan berambisi menjaganya? apakah karena Yumna adalah satu-satunya Fujiwara Utama? bukankah ada Hikaru? atau karena hal lain? atau karena Yumna itu sepupu jauh mu?" tanya Ray yang jurus penghapusan Tensei sudah berada di tulang belikat.


Edward terbelalak.


"Aku tidak tahu... entah kenapa aku merasa sangat bersalah saat dia tiada, bukan karena rasa bersalah seorang Fujiwara Cabang yang tak bisa melindungi yang Utama, entah ada yang lain... yang perumpamaannya seperti dimana saat Ibuku, Fujiwara Hannah sekaligus adik kandungmu dan adik tiri ibunya Yumna tiada" Jelas Edward.


"Heh, kau memang sekeras baja, tapi jika berkaitan urusannya dengan Yumna pasti kau lembek seperti mentega. Baiklah... kita sudahi pembicaraan kita, berjanjilah padaku agar kau membunuh Chandra Nagata demi Yumna dan Hikaru, sampai jumpa Edward, aku takkan merindukanmu jadi janganlah menangis" kata Ray sambil menghilang.


"Aku juga takkan pernah merindukanmu"


Basa-basi dan Fakta 😋


Fujiwara Ray dan Afifah Ameera atau Fujiwara Mika alias Ibunya Amanda dan Andra itu adalah saudara tiri karena mereka berdua adalah saudara beda ibu. Adik Ray, Fujiwara Hannah sekaligus Ibu Edward telah meninggal disaat dalam pengejaran dan diincar-nya anggota Fujiwara.


Ibu Afifah berasal dari Fujiwara Utama, Ibu Ray dan Hannah berasal dari Fujiwara Cabang begitu pula dengan Ayah mereka yang dari Fujiwara cabang.


Tapi perlu diketahui, kalau cara menilai anggota Fujiwara utama atau cabang, hanya akan dilihat dari Silent-nya apakah murni atau tidak.


Amanda dan Edward adalah sepupu jauh, jadi kemungkinan kalau Andika, Amir, Umar, dan Erika adalah keponakan jauh Edward.