
Erika dan yang lainnya mencari Edward dan gerobak yang berisi jebakan untuk mengambil beberapa identitas yang di tinggalkan para pesugihan.
"Eh!? lihat! itu gerobak yang membawa bayangan kak Andika dan kak Nisa! eh? itu juga Kapten!" kata Dirga.
Edward mengikuti gerobak untuk melihat apakah tetap aman atau tidak.
"Masih aman... artinya alat deteksi, pemancar, dan sensor saraf masih aktif, aku harus terus mengikutinya" batin Edward yang melihat bayangan Andika dan Nisa.
Ada satu musuh lagi yang akan menyerang Edward dengan senjata api.
"Apa sebenarnya yang terjadi!?" tanya Ilman.
Edward langsung menghabisi si musuh dengan sekali tebasan pedang yang ia bawa.
Ilman terbelalak, sedangkan Erika hanya terdiam melihat Edward yang sekejam itu.
Erika dan yang lainnya datang.
"Apakah jurusnya masih aman?" tanya Edward.
"Masih... aku berusaha menghemat tenaga sebisaku" kata Erika.
"Kalian... kejar kereta kudanya!! kita harus mengambil setidaknya sensor dan alat lainnya untuk bukti dan jejak mereka! Dengar, mereka sudah terlatih untuk membunuh orang! dan 3 orang dari pengintaian orang-orang kita telah terbunuh, kalau ingin merebut alat-alat yang membuat jejak mereka ketahuan rebut saja! jika perlu dibunuh, bunuh saja!" kata Edward.
Ilman kaget.
Erika menatap Edward.
"Di mengerti" kata Erika sambil mengalihkan pandangannya.
"Erika! kau yakin!?" tanya Ilman.
"Dirga! jaga Zayn!" kata Erika dan langsung mulai menyerang.
CTRANG! TRANG! BRAK! Erika langsung menyerang para pesugihan yang ada.
Ilman tentu saja terkejut, ini pertama kali baginya bertarung sesama manusia.
Dirga langsung menyembunyikan Zeydan di titik kumpul selanjutnya, dan membunyikan suar kalau-kalau terjadi sesuatu.
"Ck! Pasha dan Ilman! amankan kereta kudanya! yang lain, lindungi mereka!" kata Edward.
"Baik!"
"Ada lagi yang mati... " gumam Ilman.
"Ilman!" kata Pasha memberi isyarat dan langsung menaiki kereta kuda dan menjatuhkan si pengemudi kawanan Dirgapati.
Ilman dan Pasha langsung menaiki gerobak yang di tarik kencang dengan kuda setelah Erika menghabisi salah satu kawanan Ray.
Mereka berusaha melepaskan alat sensor, alat pemindai DNA, dan alat lainnya dengan cepat dan hati-hati.
"Bagaimana?" tanya bayangan Andika.
"HII!" Ilman kaget melihat Andika yang hanya bayangan itu bisa bicara.
"Bayangan itu bisa bicara! cepat Ilman!" kata Pasha yang mengambil alih kemudi.
"Cepatlah! jangan terlalu lama!" kata bayangan Nisa.
"Maaf!" kata Ilman.
CTRANG!! ternyata pedang Ilman langsung terlempar.
CTAK! Ada bunyi pompa pistol.
Ternyata, si pengemudi yang satu kawanan dengan Ray tadi menodongkan pistol pada Ilman setelah membuang pedangnya.
Ilman langsung ketakutan tak bergerak.
"Ilman!!" teriak Erika.
DOR!!
Sementara itu di tempat Ray...
Ray terbaring tak berkutik karena di tembak Edward.
"Kapten! kapten! apakah kau sudah mati?" tanya salah satu kawanan yang bersamanya.
"Ck! aku ini memang sudah mati, bodoh!" kata Ray yang langsung berdiri.
"Kenapa aku bisa lupa kalau pemilik Bar di perbolehkan untuk menyimpan senjata api untuk keamanan? dia pasti tahu, heh... aku tak menyangka keponakanku yang satu itu sudah sehebat ini?" gumam Ray sambil tersenyum.
"Yumna... sudah meninggal gara-gara Chandra?" batin Ray.
"Ayo, kita kejar mereka... kita harus mendapatkan si kutukan Pandora itu dan gadis yang bersamanya sebagai tutup mulut" kata Ray sambil pergi dengan jangkarnya.
"Setidaknya istirahatlah terlebih dahulu, zombie" kata kawanannya itu, memang benar Ray mirip zombie karena sikapnya yang tak segan-segan membunuh, dan dia sudah mati sekali.
Beberapa jam kemudian...
HOEK! HOEK! Pasha berusaha muntah karena mual dan Erika membantunya memberikan minyak masuk angin.
Erika merasa kasihan.
"Pasha... " gumam Erika.
"Kau juga mengalami yang seperti ini, Erika?" tanya Pasha.
Erika terkejut begitu juga Pasha yang langsung menangis.
"Maaf" kata Pasha.
"Tidak apa-apa kok, Dasar... " kata Erika.
"Maaf!"
Flashback...
BRUK! Ternyata Pasha langsung menembaki si pengemudi kawanan tadi.
Erika juga kaget melihat Pasha yang seberani itu, sedangkan Edward melihat ada 3 orang musuh yang mendekati kereta kuda dengan jangkar yang sama.
"Gawat!! Pasha! Ilman!" kata Edward.
Edward langsung mengambil Ilman dan Salsa mengambil Pasha lalu membawa mereka sebelum di tembak.
Erika langsung menembaki mereka bertiga dan mengambil alat-alat itu.
"Erika! mundur!" kata Pasha.
Tapi tak bisa, Erika tak bisa bergabung dengan Edward juga yang lainnya karena pasukan penembak sudah ada di depan mata.
Erika langsung lari ke sisi yang lainnya membiarkan kereta kudanya bersama bayangan yang ia kendalikan.
Ray merasa ada yang salah, kenapa Erika membiarkan kereta kuda itu? dan Ray memutuskan untuk mengejar Erika.
"Kalian bawa kereta kuda itu pergi! aku akan mengurus sesuatu" kata Ray dan mengikuti Erika dengan jangkar.
Erika berusaha untuk pergi ke Pasha dan yang lainnya menggunakan jalan berputar, tapi siapa sangka kalau Ray mengikutinya.
"Erika! Kapten! ada seorang kawanan yang mengejar Erika dan tidak bisa kembali pada kita!" kata Ilman.
"Apa?" tanya Edward dan melihat siapa yang di maksud.
"Ray! ck! kenapa harus dia!? bisa berbahaya kalau anaknya Yumna tertangkap!" batin Edward dan menyusul Ray juga Erika.
Erika langsung memasukkan alat-alat ke dalam tas pinggangnya.
DOR! Ray menembak jangkar milik Erika.
CTAS!! Tali jangkar Erika langsung putus dan Erika terjatuh ke atap gedung karena terlempar oleh tali jangkar.
Ray sampai dan menodongkan pistol pada Erika, dan Erika juga menodongkan senapan pada Ray.
"Gadis berjilbab coklat, berani juga dalam melakukan hal seperti ini, aku melihat dirimu yang membunuh setengah bagian besar kawananku tanpa rasa kasihan? apa sebenarnya yang kalian rencanakan?" tanya Ray.
Erika mengaktifkan Silent-nya untuk jaga-jaga.
"Oh? Aquamarine Silent, ya?" tanya Ray.
Erika yang tadinya menatap tajam dengan Ray langsung terbelalak karena Ray tahu soal Silent.
"Jadi, apakah kau... "
Edward masih mencari mereka dan akhirnya dari kejauhan melihat Erika bersama Ray.
"Kau anggota Fujiwara? kerabat dari klan lain yang memiliki darah Silent? atau... kau adalah, anak dari seorang Fujiwara?" tanya Ray.
Edward sedang berusaha ke sana.
"Ck! energi jangkar ku hampir habis, kurasa cukup untuk sampai ke sana" batin Edward.
Erika terbelalak tapi dia kembali fokus dengan senapan nya.
Ray menekuk sebelah lutut.
"Kalau begitu... Aquamarine Silent murni ya?" tanya Ray.
"Jangan macam-macam! Dasar... " kata Erika.
"Dasar? hmf... apakah kau, anaknya Yumna?" tanya Ray.
"Apa!? Apakah kau termasuk orang yang terlibat dalam hilangnya jasad orang tuaku!?" tanya Erika yang fokus dengan senapan.
SRAK!! Edward langsung datang dan melingkarkan tangannya ke perut Erika lalu membawanya langsung pergi.
Edward menembakkan beberapa peluru dari senapan Erika pada Ray tapi Ray menghalangnya dengan pistolnya.
"Baiklah... kita akan berbincang lama lagi nanti" kata Ray.
Di tempat yang agak jauh...
Edward sudah kehabisan energi jangkarnya.
Mereka berdua turun.
"Apa yang kau lakukan? kenapa kau tidak langsung tembak?" tanya Edward.
"Maaf" kata Erika.
"Kita lumayan jauh, dan tak ada tanda-tanda pergerakan musuh, sepertinya kita akan ke Zeydan dan yang lainnya dengan berjalan kaki" kata Edward.
"Kapten!" Zeydan datang bersama Salsa.
"Erika! syukurlah kau baik-baik saja!" kata Salsa sambil memeluk Erika.
"Iya... Salsa" kata Erika.
"Ayo! kita kembali" kata Edward.
Erika terdiam.
"Apa yang kau tunggu, Eri?" tanya Zeydan.
"Tidak... bukan apa-apa, hanya tali jangkar ku putus karena ditembak" kata Erika.
"Tak apa! kau bisa menggendong ku dan memakai jangkar ku!" kata Salsa.
"Kau.. yakin?" tanya Erika.
"Tentu saja! aku malah yang harus tanya begitu, kau kuat tidak menggendong ku di punggungmu" kata Salsa.
Erika akhirnya menggendong Salsa.
"Ringan" gumam Erika.
"Ealah kaget aku! kuat banget Erika!" batin Salsa.
"Ayo" kata Edward.