Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 3 Episode 4 : Perbincangan



Flashback Off...


Mereka berdiri.


Erika langsung mematahkan jurus bayangan dan membuat Andika dan Nisa hilang.


Di tempat Ray...


"Kapten! si Kutukan Pandora dan anak konglomerat itu hilang!" kata salah satu pasukan Dirgapati.


"Begitu... ternyata, ini hanyalah rencana mereka untuk membuka kedok kita" kata Ray.


Di sebuah gudang...


Mereka semua sedang berada di gudang bekas dan membuat api unggun untuk melanjutkan pembicaraan.


Semuanya terdiam sambil memegang roti kecuali Edward yang agak heran.


"Kenapa? apakah kalian tidak selera makan?" tanya Edward.


"Bukan, bukan begitu, hanya saja... " Zeydan memberhentikan kata-katanya.


"Kapten, aku hanya tidak merasa nyaman harus bertarung sesama manusia, maksudnya... aduh! kami belumlah berpengalaman" kata Ilman.


"Dan lagi... karena sikapku yang belas kasihan ini, membuat Erika hampir tertangkap" kata Ilman.


"Ilman... " gumam Erika.


"Ini bukanlah salahnya Ilman! ini adalah salahku! aku, tidak memikirkan perasaan si kawanan tadi kalau dia tetaplah seorang manusia! harusnya tadi aku tidak benar-benar membunuhnya, tapi yang membuatku melakukannya adalah, karena dia termasuk pesugihan yang bergabung pada kumpulan yang telah merenggut banyak kehidupan" Jelas Pasha.


"Pasha... " gumam Zeydan.


"Pasha, sekarang tanganmu sudah kotor" kata Edward.


"Eh?" tanya Pasha.


"Apa maksudmu berkata seperti itu!?" tanya Erika.


"Membunuh seperti itu telah membuat tanganmu menjadi kotor, tapi... andai saja kau tetap menjaga tanganmu menjadi suci tadi, mungkin Ilman sudah tidak berada disini sekarang" kata Edward.


Salsa hanya mendengarkan dari luar karena dia sedang berjaga.


"Memungkinkan besar, jika kita tidak membunuh mereka... bisa saja rencana kita batal dan kitalah yang mati" kata Edward.


"Tapi... berkat dirimu yang berani mengotori tanganmu sendiri, rekan kita selamat dan bisa bersama kita sekarang, terimakasih" kata Edward pada Pasha.


Pasha dan Ilman tetap saja berwajah tak enak hati.


"Kalian tak perlu terlalu khawatir" kata Erika.


"Mamaku pernah bilang, jika kalian membunuh seseorang karena mereka itu sudah membunuh orang lain, ataupun untuk membela diri, hukumnya di perbolehkan" kata Erika.


"Ya... sekarang, ayo kita cek semua alat-alatnya, kuharap dengan kita yang menemukan sedikit jejak mereka, itu akan membuat pengorbanan teman-teman kita tidak sia-sia" kata Edward.


Erika meletakkan semua alat itu dibawah.


"Alat sensor mengatakan kalau mereka bukanlah dari Eslaqar, juga mereka sepertinya baru di sekte Dirgapati" kata Edward.


"Baiklah... kita akan mengirimkan semuanya ini pada Meghan" kata Edward.


"Aku... ingin cuci muka dulu" kata Erika.


Erika keluar dan mencuci muka.


Erika perlahan membuka surat dari Ray, yang Ray berikan saat sedang bertemu dengannya kemarin.


-Posisi kami esok malam ada di hutan selatan, kalau ingin bertemu dan berbicara temui aku di sana 8-


by : Ray 44,1888


"8, 44,1888? aku tahu jawabannya" batin Erika.


Erika menghembuskan nafasnya.


Di tempat Ray...


"Bagaimana? sudah menemukan data gadis yang berjilbab coklat itu?" tanya Ray.


"Ini dia, Kapten"


Nama : Erika Ameera


Nama Klan : Kitagawa Yuna


Ibu : Aliana Jahzara Ameera / Fujiwara Yumna


Ayah : Erlan Ameera / Kitagawa Mizuki


"Jadi... dia termasuk Kitagawa dari Ayahnya?" tanya Ray.


Dia... sudah meninggal


Ray mengingat kembali ucapan Edward.


Aku menghidupkanmu kembali untuk menghabisi dua kutukan Pandora atau salah satunya.


Ray juga mengingat ucapan Chandra.


Kembali ke tempat Edward...


-Kabari selebihnya Edward, aku akan memberitahu hal-hal yang lain, aku akan segera ke sana-.


Edward melihat pesan dari Meghan.


"Yo! si Maniak tak sayang nyawa!" kata Meghan dengan rusuh.


"Cepat sekali datangnya si kacamata menyebalkan ini" batin Edward.


"Bagaimana?" tanya Meghan.


"Aku sudah menemukan satu kawanan yang tertinggal, ada di ruangan bawah tanah" kata Edward.


"Bagus juga bangunan yang kau dan yang lainnya tinggali ini" kata Meghan.


"Rumah ini disediakan oleh Pak Walikota, begitu beliau dengar kalau anaknya melakukan misi di Eslaqar" kata Edward.


"Aman sekali rumah ini... lagipula ini takkan ketahuan kan?" tanya Meghan.


"Semoga saja... ayo, kita ke ruang bawah tanah" kata Edward.


Di ruang bawah tanah...


"Jadi dia?" tanya Meghan.


"Ya"


"Kenapa babak belur begini?" tanya Meghan.


"Sudah ku suruh bicara dia tetap terus tutup mulut" kata Edward.


"Hahaha! tenanglah, minum dulu" kata Meghan.


Meghan mencekok si pesugihan itu dengan membanjiri mulutnya dengan air.


"Bagaimana? mau bicara?" tanya Meghan berharap.


"Kalian monster! aku takkan buka mulut!" kata si pesugihan itu.


Edward dan Meghan terdiam.


"Wah! lumayan kurang ajar daripada Edward, aku sudah baik hati membasahi kembali mulutmu itu malah mengatakan kami monster? luar batas!" kata Meghan sambil tersenyum.


"Yak! baiklah... ayo! kita mulai langsung pemanasannya! pertama, mencabut kuku tanganmu secara paksa!" kata Meghan sambil tersenyum dan membawa tang di tangannya.


"AAAAAA!!!" Si pesugihan kesakitan karena kukunya di cabuti.


Di lantai atas...


Erika, Zeydan, Ilman, Pasha, Dirga, dan Salsa sedang menunggu Edward dan Meghan.


Bahkan suara si pesugihan membuat mereka kasihan serta merasa ngeri dengan siksaan Edward dan Meghan.


"Ukh... mulai lagi" kata Ilman.


"Para Pilar itu mengerikan" kata Dirga.


Erika terus gelisah soal surat dari Ray sambil berdiri bersandar di tembok.


"Kenapa kau dari tadi kelihatan gelisah, Eri?" tanya Zeydan.


"Eh? tidak kok Zayn" kata Erika.


"Maaf membuat kalian menunggu lama" kata Edward.


"Tidak apa-apa" kata Dirga.


"Kita berhasil menemukan informasi Ray, si pembunuh berantai dulunya... dia takkan segan-segan membunuh yang ingin ia bunuh, dia dibangkitkan oleh Chandra untuk mencegah kita menjatuhkan Dirgapati" kata Edward.


"Juga dengan ingin menculik Kenzo juga Zeydan" kata Edward lagi.


Semuanya terdiam.


Erika memejamkan matanya dengan erat dan membuka matanya lagi sambil akan pergi ke luar.


TAP! Ada yang memegang erat bahunya lalu menarik bahunya yang mencegahnya untuk keluar.


"Tenanglah, jika kau bergerak gegabah, kau bisa membuat rencana yang kita buat menjadi berantakan" kata Edward sambil melepaskan genggamannya.


"Bagus juga rencanamu untuk membuka kedok mereka" kata Zeydan pada Pasha.


"Tapi... ini malah memakan korban" kata Pasha sambil menunduk.


"Karena itulah keputusan kita untuk menjalankan rencana serta adanya pengorbanan teman-teman kita tidak boleh sia-sia, hanya ini cara yang pas" kata Meghan yang baru tiba.


"Ada apa Erika? kau terlihat gelisah, bahkan saat makan saja kau terlihat tak selera" kata Ilman.


Semuanya menatapnya, begitu juga dengan Edward dan Meghan.


"Sebenarnya... "


Semuanya menatap Erika dengan serius.


"Sebenarnya... "